Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 56 : Kepercayaan!.


__ADS_3

Sebelumnya…


Mobil audi berwarna merah hati itu berhenti ditempat parkir diruang bawah tanah itu lagi. Seorang wanita dengan jaket denim keluar secara tergesa-gesa, melewati benda-benda yang ada, dan juga kefokusan melihat kearah depan.


Pemilik nama Widia Hasna itu segera mencari keberadaan tunangannya saat ia beranggapan Alham berada ditempat ini. jika benar Alham ada ditempat ini, habis sudah hidupnya.


Saat ini Widia nampak berhenti di depan ruangan yang terkunci, namun dari luar ia masih mendengar suara percakapan orang yang ada didalam.


Widia mengintip, namun rupanya ia melihat dua orang yang sangat ia kenal sedang mengobrol disana, bahkan tidak pernah ia berharap keduanya dipertemukan. Namun bukannya khawatir, wanita ini malah bahagia saat mendengar ucapan yang Alham katakan.


“Aku memiliki tunangan yang harus ku nikahi” tutur Alham begitu menyakitkan untuk Leiska.


Leiska menutup wajahnya, menutupi tangis serta rasa kecewa yang akan timbul dibalik wajahnya.


Namun Leiska berusaha menutupinya, “Aku juga tidak ada niatan untuk kembali denganmu. Aku hanya menolong seseorang yang ku rasa kenal”


“Dan sebaiknya kau pura-pura tidak kenal”


“Bagaimana aku bisa pura-pura tidak kenal jika aku memang mengenalmu, Alham”


“Kau bisa menutup mata”


Leiska mengehela nafasnya pasrah, “Terserah apa katamu… dan menikahlah dengan wanita yang kau sebut dengan tunanganmu itu. Aku tidak akan menghalangimu”


“Kau masih menyukaiku?”


“Itu hakku. Kenapa kau peduli? ” ucap Leiska langsung membalikan tubuhnya, seakan tidak terima jika Alham mempermasalahkan itu.


Sejenak Alham melihat Leiska, setelah itu tubuhnya bergerak keluar dari ruangan ini.


“Tunggu”


Alham pun berhenti


“Biar aku membantumu keluar. Bukan karena aku mencintaimu, tapi untuk rasa belas kasihku kepadamu. Kau sedang terjebak di persembunyian warga Italia”


“Aku tidak butuh”


“Aku juga tidak butuh penolakanmu”


Tanpa mendengar kalimat yang Alham keluarkan, Leiska langsung menarik tangan Alham.


Alham mencoba menepis tangan wanita itu, “Lepaskan Leiska… aku bisa keluar sendiri dari tem-“


Shutt


Leiska menempelkan jari telunjuknya ke bibir Alham, takutnya ada orang yang mendengar mereka.


“Kau tidak perlu melakukan itu kepadaku. Aku bisa keluar sendiri, ark” pekik Alham saat ia mencoba melawan Leiska. Luka di dahinya tidak sengaja tersentuh.


“Makanya jangan sombong… kau itu terlalu sombong, mengaku jika kau bisa mengatasinya sendiri, tapi nyatanya semua hanya dusta”


Pria sombong itu akhirnya menerima tawaran Leiska. Namun mereka tidak tahu saja jika serangan tersembunyi di luar kamar mereka.


Sebab, kedekatan itu menciptakan rasa iri dan juga dengki seorang wanita. Mata tajamnya seakan bersiap membunuh targetnya. Dari itu membuat Widia memanggil semua pasukannya.


“Kalian bisa hidup bahagia bersama, jika aku sudah mati” Widia bertekad.

__ADS_1


_____


Di tempat lain, tepatnya dikediaman Akhthakarta saat ini sedang dirundung kebahagiaan. Mereka semua tengah bahagia mendengar Nona mudanya sedang mengandung anak pertama. Banyak sekali kartu ucapan yang mereka kirimkan untuk memberi selamat kepada Subha.


Namun tidak untuk pria setengah baya dengan dagu berjenggot tebal itu. Pria itu hanya hanya menatap serius kartu kecil yang belum ia tulis apa-apa, padahal Umi sudah menulisnya.


“Ayo kita berikan kepada Subha” ajak Umi melihat kartu yang dibawa Abi itu masih bersih tanpa tinta. “Ehhh Abi. Abi belum nulis apa-apa lohh”


“Abi lupa”


Abi Rahman segera mengambil pena di tempatnya, dan menuliskan kalimat untuk putrinya yang sedang hamil. Namun Umi tentu dapat melihat kegundahan dari wajah suaminya.


“Abi kenapa? Apa ada sesuatu yang sekiranya mengganjal dihati? Sepertinya setelah kembali dari mengisi tausiah, Abi terlihat gelisah”


“Ryvi, tidakkah kau melupakan sesuatu? Pernikahan siri yang yang dilakukan putri kita tidak akan bisa membawa anaknya kedalam keturunan yang sah. Anak bisa dikatakan sah jika dia lahir dari pernikahan sah secara agama dan negara”


“Abi sudah menerima Ead?”


“Abi hanya memikirkan cucu kita kedepannya. Pria itu akan Abi anggap ada jika dia memang benar-benar bisa menjadi Imam yang baik untuk Subha”


Umi nampak murung, “Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk putri kita? Kita tidak bisa tinggal diam membiarkan Subha begitu saja”


“Coba kau katakan ini dengan Subha secara baik-baik. Minta supaya Ead menikahinya secara agama dan juga negara. Anak itu juga harus diakui oleh negara, Ryvi. Jika tidak, bagaimana dengan pendidikannya nanti”


Umi segera mengangguk membenarkan, “Iya iya… Umi akan coba bilang sama Subha. Umi juga nggak rela jika Subha dinikahi secara siri saja”


“Yasudah… Umi coba katakan ini pada Subha. Abi mau silaturahmi ke keluaraga Renata, hendak meminta maaf karena sudah memutuskan lamaran mereka”


“Oh iya… Abi benar. Keluarga Renata pasti kecewa kepada kita” sesal Umi menampakan wajah sendunya.


“Insyaallah… keluarga Renata merupakan keluarga yang baik. Mereka pasti memaklumi keluaga kita dan mau memaafkannya. Insyaallah”


Sementara itu di kamar Subha. Wanita yang tengah hamil muda itu baru saja menyelesaikan kegiatan membaca, membaca beberapa kartu ucapan yang diberikan oleh para anggota keluarga Akhthakarta.


“Nona Subha. Selamat ya atas kehamilan anda. Aku berharap kandungan Nona baik-baik saja. Namun sebenarnya, yang tidak baik itu tubuh Nona!” sejenak Subha memikirkan kalimat terakhir yang ia baca. “Apa maksudnya?” ia pun kembali membaca.


‘Maaf agak lancang namun ini memang nyata. Kedua pipi anda akan gemuk, iya jika suami anda menyukainya, tapi jika tidak? Pasti dia akan kecewa. Kedua kaki anda bengkak, tubuh anda melebar, tembolok anda akan terlihat, dan lemak di lengan Nona akan banyak’


Subha langsung membolak-balikan kartu itu, mencari nama si pengirim. Ia tidak habis pikir aka nada orang yang memberi kartu dengan kalimat setega itu.


“Masyallah, siapa orang yang begitu perhatian kepadaku?”


Subha menggigit bibir bawahnya, sekaligus mencari nama si pengirim. Sementara seorang wanita sudah berdiri diambang pintu sana.


“Assalamualaikum, Subha”


Subha segera menoleh, “Walaikumsalam Umi”


“Lagi ngapain?” Umi berjalan mendekat hingga duduk disebelah putrinya yang berada diatas ranjang.


“Ini loh Umi. Ada yang ngirim kartu ucapan yang kalimatnya super duper perhatian. Katanya kalau Subha hamil, nanti seluruh badan Subha jadi gemuk hahaha kan lucu Umi”


“Dari siapa?”


“Nggak tahu Umi” jawab Subha sambil tertawa.


Umi merangkul Subha, “Nggak gemuk juga sih… ada yang mereka karena hamil tubuhnya jadi gemuk, ada juga yang mereka hamil tapi tubuhnya masih kurus. Itu semua tergantung hormone kita dan keturunan juga sayang. Umi selama hamil nggak gemuk kok”

__ADS_1


“Hemm gitu ya Umi”


Subha mengangguk, dan Umi merapatkan dirinya dengan putrinya, mencoba berbicara.


“Subha… mengenai hubunganmu dengan Ead. Bagaimana kalau hubungan kalian di resmikan, secara agama dan juga negara sayang”


“Memangnya kenapa, Umi?”


“Supaya anakmu mendapatkan pengakuan dari negara. Jika pernikahanmu tidak terdaaftar di negara, bagaimana dengan anakmu nanti?”


Subha terdiam memikirkan ucapan Uminya. Semua itu memang benar, dan ia baru menyadarinya.


“Pernikahan siri tidak diharamkan, namun hal itu dapat merugikan dirimu sendiri. Jadi coba minta baik-baik kepada suamimu untuk menikahimu sah secara agama dan juga negara”


“Begitu ya!!” Subha memikirkan cara supaya dapat menghubungi suaminya, mengingat jika saat ini Ead masih marah. “Subha akan coba telpon”


Subha mencoba memakai telpon rumah, mencoba menelpon telpon mansion Zolanda.


In call


“Assalamualaikum”


“Nyonyaaa” sentak seorang gadis dari seberang telpon. Gadis itu nampak begitu merindukan Nyonya mudanya.


“Salamku aja belum dijawab, Amina”


“Eh iya walaikumsalam. Nyonya, bagaimana nyonya tahu jika ini aku?”


“Tentu aku tahu. Siapa gadis di mansion Zolanda yang memiliki suara nyaring selain dirimu?” goda Subha tersenyum kepada Uminya.


Amina tertawa.


“Oh iya Amina. Apa Tuan Ead sudah pulang?”


“Belum Nyonya. Sudah dari tadi pagi sampai larut malam begini Tuan belum juga pulang. Apa mungkin Tuan lembur yah?”


Subha hanya diam, “Ya sudah kalau begitu. Tolong katakan kepadanya jika sudah pulang. Minta dia untuk menghubungi diriku”


“Memangnya kenapa, apa Nyonya tidak pulang?”


“Untuk sementara waktu aku akan tinggal dulu dirumah orangtuaku”


Amina nampak bersedih, namun ia juga tidak bisa apa-apa. “Baiklah Nyonya. Baik-baik dirumah orang tua Nyonya. Jika kedua orangtuamu memarahimu, atau menyakitimu, sebaiknya kau kabur saja”


Subha tertawa. Ih begitu lucu sampai Subha ingin menelannya.


“Aku sedang tidak tinggal dengan mertuaku. Mereka kedua orang tuaku, Amina”


“Hehe iya Nyonya. Sudah dulu ya, aku harus cepat-cepat tidur untuk besok sekolah”


“Ok, selamat tidur, sekolah yang rajin, Assalamualaikum”


Klik


Paanggilan itu langsung terputus saat Amina memotongnya, bahkan gadis ini tidak menjawab salamnya, membuat Subha geleng-geleng kepala.


Subha kembali kepada Uminya.

__ADS_1


“Ead belum pulang, Umi. Tapi Umi tenang saja, pasti Ead akan menerima menikahi Subha lagi. Kali ini pernikahan akan sah dimata agama dan juga negara. Subha yakin, Subha percaya”


...To be continued...


__ADS_2