
“Bakar tempat ini”
“Baik Tuan”
Segeralah para pasukan Ead menyiramkan puluhan botol berisikan minyak tanah ke lantai, dinding serta tempat-tempat lain. Tentu Diran yang mengetahui itu histeris menghalangi mereka, namun kekuatan Diram tidak seberapa dibanding mereka semua.
“Jangan… Tolong jangan… Tuan Dominic kasihani kami” ucap Diran memohon dikedua kaki sang dominan. “Bukankah aku sudah menjawab sesuai dengan yang kau inginkan?”
“Kau memang sudah benar dengan menjawab pertanyaanku. Namun sangat tidak adil jika kekerasanmu selama ini tidak mendapatkan balasannya, terutama kepada isteriku Subha”
“Tuan Dominic”
Ead menendang tubuh Diran lalu melenggang pergi. Sementara seluruh anggota Ayel Lesi berlarian mencari jalan keluar dari api yang sudah di hidupkan.
“Aaaaarrrrkk”
“Minggirrrr”
Pria yang ia maksud tidak peduli dengan teriakan itu. Ia hanya ingin memberikan wanita itu pelajaran yang setimpal dengan apa yang dilakukan. Dengan ini wanita itu tidak akan memiliki apa-apa dan hancur dengan perlahan.
“Louis cepat kau tahan Diran dan beberapa anggotanya. Kurung mereka di ruang bawah tanah”
“Baik Tuan”
“Roy kau membantu Louis”
“Asiappp” jawab Roy segera melaksanakan tugas Ead. Supaya dapat menghilangkan pikiran remeh Ead terhadapnya.
“Saya akan segera melaksanakan tugas yang anda berikan. Kalau boleh saya tahu, anda akan pergi kemana?”
“Ada seorang pencuri yang ingin kulihat kegiatannya” jawab Ead langsung mengendarai mobilnya.
Maksudnya pencuri hati bebs
Bremm
Mobil mewah itu membawa Ead pergi meninggalkan Kawasan Ayel Lesi.
________
Rumput-rumput hijau tumbuh disekitar halaman, ada kolam berisi puluhan ikan koi kesayangannya, kupu-kupu berterbangan seiring dengan keinginan untuk hinggapnya di bunga bermekaran.
Ayunan kayu bambu dihiasi tanaman rambat itu bergoyang dinaiki oleh wanaita yang menjadi pemiliknya. Wanita memakai syar-i putih serta cadar putih pula. Kakinya menghentak mendorong guna mempercepat ayunan.
__ADS_1
“Semoga Allah selalu menjaga hubunganku denganmu, dengan ayahmu, dengan kakekmu, nenekmu dan semua orang yang dekat denganmu. Wahai anakku, sehat-sehat kau disana. Insyallah ayahmu akan segera tahu”
Subha mengelus perut datarnya seraya bermain dengan ayunan yang setia menjadi tumpuan tubuhnya.
Dibalik itu semua seseorang telah memperhatikan dia lama. Dia berada didalam mobil dengan jendela yang tertutup serta memakai kaca mata hitam. Sesekali pria itu memotret Subha yang sedang berayun manja lalu menyimpannya. Sayangnya wajah Subha tertutup oleh cadar hingga pria ini tidak memiliki kesempatan untuk melihat wajahnya.
Subha bermain dengan kubangan air hingga mengotori pakaiannya. Hal itu membuat si pria geram ingin menarik tangan sang wanita.
“Dasar keras kepala. Sudah tahu pakaiannya menyapu tanah tapi malah memasuki kubangan air. Dia minta dimandikan” ujar Ead terlihat kesal.
“Mengapa aku sangat merindukannya? Aku sangat ingin melihat wajahnya. Apa aku harus memintanya untuk kembali lagi? Atau membiarkannya disana” gerutu Ead mengusap kasar dagunya.
Ead bingung dengan dirinya sendiri, sementara foto yang ia ambil tidaak mampu mengobati rasa rindunya. Mau gimana?
Cklek
Ead keluar dari mobil mewahnya, memperlihatkan tubuh gagahnya dibaluti toxedo hitam serta kaca mata hitam pula. Namun pria ini kembali bersembunyi dibalik badan mobil. Ia mengurungkan niatnya.
“Jangan dulu. Bersabarlah Ead… ayo kita pulang saja” gumam Ead hendak memasuki mobilnya.
“Assalamualaikum, Nak”
Sapa seseorang membuat pria yang sedang dalam persembunyian itu terlonjak. Matanya melirik serta tubuhnya mulai membalik, rupanya seorang pria yang merupakan mertuanya itu sudah berdiri dibelakangnya.
“Sedang apa nak Ead disini, melihat Subha?. jika iya kenapa nak Ead tidak menemuinya? Bukankah Subha akan bahagia melihat kedatanganmu”
Ead merapikan kerah toxedonya, “Kau juga kenapa berkata seperti itu? Bukankah kau tidak menyukai jika aku dengan putrimu! Kenapa sekaraang tiba-tiba menawariku untuk bertemu dengannya?”
Abi Rahman tidak menjawab alasan ia berkata demikian.
“Bisakah kita bicara sebentar? Sepertinya berbicara di café sana terlihat nyaman” kata Abi menunjuk café yang berada diseberang jalan.
Ead mengangguk bingung.
Keduanya berada di no meja 10 berkapasitas 2 orang. Keduanya duduk secara berhadapan seraya meneguk minuman favorit mereka masing-masing. Abi yang menyukai Teh lemon hangat dan Ead yang menyukai kopi hitam tanapa gula.
Sebenarnya Ead ingin memesan wine, wiski atau ungkin vodka. Sebangsa minuman beralkohol, namun saat ini ia sedang bersama pria paham agama, lagian café ini tidak menyuguhkan minuman haram seperti itu.
Ead menyilangkan kedua kakinya, “Apa yang ingin engkau sampaikan?”
“Apa kau benar-benar menyukai putriku?”
“Iya” jawab Ead tidak mau banyak berpikir, karena memang ia tertarik dengan Subha.
__ADS_1
“Lalu apa yang dapat kau berikan sebagai seorang suami kepada istrimu?”
Ead terdiam memikirkan jawaban yang pas untuk menjawab pertanyaan pria baya itu. “Aku memiliki harta benda, kekuasaan yang tidak ternilai harganya. Semua itu cukup untuk membuat Subha bahagia”
Abi mengangguk, “Di rumahnya, Subha juga bisa mendaapatkan itu semua, bahkan anggota keluarganya mampu memberikan apapun yang Subha inginkan. Kau yakin Subha akan bahagia hanya dengan harta bendamu?”
“Sejauh ini aku melihat dia begitu bahagia menikmati harta bendaku. Tidak sekalipun aku melihatnya murung, bahkan keberadaanku saja sudah cukup untuk membuatnya bahagia. Dia merupakan wanita yang bersyukur”
“Lalu kenapa kau mengatakan kalimat yang berartikan pisah kepada Subha? lalu mengapa kau membuat Subha nampak murung dengan kau tidak menemuinya? Sedangkan kau tahu hal itu akan membuat Subha merasa tidak bahagia”
Ead nampak tenang seraya menyesap kopi hitamnya, “Bagaimana jika tiba-tiba putrimu menjadi janda? Apa kau rela, kau terlalu banyak mendengar sebuah kejutan. Tiba-tiba Subha menikah, lalu menjanda? Kau mau hal itu terjadi?”
“Astagfirullah… bagaimana kau bisa berkata seperti itu, nak?” kata Abi mengusap dadanya pelan namun Ead hanya diam. “Takdir itu Allah yang memberikannya. Kita sebagai hamba hanya bisa menerima dan berdoa untuk bertemu dengan takdir yang baik”
Kepala Ead mengangguk menerima. “Jadiiii apa yang Subha inginkan?”
“Dapat diakui sebagai istri sah menurut agama dan juga negara, Nak. Tolong nikahi Subha secara agama dan juga negara”
Ead tertawa, bukan maksud meremehkan permintaan mertuanya. Ia hanya merasa lucu dngan aturan kepercayaan mereka, “Aku sudah menikahi Subha 2 kali. Masih kurang kah?”
“Itu hanya pernikahan siri. Hal itu memang halal namun dapat merugikan pihak wanita” bantah Abi kepada Ead.
“Ruginya dibagian mana?”
“Sang suami dapat kapan saja menceraikan isterinya. Anak dari pasangan suami istri itu akan menjadi tidak sah karena pernikahan orang tuanya tidak terdaftar di Lembaga negara” tutur Abi menjelaskan sepengetahuannya.
“Kami belum memiliki anak”
“Subha sedang hamil”
Ucap Abi Rahman mengejutkan Ead. Iapun menaruh segelas kopi yang sempat ia minum, dan matanya nampak melamun
kening Ead berkerut, ‘Jika aku menikahi Subha secara negara. Pasti mereka akan tahu pernikahanku. Lalu apa itu akan menjamin keselamatannya? Apa aku yakin dapat membuat Subha tetap aman berada di dekatku? Terlebih dia sedang hamil’
“Nak Ead. Bisa kau nikahi Subha yang merupakan ibu dari anakmu?”
“Sebelumnya aku ingin jujur. Menantumu ini bukan pria seperti menantu pada umumnya. Ia juga bukan pria yang terlihat sholeh seperti yang kau bayangkan untuk dijodohkan dengan Subha. dia pria yang terbilang misterius. Akan ada banyak kejutan menanti, namun aku akan mencoba memberikan kejutan yang baik untukmu”
“Maksudnya?”
“Aku akan menikahi Subha tapi aku meminta syarat kepadamu”
...To be continued...
__ADS_1
...Jika ada typo tolong dimaklumi ya!!😘...