Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 30 : Suamiku!


__ADS_3

Sebelumnya saat Subha sibuk dengan membolak-balik gantungan pakaian yang ada didepannya, pandangan dia dialihkan saat pintu masuk terdorong pria jangkung dari luar.


Pria itu hanya diam mematung tanpa suara apapun, namun mampu membuat wanita bercadar tersebut merasa terkejut lagi bahagia. Tidak disangka ia dapat melihat wajah kakaknya kembali.


Subha segera mendekat saat Alham membalikan tubuhnya, bersiap keluar dari toko.


"Kak Alham"


Deg


Tubuh Alham kembali berbalik mengikuti suara bagai alunan itu berasal. Terlihat gadis yang tengah ia cari sudah berdiri tepat didepannya.


"Subha?"


Lirih Alham begitu amat terkejut namun juga bahagia menampaki Adiknya ditempat ini. Berhari-hari dirinya mencari dan akhirnya Allah mempertemukan keduanya.


Alham segera memeluk tubuh Adiknya saat itu juga, begitupun sebaliknya. Keduanya saling melepas rindu setelah lama tidak bertemu.


"Masyallah kak... Bagaimana kabar kakak selama ini?" tangis Subha pecah dibalik cadarnya.


"Alhamdulillah kakak baik-baik saja. Lalu bagaimana dengan kabarmu?"


"Alhamdulillah Subha baik" Subha melepas pelukannya, karena ia harus memperkenalkan suaminya. "Kak, Subha ada kabar. Tapi Subha tidak tahu ini kabar baik atau buruk bagi kakak"


"Apa itu?"


Subha mendatangi pria yang sudah berdiri lama memperhatikan interaksi kakak beradik tersebut. Ia membawa Ead menemui Alham.


Sementara Alham dan Ead. Keduanya saling pandang dengan ingatan masa lalu yang terus membayang. Bagaimana keduanya saling baku hantam, mencaci dan memaki.


Dengan perasaan yang tertekan Alham bertanya, "Subha Adikku. Ada hubungan apa kau dengannya?"


"Dia... Suami Subha"


Duarr


Sesaat tubuh Alham membeku mendengar pengakuan Subha yang mengejutkan dirinya. Suami! Subha Adiknya mengakui Ead yang notabenenya Mafia kelas kakap itu suaminya. Berarti keduanya telah menikah?.


"Dia siapa, Subha?" tanya Ead memastikan kembali, bahwa yang ia dengar semuanya tidak nyata.


Dengan penuh haru Subha menjawab, "Dia kakak Subha. Kalian saling bersilaturahmi dengan jabat tangan saja, karena aku rasa sepertinya suamiku lebih tua dari kakak ku"


Keduanya masih tidak ada yang mau mengawali, membuat Subha bingung dengan respon keduanya. Hanya saling pandang tanpa ekspresi apa-apa.


Bugh


Pukulan Ead pada pipi Alham mengakhiri pertukaran pandang diantara mereka. Tubuh Alham langsung tersungkur diatas lantai hingga para pembeli histeris begitu juga dengan Subha.


"Beraninya kau menampakan wajahmu di depanku lagi, Alham? Tidak malukah dirimu memperlihatkan wajah br*ngsek itu didepanku?" nada suara Ead terdengar meninggi lagi menyeramkan.

__ADS_1


"Kenapa kau memukulnya?" Subha bertanya-tanya pada Ead saat pria itu sedang disibukkan dengan membabi buta kakak kandungnya.


Subha tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun ucapan Ead dapat diartikan jika keduanya sudah saling kenal.


Bugh


"HENTIKAN"


Subha berteriak mencoba menahan Ead dalam menghabisi Alham. Wanita bercadar ini histeris memegangi lengan kekar penuh kekuatan itu, namun ia selalu gagal.


Alhasil Subha terdorong hingga tubuhnya membentur meja kasir, namun ia tidak bisa menyerah begitu saja.


"Astaghfirullah nyebut. Istighfar Habi... sadarlah jika kau sedang dikuasai oleh setan. Jangan buat mereka menang"


"Tolong berhenti, apa yang kau lakukan? Hentikan! Ya Allah"


Subha yang tertekan memulai tangisannya. Ia tidak tahu harus berbuat apa untuk melerai keduanya. Kedua pria itu tiada henti saling pukul hingga mengobrak-abrik pakaian hingga para warga tidak ada yang berani melerai.


Ead mencengkeram kuat kerah Alham. Mensejajarkan wajah terluka Alham didepan wajahnya. "Dimana Adikku? Dimana Leiska Adikku, Alham"


"Aku tidak tahu"


Ead tertawa menggelegar, "Kau pikir aku bodoh, hah? Sebelum kau meninggalkan Italia. Adikku berpesan ingin pergi dengan seseorang. DIALAH KAUUU"


Bugh


Ead kembali melayangkan pukulan panas kewajah Alham. Tidak henti-hentinya Alham jatuh bangun tanpa sekalipun mau melawan.


"Minggir kau"


Subha menarik Alham untuk bersembunyi dibalik tubuhnya, "Sabar dulu... Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Apa yang terjadi antara kalian, mungkin kita bisa membicarakannya. Tidak perlu dengan emosi"


Ead yang semakin frustasi hanya meraup kasar wajahnya hingga sorot mata kelam mengerikan itu dapat Subha rasakan. "Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana buruk perilaku kakak mu"


"Makanya itu kita bicarakan baik-baik. Tolong jangan saling emosi supaya masalah ini cepat selesai"


"Sudahlah... Sebaiknya kau minggir, karena urusanku dengan pria itu. Jangan membuat diriku semakin gelap mata, karena jika hal itu terjadi! Aku tidak akan melihat status dirimu ataupun diriku"


Subha meneguk ludahnya kasar. Tubuhnya semakin gemetar menghalangi amarah Ead yang ingin segera dilampiaskan. Namun ia juga tidak bisa membiarkan itu semua terjadi.


Alham yang mengetahui itu juga tidak bisa tinggal diam. Ia segera keluar dari persembunyian.


"Dominic... Perkataan yang ku katakan kepadamu saat kali terakhir kita bertemu, hal itu masih ku ingat dan tidak mungkin aku mengulanginya lagi" Alham bertutur tegas serta lantang, dan Ead mendengarkan.


"Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan Adikmu" tambah Alham.


"Lalu bagaimana dia bisa menghilang?"


"Bahkan aku tidak tahu jika dia menghilang jika bukan kau yang mengatakan"

__ADS_1


"Bulshit"


Ead melayangkan kepalan tangan kewajah Alham, namun Alham sudah tidak bisa tinggal diam saat kepalan itu hampir mengenai wajah Subha.


Grep


Srett


Alham menangkap serta memelintir tangan Ead hingga tubuh Ead membelakangi dirinya. Namun dengan keahlian Ead, ia menendang perut lawan dengan sangat keras.


Tubuh Alham menubruk gantungan pakaian dibelakangnya. Pakaian tersebut berantakan berceceran kemana-mana.


Dorr


Letupan senjata mengudara menguasai toko penjual yang dipenuhi dengan pembeli. Ketiga pria memakai seragam polisi telah berani melepas pelurunya ke udara. Pertengkaran pun terhenti.


"Angkat tangan anda, Tuan Italia" perintah polisi dan Ead segera mematuhinya. "Kemungkinan anda akan mendapat peringatan serius dari pihak Kazakhstan karena membuat gaduh di negara orang"


"Bagaimana kau tahu?" tanya Ead merasa bingung.


"Ikut kami"


Ead diseret paksa keluar dari toko dengan keadaan dua tangannya diborgol. Para polisi itu juga tidak bisa meninggalkan Alham yang merupakan korban.


Alham juga dibawa ke kantor polisi. Sementara Subha juga tidak mau ketinggalan. Dia turut mengekori keduanya dari belakang.


"Kau tidak usah ikut, Subha" ucap Alham saat melihat Adiknya mengikuti dari belakang. Polisi pun memberi keduanya waktu untuk saling berbicara.


"Aku tidak bisa membiarkannya"


"Kau pulanglah. Abi sama Umi menunggu di rumah"


"Kak, suami Subha dibawa ke kantor polisi! Bagaimana Subha bisa tenang dengan pulang ke rumah?" rintih Subha menangis.


"Subha. Kau tidak mengenal pria yang kau sebut dengan suami. Dia mengerikan... Jangan kau hancurkan setiap harapan serta mimpimu hanya untuk hidup menderita dengannya"


Memang, Subha tahu jika keputusannya menerima Ead adalah pilihan yang ambigu. Ia tidak tahu apa itu akan mendatangkan hal baik atau malah mendatangkan hal buruk.


"Allah yang menentukannya, kak. Insyaallah jika Allah memang menginginkan hal ini, maka Subha yakin jika ada sesuatu dibalik hal itu" jawab Subha dengan sangat yakin.


Alham hanya menggeleng lemas dengan wajah yang hampir dipenuhi dengan noda darah. Akhirnya Alham diam saat dirinya dibawa dengan Subha mengikutinya.


Sementara itu. Seorang pria memakai kacamata hitam tengah meneropong mereka dari atas gedung berlantai tuju. Dia merasa amat bahagia saat rencananya berjalan lancar.


"Perfect!!. Ayolah Dominic. Polisi akan mengembalikan dirimu ke Italia"


"Tidak sia-sia aku menelpon polisi. Salah siapa membuat kegaduhan di negara orang. Cih"


...To be continued...

__ADS_1


...Maaf ya agak gimana gitu. Baru sempet up. Ini juga di kebut......


...Tapi tetep dukung terus ya ...


__ADS_2