Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 91 : Hati Yang Terluka


__ADS_3

"Tunggu"


Satu kata itu mampu membisukan Ead yang hampir memasukan makanan kedalam mulutnya. Beruntung saja Subha menggunakan nada rendah tadi jadi hanya suaminya saja yang mendengar.


"Ada apa, Subha?" tanya Ead kepada Subha yang segera melihat kearahnya.


"Ead!! Aku mau itu" pinta Subha dengan sangat manja menunjuk bola-bola ubi yang ada di piring tamu lain. Sayangnya, tamu itu terkenal pelit.


"Subha... makan saja apa yang ada didepanmu. Nanti sebelum pulang, kita cari bola-bola ubi untukmu. Ok?" bujuk Ead mengusap wajah Subha berkali-kali.


"Hmm aku tidak mau Ead. Aku mau itu" kekeh Subha ingin segera meraihnya. Namun Ead segera menarik tangan Subha.


"Sebentar-sebentar" Ead berdeham untuk melepas gugup, "Tuan Elbino!!"


"Iya, Ead?" jawabnya dengan mulut penuh bola-bola ubi.


Ead semakin gugup melihat mata para tamu tertuju kearahnya. Ini pertama kalinya Ead mengambil perhatian hanya untuk bola-bola ubi.


"Hem, Tuan Elbino... saya ingin meminta sesuatu dengan anda" kata Ead bertele-tele sehingga Subha segera menarik jasnya untuk segera mengutarakan niatnya.


"Iya, Ead katakan... jangan sungkan karena kami semua adalah rekanmu" kata Michaela kepada Ead yang masih malu.


"Aku mau minta bola-bola ubi milikmu. Istriku sedang ngidam"


Haahhahah


Tentu saja mereka akan tertawa terbahak-bahak mendengar pria seperti Ead akan meminta hanya untuk sebuah ubi biasa. Ini bukanlah Ead sama sekali.


"Jangan di tertawakan atau kalian akan merasakan hal yang sama seperti Ead" bela Michaela kepada sahabatnya, "Dia adalah pria yang bertanggungjawab dengan memperlakukan istrinya dengan baik, bahkan dia merendahkan citranya hanya untuk istrinya yang sedang hamil"


Michaela berjalan memegang halus bahu wanita bercadar tersebut. "Kau beruntung mendapatkan pria seperti Ead, Subha"


"Terimakasih, Nyonya Michaela" balas Subha tersenyum didalam cadarnya.


Subha memang harus bersyukur karena mendapatkan pria seperti Ead. Walau dia seorang mualaf yang agamanya jauh dari seorang muslim lainnya, namun Ead begitu bertanggung jawab. Ia rela berpindah agama, bahkan berpindah negara hanya untuk selalu bersama dengan istrinya.


"Elbino, bolehkah Ead meminta bola-bola ubi milikmu?" tanya Michaela dengan wajah memohon supaya pria pelit itu mau memberikannya.

__ADS_1


"Sebenarnya, aku ini orang pelit tapi karena dia sedang hamil maka aku akan membaginya sedikit. Tapi ini bukan untuk gadis tertutup itu, aku memberikannya untuk bayi yang ada di perutnya" kata Elbino tersenyum ceria.


"Terimakasih, Tuan Elbino" kata Ead membungkukkan tubuhnya.


"Eh jangan mengatakan itu Ead. Kau harus membayarnya nanti. Setelah bayimu lahir...jika itu seorang pria harus menjadi menantuku dan jika itu seorang wanita, maka tetap menjadi menantuku hahah" gurau Elbino memeriahkan suasana.


Ead datang merangkul bahu Elbino, "Itu semua sudah beres. Yang paling penting itu dimana ibu mertua untuk anak-anak ku"


"Ohh sepertinya kau sedang menyindirku untuk segera menikah!! Itu semua juga beres Ead, tinggal Cristina ini siap atau tidak?" Elbino menggenggam tangan wanita yang duduk disebelahnya.


"Boleh" jawab Cristina kembali memeriahkan suasana.


"Sekarang ini pestaku beralih menjadi pesta mereka" balas Michaela tertawa senang.


Elbino segera memberikan beberapa bola-bola ubi untuk Ead yang akan diberikan kepada istrinya.


"Terimakasih" kata Subha dan Ead bersamaan.


"Sama-sama" sahut Elbino membiarkan Ead memberikan bola-bola ubi itu kepada Subha yang segera memakannya.


_________


Restoran Almaty


Pagi ini dua wanita sedang melaksanakan sarapannya di sebuah restoran di kotanya. Restoran yang begitu terkenal dengan para warga yang memenuhi setiap kursi disana.


"Bagaimana umi, apa enak?" tanya Leiska kepada Umi Riverlyn yang sedang makan bersamanya. Setelah pertemuannya beberapa Minggu yang lalu membuat keduanya akrab.


"Enak sekali. Dulu Alham sering makan di resto ini tapi karena dia sudah besar jadi Umi tidak tahu dia berkunjung kemana" ucap Umi Riverlyn tersenyum dibalik cadarnya.


Karena Umi sudah membicarakan Alham, tentu itu membuat Leiska diam. Ia masih enggan untuk membicarakan pria itu sekarang.


"Umi, apa Umi sudah mendapat telpon dari Subha kalau mereka sudah sampai disana dengan selamat"


"Alhamdulillah. Umi senang sekali" balas Umi kepada Leiska. "Ngomong-ngomong, kau masih enggan untuk masuk kedalam ajaran kami? Maksudnya, kakakmu dan seluruh orang terdekatmu sudah menjadi seorang muslim"


Leiska membuang nafasnya dalam-dalam. Jika ditanya tentang agama pasti Leiska selalu gelisah. Ia memang ingin masuk Islam, namun dia begitu tidak percaya diri.

__ADS_1


"Apa, wanita seperti diriku ini bisa menjadi seorang muslim dan bergabung dengan jajaran wanita suci seperti engkau dan Subha?" kata Leiska merendahkan dirinya.


"Nak, semua orang pantas mendapatkan mendapatkan maaf. Jika kau bertobat maka Allah akan memaafkan setiap kesalahanmu... tidak wanita kotor, semua suci jika mereka mau mengikuti ajaran nabi" kata Umi membuat mata Leiska mengembun.


"Terimakasih sudah menghargai diriku, umi. Aku akan memikirkan hal itu lagi, namun aku juga tidak bisa berjanji untuk ikut keajaran kalian"


Umi menghela nafas halus, "Tidak ada yang memaksamu dan tidak ada yang melarang mu untuk masuk kedalam ajaran kami. Kapanpun kau mau, datanglah ke majelis Nursultan"


"Baik, Umi" balas Leiska juga tersenyum.


Beberapa berlalu.


Di Masjid Nursultan yang penuh dengan para rakyat Almaty. Mereka segera memenuhi tempat tersebut untuk melaksanakan sholat Maghrib.


Namun, hanya ada satu wanita dengan kerudung hitam masih belum ada tanda-tanda untuk memasuki masjid tersebut. Ia masih berdiri dan melihat saja.


"Leiska?" pekik seorang pria melihat wanita yang ia lihat sedang memakai penutup kepala. Wanita Eropa itu begitu cantik menghias pandangan Alham yang melihatnya.


"Masyallah!! Ini dirimu?" mata Alham memanas menyadari itu. "Kau seorang muslim?"


Alham berpikir saat melihat Leiska memakai kerudung, maka wanita ini sudah masuk Islam. Namun siapa sangka wanita itu menggelengkan kepala.


"Lalu, kenapa kau memakai hijab?" tanya Alham yang begitu penasaran.


Leiska membuang nafas halus, "Aku hanya ingin berkunjung ke bangunan yang menurut umi indah dan membuat hati tenang"


Mata Leiska menatap bangunan tersebut. Masjid Nursultan yang begitu megah dihiasi dengan lampu kelap-kelip dan ukiran kaligrafi tersebut.


"Semua orang memakai kerudung. Akan terlihat aneh jika aku tidak mengikuti mereka. Mereka akan menjadikan aku pusat perhatian..." kata Leiska santai dengan kedua tangan bersidekap didepan dada.


"Leiska, apa kau tidak ada niatan untuk memiliki kepercayaan yang sama denganku? Kita akan menikah dan membina keluarga yang begitu harmonis" kata Alham mencoba meraih kedua tangan Leiska, namun wanita itu segera menepisnya.


"Itu adalah harapanku yang dulu, Alham. Namun sekarang, sudah tidak lagi. Aku hanya ingin meneruskan sisa hidup di tubuh yang sudah terjamah ini. Aku melakukan itu hanya karena kakakku Ead, hanya karena pria itu... jadi tolong jangan temui diriku lagi"


Hati Alham begitu sakit mendengar Leiska menolak cintanya. Diiringi dengan lantunan ayat suci, Leiska telah memutuskan untuk menjauh.


"Kepercayaan, status, segalanya. Bukankah itu sudah cukup menjadi tanda Allah yang sebagai tuhanmu telah melarangnya"

__ADS_1


To be continued


Terimakasih atas dukungannya selama ini bebss🙏🤗😘


__ADS_2