Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 82 : Menemui Leiska!.


__ADS_3

“Katakan dengan jujur atau aku tidak akan memaafkanmu”


Widia masih tidak berhenti menangis, tepatnya menangis Bombay. Mana ada Widia benar-benar menangis, semua air yang ia keluarkan hanya tangis buaya. Tidak nyata. Seperti inilah ular tulen bekerja.


Alham menepis kedua tangan wanita itu, “Lepaskan aku, jangan hanya menangis dan jawab jujur”


“Iya, aku memang seperti apa yang kau lihat…” jawab Widia mengusap air mata buayanya. “Tapi Alham, aku melakukan semua itu supaya kau tidak menjauhiku. Kau akan meninggalkanku, keluargamu akan menentang hubungan kita…”


“Iya Widia… itu pasti. Dan pastinya orang tuaku akan menyetujui hubunganku dengan Leiska waktu itu” tekan Alham dengan tatapan dingin serta wajahnya ia dekatkan dengan wajah Widia, “Aku bodoh… kau pasti menertawakanku ya”


Alham tertawa menggelegar. Ia merasa lucu dengan kebodohannya sendiri. Bisa-bisanya Widia menipunya selama ini. Sialannn.


“Apalagi kebohonganmu?” tanya Alham mengusap wajahnya kasar dan Widia hanya menggeleng pertaanda tidak ada. Namun Alham tak akan lagi percaya.


“Jangan bohong… apa hubunganmu dengan hilangnya Leiska dan pria bertopeng Zlander?”


“Aku tidak ada hubungan dengan mereka”


“Lagi…” Alham menyela. Ia yakin jika tunangannya ini berbohong lagi. “Sudah ku bilang jangan berbohong. Aku melihatmu waktu itu, dan aku juga melihat Leiska… apa yang kulihat memang nyata dan kau memanipulasinya”


Widia menelan ludahnya kasar. Ia sudah tidak tahu harus mengatakan apa. Bagaimana ini? Leiska sudah tertangkap basah. Mata Widia bergerak kekanan dan ke kiri. Ia sedang mencari solusi.


“Aku… aku dipaksa…”


“Apalagi ini????”


“Iya Alham. Aku dipaksa pria bertopeng itu untuk menculik Leiska… aku sudah bilang tidak mau tapi dia memaksaku… dia mengancamku jika aku tidak menculik Leiska maka kau akan disakiti olehnya”


Ucap Widia dengan isak tangis supaya membuat Alham percaya. Ia sungguh yakin jika kali ini Alham akan mempercayainya. Karena wajah pria itu nampak berkerut diarea dahi.


“Alham aku sangat mencintaimu… aku tidak kuat jika melihat dirimu terluka” Widia mulai mengambil kesempatan dengan mengulur tangannya menyentuh kedua tangan Alham.


“Kalau begitu… katakan kepadaku dimana Leiska? Kita akan membebaskannya”


Tentu saja Widia tidak menerima hal itu. Enak saja Leiska lepas begitu saja!.


Widia menggeleng lemas, “Aku tidak tahu dimana Leiska”


“Bagaiman kau bisa tidak tahu? Kau kan dekat dengan Zlander!!!”


Widia bingung. Sebenarnya ia juga tidak tahu dimana pria itu membawa Leiska karena itu urusannya.“Setelah perkelahian ini. Aku tidak tahu dimana Zlander membawa Leiska… itu urusannya”


“Lalu dimana persembunyiannya?”


Siall, jika Widia tidak menjawab pertanyaan Alham kali ini. Ia yakin Alham akan semakin curiga dengannya. Sudah banyak ia mengeles! Ia tidaak bisa mengeles lagi.


“Aku akan tujukan kepadamu!”


_________


Di tempat berbeda...

__ADS_1


Sebuah tempat yang jauh dari perkotaan, tepatnya berada di dalam hutan. Paling dalam. Tempat itu terlihat sudah usang dan rumput-rumput liar merambat menggerayangi dinding dan atap bangunan tersebut. Namun tempat itu merupakan tempat paling nyaman dan aman untuk sebuah kelompok dunia gelap.


Kelompok yang paling mengerikan dari beberapa puluh tahun silam. Kengerian kelompok itu bisa dilihat dari bangunannya, para penjaganya dan teriakan-teriakan yang di hasilkan oleh tempat tersebut.


Jauh kedalam tanah terdapat satu ruangan lembab dengan pria bertubuh kekar terikat tengah menjadi tahanan tempat tersebut. Tubuhnya yang dipenuhi luka bakar, pakaian nya yang sudah hampir koyak tersayat belati tajam, wajahnya yang penuh dengan aliran darah dari ujung kepalanya yang bocor. Namun pria itu tetap kuat dalam menghadapi siksaan.


Tang


Wajah Ead seketika menengadah dengan mata nanar menelusuri tempat busuk ini. Suara itu kembali membuat Ead waspada karena sesuatu akan mungkin terjadi lagi... lagi... dan lagi...


Dari kejauhan Ead melihat pria berpakaian serba hitam namun bukan pasukannya, ia yakin itu pasukan Zlander yang sedang berjalan mendekat.


"Makan ini" perintah pengawal itu dengan nada dingin dan menjatuhkan satu potong roti dibawah kaki Ead.


"Aku ingin menemui Leiska"


Plak


Wajah Ead menoleh ke kanan saat Pengawal itu menampar wajahnya menggunakan ujung pistol. Sungguh perlakuan buruk yang tidak bisa Ead maafkan. Beraninya dia menampar wajah pria yang sedang murka.


Sejauh ini Ead hanya terlihat lemah di depan Zlander karena ia harus tetap membuat adiknya dalam keadaan selamat. Namun didepan pengawal rendahan seperti pria ini? Sepertinya dia kurang dihajar.


"Makan atau-----"


Bugh


Ead menendang dada pengawal sombong itu dengan salah satu kakinya yang tidak diikat. Bodoh Zlander membiarkan kaki Ead tetap bebas. Pengawal itu langsung salto kebelakang, namun ia tetap kuat bangkit ingin melawan Ead.


Jika dia marah, lalu bagaimana dengan Ead? Dia hanya bertanya dengan nada halus dan juga sopan untuk pria sepertinya. Namun dengan seenaknya dia memukul Ead? Oh tidak bisa!!!!


Ead menyeringai dingin. "Kau akan mati!!! tanpa aku menggunakan tanganku"


"Peng----"


Brak


Potong Ead beranjak dan membenturkan kursi yang masih melekat di tubuhnya dengan tubuh pengawal sombong itu. Tubuh pengawal itu langsung terhimpit di dinding saat telapak kiri Ead menekan punggungnya. Bibir pengawal itu mencium dinding dengan mesra! Hahaha


"Setidaknya latih bela dirimu bodoh!!" maki Ead menaikan salah satu sudut bibirnya menang.


"Tu--tulonggg"


"Aku tidak dengarrr" Ead tidak mau peduli. "Sekarang jawab pertanyaanku... dimana Adikku?"


"Aku tidak tahu aarkk"


Ead menekankan punggung pengawal itu ke dinding. Walau pengawal itu sudah berusaha melepas tautan dirinya dan dinding itu, tetap kekuatan Ead tidak ada tandingannya.


"Dimana Zlander menyembunyikan Leiska? Cepat katakan???" sentak Ead tidak sabaran karena takutnya perkelahian ini mengundang para pengawal lain untuk datang.


"Di lantai... 2 dengan pintu putih, gantungan dua mayat burung merpati" jawab pengawal itu dengan terpaksa.

__ADS_1


"Aku akan melepaskan mu tapi kau harus melepas ikatan ini"


"Kau akan membunuhku?"


"Aku tidak akan membunuhmu! Istriku sedang hamil" jawab Ead dengan penuh keyakinan dan manipulatif yang tinggi. Memang Ead tidak akan membunuhnya, karena ia masih membutuhkan pengawal itu.


Setelah banyak berpikir dan pengawal itu juga takut dengan Ead. Ia pun menyanggupi tawaran Ead dengan melepas ikatan itu. Lagipula Ead tidak akan berani melukai atau membunuhnya, pikirnya.


Kedua tangan Ead sudah lepas dari kursi yang melekat dari tubuhnya. Sekarang ia bisa bebas bergerak.


"Kau duluan!!" titah Ead dengan mata yang dingin dan sangat mematikan kepada pengawal yang memukul dirinya. Pengawal itu gemetaran.


"Ka-kau bilang tidak akan membunuhku" cicit pengawal itu.


"Aku memang tidak akan membunuhmu... kau akan menjadi penunjuk arah, perlihatkan jalan yang tidak ada penjaga dan pastinya mudah untuk sampai menemui Leiska"


"Tapi----" ingin sekali pengawal itu membantah namun ia sangat takut dengan pria yang ada didepannya. Dari itu ia memutuskan untuk menjadi penunjuk arah saja. Lebih tepatnya, pria itu akan menjadi tameng dalam perjalanan Ead menemui Leiska.


"Tunggu sebentar" sela Ead meraih roti yang tadinya pengawal itu ambil. Ead dengan jelas melihat wajah bingung pengawal itu namun ia tidak menghiraukan. Ia tidak peduli asal perutnya terisi. Dari tadi dia belum makan, sangat disayangkan jika makanan itu terbuang sia-sia.


"Kau jangan mau... hanya ada satu dan aku tidak akan mau membaginya dengan mu" Ead menggigit roti itu dengan gigitan yang besar.


"Tidak"


🍷


🍷


Lorong-lorong gelap tanpa penerang harus Ead lalui untuk menemui adiknya tanpa sepengetahuan pria bertopeng. Pengawal juga benar-benar mencarikan jalan yang sepi dari para penjaga. Ia memang bodoh. Kedua pria itu mengendap-endap melewati lorong dimana pengawal sombong itu berjaga didepan dan Ead berjaga di belakang.


"Setelah ini kita akan lewat mana? Kau harus cepat membuatku sampai disana atau mereka akan menyadari ketidakadaan ku" Ead mendorong tubuhnya kedepan.


"Itu ruangannya..." cicit si pengawal dengan perasaan yang berkecamuk takut.


Ead melihat ruangan yang dimaksud. Pintu itu tertutup dengan rapat, seperti tengah di kunci!.


"Apa ruangan itu di kunci?"


"Aku tidak tahu... tapi biasanya tidak" jawab pengawal itu kembali. Matanya liar melihat-lihat keadaan sekitar untuk berjaga-jaga. Habislah dia jika ada rekannya tahu dia sedang berkhianat.


"Ayooo"


Ead menarik kerah pengawal itu untuk tetap mendampinginya mendekati ruangan itu. Ia harus memastikan terlebih dahulu jika itu memang ruangan Leiska.


"Benar ini ruangannya?"


Pengawal mengangguk membuat Ead yakin jika didalam memang ada adiknya. Ia semakin tidak sabar untuk bertemu dengan adiknya Leiska.


Cklek


Deg

__ADS_1


To be continued


__ADS_2