
Mata Ead memanas mendapati dua sosok orang yang begitu sangat ia kenal. Seorang pria berada di satu ruangan dengan adiknya. Pria itu langsung mengalihkan wajahnya dan menjauh dari ranjang berisikan Leiska, takut jika Ead melihat wajahnya yang pengecut.
Hening…
Sejenak ruangan di kamar Leiska tidak ada suara kecuali pria yang berdiri disamping Ead. Pengawal itu terlihat gemetar takut melihat sesosok tuannya berada di sana. Habislah, pengawal itu tidak akan bisa selamat saat wajah zlander melihat kearahnya.
“Kak…” lirih Leiska tak percaya jika kakaknya bisa sampai ketempat ini. Ia pikir para pengawal telah menghabisi dirinya. Sungguh keajaiban yang tidak terduga.
“Apa yang kau lakukan dengan adikku di kamarnya?” tanya Ead dingin serta mengepalkan kedua tangannya erat.
“Adikmu sudah menjadi milikku. Kami sudah sering menghabiskan malam panas bersama… kau mau apa?” tantang Zlander penuh keberanian hingga menarik lengan Leiska yang hampir melarikan diri.
Kedua mata Leiska dan Ead bersitatap. Leiska yakin kakaknya begitu amat kecewa dengan dirinya.
“Lepaskan aku Zlanderrr” Leiska memberontak memukuli tangan kokoh pria yang mencengkeram lengannya.
Mata Ead menyusuri tubuh Zlander dari kepala sampai kaki. Rupanya ini toh… pria yang membuat hidupnya tidak tenang. Inilah pria yang membuat keluarganya hancur dan Ead begitu dendam dengan pria itu.
“Lepaskan adikku zlander! Aku masih bersikap halus selama ini…” lelah Ead ingin menghajar wajah pria itu. “Lawan aku tanpa memakai topeng itu…”
“Bagaimana jika aku tidak mau? Kemenangan tidak ia yang memperlihatkan wajahnya… “ Zlander masih mempererat genggaman tangannya.
Srett
Ead mengambil belati yang terselip di celana bagian belakang pengawal lalu menusukannya kewajah Zlander yang langsung mundur. Karena tidak kena Ead mencoba membantingnya dari atas dan…
Hap…
Zlander menangkap tangan mengurat penuh dendam milik Ead. Kekuatan Ead yang besar membuat Zlander hampir kewalahan. Entah dapat dari mana kekuatan itu. Mungkin akibat roti yang dimakan tadi.
Brak
Pyar
Tubuh Zlander mundur membentur barang-barang yang ada diatas meja. Hampir tubuhnya di kungkung ia lebih dulu menendang perut Ead hingga menjauh.
Dor
Zlander yang murka melepaskan peluru mengikuti kemanapun Ead menghindar. Kaki gesit Ead yang lihai langsung menangkis pistol itu hingga terlempar kelantai. Memiliki kesempatan maka Ead menendang perutnya kebelakang, menghancurkan semua benda-benda mahal yang tidak berguna.
“Ayo Leiska” Ead membawa adiknya untuk melarikan diri dari tempat ini. Ia juga melewati pengawal yang sedari tadi ketakutan tidak berani melawan. Ia mengedipkan salah satu matanya, “Mati kau”
__ADS_1
Lalu Ead pergi.
“APA YANG KAU LAKUKANNNNN?” Zlander berteriak tidak paham dengan maksud pengawalnya yang hanya diam penuh gemetar takut dengan pria yang sudah menjadi tahanan mereka, terlebih pengawal itu baru mengejar saat ia berteriak. Sungguh pengawal yang bosan hidup.
.
.
Akibat rumornya tahanan merekaa yang sudah kabur membuat pelarian Ead dan Leiska menjadi terganggu. Keduanya harus mendapati rintangan yang begitu berat, mulai Lorong-lorong yang dihadang para penjaga dan Ead harus melawannya terlebih dahulu. Setelah berhasil lolos dari para penjaga disana, Ead menjatuhkan tong besar kearah mereka. Tong itu menggelinding menyandung kaki para pengawal Zlander… akibatnya beberapa diantara mereka terjatuh dan ada juga yang sigap melompat dan mengikuti mereka lagi.
Adapun saat Ead dan Leiska ingin menaiki tangga namun dari atas sana sudah ada beberapa pasukan Zlander. Mau tidak mau kaki mereka harus putar balik walau Ead hampir tergelincir namun Leiska menangkapnya.
“Thank you”
Setelah itu mereka kembali berlari kearah sebaliknya. Berlari menjauh hingga keluar gedung untuk melewati tembok-tembok tinggi tanpa ia tahu tempat ini. Seperti labirin.
Bersamaan dengan itu di Mall juga sedang melakukan misi kejar-kejaran, dimana Louis mengejar pria yang mengintai Subha. Sesekali Louis juga melakukan penyerangan dengan berkelahi dengan pria itu namun lagi-lagi pria itu dapat lolos.
Pria itu memasuki lift dan menutupnya, membuat pria itu merasa lega setidaknya ia akan terbebas dari kejaran Louis.
Srett
“Hai”
Bruk
Louis memukul wajah pria itu tepat setelah menyapanya dengan seringaian. Namun sayangnya pria itu memanfaatkan kelenturan tubuhnya dan dapat lepas dari kejaran dan pukulan Louis.
“Sialll” maki Louis memukul dinding lift dengan sangat keras. Namun lumayan lah! Ia sempat berhasil menghancurkan jam tangan kamera yang dipakainya. Pria itu tidak akan memberikan laporan apa-apa kepada tuannya. Yah lumayan setidaknya ia dapat menggagalkan rencana pria itu.
Kembali ke Ead.
Ead dan Leiska berhasil keluar dari gedung terkutuk Zlander. Seringaian di bibir mereka semakin terlihat jelas mengembang memperlihatkan rasa bahagia mereka kepada pohon-pohon yang bergoyang tertiup dengan angin.
Mereka bahagia, sangat bahagia.
“Eaddd”
Panggil seorang pria yang merupakan anak buah Ead. Pria itu berlari tergopoh-gopoh menemui Ead yang berdiri dengan keadaan yang memprihatinkan. Roy tidak menyangka ia akan menemukan Tuannya dengan keadaan seperti itu.
“Ead kau baik-baik saja?” Roy meloncat di gendongan Ead. Tidak peduli betapa sakit luka tersebut. Karena ia mencari dan tidaak menemukannya, dari itu ia pikir Ead sudah tiada.
__ADS_1
“Lepaskan aku brengsek…” Ead tidak tahan dan mendorong kasar tubuh Roy hingga terduduk membentur tanah.
“Aw’ pekik Roy saat bok0ngnya membentur tanah yang bergeronjal. Sungguh menyakitkan. “Tidak masalah, yang penting kau sudah selamat, Ead”
“Kau baik-baik saja kan? Ya ampun aku sedih melihatmu seperti gelandangan” Roy kembali memeluk tubuh Ead hingga hampir saja terbatuk. Ya ampun begitu sayangnya pria ini sampai ingin membuatnya tiada.
“Lepaskan aku, kau tak lihat ada adikku” ucap Ead membuat Roy berdeham canggung melihat wanita cantik disebelahnya.
Leiska memilih acuh, “Kak ayo kita harus pergi dari tempat ini”
“Iya Ead… lewat sini” Roy memberi arah dengan senyuman manis dan penuh hormat. Mungkin dia begitu senang melihat sahabtanya ini dapat menemukan adiknya.
Ead hanya tersenyum dan mengikuti arahan Roy, begitu juga dengan Leiska dibelakang mereka. Mereka berjalan santai dan tertawa bersama. Tidak semua, karena Leiska terlihat hanya diam melihat dua orang pria yang bahagia berbagi tawa bersama-sama.
Hingga mereka melewati sebuah tebing yang tinggi dan curam. Mereka memilih untuk istirahat terlebih dahulu karena rasanya kaki mereka sudah mau patah dan susah untuk di gerakan.
Dari atas sini mereka dapat melihat gedung-gedung indah dibawah sana, tertutup oleh senja dan keindahan di sore hari. Cocok untuk mereka istirahat.
“Roy berikan aku rokok”
“Tentu” Roy segera memberikannya daan terlihatlah asap rokok menari-nari setelah keluar dari mulut Ead. Sungguh hangat tenggorokan Ead.
Ead melihat matahari yang mulai menelan indahnya kota disore hari membentuk malam yang begitu sunyi. Atensi Ead berganti melihat pistol mematikan di saku belakang Roy.
Ead mengambilnya dan Roy menoleh, “Aku harus membawa satu”
“Iya-iya… kau harus punya satu untuk menjaga dirimu” ucap Roy mengangguk bangga dan menikmati udara sore disini.
"Berjaga darimu maksudnya?”
Deg
Roy menoleh melihat kearah Ead yang sudah siap dengan mengarahkan pistolnya ke kepala nya. Wajahnya yang terlihat dingin dan sangat berbeda. Seperti bukan Ead.
Selain Roy, rupanya Ead juga menoleh melihat kebelakang saat ia mendengar suara pistol. Disana adiknya sudah siap menembak kepalanya.
“Aku terkejut”
To be continued
Semoga kalian sehat😘 udah jarang nih gak nyapa kalian!!! Semoga yang kalian semogakan tersemogakan!!😁
__ADS_1