
Di tempat lain...
Pasukan Ead sudah memasuki kawasan hutan belantara yang penuh dengan pohon-pohon rimbun dan sangat lebat, hampir sinar matahari tidak mampu menembus tanah-tanah disana. Jika hujan pun akan susah untuk membasahi tanah tersebut kecuali jika hujan itu lebat.
Para pasukan Ead memasuki tempat itu dengan sebuah penyamaran seperti sebuah pasukan berseragam milik negara Kazakhstan. Sebelum datang kemari mereka membelinya terlebih dahulu.
Mereka semua mengendap-endap seakan jika pasukan lawan sudah menyerang dari depan, mengarahkan senjatanya ke kanan dan ke kiri dengan sangat hati-hati.
"Daniel, bagaimana keadaan di perbatasan?" tanya Ead mengendap-endap sambil berbicara menggunakan walking talking yang ada di telinganya.
Daniel yang ada di perbatasan kota Almaty segera menjawab pertanyaan dari Tuannya walau ia dan para pasukannya tengah berbaring tengkurap dengan penyamaran yang begitu teliti.
"Kami belum melihat tanda-tanda seseorang wanita melewati perbatasan tersebut, Tuan" jawab Daniel berada di persembunyian.
"Apa kau memeriksa setiap kendaraan yang hendak melewati perbatasan itu?" tanya Ead kembali.
"Kami sudah membagi tugas untuk memeriksa setiap kendaraan yang melewati perbatasan, bahkan kami menghentikan truk-truk kontainer serta angkutan lain, Tuan"
"Bagus"
Tut
Ead kembali sibuk mengamati pohon-pohon rimbun yang ada di depan matanya, selain pohon ia juga melihat tanah-tanah yang ada dibawahnya, mencari sesuatu yang menurutnya penting.
cling
Mata Ead menutup rapat saat ada benda berkilau yang terkena paparan sinar matahari. Entah bagaimana bisa benda itu mendapat paparan sinar sementara pohon-pohon sangat rimbun, ini merupakan sebuah takdir.
Dengan pelan Ead mengambilnya. Benda berbentuk huruf AL itu memiliki diameter yang kecil. Gantungan kalung itu terlihat familiar di mata Ead, sepertinya ia pernah melihat.
Flashback on
Waktu itu Ead melihat Leiska baru pulang serta ia melihat Leiska memakai kalung itu di lehernya.
"Kalung yang indah" puji Ead tersenyum kepada adik semata wayangnya membuat kedua ujung bibir Leiska terangkat naik.
Flashback off
Ead diam dengan keningnya berkerut dalam usaha mengingat bentuk kalung itu dan kalung yang ia dapat. Hal itu menarik perhatian Roy yang awalnya fokus mengamati keadaan.
"Ada apa, Ead?"
"Aku mengenal kalung ini" Ead langsung pergi meninggalkan Roy disana, meninggalkan Roy dalam tanda tanya karena ia sama sekali tidak paham. Namun ia tetap mengikuti rekannya dari belakang.
_____
__ADS_1
Sementara di tempat lain. Salah satu pria yang memiliki rencana ingin menodai wanita pujaan Zlander, harus tumbang dengan peluru menembus kepalanya, membuat darah itu muncrat mengenai pakaian Leiska dan Wilson.
"Aarkk"
Histeris Leiska melihat kepala Alex yang pecah, begitu juga dengan Wilson langsung melepas cengkeraman tangannya serta memundurkan tubuhnya yang gemetar ketakutan.
Bersamaan dengan itu puluhan pasukan menampakan diri dengan mengarahkan senjata kearah lawan, membuat Wilson dan Leiska menjadi titik utama pelepasan peluru mereka.
Namun mereka tahu dari mana pasukan itu datang.
"Saya mohon maaf, Tuan. To-to--tolonggg ampuni saya"
Tubuh Wilson yang ketakutan membawanya untuk berlutut di depan pria bertopeng memakai jubah hitam. Ia memohon-mohon ampun saat ia menyesali atas segala perbuatan.
Zlander berjongkok seraya memiringkan kepalanya melihat wajah Wilson dipenuhi dengan keringat dingin yang telah menelan habis keberaniannya. Tamat sudah riwayat pria itu.
"Tu-tua-tuan"
"Apa tujuanmu datang kemari?" Zlander membawa pistolnya menelusuri wajah Wilson naik dan berhenti tepat disebelah kanan otak besarnya.
"Sa-saya ingin mencari Nyo-nyonya Leiska" gugup Wilson menutup kedua matanya kala ia merasa pistol itu semakin menekan. Wilson semakin merinding.
"Lalu apa yang kau lakukan barusan?"
"Ak-ak-----"
Zlander memukul kepala Wilson dengan begitu keras sampai menjatuhkan tubuhnya di tanah. Ditambah, Zlander menendang perut Wilson sampai darah keluar dari mulutnya.
"Huftt" hela nafas Zlander yang berat serta kibasan jubahnya kebelakang, menandakan sifat berkuasa dan tidak mudah terkalahkan.
Ia melihat wanita berambut ikal yang termenung dibawah pohon dengan pandangan lurus kebawah. Leiska masih ketakutan.
Zlander mendekat dan menarik tangannya kuat-kuat, mensejajarkan tinggi, mata, dan nafas berat keduanya.
"Beraninya kau melarikan diri dariku, Leiska?"
"To-to--tolonggg lepaskan aku... aku ingin be-bebas darimu" Leiska kembali menangis dan memelintir tangan kuat Zlander untuk dapat ia lepaskan, walau selalu gagal.
Melihat tangis Leiska yang begitu muak, Zlander segera melepas cengkeraman tangannya dari wanita itu. Ia juga sedikit memberikan dorongan yang membuat tubuh wanita itu hampir terjatuh.
"Tu---"
Dorr
Wilson hampir kembali memohon namun peluru mematikan Zlander telah lebih dulu menyapa otaknya dan tiada saat itu juga.
__ADS_1
"Ikat dua mayat ini di pohon dan biarkan hewan-hewan melata dan buas lainnya memakan daging mereka"
"Baik, Tuan" jawab mereka serentak dan langsung menyeret mayat itu ke pohon untuk di ikat.
Sementara Leiska, dia menjadi sasaran mata kelam Zlander. "Bawa wanita itu kembali ke persembunyian. Jangan biarkan dia keluar dari sana ataupun melihat dunia luar sekalipun"
"Baik, Tuan" jawab mereka serentak dan segera membawa Leiska dengan paksa saat dia menghindar dan menepis tangan para pasukan.
"Aku tidak mau... tolong... lepaskan aku" Leiska memberontak hebat. Ia mendorong-dorong, ingin memukul, berjongkok. Semua sudah ia lakukan, namun justru mereka sangat kuat. Tubuh Leiska selalu terseret ke depan.
Namun...
Sesuatu telah membekukan Leiska. Seseorang yang begitu ia kenal berada di pandangannya, satu negara yang sama, tempat yang sama. Leiska melihat pria mirip dengan kakaknya.
"Kak Ead" pekik Leiska di dengar oleh Zlander yang langsung menoleh ke belakang, ingin memastikan.
Dan yang benar saja. Dari kejauhan mereka dapat melihat beberapa pasukan Ead beserta pimpinan mereka tengah mengendap-endap.
"Kak Ea hmmp"
Zlander membungkam mulut Leiska sebelum ia memanggil pria yang menjadi musuhnya. Dari itu Zlander merasa terkejut namun juga senang karena musuh yang ia inginkan datang tanpa di undang. Seakan memberikan nyawanya.
"Sembunyikan wanita ini. Jangan sampai dia bertemu dengan adiknya, karena terlalu mudah!!"
Titah Zlander langsung di sanggupi oleh para bawahannya. Mereka menyeret Leiska pergi untuk menjauh dari tempat itu supaya Ead tidak melihat keberadaan Leiska dan hanya pasukan Zlander saja.
Selang beberapa saat, kala salah satu anak buah Zlander menyembunyikan Leiska, datanglah para pasukan Ead yang langsung siaga saat para pasukan Zlander menodongkan senjata.
"Welcome Dominic"
Sapa Zlander hanya basa-basi saat melihat tubuh kekar pria yang ia maksud tengah membuka jalan saat pasukannya berjejer didepan.
"Tidak perlu banyak basa-basi, terlalu basi! Sebaiknya, kau beri tahu dimana kau menyembunyikan Adikku, Zlander kacung?"
"Di muka bumi ini! dan aku tidak akan membiarkan kau dengan mudah menemukan Adikmu. Kita baru bertemu, bagaimana kalau kita minum kopi dulu?" ucap Zlander bermain-main.
Namun Ead begitu amat murka memperlihatkan urat-urat leher, tangan, wajah yang amat menyala. Deru nafasnya yang dalam serta rahangnya yang mengurat, terlihat sexy namun hilang karena ia sedang emosi.
Cengkeraman tangan Ead menguat dengan kesiapan dalam melepas pelatuk pistolnya. Hal itu tentunya akan menyebabkan peperangan yang dahsyat jika sampai Tuan mereka tergores.
Lalu, apa peduli Ead?
"Mati kau Zlanderrrrr"
Dorr
__ADS_1
...To be continued...
...Nino Nino Nino iiikkkkkkk duarrr oek😪...