Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 48 : Berandal!.


__ADS_3

“Kirimkan dua tiga orang kesana, berpura-pura lah menjadi seseorang yang tidak berdaya. Kalian akan langsung dibawa untuk ditahan. Namun untuk kesuksesan rencana ini, aku akan ikut andil dalam penyamaran” ucap Ead melepas mantel kebanggaannya.


Namun hal itu justru menimbulkan respon kecemasan untuk para anggota. Mereka takut jika Ead ikut andil, maka rencana mereka akan gagal atau mungkin malah menjadikan Ead dalam bahaya.


“Tuan. Sebaiknya anda tetap disini… kami akan mengutus 3 orang kepercayaan untuk menyusup di persembunyian zlander”


“Tidak perlu repot-repot… lagipula aku ingin langsung turun untuk melihat siapa yang berani menyentuh kulit adikku” Kekeh Ead tidak mau dibantah oleh siapapun, bahkan untuk Louis atau Roy sekalipun.


Tidak mau berlama-lama, Ead segera membuat penampilannya terlihat berantakan untuk membuat mereka terperdaya. Kemeja yang terlihat sobek-sobek, dan sebotol air merah darah ia tuangkan di kepalanya. Mereka akan susah mengenali wajah Ead.


“Kalau begitu saya akan membantu anda, Tuan” Louis segera melepas mantelnya dan melakukan seperti yang telah Ead lakukan sebelumnya.


Ead tidak menolak, ia membiarkan Louis membantunya. Pikirnya hanya cara supaya dapat masuk tanpa ada yang merasa curiga. Sementara Roy merasa bimbang dengan pilihannya. Ia ingin menolak mengikuti Ead, namun melihat Louis yang sigap membantu Ead, membuat dirinya tidak enak hati.


“Aku juga akan ikut” ucap Roy dengan rasa malas seraya melepas mantelnya.


Wajah cemberut Roy disaksikan oleh mata elang Ead. Hal itu tentu membuat Ead paham dengan maksud mimic wajah menjengkelkan dari bawahannya.


“Aku tidak memintamu untuk ikut”


“Benarkah?”


Refleks Roy bertanya dengan antusias, membenarkan dugaan Ead jika pria ini memang tidak setia dan enggan membantu dirinya.


“Iya. Vero… kau ikut”


“Baik, Tuan”


Seketika mimik wajah Roy berubah dari cemberut menjadi penuh rasa kebahagiaan, apalagi kedua tangannya yang tidak bisa diam, menandakan jika Roy memang bahagia mendengar ucapan Tuannya.


“Norak” ketus Louis mengejek Roy. Mulutnya sudah kebas menahan umpatan yang seharusnya Roy dapatkan. Namun saat dilihat dari wajah, sepertinya pria yang dimaksud tidak merasa tersinggung.


Ketiga pria itu sudah siap menjadi penyusup ke tempat persembunyian musuh. Setelah selesai dengan persiapan mereka, mereka segera menuruni lereng bukit yang terjal dengan para pasukan pengintai dari atas. Sementara Roy menunggu di mobil dengan perekam suara di telinga, menunggu mendapatkan perintah Ead jika pria itu meminta serangan tiba-tiba.


3 jam kemudian


Ketiga pria yang sudah siap untuk dibawa ke tempat persembunyian lawan, justru tidak kunjung dibawa. Mereka hanya terus berjalan mengelilingi tempat itu seperti orang yang tidak memiliki arah. Tepatnya memang mereka sedang tidak memiliki arah.

__ADS_1


Ead, Louis dan Vero terduduk diatas tanah yang sebelumnya menjadi pintu masuk mobil Widia. Mereka terlihat diam memperhatikan keadaan.


“Dimana para pasukan mereka. Ada orang tidak memiliki arah, mengapa mereka tidak mengambilnya?” tanya Louis merasa panas berada dibawah terik matahari di siang hari ini.


Vero pun tidak bisa tinggal diam, “Apa mereka sudah tahu jika ini hanya jebakan, Tuan?”


Tidak ada jawaban dari sang dominan. Pria yang mereka maksud terlihat memandang jauh kearah depan sana, melihat sesuatu yang mencurigakan dibalik debu pasir yang beterbangan.


Ribuan pria tanpa kendaraan berjalan di tanah berpasir itu. Dari penampilan serta wajah mereka, dapat dikatakan jika mereka merupakan warga berkebangsaan Kazakhstan.


“Waw. Koloni manusia”


Louis merasa kagum hingga kalimat itu tidak bisa ia tahan. Ia juga nampak kagum dengan jumlah pasukan mereka yang tidak terbatas, merasa heran darimana mereka mendapatkan semuanya.


Namun dibalik kagumnya mereka, terdapat perasaan was-was karena yang mereka hadapi merupakan pasukan dengan anggota terbanyak.


Ribuan manusia itu akhirnya mengelilingi mereka bertiga. Menjadikan mereka bertiga sebagai titik utama. Hal itu juga menimbulkan jantung Louis, Vero berdetak dengan cepat. Namun tidak berlaku untuk Ead yang berani.


“Siapa kalian?”


“JAWAB”


Sentak pria itu terdengar seperti sebuah pemimpin, namun Ead yakin jika bukan pria itu yang dimaksud dengan nama Zlander, terlebih pria itu tidak memakai topeng.


Mata Ead liar mencari pria pemakai topeng, namun tidak ia temukan. “Kami pria dari Italia yang tersesat. Mohon bantuan kalian… sepertinya anda merupakan orang disini, jadi bisakah kalian membantu kami?”


Pria yang dimaksud itu mengerutkan keningnya, membuat Ead sadar jika anggotanya sendiri memiliki darah Kazakhtan. Bagaimana kalau mereka curiga?


“Bagaimana kalian bisa sampai disini?”


“Kami di rampok” jawab Ead singkat.


Setelah mendengar jawaban Ead, pria itu terlihat melakukan percakapan dengan rekan saku kelompoknya. Louis dan Vero nampak ketakutan jika identitasnya diketahui mereka, karena pria itu nampak memperhatikan Louis lama.


“Kalian bisa ikut kami. Kami akan membantu kalian!”


“Tidak merepotkan?”

__ADS_1


“Tidak sama sekali” jawab pria itu kembali.


Lantas mereka bertiga mengikuti segerombolan manusia itu. mereka terletak dipaling depan, bersama dengan pria yang merupakan ketua. Namun yang menjadi permasalahannya, bukan ruang bawah tanah yang mereka tuju. Mereka bahkan tidak memperlihatkan tanda-tanda adanya ruangan dibalik tanah tersebut.


Louis berbisik, “Tuan… “


“Ihhh Jangan menggodaku, geli” ucap Ead menjauhi Louis dengan tubuh yang menggelinjang, membuat Louis terkejut dengan respon menjijikan dari Tuannya. Ia bahkan tidak pernah melihat Ead berperilaku centil seperti itu.


Namun Louis berubah paham saat melihat wajah serius Ead yang memberikan isyarat jika para pria dibelakang memiliki ketajaman pendengaran. Mereka dapat dengan mudah mendengar ucapan Louis dan Ead walau berbisik sekalipun.


Di perjalanan, Ead melihat seorang pria memakai sorban menutupi wajahnya. Dan saat itu juga Ead mengingat isterinya, bahkan ucapan yang ia katakan beberapa jam yang lalu.


‘Baiklah, besok kita ke rumah orang tuamu’


Pengakuan itu baru saja terlintas di dalam otak Ead. Ia pun melihat jam di tangannya. Jam sudah menunjukan pukul 2 siang, dan ia berkata akan menyusul Subha kesana. Namun bagaimana Ia akan kesana, jika pekerjaan nya saja baru saja dimulai.


Sementara wanita yang dimaksud Ead, kini dia tengah menunggu kedatangan dirinya di ruang tamu. Bersama dengan kedua orang tuanya, wanita itu berkata untuk menunggu Ead sebentar lagi. Ia yakin jika suaminya itu akan segera datang, mengingat jika ini pertemuan pertama sekaligus meminta restu orang tua.


Namun Umi yang melihat itu merasa kasian, terlebih kepala putrinya yang menunduk seakan malu dengan perilaku tidak tertib suaminya. “Subha, suamimu mana?”


“Sebentar lagi suami Subha datang, Umi. Beliau bilang sedang ada pekerjaan mendadak” jawab Subha lembut dengan senyum dibalik cadarnya.


Abi Rahman kurang terima, “Dia sudah tahu jika kau akan datang kemari?”


“Sudah Abi”


Abi Rahman menghela nafas, “Apa pekerjaan suamimu, Nak? Mengapa dia tidak bisa menyempatkan untuk sekedar silaturahmi dengan mertuanya, terlebih ini silaturahmi pertama”


Dengan ragu Subha menjawab, “Sebenarnya… Subha sendiri tidak tahu pekerjaan beliau Abi. Terkadang Beliau berangkat malam dan pulang pagi, berangkat pagi dan pulang malam”


“Apa menantuku itu seorang berandal jalanan?” ketus Umi dalam hati.


...To be continued...


...Namanya Ibu-ibu tetap julid ya gesss...


...Jangan langsung scrolllll! Di like, komen, vote dulu bebss😭...

__ADS_1


__ADS_2