
Kebahagian datang secara tiba-tiba, begitu pula kesedihan yang singgah dengan cepatnya. Setelah mereka merasakan kebahagiaan, itupun hanya sebentar. Seakan memang mereka ditakdirkan untuk bersedih sepanjang hidupnya.
Perusahaan yang baru saja melonjak itu tiba-tiba mengalami penurunan saham. Banyak sekali karyawan yang memilih resign dari pekerjaan mereka. Itu dikarenakan pengusaha bernama Darwin Zolanda melakukan sebuah korupsi. Itulah yang menyebabkan perusahaan nya sempat mengalami kejayaan.
“S*al” umpat Darwin membanting barang-barang yang ada didepannya.
Ia merasa emosi mengetahui perilaku buruknya sudah menyebar begitu cepat, hingga tidak memberikan waktu Darwin untuk bersiap-siap.
Ead kecil merasa amat ketakutan saat dirinya melihat Ayahnya menghancurkan semua yang ada di ruang kerja. Terlebih melihat kedua orang tuanya bertengkar hebat.
“Ini semua karena kau. Coba saja jika dirimu tidak melakukan hal kotor seperti itu… memang kau itu bodoh, kurang pintar mengelola perusahaan. Pokoknya aku minta ceraii”
“Heiii… kau itu sebagai wanita tidak pernah mendukung suamimu. Saat sudah seperti ini saja kau tidak mau ikut campur. Sekarang apa, kau minta cerai?”
Ibunda Ead kecil membalas dengan nada yang lebih tinggi, “IYAA. CERAIII”
“Ok… besok kita langsung cerai”
Meli keluar dari ruangan itu, menarik tangan Ead kecil yang menangis me manggil-manggil Daddy nya.
“Daddy”
Namun apalah daya seorang Ead yang masih kecil dan tidak tahu apa-apa. Ia hanya ingin memiliki keluarga yang utuh dan hidup bahagia.
Keduanya memutuskan untuk bercerai, namun karena keadaan Meli yang tengah mengandung, perceraian mereka belum sepenuhnya sah.
Akibat itu, Darwin sangat suka berjudi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu Darwin juga melakukan pinjaman kepada seorang rentenir berdarah dingin terkenal di Italia. Semua itu ia lakukan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saja, namun juga Meli yang masih menjadi tanggungan dirinya.
Ead merasa jika kedua orang tuanya tertekan dengan hidupnya yang sekarang. Tubuh Darwin perlahan mengurus seiring bertambahnya bulan, dan wajah Meli yang semakin kusam dan mengalami penuaan dini.
Ead sering melihat jika Ayahnya selalu menyendiri diatas gedung atap dirumah susun yang mereka tinggali. Jika Ead bertanya maka jawabannya hanya.
“Daddy hanya ingin istirahat”
“Apa boleh Ead menemani Daddy?”
Darwin menggeleng dengan senyuman. Menolak bentuk tawaran yang telah putra kecilnya itu berikan.
Malam harinya, Ead tidak menemukan Darwin di rumahnya. Ia pun menduga jika atap lah tempat istirahat Darwin. Ead berlari menuju atap. Sesampainya di atap, Ead dikejutkan dengan sesosok pria yang sudah berdiri di tepian gedung.
“Daddy”
Teriak Ead memanggil Darwin. Ead kecil takut jika sesuatu yang buruk terjadi kepada Ayahnya. Sementara pria yang ia maksud hanya menoleh seraya wajah menyeringai cerah.
“Ead. Percayalah, Daddy sangat menyayangimu” ucap Darwin sebelum akhirnya memilih terjun dari atas gedung itu.
“Daddy”
Teriak Ead menangis sejadi-jadinya. Berlari tertatih-tatih dengan kedua kakinya yang kecil, mendekati tepian gedung dengan tangis yang tidak terbendung.
Kehidupan pahit Ead tidak sampai disitu. Beberapa hari setelah kepergian mendiang Darwin! Ibunda Ead menderita sakit yang serius disaat usianya kandungan yang tidak muda lagi. Dari itu Ead mencari pekerjaan untuk membiayai Meli berobat.
Tidak jarang Ead kecil mendatangi toko-toko, dan tempat lain hanya untuk mencari pekerjaan. Namun sayangnya banyak sekali penolakan dari mereka, mengingat jika Ead masih dini.
Beberapa hari kemudian. Penyakit yang di derita Ibunda Ead menjadi lebih serius, membuat Ead frustasi. Iapun segera membawa Meli ke rumah sakit. Akhirnya Meli harus melakukan operasi untuk mengeluarkan bayinya supaya bayinya selamat.
“Mommy hiks hiks”
__ADS_1
“Ead… jangan menangis. Mommy sangat menyayangimu. Jaga adikmu”
Lagi, lagi dan lagi Ead mendengar kalimat itu sebagai kalimat terakhir dari orang yang disayang. Ibundanya tiada tepat setelah menitipkan adik perempuan kecil untuk menjadi temannya.
Bocah sekecil itu harus menghidupi adik kecilnya yang baru saja lahir, dapat dibayangkan betapa sakit hal itu. Begitu berat juga perjalanan hidup Ead membawa Leiska keluar dari hitamnya kehidupan.
Ead kecil bertekad, "Aku melakukan apapun untuk menghidupi adik perempuanku, bahkan dengan cara yang kotor. Aku tidak peduli dari mana aku mendapatkan uang itu, asal adikku memiliki kehidupan yang layak"
Flashback off
Suasana dikediaman Akthakarta seketika sunyi, mereka begitu khusyuk mendengarkan cerita menyedihkan yang Ead miliki. Kedua mata mereka mengembun menahan lelehan bening yang ingin tumpah.
Namun wajah Ead terlihat biasa saja, Entah hatinya yang sudah terlatih untuk kuat, atau memang Ead sedang berpura-pura kuat, “Begitulah ending dari kehidupan pahit keluarga Zolanda”
‘Masyaallah… Begitu hebat dirimu melalui ini semua’ puji Subha dalam hati sambil menangis dibalik cadarnya. Ia baru mengetahui kehidupan pahit yang dimiliki suaminya dan itu sudah cukup membuat hatinya terluka.
“Ayah saya meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah, ibu saya meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu. Aku tidak mengerti mengapa mereka berdua pergi dengan alasan menyayangi”
Ucap Ead mengamati mimik wajah orang-orang yang ada didepan matanya. Ia melihat satu-satu respon mereka setelah mendengar cerita menyedihkan miliknya, dan semua itu seakan memberikan rasa belas kasih yang sangat Ead benci.
Tatapan tajam Ead berganti kearah Abi Rahman, “Tuan Rahman Akthakarta. Aku ingin bertanya kepada anda. Karena ini sangat mengganjal sekali”
“Tentu boleh”
“Apa wajib anda sebagai Ayah dari isteri saya untuk mengetahui masa lalu yang dimiliki suaminya? Entah itu pahit atau manis, secara tidak langsung anda sudah membuka luka lama” ucap Ead tidak ada nada lembut.
Orang-orang yang berada disana merasa amat terkejut.
“Nak Ead… bukan seperti itu. Seorang ayah berhak bertanya mengenai suami yang hendak menikahi putrinya. Kebetulan Nak Ead belum bertemu dengan Abi sebelum pernikahan, dari itu Abi tanya sekarang”
Ead segera keluar dari kediaman Akthakarta. Ia memang selalu sakit hati jika ada yang mengungkit tentang masalah orang tuanya.
“Ead” panggil Subha hendak mengejar suaminya, namun Umi mencegahnya.
“Biarkan dia sendiri. Dia membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, nak”
Subha menangis merasa kasian, “Umi… Ead bela-belain datang kemari cuma mau silaturahmi tapi Umi sama Abi malah nanya kayak gitu. Subha sudah pernah nanya tentang keluarganya, tapi Ead belum sepenuhnya mau terbuka. Tapi Abi malah nanya seperti itu"
“Subha. Abi pernah menceritakan nasihat Habib Abdul Qodir Baabud mengenai 5 kriteria pria yang tidak boleh kau nikahi” ucap Abi membuat Subha ingat.
“Tapi Abi… Ead sudah menjadi suami Subha”
"5 kriteria itu 2 diantaranya dimiliki oleh suamimu, Ead. Dia memiliki temperamental dan akhlak yang buruk”
“Maaf Abi… Subha harus mengikuti imam Subha”
Subha langsung menepis tangan Umi yang sebelumnya melilit kuat di lengannya. Ia pun langsung berlari, namun dari luar nampak Widia memasuki rumah.
“Assalamualaikum, Sub—”
Ucapan Widia terpotong saat melihat calon adik iparnya berlari melewatinya. Hal itu membuat Widia melengos dan memilih menyalami Umi.
“Assalamualaikum, Umi”
“Walaikumsalam. Kau darimana saja nak?”
“Kantor” jawab Widia masih memperhatikan pintu keluar. Namun Widia langsung mengingat tunangannya, “Alham dimana Umi?”
__ADS_1
“Umi kok nggak tahu ya…”
“Tidak tahu bagaimana Umi, kan Alham sudah pulang dari tadi”
Keduanya saling pandang dengan pikiran yang sama.
Halaman rumah.
Mobil yang terparkir didepan rumah itu sudah siap berkendara, hanya menunggu Ead menginjak gasnya. Saat pria pemarah itu menginjak gasnya, tiba-tiba Subha menghadang.
“Ead tolong turun sebentar”
Karena Ead sedang dalam mode emosi. Ia pun segera keluar menuruti permintaan Subha.
"Ead, aku tahu perasaanmu... Tapi----"
"Kau ingin mempermalukan diriku? Kau menipuku dengan mengatakan mereka menerimaku"
"Mereka pasti menerimamu" nada suara Subha terkesan menyentak, namun percayalah jika hanya itu cara supaya membuat Ead paham.
"Menerima tidak akan mempertanyakan seluk-beluk keluargaku"
Subha menghela nafas kesal, "Seseorang akan menerima masa lalu kita jika kita mau terbuka dan membiarkan orang lain tahu. Bagaimana orang lain mau menerima jika mereka saja tidak tahu masalahmu itu apa"
"Bukan begitu, saat aku menceritakan masa laluku. Wajah mereka langsung berbeda, seakan mereka sedang mengintimidasi ku, memberikan tatapan kasihan, memojokkan diriku. Bahkan dirimu"
"Kau melihat wajahku?" tanya Subha.
"Tidak. Aku melihat matamu... Matamu sudah dengan jelas mengartikan bahwa kau juga sedang mengasihaniku"
Subha memang merasa kasian, namun dibalik itu ia juga merasa bangga dengan Ead yang mampu melewati ujian itu. Padahal usianya saat itu masih sangat dini untuk merasakan kerasnya kehidupan.
"Aku tidak mengasihaniku. Aku bangga memiliki suami yang kuat seperti dirimu"
Ead tertawa sejenak, "Dari awal aku sudah memperlihatkan kepadamu seperti apa aku. Aku Mafia, tidak ada yang menerima seorang Mafia dan kau malah bangga?"
"Lalu apa maksudmu menikahiku, jika kau sendiri tahu akan seperti ini hubungan kita"
Tanya Subha berhasil mengobrak-abrik hati kecil Ead. Air mata Subha meleleh turun membasahi kain cadarnya, hingga untuk melihat saja Subha kesusahan.
"Jika kau beranggapan bahwa kedepannya keluargaku tidak mau menerimamu, lalu kenapa kau mau menikahiku?"
"Iseng"
Setelah mengucapkan itu Ead bergegas melenggang pergi, membuka pintu supaya ia dapat masuk dan mencampakan Subha. Namun lagi-lagi Subha menahannya.
"Ead jangan seperti ini. Mereka hanya membutuhkan waktu untuk menerimamu"
"Untuk sementara waktu. Kembalilah ke keluargamu, tinggal dengan mereka... Jangan kembali jika aku belum menjemputmu"
Deg
...To be continued...
...Orang yang tidak pernah merasakan jatuh cinta, dia akan bucin jika sudah merasa halal baginya......
...Seperti Subha!!!!...
__ADS_1