
Subha menatap intens punggung lebar milik Ead. Pria itu berucap tanpa melihat kearah isterinya, seakan menyembunyikan raut ekspresi yang tidak Subha tahu seperti apa.
Namun dari perkataan yang sudah Ead katakan, ia merasa jika tersembunyi luka didalamnya.
Subha merangkak mendekati Ead lalu duduk tepat dibelakang Ead. Tangannya mengulur menyentuh bahu Ead dari belakang, dan wajah Ead masih belum mau menoleh.
"Jika aku boleh tahu!. Mengapa kau mengatakan seperti itu? Bukankah kebersamaan ibu dan anak terlihat menenangkan?"
Kepala Ead langsung menoleh ke belakang, melihat Subha. "Iya jika dia memiliki Ibu... Jika untuk dia yang tidak memiliki ibu, rasa itu tidak akan berlaku"
Subha tidak menjawab. Ia yakin jika Ead tidak memiliki seorang ibu, dan kemungkinan Ead juga tidak pernah merasakan sosok hangat dari yang namanya ibu.
Subha menggigit bibir bawahnya, berpikir. "Apa ibumu sudah tiada?"
"Tidak usah membicarakan hal itu" wajah Ead kembali memaling, mengacuhkan pertanyaan Subha.
"Aku kan hanya tanya... Lagian apa salahnya aku yang sebagai istri bertanya hal pribadi suaminya? Toh memang seorang suami istri dianjurkan untuk tidak menyembunyikan rahasia"
"Dan aku tidak mau menjawabnya" refleks Ead menjawab dengan nada tinggi.
Subha sempat terkejut namun ia berusaha sabar dalam menghadapi temperamen suaminya. Keputusannya untuk menerima Ead, salah satunya adalah menerima kepribadian dia baik berupa positif maupun negatif.
Subha terima jika Ead masih belum mau membuka diri untuk bercerita. Subha pun mengalihkan kemarahan Ead dengan mengecup punggung tangannya lalu melepas mukenah.
Keduanya pun saling diam. Subha melipat alat sholat dan menaruhnya kembali ke dalam almari, sementara Ead mengganti pakaiannya.
Sejenak Subha melihat kearah ruangan ganti, dan pria itu belum juga keluar. Subha pun memilih naik keatas ranjang, menata duduknya serta menggeser bantal-bantal yang ada.
Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Ead keluar. Ia terlihat gagah dengan kaos oblong berwarna hitam serta celana hitam panjang, bahkan otot-otot lengan dan perut terlihat menonjol dan sangat indah.
"Kemarilah" panggil Subha membuat Ead melihat kedua tangan Subha membuka lebar-lebar, seakan bersiap menyambut kedatangan dirinya.
Pelan-pelan Ead mulai mendekat. Ia membaringkan tubuhnya diatas ranjang dan kepalanya berada diatas paha Subha. Salah satu lutut Ead tertekuk keatas.
Kedua mata Ead memejam saat Subha mengusap kepalanya dengan penuh kelembutan. Ia merasa nyaman jika dengan posisi ini.
__ADS_1
'Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku tanyakan, mengenai masalahmu dengan kakakku Alham, Adikmu, dan seorang ibu. Tapi sepertinya kau belum siap untuk bercerita denganku' gumam Subha dalam hatinya. Masih dengan keadaan mengusap kepala Ead.
Lama-lama Ead mulai nyaman dengan posisi seperti ini. Rasa kantuknya mulai terasa hingga menelan kesadaran Ead. Barulah ia masuk ke alam mimpi.
__________
Pagi hari dipenuhi dengan kicauan burung-burung menghiasi hunian megah milik seorang Mafia Italia. Hampir saja gelar Mafia pria itu terlepas setelah datangnya seorang wanita muslim yang merubah dunianya. Wanita muslim yang memiliki kesabaran serta keikhlasan dalam menjalani hidupnya.
Keduanya sedang berada didalam kandang Mia yang merupakan seekor kuda betina. Setelah kuda ini terpisah oleh anaknya, ia jadi gampang sakit. Bahkan Dokter sudah Subha panggilkan hanya untuk mengobati Mia, namun saat sudah sembuh Mia kembali sakit.
Subha terdiam sejenak memikirkan jika ia harus membawa anak Mia atau Mia yang harus dibawa ke tempat anaknya. Namun ia harus kembali berhadapan dengan sang suami, lalu apa dia menerima?
"Air susu yang kuda betina ini harus segera diambil. Hal itu dapat menyebabkan berbagai penyakit jika terus di endapkan" ucap Dokter kepada Subha dan Louis.
"Tapi saya sudah sering memerasnya, Dokter"
"Berapa kali?"
"1 kali seminggu" jawab Louis.
"Oh begitu ya!. Baiklah Dokter, terimakasih"
"Saya permisi dulu ya" ucap Dokter hewan tersebut, lalu pergi meninggalkan kandang. Ia juga menyapa pria yang hanya berdiri di luar kandang. Ead.
Kini Subha hanya termenung melihat kuda betinanya kembali sakit. Ia pikir setelah Dokter datang maka Mia tidak lagi sakit namun malah sebaliknya. Subha melihat keadaan Mia yang miris lalu melihat kearah Ead, berpikir jika Ead punya solusinya.
Subha mendatangi Ead dan bersiap memasang mata melas, "Bisakah kita mengambil anak Mia?"
"Tidak"
Jawab Ead terdengar sinis, bahkan tanpa mau melihat Subha yang berada disebelahnya.
Subha berpikir kembali, "Bagaimana kalau Mia kita bawa ke tempat anaknya. Pasti anak Mia juga menginginkan induknya"
"Tidak"
__ADS_1
Subha menarik nafasnya dalam-dalam, merasa kesal dengan penolakan suami keras kepala serta egois ini. Ingin rasanya ia menampol mulutnya namun kesabaran harus kembali ia rasakan.
"Kalau begitu aku dan Louis yang mengambilnya" ucap Subha membuat Ead Menoleh melihatnya. "Kau bilang kan tidak mau mengambil anak Mia, jadi biar aku dan Louis yang mengambilnya. Yang penting aku sudah ijin"
Subha melenggang pergi namun sebelum itu Ead menahan tangannya, "Denganku saja"
Setelah mengucap itu Ead melewati Subha hingga pergi meninggalkannya. Bibir Subha menyungging seiring dengan kakinya mengikuti Ead dari belakang.
Sampailah keduanya di Aurona, tempat peternak kuda terkenal di Kazhakstan. Saat keduanya memasuki wilayah Aurona, netra mereka akan disambut dengan lapangan yang dipenuhi dengan kuda berlarian saling mengejar.
Para kuda nampak bahagia berlarian di alam bebas. Ada juga para pengembala yang ikut andil berbahagia dengan menunggangi kuda yang sudah ia rawat sedari lama.
Semuanya nampak indah serta alami, membuat kedua mata Subha berbinar bahagia. Subha bergegas mendekati pembatas berbahan kayu untuk lebih jelas melihat para kuda disana. Saat kuda yang berlari melewati Subha, saat itu juga kebahagiaan Subha tiada terhingga.
Tuan Fairuz yang baru menyadari telah kedatangan tamu itu cepat-cepat menyapa, apalagi melihat jika Ead tamunya. "Selamat datang Nak Eadwarl"
Sapaan itu mengalihkan atensi keduanya. Merekapun segera menganggukkan kepalanya pelan sebagai pengganti kata salam.
Atensi Fairuz yang awalnya melihat Ead berganti melihat Subha serta kedua telapak tangan mengatup. "Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam" jawab Subha dengan kedua telapak tangan mengatup.
"Nak Eadwarl. Jika saya boleh tanya, siapa wanita yang bersama anda?"
"Isteriku" jawab Ead merubah mimik wajah yang Fairuz tampakan.
Fairuz Seakan ragu jika Subha memang isterinya. Namun untuk menghargai perasaan Ead, iapun langsung tersenyum menerima.
"Apa gerangan yang menjadikan dirimu datang kemari, Nak?"
"Ingin naik kuda" jawab Subha menyela Ead yang hendak menjawab.
...To be continued...
...Aku mau UAS!!! Doain lancar ya......
__ADS_1
...Mana jempol sama vote nyaðŸ˜...