Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 49 : Aku Datang!.


__ADS_3

"Apa menantuku itu seorang berandal, mengapa perilakunya seperti itu? Berangkat malam pulang pagi" ketus Umi Riverlyn dari dalam hati. Ia tidak mau ucapan kotornya didengar oleh sang putri, terlebih itu dalam menghina suaminya.


"Kita coba tunggu beliau sebentar lagi ya Abi, Umi..."


"Jika suamimu tidak bisa datang, besok-besok saja tidak masalah Nak. Insyaallah Allah masih memberi hambanya waktu untuk melakukan silaturahmi"


"Tidak Umi. Ini adalah kesempatan untuk melakukan silaturahmi, lagipula beliau kan belum pernah bertemu dengan Abi dan Umi, karena pernikahan kami yang mendadak"


"Apa yang membuat pernikahan kalian mendadak seperti ini?" Tanya Umi memang sudah penasaran dengan alasan pernikahan siri yang dilakukan putrinya.


Subha pun bingung untuk menjawabnya, jika saja ia bisa menceritakan kronologi pernikahan siri yang ia lakukan, pasti kedua orangtuanya tidak akan tinggal diam dan berpikiran yang buruk tentang Ead.


"Hemm sudah takdir Allah Umi, Subha tidak bisa menolaknya"


Yah, jawaban itu adalah jawaban yang pas untuk seseorang yang sedang kebingungan. Daripada ia menjawab jujur dan endingnya timbul masalah, lebih baik Subha mencari jalan Allah.


Umi dan Abi hanya saling pandang, lalu kembali melihat wajah sendu putrinya yang kembali menunduk. Walaupun Subha memakai cadar, ia tahu terdapat kesedihan dibaliknya.


________


Kembali ke Ead.


Setelah perjalanan mereka yang kurang lebih menghabiskan waktu 15 menit. Mereka sampai di sebuah batu yang tersusun membentuk sebuah kastil dengan tinggi rata-rata 125 meter. Mereka tidak menduga akan melihat kastil mewah ditengah-tengah tanah gersang berdebu ini.


Kastil itu terlihat sedikit usang, namun masih layak untuk dimasuki oleh ribuan manusia. Halaman kastil yang luas dengan rumput-rumput kecil timbul disela-sela jalan. Saat kedua kaki melangkah memasuki area gerbang, mereka akan mencium bau bangkai yang tidak tampak bentuknya.


Sekumpulan burung gagak memutari atap kastil tersebut, membenarkan dugaan mereka mengenai adanya mayat segar disekitar tempat ini.


Ead dan kedua anak buahnya masih mengikuti dengan berada di rerumunan yang hampir memasuki kawasan kastil. Namun tiba-tiba…


Drett


Nada dering ponsel salah satu dari ketiga pria itu berbunyi, menepis kesunyian yang tempat itu timbulkan. Sontak itu mengundang tatapan tajam kearah mereka. Ead langsung melihat Vero, karena suaranya berasal dari sebelah kirinya, namun nyatanya Vero melihat kearah Louis yang berada di sebelah kirinya. Rupanya telpon Louis berdering.


Para pria merasa curiga karena Ead mengaku jika mereka mengalami perampokan, namun ponselnya masih ada.


Louis menyengir, “Telpon Ku berdering… perampok lupa mengambilnya. Sebentar”


Dengan wajah menyengir Louis merogoh saku celana seraya mengumpat dalam hati, ‘Siapa yang menelpon diriku? Dasar’ akhirnya Louis melihat nama yang tertulis dilayar ponsel, ‘Roy? Bisa-bisanya pria itu menelpon’ Louis memilih mematikan.


“Maaf” kepala Louis menunduk meminta maaf dan mereka memaafkan dengan melanjutkan perjalanan. Namun dibalik itu Louis menyaksikan kemarahan bisu Ead lewat wajah sinis nya.


Setibanya, mereka memasuki ruangan tersebut. Mereka dapat melihat tempat itu bersih tanpa barang seperti sofa, meja, lukisan dan benda hiasan lainnya.


Seketika mata Ead liar mengamati setiap dinding, atap, lantai serta Lorong yang akan mereka lewati. “Sebenarnya mereka ini mau kemana?” tanya Ead dalam hatinya.

__ADS_1


“Tuan” Ead memberanikan diri untuk bertanya. “Sebenarnya kita ini mau kemana?”


Pria yang selalu menjawab itu mendekati Ead, “Kami akan berpesta… aku lihat sepertinya kalian belum makan, tentu kami akan berbagi makanan dengan kalian”


Ead segera mengangguk memahami, “Oh begitu”


Mereka kembali berjalan, kini mereka sudah melewati Lorong dan hampir memasuki ruangan yang sempit. Setiap perjalanan mereka, diiringi kepergian dari beberapa orang yang pria itu bawa. Sepertinya beberapa diantara mereka memilih untuk melakukan kegiatan mereka masing-masing, dan membiarkan si ketua untuk menyambut tamu.


Sampailah mereka di depan pintu berkarat, namun entah mengapa perasaan Ead dan kedua bawahannya seketika berubah. Seperti merasakan hawa menyeramkan dari balik pintu tersebut.


“Mari”


Krettt


Pintu tersebut terbuka, memberi celah untuk mereka memasuki ruangan tersebut. Tepat saat pintu itu terbuka, sinar matahari terik terlihat menyilaukan mata. Mereka juga dapat melihat dengan jelas burung gagak berterbangan diatasnya.


Rupanya…


Deg


Para mayat bergelantung di setiap dinding, ada juga yang sudah termakan oleh burung gagak dan hewan melata lainnya. Louis yang melihat itu rasanya ingin mengumpat dan mual.


“Welcome to the morque”


“F*ck” umpat Ead menyadari tipuan dari pria hitam bertubuh agak berisi itu.


“Morgue itu apa, Louis?” tanya Vero berbisik di telinga Louis. Ia tidak tahu karena ia merupakan pria berkebangsaan italia.


Dan Louis menjawab, “Morgue, rumah mayat… hanya ada 3 di kota besar kazakhtan. Mereka membunuh untuk diambil organ mereka dan di jual di negara-negara tetangga”


“Berarti, mereka tidak ada kaitannya dengan Zlander”


Tanya Vero namun tidak dijawab oleh Louis, namun diamnya Louis sudah membuat Vero paham jika ucapannya memang benar.


“MORGUEE”


Teriak pria itu memanggil para rekan lainnya. Dari setiap sisi keluarlah satu persatu pria dengan senjata yang berbeda-beda. Ada yang membawa belati, celurit, pisau dan benda tajam lainnya.


“S*al. Aku ingin mencari Leiska malah bertemu dengan kacung-kacung yang tidak berguna. Mengganggu pekerjaanku saja” umpat Ead meregangkan otot lehernya. “Kemari”


Berbondong-bondong mereka menyerang Ead dan kedua bawahannya. Beberapa diantara mereka memukulkan kapak kearah Ead namun dengan sigap ia dapat menghindar. Mereka dikepung, berusaha ditendang, dipukul namun Ead dan kedua bawahannya merupakan seorang Mafia hingga bukan tubuhnya yang hancur, melainkan tubuh mereka yang terbagi dua.


Namun jika seperti ini terus, dimana Ead dikepung oleh mereka. Lama kelamaan kekuatannya akan semakin menipis. Ia pun segera mengambil pistolnya.


Dorr

__ADS_1


Suara tembakan itu langsung mengheningkan tempat tersebut, saat Ead mengeluarkan pistol dari dalam sakunya. Mereka semua langsung berhenti melawan Louis, Vero dan juga Ead, karena posisi persenjataan yang mereka miliki tidak se modern milik Ead.


“Aku pecahkan kepala kalian jika masih berani mengangkat senjata. Belati, celurit tidak akan kalah cepat dibanding peluruku” tantang Ead.


Mereka semua menjadi diam tidak berani melawan. Sementara Louis dan Vero mengikuti apa yang dilakukan Ead. Mereka mengeluarkan senjata dari dalam saku.


“Hei kalian lupa ada dimana?”


“Bagi Dominic, tempat manapun adalah tempatnya” Ead mengingat kembali janji temu dengan keluarga Subha. “Louis, telpon para pasukan untuk datang kemari. Mereka akan menjadi pasukan tambahan kita, dan kau tenang saja karena mereka tidak akan melawan. Jika melawan, lempar saja granit”


“Baik, Tuan. Namun anda mau kemana?”


“Urusan keluarga”


Selepas itu Ead mengarahkan pistolnya kearah rerumunan, meminta mereka untuk membuka jalan keluar. Bermodalkan alat pelacak yang ia pasang di pakaian Subha, ia dapat menemukan dimanapun isterinya itu berada.


Ead berlari melewati tempat sebelumnya, melewati tanah berpasir, dibawah terik matahari. Semua itu ia lakukan untuk menepati janji yang ia ucapkan bersama Subha.


Beberapa menit Ead berlari dari kastil ke tempat Roy berada. Tubuhnya hampir remuk serta pernafasan yang semakin menipis.


“Ead… kau baik-baik saja?”


Ead mengangguk lemas, “Louis sudah menelpon… kan?”


“Iya. Dia menelpon… oh iya waktu itu aku---”


“Nanti saja… Air”


Roy segera mengambilkan air untuk Ead mencuci muka serta rambutnya. Ia bisa saja mandi terlebih dahulu, namun takutnya Subha menunggu terlalu lama.


Setelah Ead merasa bersih, iapun segera mendorong Roy untuk menjauh dari mobilnya karena Ead akan membawanya.


Brem


“Ead, aku bagaimana?”


Tidak ada jawaban dari sang dominan. Pria itu memilih untuk melajukan kendaraanya hingga meninggalkan Roy sendirian. Tidak memperdulikan perasaan Roy.


Beberapa menit kemudian…


Akhirnya Ead dengan mudah mengetahui lokasi keberadaan Subha. Setelah memarkirkan mobilnya, Ead berlari memasuki kediaman Akthakarta, bahkan tanpa mengucap salam. Tubuhnya yang berkeringat dan berantakan, namun ia tidak mempermasalahkan.


“Aku datang”


...To be continued...

__ADS_1


...Ead seng kesusu, author e yo kesusu bebs 😭kalau ada kesalahan tulisan mohon dimaafkan ya🙏...


__ADS_2