
Pusat perbelanjaan di kota Almaty. Pusat perbelanjaan yang menjadi kegemaran untuk para warga-warga yang melewati jalanan ini. Mereka pasti akan menyempatkan untuk berkunjung bersama rekan, keluarga dll.
Seperti dua wanita ini. Mereka berdua datang untuk berbelanja bersama pria dingin yang merupakan penjaga setia mereka.
Louis melihat-lihat pakaian gadis-gadis dengan fashion yang memukau dan terlihat kekinian. Melihat semua itu ia teringat dengan adiknya dirumah.
"Amina pasti suka" gumam Louis meraih style pakaian yang menarik perhatiannya, namun gadis jutek berhijab lebih dulu meraihnya.
"Sepertinya ini bagus" gadis itu tidak memiliki rasa bersalah dengan memilih acuh membentangkan pakaian yang sebelumnya ingin Louis ambil.
Louis tertawa kesal.
"Maaf Nona Fahima, sepertinya kau salah... pakaian itu sudah lebih dulu aku incar"
"Hanya incar. Kenapa kau tidak mengambilnya dengan cepat? Itu salahmu..." Fahima melengos kearah lain, mengabaikan Louis yang hanya menggeleng kepala rendah.
Ia sudah tidak mau berdebat dengan gadis itu, terlebih ini di tempat umum.
Namun secara kebetulan Louis melihat seseorang yang mencurigakan seakan sedang melakukan pengintaian. Pria itu memakai gamis panjang putih dan sorban menutup setengah wajahnya. Rupanya saat Louis mencoba untuk mengikuti perhatian pria itu, wanita bercadar yang merupakan istri atasannya menjadi pusat perhatian pria itu.
Karena penasaran, Louis mendatangi pria bergamis itu dan menepuk bahunya. "Permisi, apa yang kau lihat?"
Pria itu hanya memberikan lirikan lalu menghadapkan wajahnya kebawah, seakan dia menyembunyikan sesuatu dari Louis. Namun Louis masih bisa berpikir positif.
"Tuan, jangan melihat wanita itu... dia sudah memiliki suami dan tengah hamil" Louis mencoba berkomunikasi, namun pria bergamis itu masih diam menurunkan pandangan kebawah. Louis menjadi curiga.
Mata tajam Louis memperhatikan gerak-gerik pria itu dan setelan yang ia gunakan. Wajahnya memang seperti orang Kazakhstan, namun penampilannya seakan menyembunyikan sesuatu. Sepatu pantofel hitam dengan gamis putih, begitu kontras dan kurang cocok. Apalagi ia melihat jam tangan kamera. Biasanya memang digunakan saat pengintaian dan hanya beberapa orang yang mengetahuinya.
"Style mu unik" Louis menaikan sudut bibirnya, namun mata biru safir itu menatap terlihat tajam menepis keberanian sang lawan. Ia tahu seperti apa pria ini.
Bugh
Pria bergamis itu mendorong Louis hingga menubruk pakaian-pakaian yang tergantung dengan rapi. Para warga yang melihat itu menjadi sangat histeris, terutama Subha dan Fahima.
Fahima segera berlari menghampiri Subha, "Apa yang pria itu lakukan?"
"Melakukan tugasnya" jawab Subha sepemikiran nya. Ia bisa melihat jika pria itu orang yang jahat namun berbeda dengan Fahima yang tidak tahu apa-apa.
🌹
🌹
__ADS_1
Di pusat perbelanjaan ini Louis mengejar pria yang memiliki maksud lain dengan Subha. Ia tidak akan pernah melepaskan pria itu, tidak akan pernah.
Louis melewati orang-orang hingga menuruni eskalator yang memiliki arah berbeda dengannya. Alhasil Louis menabrak para pengunjung dan mendapatkan cemoohan untuk hati-hati. Tapi siapa yang akan peduli? Louis hanya melakukan tugasnya. Ia akan tuli hanya untuk ini.
Lihatlah, Louis berhasil menangkap pria itu. Ia menarik pakaiannya.
Srakk
Gamis putih itu sobek saat Louis dengan enteng menariknya. Tubuh pria itu terlihat, dimana ia memakai kaos oblong putih dan celana panjang denim. Masyakarat pun kembali mencemooh.
"Dasar tidak bermodal. Setidaknya, cari yang bahannya bagus" Louis menyeringai jijik dengan pakaian murahan yang pria itu pakai, seakan Tuannya tidak bisa membelikan dia pakaian yang berkelas.
Bugh
Pria itu menendang dada Louis yang langsung tersungkur begitu saja. Ia pun bergegas untuk lari.
"Siall menyusahkan saja" maki Louis mengejar lagi.
_____
Di tempat lain...
Disaat mobil mewah keluaran terbaru biasanya melewati jalanan aspal yang halus dan perkotaan yang padat penduduk. Namun berbeda dengan mobil mewah yang satu ini, dimana seorang pria bagai orang gila membawa mobilnya melewati pasir sampai hutan yang rimbun pepohonan. Ia tidak takut jika mobilnya lecet terkena ranting-ranting didepannya. Hanya satu yang ia pikirkan, 'dapat membantu menemukan Leiska'
Saat mobilnya berhenti, mungkin sudah ada di tengah-tengah hutan. Alham turun dari mobilnya untuk mencari suara gemuruh orang dan perkelahian yang memenuhi gendang telinganya. Ia juga mendengar suara tembakan, menguatkan dugaan Alham tentang keberadaan pasukan Ead.
'Aku akan menemukan dirimu, Leiska. Aku akan bersungguh-sungguh dalam usahaku ini. Kita akan hidup bahagia'
Alham mengendap secara perlahan, melihat keadaan sekitar jika kemungkinan beberapa orang ada yang lewat dari sisi-sisi kanan dan kirinya. Mata Alham jeli melihat keadaan sekitar.
Dari kejauhan sana Alham dapat melihat jelas para pasukan berkelahi untuk saling membunuh. Tidak sekali mata Alham melihat nyawa menghilang, hampir saja dia ingin muntah namun ia menahannya.
Sampai seorang wanita muda menjadi sasaran mata tajam Alham. Wanita itu sangat mirip dengan tunangannya, bentuk wajahnya, tubuhnya semua sangat mirip dengan Widia. Hanya saja yang berbeda, perilakunya begitu liar dengan membantai orang-orang yang dilawan. Sungguh berbanding terbalik dengan tunangannya.
"Widia?"
Alham membulatkan matanya sempurna menyaksikan kekerasan yang Widia lakukan. Hatinya sakit bagai disayat oleh pedang tajam. Bayangan yang ia lihat waktu datang ke tempat Zlander, bisa jadi wanita itu memang Widia. Widia memiliki hubungan dengan pria-pria mengerikan disana. Widia menipunya? Rasanya ia tidak percaya.
Pria itu tidak menyadari jika kedua kakinya sudah bergerak menemui wanita dan memasuki area peperangan. Siapa peduli? Ia hanya ingin menemui wanita itu.
Wanita yang sedang berkelahi menembaki kepala pria dan menumbangkan satu-satu tubuh mereka. Sampai tangan menggenggam pistol itu mengarah ke kepala seorang pria yang ternganga melihatnya dari dekat.
__ADS_1
"Kau benar Widia"
Deg
Jantung Widia meledak hancur seperti di ledakan oleh meriam besar. Begitu terkejutnya Widia melihat pria yang ia cintai berada di tempat ini, bahkan melihat dirinya dalam keadaan berantakan.
Mata Alham memanas sampai air matanya luruh membasahi pipi tirusnya. Sesak dan sakit sekali hati ini.
"Alham?" lirih Widia memanggil namanya namun pria itu hanya diam tidak bersuara.
Di tempat ini masih sangat berbahaya untuk keduanya berkomunikasi bersama. Widia segera menarik tangan Alham ke suatu tempat. Meninggalkan para pasukannya yang hampir menipis. Vero juga melihat Widia melarikan diri, Vero tertawa dan akan membunuh wanita itu jika urusannya sudah selesai.
🌹
🌹
Bruk
Alham menepis tangan Widia hingga mendorong wanita itu keatas rumput-rumput liar. Ia tidak Sudi di sentuh oleh tangan kotor wanita itu, tidak Sudi.
Keduanya sudah lumayan jauh dari suara gemuruh senjata sehingga mereka akan membicarakan ini tanpa diganggu oleh suara-suara apapun.
Mata Alham berubah merah bahkan kepalan tangannya menguat seperti berniat memukul wajah wanita yang terlihat ketakutan karena tertangkap basah.
"Kau bisa membunuh?"
"Alham aku bisa jelaskan"
"KAU MEMBUNUH??" nada suara Alham menyentak, dadanya naik turun seiring dengan pernafasannya yang terasa sesak melihat Widia yang tidak kunjung terus terang.
"Sejak kapan kau menjadi wanita berbisa?"
"Alham..."
"Kau hanya perlu jawab, Widia" tekan Alham begitu murka saat Widia hanya menangis dengan bergelayut dikedua kakinya. Seperti lintah yang menghisap darah di kaki Alham, menyakitkan.
Alham hanya mengira seburuk-buruknya Widia, dia tidak akan tega melakukan pembunuhan, bahkan tidak terbayang oleh Alham jika wanita ini memiliki hubungan dengan kelompok yang suka bertengkar. Namun rupanya ia salah besar tentang Widia, Itu yang membuat dirinya merasa di permainkan.
"Kau hanya perlu menjawab, atau aku tidak akan memaafkan mu"
Deg
__ADS_1
To be continued