Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 26 : Dibawah Rembulan


__ADS_3

Sebelumnya...


Kepala gadis yang baru selesai melaksanakan sholat tahajud itu seketika menoleh mendengar suara langkah berat mendekati kamarnya.


Dengan mulut yang masih komat-kamit berucap dzikir, gadis ini merangkak meninggalkan sajadah yang menjadi alas sholatnya, lalu berjalan mengendap-endap mendekati pintu kamar. Bersamaan dengan itu Ead juga mengendap-endap menuju pintu kamar Subha.


Subha merasa agak dongkol dengan suara telapak kaki seperti itu, mengingat jika mansion ini sangat sunyi dan ia tidak mendengar suara-suara aneh sebelumnya.


Masih memakai mukenah nya, Subha berdiri dibalik pintu. Pikir Subha itu orang jahat, 'Orang-orang disini lebih menakutkan dibanding setan'


Krett


Saat Ead membuka kecil pintu kamar Subha, ia dapat melihat kepala Ead masuk kedalam. Dari itu Subha semakin takut jika itu pria jahat, karena yang dilihat hanya kepala bagian belakang.


Ead membuka lebar pintu Subha, begitu pula Subha menampakan dirinya.


Arrrkk


Ead terkejut setengah mati saat melihat wajah Subha dibalut kain putih itu hingga mulutnya melebar disertai suara teriakan keluar dari dalam mulut, saking terkejutnya.


"Aarkkk apa?"


Teriak Subha mengikuti teriakan suaminya. Sebenarnya saat Ead menoleh melihatnya, ia sudah tahu jika itu suaminya.


"Apa sih?"


Subha masih bertanya-tanya dengan perasaan yang berkecamuk. Dirinya juga mengekori tubuh Ead kala pria itu hanya terus berteriak memutari ruang kamar ini.


"Ada apa sih?"


"Aarrkk"


Gadis ber mukenah itu menjadi geram saat melihat perilaku berbeda dari suaminya, hingga tangan Subha mengulur menarik lengan suaminya supaya berhenti.


Srett


Brukk


Tubuh keduanya terjatuh diatas ranjang dengan posisi Subha berada dibawah serta Ead berada diatas. Kedua tangan Ead sebagai penumpu tubuh kekarnya.


Kedua netra mereka saling pandang menyadari keindahan dari masing-masing wajahnya. Dari itu Ead tahu jika sesosok putih yang ia lihat adalah istrinya.


Malu? Iya. Ead merasa sedikit malu namun ia juga suka karena kejadian itu membuatnya berada di posisi seperti ini.


"Oh... Rupanya sosok mengerikan itu adalah istriku sendiri ya?"


"Hah" pekik Subha dengan penuh kesadaran akan posisi ini, hingga ia canggung ingin bangkit namun Ead mencegahnya.


Tentu Ead tidak akan membiarkan itu terjadi, justru Ead malah menekuk sikunya hingga tubuhnya semakin menurun mendekati wajah Subha, "Setelah membuat suamimu ketakutan, kau mau kemana... Hem?"


Jantung Subha berdetak semakin kencang beriringan dengan tangan Ead yang semakin mendekat mengusap pipinya.


Rasa canggung, gemetaran, perasaan itu tidak dapat Subha kondisikan karena ini merupakan pertama kali untuknya. Ia ingin memalingkan wajahnya namun kearah mana? Karena wajah Ead memenuhi pandangannya.


Sementara itu Ead terlalu terpesona dengan wajah wanita yang ada di pandangannya, hingga dirinya larut akan kecantikan wajah berbalut mukenah berwarna putih itu.

__ADS_1


Ead meneguk ludahnya kasar serta pandangan tertuju wajah Subha, "Bisakah aku memintanya sekarang?"


Nada suara Ead terdengar serak seperti memohon kepada Subha, lalu bagaimana ia dapat menolaknya? Lagipula ia sudah sah menjadi istrinya.


"Tidak untuk menolak, iya untuk menerima. Sekali lagi, jangan menggunakan kata sah dalam hubungan ini. Aku akan menerimanya"


Subha mempertimbangkan kembali keputusan yang akan ia ambil, terlebih Ead akan menerim semua.


"Iya" lirih Subha menerima keinginan Ead kepada dirinya, hingga wajah Ead benar-benar berseri mendengarnya.


Menurut Subha, menuruti perintah pria yang dinikahi merupakan surga baginya, entah ia tidak suka maupun suka. Selagi hal itu baik menurut agama.


"Namun sebelum itu, kita dianjurkan untuk wudhu terlebih dahulu"


"Apa, wudhu?"


Ead terdiam sejenak saat Subha mengangguk membernarkan. Ia tidak tahu bagaimana melakukan wudhu bersama, namun ia memilih mengangguk.


Sebenarnya, sebelum melakukan hubungan badan kita dianjurkan untuk melakukan sholat, namun karena Ead seorang mualaf baru maka wudhu saja sudah cukup.


Beberapa menit kemudian...


Ead sudah selesai dari kegiatan wudhu nya, setelah Subha mengajarkan dia. Tepat setelah Ead mengusap sisa-sisa air dari wajah, matanya melihat Subha duduk diatas ranjang menunggu dirinya.


Sungguh, Ead bagai melihat seorang bidadari berada di kamarnya. Subha tidak menutup wajah maupun kepala, bahkan pakaian yang ia kenakan dibiarkan tipis menerawang. Semerbak harum bunga geranium lemon yang segar dan menenangkan. Segalanya terlihat menyenangkan untuk seorang pria bermarga Zolanda.


Tatapan teduh Subha membawa pria yang masih berdiri diambang pintu kamar mandi untuk segera mendekat. Tangan Ead mengulur meminta telapak tangan istrinya, dan Subha segera menerima.


Keduanya saling berdiri berhadapan bahkan berdekatan, menepis jarak dari kedua tubuh mereka.


"Setelah wudhu apalagi yang harus kita dilakukan?" Tanya Ead supaya gadis ini tidak terlalu canggung kepadanya.


"Bagaimana doanya?"


"Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa"


"Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa" ucap Ead mengikuti apa yang Subha ucapkan.


Ead mengarahkan kedua tangan Subha ke atas pundaknya, serta tangannya melingkar di pinggang kecil Subha.


"Lalu apa lagi?"


"Sudah"


Ead meneruskan pandangannya kepada wajah cantik istrinya, begitu amat mempesona serta mendebarkan di jiwa. Kedua kaki Subha bergerak kebelakang kedepan seiring arahan Ead dalam mengajaknya berdansa sebelum kegiatan panas mereka.


"Apa ini pertama kalinya untukmu?" tanya Ead basa-basi, menutupi rasa canggungnya.


Selain Subha ternyata Ead juga merasa canggung dengan pahatan tubuh serta wajah mempesona wanita yang menari bersama.


"Iya. Ka-kau?"


"Ini ke 10 kalinya"


"Hem?" Subha terkejut bukan main hingga wajahnya menengadah melihat wajah menunduk suaminya. Ia merasa agak sedih karena ini bukan kali pertama bagi suaminya. Namun mau bagaimana lagi.

__ADS_1


Wajah Ead mendekat hingga kebelakang telinga, membisik. "Tapi, hanya kau gadis yang membuat jiwaku menggila"


Whuss


Kedua pipi Subha memerah malu mendengar nada lirih bagai hembusan angin menyentuh telinga menuju hatinya, terlebih saat hisapan-hisapan kecil dilehernya yang terasa geli namun tidak dipungkiri alam bawah sadar Subha menerima.


Bau harum geranium lemon dari tubuh Subha semakin meruak masuk kedalam penciuman Ead, hingga rasanya ia tidak mampu menahan segala bentuk dorongan yang ditimbulkan oleh gairahnya.


Ead semakin mengapit pinggang sang wanita serta hisapan kecil berubah semakin dalam beriringan dengan segala bentuk suguhan yang Subha berikan.


Telapak tangan Ead mengelus pinggang hingga turun menggerayangi paha, membuat Subha merasa geli hingga kedua pipinya memerah padam.


Ead kembali memandangi wajah malu dari istrinya hingga tangannya mengulur untuk menarik.


Ia mencium serta mengulum pelan bibir Subha supaya keduanya saling nyaman dan saling menikmati.


Telapak tangan Subha mengepal tidak berani melakukan apa-apa, takut jika ia salah dalam menanggapi perilaku Ead.


Subha juga hanya diam saat tubuhnya dibaringkan keatas ranjang, membiarkan Ead melakukan apapun maunya.


Bersamaan dengan itu semua, Ead kembali menyesapi jenjang leher Subha yang masih putih sekaligus tangan kekar miliknya merabai paha indah milik Subha. Semakin dalam semakin erat pula kepalan tangan Subha.


Ia benar-benar tak berani untuk membalas perilaku Ead, bahkan ia hanya diam mengapit tangan kekar pria itu yang begitu liar bermain diarea paha.


Terlepas itu Ead juga melepas segala bentuk penghalang dirinya dalam menikmati kegiatannya, seperti pakaian malam yang Subha kenakan. Ia melepasnya dengan pelan, supaya kesannya tidak terlalu terburu-buru.


"Tu-tu---" Subha menahan tangan Ead saat pekaiannya hendak terlepas.


"Tidak boleh?"


Subha terdiam sejenak, lalu menjauhkan tangannya dari tangan Ead untuk memperlancar pelepasannya terhadap pakaian Subha.


'Oh rona sayang, kau membuatku menggila dengan sambutan hangat dari si kembar' racau Ead melihat begitu indah gundukan sintal yang istrinya punya.


Tidak mau berlama-lama Ead segera ******* kembali bibir Subha turun menyusuri leher sampai ke sekang halus miliknya.


Dibawah rembulan ini Subha menerima Ead sebagai suaminya serta berhak menemani Ead saat berada dibawah ataupun kehilangan arah. Subha berhak mengingatkan, begitu juga sebaliknya.


____


Sementara itu ditempat lain, kedua pria yang merupakan kepercayaan Ead kini sedang berada di ruangan yang sama. Mereka saling beradu argumen dengan pendapatnya masing-masing.


"Pokoknya Tuan Dominic tidak boleh tahu"


"Kau itu gimana sih? Ead berhak tahu identitas asli istrinya"


Bantah Roy saat pendapatnya tidak sama dengan sang rekan satu pasukannya. Kedua selalu mengatakan kalimat yang sama namun tidak pernah ada persetujuan menerima.


"Pokoknya jangan bilang Tuan Dominic"


"Pokoknya aku mau bilang. Bener aku, perasaanku saat pertama kali melihatnya itu hanya ada kecurigaan"


...To be continued...


...Akhirnya MP terlewatkan huhuhu...

__ADS_1


...Nggak bisa menjelaskan dengan detail, agak takut jadi kontroversi wkwkwk...


...Jangan lupa vote......


__ADS_2