
Mata putih bersih Alham kini berganti menjadi merah bagai darah kala air matanya luruh begitu saja. Dadanya naik turun seiring dengan nafasnya yang semakin tersengal-sengal. Ia diam tanpa sepatah kata.
Adiknya yang duduk disebelah merasa curiga, ada apa gerangan yang menjadikan kakaknya tidak mau membuka suara.
"Kak, ada apa dengan dirimu? Kenapa aku rasa setelah kakak mendengar cerita Adik Ead, rasanya kakak berbeda?" Subha menyentuh bahu Alham dan kepalanya menunduk ingin melihat wajah kakaknya yang menyisakan tanda tanya.
Sementara itu Alham merasa jika inilah waktu ia untuk memberitahu semuanya kepada Subha, mengenai hubungan masa lalunya dengan Leiska. Ia ingin mengakhiri semua drama dalam hidupnya.
"Subha, kakak ingin menceritakan sesuatu"
"Iya kak, cerita saja tidak apa-apa" jawab Subha dengan kepala mengangguk membuat Alham lebih berani untuk menceritakan kisahnya.
"Dulu waktu kakak pernah menyelingkuhi Widia"
Subha tercengang. Ia merasa kaget dengan kakaknya yang ia anggap setia rupanya pernah bermain dengan seorang wanita.
"Kakak selingkuh dari kak Widia? Ya Allah kak..."
"Jujur kakak tahu itu salah. Dulu kakak tidak menyukai Widia dan perjodohan ini hanya terpaksa" ucap Alham menyesal menundukkan kepalanya.
"Jika kakak tidak menyukai kak Widia, lalu jangan meneruskan hubungan ini. Kakak bisa memutuskan hubungan ini kan... tidak perlu selingkuh"
"Lalu kakak sadar jika perbuatan kakak salah. Kakak memutuskan untuk mengakhiri hubungan itu dengan kekasih kakak, namun sepertinya wanita itu belum bisa menerima dan menyusul kakak kesini"
Subha kembali diam. Ia mencerna kalimat demi kalimat yang Alham katakan. Sepertinya ia pernah mendengar itu dari seseorang. Sangat mirip dengan kisah Leiska.
"Apa... Maksud kakak wanita itu, Adik Ead?"
Alham mengangguk membenarkan dugaan Subha. Pria itu begitu menyesal telah melakukan hal buruk seperti itu terlebih melihat Subha yang menangis dengan penuh kekecewaan yang begitu dalam.
"Subha---"
"Bagaimana kakak bisa melakukan ini... kakak begitu tega melakukan ini kepada Leiska. Dia sampai datang kemari dari Italia hanya ingin menemui kakak" ucap Subha menangis.
"Kakak sama sekali tidak tahu jika Leiska akan datang kemari. Kakak tidak tahu jika dia bisa melakukan hal sejauh ini" Alham semakin menyesal.
Subha mengingat kejadian beberapa Minggu yang lalu, dimana Ead begitu dendam ingin menghajar Alham sampai babak belur.
"Pantas saja Ead tidak menyukai kakak" ketus Subha terang-terangan. Ia sudah tidak mau lagi berucap halus saat Alham membuatnya kecewa.
"Sub---"
"Assalamu'alaikum"
Potong seorang pria memakai jaket kulit berwarna hitam daleman kaos oblong berwarna putih. Pria itu datang untuk melaksanakan tugas dari atasannya.
__ADS_1
"Louis?"
"Maaf jika saya mengganggu pembicaraan kalian. Saya disini di tugaskan oleh Tuan saya, Ead. Beliau meminta saya untuk menjaga keluarga Akthakarta sampai beliau pulang" ucap Louis memberi laporan dengan kaku dan menundukkan pandangan saat Subha memaling untuk mengusap air matanya.
"Kapan kira-kira dia akan pulang?"
"Saya juga tidak tahu" Louis masih saja menundukkan kepala. Ia merasa malu jika harus melihat wajah tertutup wanita yang merupakan istri Tuan kesetiaannya.
Alham yang mendengar itu semua merasa harus membantu Ead dalam mencari Leiska. Beberapa kejadian juga merupakan salah Alham dan ia harus membantu setidaknya sekali.
"Dimana Ead saat ini?" tanya Alham mendekati Louis yang sekalipun tidak melihat kearahnya.
"Apa yang akan kau lakukan jika aku memberitahu keberadaan Tuan ku?" Louis memberikan tatapan tajam namun bibir membentuk ringaian mengerikan. Ia tidak ingin membalas pertanyaan Alham dengan hati yang lapang.
"Aku hanya ingin tahu dimana keberadaan Ead sekarang! Aku harus memberitahu sesuatu..."
"Mereka menuju perbatasan kota Almaty. Jika mereka tidak disana, berarti mereka belum sampai" Louis menjawab dengan wajah yang sinis serta mata yang melirik, "Bukan jalanan beraspal yang akan mereka lewati. Hutan"
"Aku harus pergi"
"Kak Alham..."
Teriak Subha ingin mengejar Alham namun pria itu sudah keburu lari meninggalkan dirinya.
Setelah kota yang dipenuhi dengan gedung-gedung besar, mengapa mata ini malah melihat rimbunnya hutan belantara? Pelariannya yang membutuhkan waktu tidak lama telah membawanya melewati kota serta hutan yang luas dan sepi.
Leiska berdiri dengan lelah yang terus menggerogoti kekuatannya, matanya nanar melihat sisi-sisi yang terlihat sama, dadanya naik turun seiring dengan jantungnya yang memompa, kedua kakinya nyeri karena kebanyakan lari dan terjatuh hingga terlukis luka. Sungguh menyedihkan hidupnya.
Tangisannya yang tersengal telah menepis kesunyian tempat ini. Kedua telapak tangannya meraup wajahnya yang kotor dan berkeringat.
"Aku ada dimana?... Kak Eadddd tolong Leiska kak. Leiska janji akan patuh dengan perintah kakak"
Leiska bergumam seakan bahwa kakaknya akan mendengar curhatan hatinya. Wanita ini begitu lelah namun juga takut untuk berada di tempat ini lama-lama.
"NYONYAA LEISKAAA"
"AAAAHH"
Terkejut Leiska membalikan tubuhnya menghadap dua pria yang merupakan suruhan Zlander. Rupanya dua pria ini masih setia mengikuti dia.
Dua pria itu juga bernasib sama dengan dirinya, merasakan lelah, namun wajah mereka terlihat memiliki dendam dan rasa amarah yang tinggi.
"Kemana kau akan pergi, hah?"
Terlebih salah satu pria itu seakan melemparkan tatapan mengerikan dengan mata yang menyusuri seluruh tubuh Leiska saat ia memundur perlahan.
__ADS_1
"Pergi kalian dari sini" gertak Leiska tidak didengar oleh dua pria itu.
"Wilson, kau masih ingat dengan apa yang aku katakan beberapa jam yang lalu?"
Pria yang dimaksud langsung mengingat perkataan rekannya beberapa jam yang lalu, dimana pria ini akan memberikan hukuman Leiska jika sudah tertangkap.
"Kau akan memberi hukuman apa, Tuan Zlander akan marah jika melihat Nyonya Leiska terluka, Alex" sarkas Wilson penuh kengerian kepada rekannya yang ternyata sudah melepas baju yang dipakainya.
"Aku akan melukainya dengan pelan sehingga Tuan Zlander tidak akan mengetahui itu. Lagipula, Tuan Zlander juga sering memakainya. Tidak masalah jika aku ingin sekali mencoba wanita Italia itu"
Ucap Alex memperihatinkan seringaian yang mengerikan. Dari itu Leiska merasa takut dengan pria bernama Alex saat matanya melihat dada kurus pria itu mendekat kearah tubuhnya mulai mundur.
Leiska berniat melarikan diri namun baru saja beberapa langkah Alex sudah menarik tangan dan memelintirnya kebelakang, rambut ikal hitamnya di tarik hingga kepalanya menengadah.
"Aarkk le-lepasss"
"Kau membuat kami kesusahannn. Apa kau sadar akan hal itu?" pria itu berbisik di telinga Leiska saat tarikan rambutnya di perkuat.
"Alexxx bagaimana kalau Tuan Zlander tahu? Matilah kau nantiiii" cemas Wilson melihat tempat-tempat sekitar dengan perasaan yang takut. Takutnya tiba-tiba Zlander datang.
"Kalau begitu bantu aku supaya cepat selesai"
"Kau----"
Wilson bimbang dengan keputusannya sendiri. Ia ingin melarang namun Alex begitu nekad, mau di biarkan, tapi kok lama?
"Sini aku bantu"
Akhirnya Wilson ikut andil dalam melancarkan niat rekannya. Lagipula ini tidak akan ketara, pikirnya.
Leiska yang semakin ketakutan masih tidak berhenti berteriak saat tubuhnya di baringkan ke atas tanah dan kedua tangannya di lilit kuat oleh cengkeraman tangan Wilson.
"Kau... ak-akan mati jika melakukan ini..." rintih Leiska berusaha memberontak dengan sekuat tenaga, namun dia hanya seorang wanita yang lemah dan kurangnya energi. Bagaimana dia bisa melawan.
'Kakak tolong Leiska... Aarkkk'
Tangis Leiska menendang-nendang udara, saat matanya nanar menampaki tubuh pria itu sudah bertelanjang dada dan siap mengungkung dirinya.
"Ayo kita melepas lelah sejenak, sebelum kau aku kembalikan kepada Tuanku" ucap Alex untuk yang terakhir kalinya dengan tangan yang hendak merampas kain pakaian Leiska.
Dorr
"Aarkk"
...To be continued...
__ADS_1