
Dorr
"EADDDD" pekik Roy langsung menahan tubuh Ead saat kakinya tiba-tiba lemas dan hampir menjatuhkan dirinya diatas tanah.
Sejenak suasana menjadi hening saat peluru keluar dari lubang silinder mematikan milik seorang wanita memakai cadar tak beraturan yang berdiri dibawah pohon rindang penuh dedaunan. Wanita itu baru saja mendaratkan pelurunya di kaki kanan Ead sebelum dia berhasil memulai penyerangan.
Seketika senapan dari pasukan Ead langsung mengarah kearah wanita yang dengan beraninya memulai tembakan saat dirinya tengah sendirian. Sementara Ead menutup luka di kaki kanannya yang semakin nyeri, mengabaikan pasukan Zlander yang terlihat biasa seakan sudah di rencanakan.
Beberapa detik saja. Hanya beberapa detik saja mereka diam sebelum akhirnya wanita itu melangkah dengan kedua kakinya yang angkuh dan sombong.
"Haiii Ead! Aku hanya mengembalikan luka yang sudah kau titipkan kepada diriku beberapa bulan yang lalu. Kau suka?"
Ead tidak menjawab. Ia benci, sangat benci ketika mata binar berwarna biru khas orang Kazakhstan itu memancing amarahnya.
"Aku benci apapun yang memiliki dua muka" Ead tertawa lirih kearah wanita yang tidak memiliki rasa takut dengan berjalan bergabung dengan pasukan Zlander.
"Pantas matamu aneh saat melihatku di rumah sakit waktu itu" Widia melepas cadar yang menutupi bibir merahnya, memperlihatkan wajah yang benar-benar Ead kenal dan ia tidak menyukainya.
"Aku tidak bisa membayangkan! Bagaimana terlukanya Subha saat mengetahui wanita yang ia anggap kakak ternyata hanya seekor ular berkepala dua. Menjijikan" Ead mendaratkan tatapan tajam serta kelam kepada Widia yang juga menatap penuh benci.
"Dan, Alham benar-benar bodoh. Dia membuang berlian dan mengambil batu kali yang sudah di injak oleh kedua kaki yang tidak pernah di cuci" hina Ead mengeluarkan gelak tawa nyaring. Ia sama sekali tidak merasakan sakit di kaki kanannya.
Widia semakin benci dengan pria pemilik ketawa menggelegar itu. Ingin rasanya ia memutus pita suara dari tenggorokan Ead saat sudah tertangkap nanti.
"Jangan banyak omong! Aku merasa kesal jika mendengar suaramu"
"Serangan sudah di mulai saat anak buah bodoh mu menarik pelatuknya, Zlander" kilas Ead sebelum akhirnya melayani puluhan pukulan kepada pria bertopeng yang berusaha menghindar dari pukulannya.
__ADS_1
Di tengah hutan lebat milik negara Kazakhstan ini mereka membabi buta, menjadikan hutan sulit sinar matahari sebagai saksi pertumpahan para pasukan mereka. Dentuman senjata menyeruak keluar sampai masuk kedalam rongga telinga setiap orang yang ada disana. Teriakan membabi buta menghancurkan lawan yang sekiranya pantas untuk ditiadakan.
Widia menyerang menggunakan kaki, tangan, serta kepintaran otaknya dengan pria berdagu halus khas Eropa seperti Roy. Dua orang ini menyerang dengan begitu cantik, dimana terkadang Roy menoel dagu Widia saat wanita itu kelabaan menghindar. Semua adalah cara Roy untuk menang dan memang itu adalah kebiasaannya dalam melakukan perkelahian dengan wanita. Harus ada rayuan! Itu suatu hal yang penting.
"Mata biru mu indah, Widia" kilas pujian yang Roy berikan kepada Widia saat tangannya memelintir tangan Widia ke belakang. Namun Widia yang kesal langsung menyikut perut Roy hingga terdorong ke belakang dan melepas cengkeraman tangan.
Sementara Vero menghabisi pasukan Zlander dengan persenjataan yang ada di dalam sakunya. Ia menggunakan jarum beracun untuk menusuk setiap tangan yang berani memukul anggota tubuhnya.
Tsuk
"Rasakan kau" kilas kalimat telah Vero berikan setelah ia berhasil menusukan jarum beracun kedalam tangan pasukan Zlander. Pasukan Zlander langsung tersungkur diatas tanah bagai cacing kepanasan. Sensasi panas, nyeri dari efek jarum tersebut dapat membakar jiwanya perlahan-lahan.
Selanjutnya inilah perkelahian dua orang pria yang menjadi pusat utama, dimana perkelahian yang melibatkan dua pemimpin Mafia terbesar. Zlander terus menghindar saat anggota tubuhnya menjadi sasaran utama belati tajam yang Ead ambil dari saku belakang. Beberapa kali Ead mencoba menyayat dan berkali-kali pula Zlander dapat menghindar. Tidak mudah melukai Zlander! Iya itu memang benar, namun hanya berlaku untuk orang biasa. Untuk Ead? pria ini akan mudah melukai lawan jika memang itu yang ia inginkan.
Tsuk
Tubuh Ead mundur merasakan hidungnya berdarah karena terlalu kuat Zlander memukulnya. Keduanya sudah tidak membawa senjata apa-apa. Hanya kedua tangan dan kaki yang siap untuk menjadi penghalang serangan lawan.
Sementara puluhan pasukan keduanya sudah hampir habis dengan nyawa melayang. Zlander merasa ini merugikan dirinya karena ia melihat pasukan Ead terus berdatangan dan miliknya? Sudah ia habisi beberapa jam yang lalu. Zlander memutar otaknya, mencoba memanipulasi keadaan.
"Sebaiknya kau mundur! Karena pasukanku akan menyerang mu dari segala sisi. Banyak sekali pasukanmu yang gugur! Aku takut kalian kewalahan" ucap Zlander terlihat santai namun hatinya bergetar takut.
"Tidak ada niatan aku untuk mundur. Ead tidak pernah menyerah di pertengahan serangan. Jika para pasukanku habis maka aku sendiri yang akan menghabisi mu"
"Sialll" maki Zlander tidak didengar oleh telinga Ead.
Zlander merampas senapan yang kosong tanpa peluru diatas tanah. Lalu ia menggunakan senjata itu untuk menyerang Ead.
__ADS_1
Brukk
Zlander memukulkan gagang senapan di perut dan juga kepala Ead. Tubuh Ead terjatuh, dahinya mengeluarkan lelehan darah. Zlander menarik kerah Ead dan kembali melayangkan pukulan panas ke wajahnya.
Tidak mau tinggal diam Ead menendang dada Zlander. Memiliki kesempatan ia segera mencoba membuka topeng menjijikan dari wajah pria itu. Namun tidak semudah yang Ead kira.
Dalam masa percobaan Ead, tidak sekali Ead terjatuh dan terpeleset saat pria itu enggan membiarkan Ead mengetahui jati dirinya. Keduanya juga menggelinding menuruni bukit menjauhi para pasukannya. Dari itu cengkeraman tangannya ke topeng itu seketika lenyap.
Keduanya jatuh di tempat yang berbeda. Merasakan sakit yang sama dimana tubuh keduanya membentur pohon besar yang membuat sakit diarea dalam.
Namun tekad Ead lah yang membuat dirinya semangat dan Zlander semakin kewalahan melihat kekuatan Ead yang begitu besar. Ead berusaha bangkit dan mengabaikan semua rasa sakit akibat luka di sekujur tubuhnya.
Tangan kekar Ead mencabut gagang kayu yang menancap di bawah pohon besar tempatnya terjatuh. Ia mengambilnya dan melayangkannya ke kepala Zlander.
Bugh
Tubuh pria itu terhuyung ke tanah dengan sangat keras, namun topeng itu terlalu kuat menempel diwajahnya hingga tidak sedikitpun lepas dari wajah pria itu. Entah memakai lem apa!. Ead yakin jika kepala Zlander terluka walau tertutup, terlihat pria itu yang sempoyongan memegang dahinya.
Ead memiliki kesempatan untuk menyerang lagi hingga pukulan kayu itu semakin kuat menghajar sekujur tubuh Zlander habis-habisan.
Dari mata Zlander ia melihat kapak berkarat tanpa ada pemiliknya. Ia ambil untuk membalas pukulannya...
Brak
TBC
Jangan lupa vote...
__ADS_1
Sementara satu dulu, kalau ada waktu aku tambah!!