
Louis dan Roy ikut berlari dibelakang Alham saat melihat Ead dan Subha dari kejauhan. Mereka nampak antusias dengan melompati tanah-tanah yang berlubang.
"Ead kau baik-baik saja, syukurlah kau baik-baik saja. Aku merasa sangat takut mengetahui kau belum pulang. Oh iya aku lihat ada mobil sedan itu milik siapa? Apa ada musuh yang mencoba menyakitimu?"
Cerocos Roy tidak didengar oleh sang dominan. Ead hanya tidak bisa lepas dari cara kakak dan beradik itu saat saling bertukar kasih dan sayang. Mereka nampak penuh dengan kebahagiaan dan rasa nyaman.
"Tuan anda baik-baik saja?"
"Iya?" Ead tersadar saat Louis menepuk bahunya pelan. "Aku baik-baik saja"
Pandangan Ead kembali fokus melihat interaksi isterinya dan kakak iparnya, diikuti oleh kedua pengawal setianya Roy dan Louis.
Kedua kakak dan beradik itu masih saling bertukar komunikasi, apalagi saat Subha mendengar jika Uminya tengah merindukan dia, tentu hal itu membuat Subha merasa cemas.
"Umi? Umi kenapa kak, apa Umi sakit? Beliau baik-baik saja kan" ucap Subha penuh dengan ketakutan. Takutnya setelah berminggu-minggu tidak ada kabar, hal itu malah membuat Uminya sakit.
"Umi rindu denganmu... Pulanglah. Apa kau tidak merasa rindu dengan Umi?"
Tutur Alham membuat adik kandungnya merasa gelisah. Bukan Subha tidak rindu, namun apa disaat ia pulang nanti keluarganya dapat menerima pernikahannya dengan pria Italia itu.
Sekilas Subha melihat keberadaan Ead, "Bolehkah aku bicara sebentar? Aku akan menyusul jika sudah selesai berbicara dengan kak Alham"
"Hm"
Jawab Ead singkat, menandakan ia tidak rela jika Subha berbicara dengan Alham. Namun ia juga tidak mampu untuk menolak permintaan Subha.
Ead segera pergi menaiki bukit menuju jalanan yang sudah terparkir para mobil mereka, diikuti oleh Roy dan juga Louis. Kini hanya ada Subha dan Alham saja, hingga mereka akan berbicara lebih leluasa.
"Subha akan pulang, bersama dengan suami Subha... Eadwarl"
"Subha... Umi dan Abi tidak akan menerimanya, terlebih pernikahan ini hanya siri"
"Pernikahan siri itu sah secara agama kak... Kakak nggak bisa mempermainkan agama" tutur Subha membantah kalimat dari kakaknya. Dengan tegas menolak jika Alham mendefinisikan pernikahan siri itu hal yang rendah.
"Subha... Apa yang akan pria itu perlihatkan kepada Abi dan Umi? Saat Umi menguji kesabarannya nanti, dia akan berubah menjadi macan. Saat Abi menguji keahliannya, dia akan berubah menjadi psikopat"
"Kakak tahu apa tentang suami Subha?"
Bantah Subha merasa tidak terima jika suaminya di Katai seperti itu. Tentu seorang isteri pasti kecewa dan sakit hati jika ada seseorang yang menghina suaminya, terlebih itu adalah kakak kandungnya sendiri.
__ADS_1
"Memangnya kamu udah berapa lama kenal dia? Orang yang sudah lama berkenalan saja belum tentu tau sepenuhnya, apalagi kamu yang baru kenal dengan Ead"
Subha menitikkan air mata, merasa sedih. "Kak... Subha akui jika kepribadian Ead jauh dari kata pria sholeh di luaran sana, bahkan jauh dari pria yang Abi pilihkan untuk Subha. Namun... Allah yang mempersatukan Subha dengan Ead, insyaallah pilihan dari Allah lah yang paling baik"
Setelah bertutur kata yang tidak mampu Alham bantah, Subha segera meninggalkan kakaknya sendiri. Sementara Alham terdiam dengan kebingungan.
"Apapun yang terjadi, Subha akan membawa suami Subha menemui Abi dan Umi besok pagi. Assalamu'alaikum"
Ucap Subha berhenti sejenak lalu kembali melanjutkan langkahnya menemui suaminya yang sudah lama menunggunya.
Pria itu memang menunggu Subha, namun ia juga sedang merencanakan sebuah misi untuk mengungkapkan identitas beberapa pria yang sudah menyerang dirinya.
"Dua orang pria itu memakai sorban sebagai penutup wajahnya. Mereka berdua sangat lihai dalam menembak, dan aku rasa mereka sedang memulai rencananya" ucap Ead bersandar di badan mobil dengan kedua tangan dimasing-masing saku celana.
"Kami akan coba menyelidiki mereka segera, Tuan" jawab Louis menundukkan kepala.
Kembali ke Subha. Tangan Ead seketika mengulur menarik kedua tangan Subha supaya memudahkan Subha sampai di jalan. Terlihat perhatian bukan.
"Sudah selesai?"
"Sudah... Kita bisa pulang sekarang" ucap Subha melewati suaminya.
Dari itu Ead dapat melihat jika terjadi sesuatu antara Subha dan Alham, apalagi melihat raut wajah Alham yang sendu kearahnya. Perasaan Ead menjadi kesal kepada Alham karena berani merubah mood isterinya. Ead melirik Alham sebelum akhirnya melenggang pergi.
20:00
Suara langkah kaki yang begitu berat menapak lantai di sebuah ruangan lembab, tepatnya di ruang bawah tanah, dimana berisikan para tahanan tanpa pembebasan serta senjata yang berjejer rapi di pojok ruangan sana.
Krettt
Besi tergesek membangunkan setiap penghuni di tempat mengerikan itu. Baik tahanan maupun pasukannya, tidak ada yang diperbolehkan tidur disaat sang Tuan baru saja diserang.
"Bangun kalian semua"
Titah Louis dengan suara bariton yang terdengar menggelegar. Para pasukan mencoba melepaskan dirinya dari alam mimpi yang mengikat jiwanya. Ada juga yang baru memakai baju, celana dll. Apapun itu mereka harus sigap menerima perintah.
Setelah para pasukan berkumpul segeralah Louis memberitahu maksud kedatangannya. "Siang tadi, Tuan kita Dominic telah diserang oleh dua orang pria yang tidak diketahui identitasnya"
"Aku minta kalian semua untuk mempersiapkan senjata dan alat pelacak lainnya. Malam ini kita akan mengupas kedua pria itu dan paginya, langsung melakukan penyerangan" ucap Roy meneruskan perintah Louis.
__ADS_1
"Kalian mengerti?"
"Mengerti" jawab mereka serentak.
Para pasukan bergegas bubar dan menempati posisi nya masing-masing. Ada agen senjata, agen pelacak, pengasah bela diri dan berbagai jenis persiapan perang lainnya.
Setelah insiden tidak terduga yang dialami sang Tuan, membuat Louis dan para pasukannya harus bergadang untuk bersiap penyerangan. Mereka terlihat sibuk dan serius.
"Tuan Dominic di teror dari peternakan kuda bernama Aurona sampai perbukitan Aromania, mobil sedan hitam dengan plat KZ765AAA 02" teriak Louis menginformasikan kepada para agen pelacak.
"Tuan"
Salah satu anggota mereka mengangkat satu tangannya, membuat Louis dan Roy berlari mendekat.
"Saya menemukannya... Mobil itu pernah lewat di halaman Mansion 2 hari yang lalu. Sepertinya, mereka sudah mengintai lama"
"Ada lagi?"
"Saya juga menemukannya, Tuan" sela Agen pelacak yang lain.
Hal itu membuat Louis dan Roy mendekat kepadanya, lalu Agen itu segera menunjukan apa yang sudah didapat untuk menambah informasi mereka.
"Disini, mobil itu sudah sering keluar masuk komplek Mansion" ucap Agen pelacak itu.
"Jika sudah sering masuk kedalam, pasti salah satu anggota kita menyadarinya" ucap Louis.
"Apa ada seseorang yang mempermudah misinya, seperti antek? Maksudku, kemungkinan ada di antara kita yang memiliki hubungan dengan pemilik mobil itu" ucap Roy dalam dugaannya.
Louis menyipitkan kedua matanya, berpikir. "Apa ada diantara kalian yang menemukan informasi lain?"
"Saya Tuan "
Lagi-lagi Louis dan Roy harus berganti tempat supaya kedua pria ini dapat memecahkan masalah dengan cepat.
"Mobil itu berhenti di perbatasan Obra dan Astana. Sepertinya mereka menunggu seseorang"
Mata kedua pria itu memperhatikan rekaman yang ada di layar tersebut. Menunggu pergerakan dari mobil itu. Tidak lama terlihat mobil berwarna putih datang dan berhenti tepat disebelahnya. Keduanya seperti sedang bertukar informasi. Tidak membutuhkan waktu lama keduanya kembali melajukan mobilnya.
"Lacak keberadaan mobil putih itu. Itu adalah target kita"
__ADS_1
...To be continued...
...Bantu vote dan like ya pembaca tersayang🤗...