Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 69 : Leiska Dan Umi


__ADS_3

Mata Widia terpaku dengan mulutnya yang agak terbuka mendengar nama seseorang yang pria itu ucapkan. Ia memikirkan sesuatu yang takutnya kelupaan dan Alham mengetahuinya.


"Le-leiska? Alham kenapa kau bertanya mengenai Leiska denganku?"


"Hanya saja aku lupa jika kau memiliki hubungan yang buruk dengan Leiska" Alham terkekeh pelan jika mengingat perilaku buruk Widia beberapa tahun yang lalu. Namun sama sekali wanita ini tidak merasa bersalah.


"Kau masih mengungkit masa lalu yang buruk seperti itu? Alham itu sekedar masa lalu belakang dan aku sudah melupakannya"


"Bukan begitu! Hanya saja!"


"Kenapa dengan Leiska, hanya saja apa? Kenapa kau tiba-tiba bercerita tentang dia?" Widia mencoba bertanya walaupun perasaannya merasa amat takut.


"Leiska hilang. Dia mencoba datang ke Kazakhstan tapi tidak sampai kepadaku dan berakhir di----"


Tiba-tiba Alham berhenti berbicara kala ia mengingat saat-saat penuturan Leiska dalam melarang ia memberitahu orang-orang.


Sementara Widia nampak menyipitkan kedua matanya waspada. Ia takut jika Alham membicarakan tempat persembunyian Zlander.


"Di-dimana?"


"Tidak dimana-mana. Jika kau bertemu dengan Leiska, tolong kau beritahu aku"


"Memangnya apa hubungan dia denganmu?" Widia bertanya dengan nada yang halus lebih berhati-hati dalam berbicara.


"1 tahun ini dia tidak ada kabar. Kasian kakaknya mencarinya kemana-mana" ucap Alham hanya omong kosong belaka. Padahal ia sudah tahu dimana keberadaan wanita itu, hanya menunggu waktu dan orang yang tepat untuk memberitahu.


"Iya, aku akan memberitahu jika aku melihatnya"


_______


08:30


Tanah yang awalnya tandus kini mulai menampakkan rumput-rumput liar pendek terpijak oleh kaki mulus tanpa alas apa-apa. Di samping kanan terdapat tebing tinggi menyatu dengan telaga bersih dibawahnya. Dedaunan serta dahan-dahan bergoyang terkena terpaan angin siang.


Seorang wanita berlarian sekuat tenaga saat beberapa orang mengejar dengan persenjataan yang tidak biasa menodong kearahnya. Ia harus melarikan diri apapun yang terjadi, pikirnya.


"NYONYAA LEISKAAA. TOLONG BERHENTIIII"


Suara teriakan pasukan bersenjata itu memantul tebing tersebut hingga suaranya akan terdengar jelas dan keras masuk kedalam telinga target yang mereka kejar.


Namun apa peduli Leiska, ia hanya berlari memasuki hutan rimbun dipenuhi pohon-pohon besar didalamnya tanpa ia sadari ada dahan berukuran sedang tergeletak didepannya.


Brukk


"Aww"

__ADS_1


Pekik Leiska tubuhnya menggelinding memutari tanah sampai perutnya membentur pohon dibelakang. Ia merasa amat nyeri di bagian perut membawa tubuhnya meringkuk bagai trenggiling.


"NYONYAA"


Leiska kembali tersadar hingga menengadahkan kepalanya melihat para pasukan itu hampir dekat dengan dirinya yang berusaha bangkit untuk lari.


Wanita yang mereka kejar seakan tidak memiliki rasa lelah karena saat ini para pasukan tersebut berhenti dengan kedua tangan bertumpu pada lutut serta nafas memburu dari hidung keluar mulut.


"Nyo-nyonya... Nyo-nyonya Leiska cepat sekali... lari... nya"


"Aku akan tembak dia"


Salah satu anggota bersenjata itu mengarahkan senapan dengan kedua kaki Leiska sebagai targetnya. Ia sudah merasa lelah karena seharian wanita itu sudah membuatnya kesusahan.


"Jangan" rekan satunya menurunkan pelan senapan hingga menimbulkan tatapan tajam penuh amarah dari si pemilik senapan.


"Kenapa? Kau ingin menjadi jagoan didepan Tuan Zlander? Kau akan mati jika membiarkannya lolos dari melarikan diri"


"Jika kau melakukan itu, kau akan hidup tanpa kedua kakimu dan merangkak memohon pada manusia tapi tidak ada yang peduli denganmu. Menyedihkan bukan"


"Siiiall"


Maki salah satu anggota Zlander membanting senapannya keatas tanah. Ia merasa amat marah membayangkan hidup tanpa kedua kakinya.


"Ahh aku tahu apa hukuman yang cocok untuk wanita pembangkang seperti dia"


"Ayo kita kejar lagi"


Bahu kerasnya di pukul untuk mengajaknya kembali berlari mengejar wanita menyusahkan yang sudah tidak terlihat. Mereka tidak akan segan-segan meletupkan senjata jika wanita itu lolos untuk yang kedua kali.


Sementara Leiska berusaha sekuat tenaga untuk dapat melarikan diri dari tempat mengerikan itu dan juga para pasukan Zlander. Mata Leiska semakin berbinar saat menampaki jalanan beraspal menuju kota.


Jika Leiska harus berusaha untuk terbebas dari jeratnya belenggu penjara Zlander. Berbanding terbalik dengan Ead yang merupakan kakaknya saat ia harus mempersiapkan pernikahan dengan Subha secara besar-besaran.


Keduanya ditemani dengan Umi Riverlyn sedang berada di tempat desainer ternama langganan keluarga Akthakarta. Mereka terlihat sibuk melihat-lihat rancangan gaun yang sudah disiapkan oleh desainer Grasita Melfana.


"Nona Subha, jika aku boleh memberikan saran! Anda harus memilih gaun yang ini" Grasita menunjuk salah satu gaun dibuku yang sudah Subha pegang.


"Kenapa aku harus memilih yang ini?"


"Nona Subha. Kain ini sangat halus dan ringan jika dipakai. Tidak seperti penampilannya yang terlihat berat dan ribet! Gaun ini melebar tanpa tumpukan kain lain dibawahnya. Sangat mewah bukan!"


Subha mengangguk lalu melihat kearah pria yang hanya diam duduk disebelahnya seraya menikmati cerutu hangat menyentuh bibirnya.


"Ead, bagaimana menurutmu?" tanya Subha berharap mendapatkan pilihan yang baik dari suaminya setelah ia menyembulkan asap rokoknya.

__ADS_1


'Sangat tidak sopan' ucap Umi dalam hatinya sehingga Ead tidak akan mendengar.


"Apa pilihanku sangat diperlukan disini? Apa jika aku memilih kau akan memakainya?"


"Tentu aku akan memakai gaun yang kau pilihkan" jawab Subha memberikan kesempatan Ead untuk memilih rancangan gaun yang ada di lembar buku milik Subha.


Ead nampak menyeringai puas tambah antusias mendapatkan kesempatan isterinya untuk memilih hingga jarinya menunjuk ke lembaran buku yang ke dua.


"Aku pilih satu yang ini"


"Subha" pekik Umi Riverlyn membelalakkan kedua matanya saat Subha malah menerima gaun yang Ead pilihkan. Namun putrinya nampak santai tanpa sedikitpun masalah.


Sementara Ead nampak menyeringai penuh kebahagiaan mendengar isterinya meminta Grasita untuk membungkus gaun malam tanpa lengan itu. Subha akan terlihat sexy jika memakainya, pikirnya.


"Subha, kau akan memakai gaun itu saat resepsi pernikahan? Apa yang akan dikatakan oleh teman-teman Abi nanti?" cemas Umi menasehati Subha.


"Umi, Subha tidak bilang akan memakainya untuk resepsi kan. Subha hanya bilang untuk membungkus gaun itu dan akan memakainya. Bukan berarti Subha akan memakai saat resepsi pernikahan"


Ucap Subha melihat wajah menyeringai serta anggukan suaminya, membuat Umi merasa amat lega. Ead tahu Subha akan melakukan demikian, karena ia yakin dengan kesucian isterinya.


"Umi pikir kau akan memakainya saat resepsi" gumam Umi dan Subha menertawainya.


Umi mengusap dadanya yang hampir copot mendengar ucapan putrinya tadi. Rupanya Umi melupakan sesuatu saat ini. Ia segera mengecek ponselnya.


"Hemm, Subha... Umi kelupaan mau ambil kue buat acara pengajian di tempat Tuan Asmet. Kalian bisa memilih gaunnya sendiri ya?"


"Sendirian Umi? Diantar suami Subha saja ya?"


Wajah Umi menoleh melihat Subha yang duduknya bersebelahan dengan menantunya. Dari itu Umi dapat melihat wajah datar Ead yang memang menyeramkan membuatnya gemetaran.


"Umi sendiri aja, soalnya tokonya deket. Cuma setengah kilo, Umi mau jalan kaki aja"


Tolak Umi bergegas menyelempangkan tas pinggangnya lalu meninggalkan putrinya yang hampir mengejar. "Sayang sekali ya"


Diperjalanan Umi terlihat tergesa-gesa melewati jalanan kota yang memang ramai. Ia harus segera mengambil pesanan secepat mungkin supaya Tuan Asmet tidak menunggu lama.


Sangking ramainya Umi tidak sengaja menabrak tubuh wanita yang tidak hati-hati dalam berlari hingga Umi harus terpental kebelakang.


"Astaghfirullah"


Leiska menabraknya.


...To be continued...


...Selamat tahun baru bebsss ...

__ADS_1


...semoga di tahun baru ini bisa lebih baik lagi dan diberi kesuksesan, panjang umur dan kelancaran rezeki🎉😘...


__ADS_2