Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 32 : Terkejut.


__ADS_3

"Oh di penjara" tutur Roy dengan wajah yang terlihat santai. Pria ini kembali sibuk dengan pekerjaan yang baru-baru ini ia geluti, membersihkan kandang kuda.


Sementara tangisan Subha seketika berhenti saat mendengar tutur kata santai dari pria yang disebut setia kepada suaminya. Dimana letak kesetiaan itu berada?.


"Oh? Bagaimana bisa kamu terlihat santai begini, sementara Ead berada didalam jeruji besi"


"Bagaimana kalau dia dipukuli oleh para polisi? Aku dengar jika para polisi akan menginterogasinya "


"Bagaimana jika tidak ada yang bersikap baik kepadanya? Aku dengar jika dipenjara tidak ada yang baik, semuanya kasar. Ya Allah"


Subha tidak berhenti membayangkan sesuatu yang buruk menimpa Ead. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat serta tubuhnya gemetaran.


Sedari tadi Louis tidak henti memperhatikan kekhawatiran Subha terhadap sang Tuan. Ia pun bergegas melepas sarung tangan karet yang dipakai, lalu melewati Subha.


"Roy ayo"


"Aku baru saja membersihkan kandang kuda. Lagian Ead pasti keluar kok, dia bukan sembarang orang yang mudah ditahan" ucap Roy mengeles seraya menggaruk kotoran Mia menggunakan cangkul.


Louis segera membisik ditelinga Roy, "Ini bukan negara Italia dimana setiap orang menerima perilaku Tuan. Kazakhstan merupakan negara hukum, mereka akan menghukum Ead jika terbukti melakukan kesalahan"


"Terlebih, kasus pembunuhan beberapa Minggu yang lalu! Mereka akan mengaitkan hal itu dengan kesalahan Ead saat ini" tambah Louis masih dengan keadaan berbisik.


Subha berusaha mendengar namun tidak mendengar apa-apa. Sudahlah, lagian ia tahu jika Ead seorang Mafia dan dia menerima. Ia yakin jika Ead dapat berubah, hanya butuh proses.


Kembali ke Roy. Dia hanya termenung sesaat, "Memangnya Ead melakukan kesalahan apa?"


"Dia berkelahi dengan kakak ku" jawab Subha.


Roy beserta Louis saling tatap. Keduanya seperti tengah berdialog perasaan mengenai rahasia Subha yang sudah diketahui Ead. Inilah hal yang keduanya ributkan pagi tadi.


"Kakak ku sudah bebas tapi polisi masih menahan Ead. Mereka akan menginterogasinya"


"Baiklah, anda di rumah saja. Kami akan segera membebaskan Tuan Ead dari sana"


Setelah mengucapkan itu Louis mendorong pelan bahu Roy, memberi kode supaya pria tanpa bulu di dagu ini peka untuk segera melaksanakan perintah.


"Sepertinya Ead akan mendapat masalah. Kenapa juga para polisi menahan Ead sementara Alham bebas semudah itu"


Ucap Roy berjalan beriringan bersama Louis. Keduanya memasuki mobil pribadi, dan Louis menelpon salah satu pasukan mereka.


In call.

__ADS_1


"Vero, bersihkan semua kasus kematian yang sudah Dominic lakukan satu minggu kebelakang" titah Louis ditelpon sambil mengendarai mobilnya.


"Ada apa?" tanya Vero ditelpon.


"Banyak omong tinggal lakuin aja kenapa sih?" sentak Louis membuat Roy menahan tawa. Roy baru melihat Louis marah dan wajahnya terlihat lucu.


Setelah menyentak Vero, Louis mematikan telponnya dan sibuk mengendari mobil menuju kantor polisi. Mereka akhirnya meninggalkan Subha serta Mansion.


______


Kediaman Akthakarta.


Kediaman Akthakarta kini terasa agak berbeda tanpa canda maupun tawa. Mereka tetap melakukan kegiatan seperti biasa namun rasanya sangat berbeda, terlebih dengan Umi Riverlyn yang masih memperlihatkan duka dibalik cadarnya.


Tidak lama kedua pria yang baru saja mendapatkan kabar keberadaan Subha akhirnya sampai juga di rumah, membuat wanita yang menata vas bunga tulip itu menoleh menghampirinya. Umi Riverlyn.


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam. Bagaimana?" tanya Umi tidak sabaran.


"Alhamdulillah Umi, Alham sudah menemukan keberadaan Subha"


Umi Riverlyn menangis haru bersamaan dengan Alham yang memeluk tubuhnya. Tidak lupa para pelayan saling berpelukan, merasakan kegembiraan mereka.


Namun kabar baik yang Alham bawa tidak membuat wanita yang menuruni tangga itu merasa bahagia, justru hal itu membuat dirinya merasa amat murka. Widia.


'Apa, mereka sudah mengetahui keberadaan Subha? Kenapa gadis kecil itu selalu mengganggu hidupku, seakan tidak pernah memberikanku ketenangan' gumam Widia dalam hati.


Widia memilih mengurungkan niatnya untuk menemui mereka, dan memilih kembali ke kamar.


Sementara itu Umi Riverlyn melepas pelukan Alham saat menyadari sesuatu, "Lalu dimana Subha?"


"Iya saudara Alham. Saya juga ingin tahu mengapa Subha tidak pulang bersama anda?" Frederick yang sudah penasaran sedari lama itu juga ingin tahu alasannya.


Para anggota keluarga pun menunggu Alham menjawab. Mereka melihat intens gerak-gerik di bibir, mata milik Alham. Sementara Alham sendiri takut jika kabar ini membuat mereka kembali bersedih.


Umi Riverlyn kembali tidak sabar, "Alham apa yang terjadi, Subha kenapa?"


"Subha menikah siri dengan pria Italia, Umi"


Deg

__ADS_1


Sudah Alham duga. Para anggota keluarga pasti merasa terkejut, terlihat perilaku mereka berbeda serta mimik wajah mereka yang semula tersenyum berubah bingung. Apalagi Umi Riverlyn, wanita yang merupakan ibu Subha tentu merasa sangat terkejut.


"Subha menikah?" tanya Umi memastikan kembali dan Alham hanya mengangguk. "Ya Allah. Bagaimana itu bisa terjadi, pria seperti apa yang Subha nikahi?"


"Umi jangan menangis. Subha baik-baik saja, dan aku lihat pria itu memperlakukan Subha dengan baik" ucap Alham menghibur. Sebenarnya saja dia tidak tahu bagaimana Ead memperlakukan Subha, namun ia harus memastikan Uminya tidak menangis lagi.


"Umi. Aku lihat Subha sehat, tanpa lecet apapun. Umi jangan khawatir"


Alham kembali menghibur dengan memeluk Umi nya. Hati Umi merasa sakit mendengar putrinya melakukan pernikahan siri, terlebih tanpa dia mengetahuinya.


"Seperti apa laki-laki yang menikahi Subha, Alham?"


"Alham juga tidak tahu persis seperti apa pria itu, namun sepertinya dia pria yang baik" jawab Alham berbohong supaya Umi merasa sedikit lega.


Tidak mereka sadari, pria yang ada disebelah Alham. Pria ini juga ikut andil dalam pencarian Subha, dengan harapan jika dirinya dapat meminang Subha setelah ditemukan. Dia harus menerima kenyataan bahwa Subha sudah dimiliki orang.


"Alhamdulillah Subha sudah ditemukan, saudara Alham. Saya ikut berbahagia mendengarnya. Kalau begitu ijinkan saya untuk kembali ke rumah" ucap Frederick dengan hati yang teriris.


"Terimakasih atas segala kebaikan mu. Terimakasih sudah membantu kami dalam mencari keberadaan Subha"


"Tidak masalah. Sesama muslim kita memang harus saling membantu, itulah yang Rasullullah ajarkan kepada umatnya" jawab Frederick berusaha ikhlas. "Kalau begitu, saya pamit terlebih dahulu"


"Nak Frederick tidak mau makan terlebih dahulu. Kami sudah menyiapkannya"


"Terimakasih Umi"


Tolak Frederick mengatupkan kedua telapak tangannya kepada Umi. Tanpa memberi salam yang berhubungan dengan kecupan, seperti mengecup punggung tangan Umi. Bukan muhrim, dan status mereka bukan siapa-siapa.


Alham juga tidak bisa menghalangi Frederick, apalagi ia tahu jika pria itu sedang merasa kecewa. "Kalau begitu hati-hati, datanglah sesekali kemari untuk bersilaturahmi. Rumah kami akan selalu terbuka untukmu"


"Baiklah saudara Alham. Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam" jawab mereka serentak.


Tepat setelah Frederick membalikan tubuhnya, bersiap pergi. Ia melihat seorang pria baya yang merupakan kepala keluarga dari Akthakarta berdiri diambang pintu. Pria itu terlihat menampakan rasa marah dari balik wajah berkerutnya.


"Abi?"


...To be continued...


...Jangan lupa tetap tekan tombol like dan vote......

__ADS_1


__ADS_2