
Tuk
Tuk
Ketukan dari jari telunjuk menggema menguasai ruangan minim pencahayaan ini. Mata telanjang Louis melihat gugup pria berjanggut tebal putih yang ada didepannya.
Suasana mencekam dari netra hitam legam begitu mengerikan, membuat Louis merasa ingin pingsan.
"Bisa tolong jelaskan maksud dari perkataan anda tadi didepan banyak orang" suara tegas pria berjanggut itu kembali terdengar menepis keberanian Louis.
"Baiklah, kebetulan anda didepan saya... saya akan mengatakan maksud dari tujuan saya mengatakan demikian. Begini, saya ingin melamar putri anda yang bernama Fahima. Itu pun jika anda menghendakinya" kata Louis dengan tegas.
"Apa yang akan kau berikan kepada putriku nanti?" tanya Sultana mengetukkan jari telunjuknya di atas meja.
"Saya belum memiliki apa-apa untuk menghidupi Nona Fahima karena jujur, saya baru saja di pecat beberapa hari yang lalu" kata Louis.
Yang dimaksud Louis adalah pekerjaan menjadi anak buah Ead.
"Lalu apa sekarang engkau sudah mencari pekerjaan pengganti?"
"Belum karena pemimpin perusahaan yang hendak saya kunjungi sedang cuti menikah" kata Louis menundukkan kepalanya. Bukan karena takut tapi ingin menghormati saja.
Sultana mengangguk paham.
"Lalu, apa anda seorang muslim?"
"Tentu saja saya seorang muslim" jawab Louis akan pertanyaan Sultana yang sudah jelas tidak perlu dipertanyakan.
"Jadi anda melakukan sholat lima waktu, bukan?" tanya Sultana memperjelas.
Rupanya itu yang sedang pria tua itu tanyakan. Tentu saja Louis jarang melakukan sholat, bahkan tidak pernah.
Louis menelan salivanya kasar, "Pernah"
Setidaknya Louis pernah sholat dan ia yakin pria tua itu tidak akan kembali bertanya masalah sholat.
"Rutin menjalankannya?" tanya Sultana lagi.
Rupanya dugaan Louis salah. Pria ini ternyata banyak tanya. Mirip dengan Abi Rahman.
Lous harus menjawab apa?
"Kadang rutin kadang tidak" jawab Louis realistis saja, takutnya jika ia berbohong akan berdampak terhadap restu pria tua ini.
Sultana diam. Ia sudah mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaannya. Seperti apa pria yang ingin menikahi Fahima, dan bagaimana keputusan dia kedepannya.
Louis yakin ia tidak akan diterima.
"Mengapa engkau tidak sholat, nak?" tanya Sultana.
"Tidak sempat karena pekerjaanku sebelumnya terlalu banyak dan sangat sulit untuk mencari masjid" jawab Louis menggosok punggung tangannya gugup.
__ADS_1
Sultana tersenyum, "Sesibuk-sibuknya Allah. Ia akan dapat kapan saja menyempatkan untuk mengambil nyawamu... jika itu memang sudah waktunya"
Wah sekarang Sultana sedang menyindir Louis. Ia pun menelan ludahnya kasar, se kasar perkataan Sultana.
'Titur kata kasar Fahima rupanya menurun dari ayahnya' maki Louis dalam hati.
"Jadi nak... Sesibuk-sibuknya engkau, sempatkan saja, selipkan saja waktu 5 menit untuk melaksanakan sholat sebelum Allah mencabut nyawamu" nasihat Sultana dan Louis tidak punya pilihan selain mengangguk.
"Saya akan sholat lima waktu mulai sekarang" jawab Louis membuat Sultana lega.
"Saya akan menerima lamaran engkau dengan sebuah syarat"
"Apa itu?" tanya Louis begitu penasaran.
"3 hari. Dalam waktu tiga hari engkau harus memiliki pekerjaan yang dapat engkau jadikan mahar dan tentunya dapat menghidupi keluarga dan putriku nanti"
"Tiga hari?" Louis terkejut, tapi sedikit hanya sedikit karena ia yakin Ead akan membantunya. Jadi ia merasa sedikit tenang. "Saya bersedia"
'Jadi setelah tiga hari dia akan setuju menikahkan putrinya denganku... aku yakin Tuan Ead akan memberikanku pekerjaan' antusias Louis dalam hati.
"Dan mengenai kewajiban sholat. Sebelum engkau rutin mengerjakan sholat dan saya yakin dengan itu maka engkau akan saya nikahkan dengan putri saya Fahima" tegas Sultana membuat mata Louis membola.
"Lalu, kapan anda yakin?"
"Itu tergantung bagaimana keseriusan engkau nak" jawab Sultana tersenyum.
Kalau begini sama saja Sultana belum merestui dirinya. Ia sudah jujur tapi pria tua berjanggut ini belum percaya.
"Baik, saya setuju"
...----------------...
Alham terduduk di kursi koridor rumah sakit. Otaknya sama sekali tidak bisa diajak berpikir, bahkan jantungnya berdebar. Ia terlihat sangat cemas menunggu kabar dari Dokter yang sedang memeriksa Widia dan Leiska.
Ia relakan pernikahan adiknya hanya untuk menunggu mereka.
“Keluarga pasien bernama Leiska!”
“Saya” Alham segera mendatangi dokter yang sudah keluar dari ruangan Leiska, mendahului dokter yang memeriksa keadaan Widia.
Tidak masalah, yang penting ia mendapat kabar nantinya.
“Bagaimana keadaan Leiska, Dokter?” tanya Alham meremat jari-jari tangannya gugup.
“Nona Leiska hanya pingsan… ada juga lebam di area perut dan dahinya… selain itu nona Leiska baik-baik saja” jawab Dokter membuat Alham bernafas lega.
Namun bagaimana dengan Widia saat ini? kenapa dokter begitu lama memeriksa Widia? Alham yakin wanita itu terluka parah melebihi Leiska saat ini.
Astagfirullah, rasanya Alham ingin mati karena rasa khawatirnya.
“Kakak!!!”
__ADS_1
Panggil seorang wanita bercadar beserta seluruh anggota Akthakarta. Mereka semua langsung menghentikan pesta saat mendengar Leiska dan Widia berada di rumah sakit.
“Kak apa yang terjadi kepada Leiska dan kak Widia” tanya Subha cemas namun kakaknya ini hanya menggeleng tak tahu.
“Bagaimana keadaan Leiska saat ini, Alham!!” Ead tidak bisa menggunakan nada rendah jika sudah menyangkut keluarganya.
“Dia baik-baik saja”
“Lalu---”
“Dengan keluarga pasien bernama Widia” panggil dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD. Dokter itu melepas maskernya saat Alham berlari mendekat.
“Bagaimana keadaannya, Dokter?”
“Pasien memiliki luka yang serius, pipinya sobek dan saya rasa, seseorang menyayat pipinya menggunakan staples tembak karena aku menemukan salah satu staples menancap di pipi”
Alham yakin ini kelakuan Leiska, namun ia hanya diam saja.
“Innalillahi” Umi menutup mulutnya sembari menangis di pelukan suaminya. Ia terkejut mendengar hal buruk mengenai calon menantunya.
“Lalu apa lagi, dokter?”
“Yang lebih mengejutkan lagi… mohon maaf! Area intimnya sobek seperti dimasuki benda yang melampaui ukuraan-nya. Ap aini kasus pemerkosaan?” Dokter itu hanya menduga-duga saja karena sasaran-nya ada di **** *****.
Alham menggeleng lelah, “Aku tidak tahu apa-apa… aku hanya menemukan Leiska dan Widia di ruangan yang sama dan keadaan mereka sudah sangat buruk”
Alham melengser turun menduduki lantai putih dingin milik rumah sakit. ia merasa kecewa dengan dirinya sendiri karena gagal menghalangi mereka hingga kejadian buruk menimpa.
“Tenanglah kak… aku yakin mereka akan baik-baik saja” Subha memeluk tubuh ringkih kakaknya.
Sementara Ead segera masuk ke dalam ruangan milik adiknya. Ia enggan untuk mendengar cerita Alham dan memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan.
“Leiska” Ead begitu khawatir melihat adiknya terbaring lemas diatas ranjang rumah sakit. Ia pun datang dan duduk disamping adiknya.
"Apa yang terjadi kepada dirimu. Kakak akan membunuh siapapun yang melukai dirimu, sayang. Maafkan kakak karena kurang telaten menjagamu" Ead mengusap anak rambut Leiska dengan lembut.
"Aw" pekik Leiska sadar. Hal itu membuat Ead khawatir dan segera memastikan.
"Leiska, kau baik-baik saja? Kau sudah siuman?" tanya Ead cemas.
Akhirnya wanita ini membuka mata juga. Namun sepertinya ia mencoba mengingat-ingat kejadian yang telah lalu karena rasanya ia lupa.
Terlihat saat ini Leiska hanya diam dengan pandangan kosong.
"Leiska ada apa?" tanya Ead mencoba memastikan.
"Dia sudah mati, kan?" tanya Leiska dengan sorot mata yang menajam dan penuh dengan dendam.
...To be continued...
...Maaf ya🙏...
__ADS_1