
Tutur kata gadis berwajah Kazakhatan itu terdengar melantun di telinga Louis. Wajah cantik menenangkan itu mampu menghipnotis pikiran serta jiwanya. Bibir pink itu mengecap indah mengiringi gadis itu untuk menguarakan pikirannya. Semuanya nampak bersatu membentuk sebuah kesempurnaan yang nyata.
“Sempurna” tutur Louis terkesima.
Namun hal itu justru menciptakan respon buruk didalam hati sang gadis. Nampaknya si gadis tidak suka hingga menolehkan wajahnya kearah lain.
“Memang benar kata Subha. Sebaiknyaa aku memakai cadar! Pria ini membuatku dosa saja” gumam gadis itu terdengar kesal.
Yah! Gadis yang Louis temui sampai membuatnya terpesona merupakan sahabat Subha yakni Fahima. Gadis ini tidak sengaaja melewati tempat itu untuk pergi ke pasar.
Terlepas dari itu semua, ada pria yang naampak kesal karena melihat respon rekannya yang seperti pecundang, seperti orang yang takut dengan wanita. Ia pun segera menyusul Louis.
“Heiiii gadis kecilll jangan berani-beraninya kau membentak pria yang lebih tua ya! Disini yang salah itu bukan hanya dia tapi KAU. Gara-gara dirimu aku kehilangan mangsaku, gara-gara kau kami kehilangan target kami. Dasar gadis menyusahkan” tutur Roy memarahi Fahima.
“Maaf ya Tuan. Saya tahu saya juga salah tapi teman anda seharusnya diingatkan untk tidak melakukan kebut-kebutan. Kenapa anda cuma menyalahkan saya?”
Bantah Fahima merasa tidak terima. Menurutnya ini murni kesalahan Louis dan dia hanya korban. Sementara si pelaku nampak menarik-narik Roy untuk bersabar.
“Sudahlah Roy. Ini semua bukan salah dia tapi salahku. Tolong jangan marahi dia”
“Kau itu gila atau bagaimana? Jika gadis ini tidak lewat sembarangan pasti juga nggak akan kayak gini. Coba lihat! Sekarang mereka kabur. Siapa yang mau tanggung jawab?” bantah Roy atas ucapan Louis.
“Aku yang akan tanggung jawab”
“Lalu, siapa yang wanita yang akan menemani tidurku malam ini? Kau mau tanggung jawab?” sentak Roy kembali.
Memang Louis tidak bisa menggantikan Diran dalam urusan ranjang. Namun pria ini bisa menggantikan dirinya dalam urusan hukuman yang akan diberikan Ead kepada mereka.
“Sudah-sudah! Roy kau bisa mencari wanita yang lebih cantik lagi. Ayo pergi” ucap Louis menarik Roy memasuki mobil. “Sekali lagi saya mohon maaf, Nona”
“Jangan mengebut lagi”
“Tidak akan” jawab Louis menerima nasihat Fahima.
Keduanya menaiki mobil. Namun tatapan mereka masih menatap intens wajah gadis itu, apalagi Louis yang memberikan senyuman kecil kepada Fahima dan Roy melihatnya.
“Kau tersenyum, Louis?” tanya Roy tidak pernah menyangka jika rekannya ini memberikan senyum untuk seorang gadis yang baru ditemuinya. “Louis kau tersenyum?”
“Tidak”
“Aku melihat kau tersenyum tadi”
Cerocos Roy terheran-heran. Akhirnya Louis meninggalkan Fahima dijalan.
Disatu sisi.
Kedua wanita yang berhasil lolos dari kejaran dua pria itu akhirnya dapat bernafas dengan lega. Mereka akhirnya dapat mengendari mobilnya dengan nyaman dan tenang. Wajah wanita pemilik julukan Widia itu terbuka saat kain penutup itu melayang terbawa angin.
“Bagaimana bisa Ayel Lesi terbakar?”
“Waktu itu Domini datang berkunjung di Ayel Lesi. Kami menyambutnya dengan baik, namun rupanya kedatangan dia hanya ingin mencari seseorang” jawab Diran.
“Siapa yang dia cari?”
“Leiska dan Zlander”
__ADS_1
Sejenak Widia terkejut.
“Widia… aku tidak mengatakan apa-apa mengenai keberadaanmu di Ayel Lesi. Dia hanya ingin mencari keberadaan Leiska dan juga Zlander. Namun aku tidak pernah melihat wajah Zlander sekalipun jadi aku hanya bilang mungkin memang Zlander yang menyembunyikan Leiska”
Widia hanya diam tanpa sedikitpun menjawab.
“Lalu Diran. Apa sesekali pria itu bertanya mengenai Subha? Mungkin dia menyinggung tentang Subha kepadamu”
“Sepertinya tidak”
“Lalu kenapa para pasukan Dominic mengejar dirimu? Jika mereka hanya focus dengan kehilangan Leiska dan Zlander, seharusnya saat dia sudah mendapat informasi itu, tentu dia akan melepaskanmu”
Ucap Widia membawa mobilnya ke sebuah jurang yang tinggi. Mereka akan melihat laut luas dengan matahari senja diatas sana. Widia keluar seraya melepas hijabnya yang masih menempel di kepala.
Diran yang masih berpikir itu juga ikut keluar, “Sepertinya mereka akan memanfaatkan diriku. Syukurlah kau tepaat waktu menjemput ku”
“Selain itu semuaa apa kau mengatakan hal yang lain?”
“Aku tidak mengatakan apapun. Aku tidak sebodoh itu hingga begitu mudah memberitahu pria Italia itu. Lagipula aku tidak mendapatkan apa-apa” jawab Diran bersandar dibadan mobil.
“Kau suka melakukan sesuatu yang menguntungkan, bukan? Jadi, apapun yang kau kerjakan tergantung seberapa besar keuntungan itu”
“Kau benar Widia. Memang seperti itulah aku. Aku suka sesuatu yang menguntungkan untukku, jika hal itu tidak menguntungkan, lebih baik aku tinggalkan”
“Aku juga sama sepertimu. Dari itu aku ingin melepasmu”
Sejenak Diran merasa bingung dengan maksud wanita yang membelakanginya itu. Bukankah Widia akan selalu bersamanya, mengingat jika mereka tumbuh besar ditempat yang sama.
“Aku harus melepasmu karena kau sudah tidak berguna untukku. Diran, lagipula kau juga berkata seperti itu kan! Dalam kata lain, kau bisa membuka rahasiaku selagi itu bermafaat untukmu. Mungkin alasan pasukan Zlander mengejar mu, karena informasimu masih dibutuhkan”
“Lalu?”
“Kau akan melenyapkan diriku?”
“Tentu jika itu menguntungkan ku”
Jawab Widia menyeringai kearah wanita yang terdiam di badan mobil sana. Sejenak Diran merasa terhianati oleh Widia. Rasanya ia ingin melawan wanita penghianat itu, namun itu semua lenyap kala melihat belati runcing keluar dari sakunya.
Diran mencoba lari dan Widia mengejar. Wanita pemilik Ayel Lesi itu mencoba menuruni taanjakan curam untuk menuruni jurang.
“Jangan lari kau Diran”
Widia berhasil menangkap tangan Diran. Lantas dari tangan satunya Widia mengangkat belati itu, bersiap menusuk wajahnya.
Srett
“Aarkk” pekik Diran merasa nyeri di pipinya yang tergores. Hal itu menimbulkan amarah untuknya.
Diran langsung menjambak rambut Widia, tidak mau tinggal diam Widia juga membalas menjambak. Tangan satunya saling serang dan menahan. Intinya Diran berusaha untuk menahan belati itu.
Widia yang kesal mendorong Diran hingga terjatuh. Tubuhnya menggelinding menuruni jurang yag curam dan tidak beraturan. Pastinya tubuhnya membentur bebatuan disana.
Sejenak Widia memastikan keadaan wanita itu. Ternyata wanita itu masih juga bergerak, Diran mencoba ingin kabur.
Srett
__ADS_1
Dengan satu lemparan maut, Widia mampu menusukan belatinya di punggung Diran. Seketika itu tubuhnya kaku lalu terjatuh. Tubuhnya tengkurap dengan pipi menyentuh tanah serta mulut mengeluarkan lelehan darah.
“Kau sudah mati kan?” gumam Widia dengan nafas yang tidak beraturan seraya berlari mendekati Diran. “Diran”
Widia mencoba menendang-nendang tubuh wanita tak berdaya itu. Rupanya tusukan di punggung masih belum cukup untuk mencabut nyawanya, nyatanya ia melihat tangan itu bergerak.
“Wid-widia… bi-biarkan aku hidup… uhuk uhuk “ Diran terbatung seraya memohon kepada wanita yang berdiri diatasnya.
Widia mulai panik. Ia mencari-cari sesuatu untuk menghentikan pergerakan tangan Diran. Dilihatlah batu yang ada dibelakangnya. Ia berusaha mengambilnya dan…
“Wid---"
Bugh
Batu itu melindas tubuh bagian atas Diran. Wajah Widia melengos keaarah kanan, tidak mau melihat tubuh hancur wanita itu. Sungguh sangat mengerikan, terlebih pakaian Widia yang kotor terkena cipratan darah rekannya.
Saat itu juga Widia telah dinyatakan sebagai seorang pembunuh. Diran tewas ditangan sahabat masa kecilnya. Sahabatnya tiada beriringan dengan suara Adzan maghrib yang berkumandang di tengah-tengah kota sana.
Widia menjatuhkan dirinya sendiri, merasa terpukul dengan apa yang ia lakukan. Walaupun Widia membunuhnya, yakin jika ia sangat menyayangkannya.
“Diran… aku sudah melepaskan dirimu dari mengerikannya dunia ini. Ini impianmu dari kecil kan? Aku sebagai sahabat sudah mengabulkannya” Widia menarik nafasnya yang terasa sesak. “Memang, setiap usaha harus ada korban. Aku tidak perduli siapa korban itu”
_________
Di tempat lain…
Kericuhan baru saja terjadi di persembunyian pria yang tidak pernah memperlihatkaan wajahnya didepan para bawahan mereka. Hampir setiap anggotanya tidak pernah melihat seperti apa wajah atasannya itu. mereka hanya akan tahu jika itu sudah ajalnya.
Di kediaaman itu nampak para anggota Zlander berlarian kesana-kemari, mengeceki setiap sisi ruangan disana. Mereka takut jika sesuatu yang mereka duga terjadi.
Beberapa pengawal bertemu di perempaatan Lorong saat mereka tidak menemukan seorang wanita yang telah menjadi hak paten atasannya.
“Kau benar-benar sudah mencari di seluruh tempat?” tanya salah satu diantaranya.
“Iya… aku sudah mencarinya keseluruh tempat ini. Tapi aku tidak berhasil menemukan Nyonya Leiska”
“Gawattt, Tuan Zlander akan murka jika ia mengetahui ini. Bagaimana kalau Tuan Zlander kembali petang nanti dan tidak menemukan keberadaan Nyonya Leiska disini?” cemas mereka.
Mereka ketakutan. Takut jika ada salah satu dari rekannya yang tiada lagi.
Kejadian seperti sebenarnya sudah pernah terjadi, dimana Leiska berani kabur dari persembunyian Zlander. Hal itu membuat mereka kehilangan 50 anggota. Zlander paling tidak bisa mentolerir kecerobohan anak buahnya dalam menjaga Leiska.
“Siapa yang berani menelpon Tuan Zlander? Telpon kematian"
Itulah julukannya. Namun tidak ada yang bersedia menghubungi Zlander. Mereka hanya saling melihat-lihat tanpa mau bergerak. Justru mereka semua menunduk seakan tidak mendengar.
“Aku yang akan menelponnya”
Salah satu pemimpin pasukan itu tidak memiliki takut dengan menelpon Zlander. Dan saat ini panggilan sudah terhubung.
Drettt
Dering telpon berbunyi diatas meja kerja. Para orang-orang yang mendengar segera memanggil si pemilik ponsel tersebut.
"Tuan Louis! Ponsel anda berdering"
__ADS_1
...To be continued...
...No comment 🤫...