Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 8 : Kau Bisa Mengambilnya.


__ADS_3

Pagi hari di kamar Alham. Tirai-tirai terbuka lebar disertai angin sejuk dipagi hari seakan menina bobokan pria yang baru saja selesai dengan kegiatan mandinya.


Alham masih memakai bathrobe putih serta mengeringkan rambutnya dengan hire dryer didepan cermin. Tidak lupa untuk melepas rasa bosannya dengan sedikit siul nyanyian.


Grep


"Aku merindukanmu, sayang"


Kedua tangan halus berukuran kecil itu melingkar kuat di perut bidang Alham, membuat Alham panas dingin saat melihat wajah tunangannya terpancar indah di pantulan cermin.


Alham mencoba melepas lingkaran tangan Widia, "Widia lepas, akan ada yang melihat nanti... Kita belum menikah,"


"Memangnya kenapa? Lagian ujungnya kita akan menikah, kan." Widia masih melingkarkan kedua tangannya diperut Alham yang berusaha melepas tangannya.


Sret


Kedua tangan Widia akhirnya terlepas saat Alham memelintir tangan sang wanita. Dengan cara apalagi? Wanita ini tidak akan berhenti menggoda Alham jika kekerasan belum dia rasakan.


"Apa sopan seorang gadis masuk ke kamar pria yang bukan muhrimnya? Kau itu belum resmi menjadi istriku, jadi masih tidak boleh kau sembarangan masuk kedalam" Alham mengingatkan dengan penuh penekanan kalimat.


"Kenapa kau selalu menolak?"


"Keluar"


Alham tidak mau menjawab ataupun berlama-lama dengan wanita yang masih berstatus haram baginya, terlebih Alham semakin jengkel dengan sifat kekanak-kanakan dari wanita ini.


"Alham, kita akan menjadi suami istri. Sebelum itu tidak ada yang perlu kau tutupi"


"Keluar, Widia..."


"Ok ok... Aku akan keluar, tapi kita harus jalan-jalan."


Alham mendengus kesal, bagaimana bisa wanita ini masih memiliki nyali setelah ia menolaknya habis-habisan. Jika mau menolak, wanita ini tidak mau keluar!. Lalu menerima?


"Ayo kita jalan-jalan, sudah lama aku tidak melihat Kazhakstan. Temani aku, Alham"


"Subha ikut"


"Al... ham" sentak Widia melototkan matanya memberikan respon tidak suka jika pria ini membawa seseorang sebagai penghalang nantinya.


"Mau atau tidak?" Alham harus menjadi pemenang utama mengenai perdebatan ini.


"Iya"


"Aku yang memilih tempatnya,"


"APA"


Widia kembali terkejut sementara Alham yang merasa menang kembali ke depan cermin untuk menyelesaikan siap-siapnya.

__ADS_1


Menurut Alham, jika Widia yang memutuskan maka dapat dipastikan tempat itu bukanlah hal yang baik. Dan menurut Widia, jika Alham yang memutuskan dapat dipastikan jika tempat itu membosankan.


Namun Widia masih ingin pergi dengan Alham. "Iya," lirih Widia nyaris tidak didengar.


"Apa... apa?" Wajah Alham tercondong mendekat, supaya lebih mendengar suara Widia yang terdengar seperti gumaman saja. "Kau bilang apa aku tidak dengar?"


"Iya... Kau bawa adikmu, kau bawa aku ketempat sesukamu. Asal kau bersamaku," lirih Widia di akhir kalimat, membuat Alham gemas ingin meraup wajah itu.


Widia pun segera keluar dari kamar Alham, meninggalkan sang pria yang masih setia melihat pantulan dirinya didepan cermin. Setelah kepergian Widia malah membuat Alham menjadi diam, pikirannya tertuju ke bayangan perilaku buruk yang Widia lakukan.


"Apa aku bisa merubah mu? Rubahlah cara pandang mu terhadap adikku, maka aku tidak akan ragu untuk menjadikanmu istriku." Gumam Alham berbicara dengan dirinya didepan cermin.


_____


Beberapa menit berlalu Alham membawa kedua wanitanya ke sebuah pameran lukisan yang terkenal di Almaty. Wanita yang baru saja kembali dari New York itu memakai gamis panjang berwarna biru hati seperti yang Subha pakai, namun bedanya tidak ada kain sebagai penutup wajahnya.


Dalam gedung ini terdapat berbagai karya indah tergambar dengan makna yang berbeda-beda, menjadikan lukisan nampak misteri sekaligus menjadi daya tarik. Mereka tergantung disetiap dinding berwarna putih yang semakin menambah estetika keduanya.


“kalian tahu apa yang paling berkesan dari lukisan ini?” Alham membawa keduanya untuk mendekati sebuah lukisan panorama alam dengan tambahan anak-anak bermain di tengah lapang.


“apa?” Subha penasaran, berbeda dengan Widia yang hanya diam seakan tidak tertarik. Sama sekali bukan tipe Widia!.


"Lukisan ini dibuat oleh pengusaha terkenal di New Zealand untuk merayakan hari anak-anak di Kazakhstan." Tutur Alham melirik Widia yang hanya memandang luar. "Widia,"


Widia menoleh kearah suara itu berasal, " kenapa? Teruskan saja, aku tidak akan menyela dirimu."


"Kau tahu apa yang paling berkesan dari gedung ini?" Alham mencoba memancing Widia untuk berbicara karena sedari tadi wanita ini hanya diam tak bersuara.


Alham mendengus pasrah, padahal dulu Widia sudah pernah diberi tahu. " Bangunan ini di buat khusus untuk anak-anak di Kazakhstan. Menurut mereka karya-karya anak berupa lukisan harus diabadikan sebagai bentuk pengembangan diri. Yang paling berkesan adalah, gedung ini dapat dimasuki secara sukarela oleh siapa saja."


“ untuk apa dibuat sukarela kalau bisa dibuat berbayar, itu malah jauh lebih untung” Widia akhirnya bersuara.


Subha juga tidak mau kalah dalam mengutarakan pendapatnya, “kalau menurutku, pengusaha itu hanya ingin beramal. Dia ingin memberikan Sebagian hartanya untuk para anak-anak di Kazakhstan.”


“Betul sekali. Maka dari itu dalam surat menjelaskan bahwasannya dalam sebagian harta kita ada hak orang lain jadi sudah menjadi tugas kita untuk mengamalkannya.” Alham berucap dengan keahlian nya.


Lagi-lagi Widia mendengus kesal dengan keadaan ini sehingga hatinya panas menahan amarah serta emosi yang tertahan. Inilah alasan ia tidak mau membawa Subha pergi bersamanya, karena ujungnya wanita ini akan terlihat bodoh berada diantara mereka.


"Sepertinya disini hanya Subha yang tahu, nyatanya gadis nakal ini selalu aktif mengomentari."


"Ah enggak kayak gitu kok kak,"


Subha merasa risih mendapati respon Widia yang kembali tidak suka dengan dirinya. Rasanya, ia ingin menarik kembali semua kata-kata yang dikeluarkan supaya hanya Widia yang menjadi pusat perhatian Alham.


'Enggak kayak gitu bagaimana, jelas-jelas Alham tanyanya ke aku tapi dia yang menjawab' omel Widia dalam hati serta menampakan tatapan mengerikan kearah Subha.


"Sudah... Sudah... Ayo kita makan saja, kalian pasti lapar kan?" Alham harus segera melerai keduanya supaya keadaan tidak tambah buruk.


"Kita---"

__ADS_1


"Aku mau makan di restoran China dekat sungai Ili." Rengek Widia memotong Subha yang ingin berbicara.


"Sepertinya enak, tumben sekali usulanmu bener?"


"Itu selalu, kau saja yang tidak pernah menyadari itu... Ayo kita kesana, aku ingin makan disana dan berfoto di dekat sungai. Banyak orang bilang kalau sepasang kekasih foto disana, cepet nikahnya" bisik Widia dikalimat terakhir dengan tangan melingkar erat di lengan Alham.


"Ah masa?"


Alham akhirnya merespon baik godaan Widia hingga keduanya tertawa bersama. Keduanya pergi duluan, meninggalkan Subha yang justru bangga dengan interaksi mereka.


"Terjagalah hubungan kalian berdua kak, tetap seperti inilah... " Senyum Subha mengembang dari balik kain niqab yang ia pakai, membuktikan jika ia bahagia atas kebahagiaan mereka.


Sungai Ili mengalirkan cekungan antara pegunungan Tien Shan di selatan dan Pegunungan Borohoro (Poluokenu) di utara. Kedua rentang sangat tinggi sehingga memberikan kesan indah dengan bukit-bukit yang semakin tampak.


Para pengunjung yang ingin menikmati keindahan itu hanya diperbolehkan untuk berdiri di ujung jurang yang sudah diberi palang besi putih sebagai pengaman.


"Aaaaaaarrkkk"


Widia berlari semakin mendekati keindahan surga itu, diikuti Alham yang berjalan pelan dibelakangnya. Mata Widia menatap gemas domba-domba yang berlarian dibawah sana saat sang pemilik mengejar mereka.


"Hemm, dombanya sangat lucu." Gemas Widia seakan ingin menelan mereka.


Alham pun akhirnya sampai, " Siapa yang akan memotret kita?"


"Oh"


Saking senangnya Widia lupa jika ada Alham bersamanya. Ia pun segera mencari seseorang untuk memotokan mereka berdua.


"Tuan... Tolong fotoin kami berdua" pinta Alham kepada seseorang pria baya memakai kopiah yang baru saja melintasi mereka.


Pria baya itu mau memotret keduanya, menjadikan hal ini sebagai kenangan yang tidak akan pernah mereka lupakan. Senyum di kedua bibir mereka mengembang sempurna seperti tidak ada masalah apa-apa.


1


2


3


Ckrek


"Nice,"


Pria baya itu selesai memotret sepasang kekasih bermabuk asmara lalu mengembalikan kamera itu ke pemilik asli, membuat Alham bergegas mengeceknya.


Saat Alham sibuk dengan hasil foto, segeralah Widia mengirimkan pesan kesalah satu rekan kenalannya.


'Kau bisa mengambilnya sekarang, gadis itu ada di sepanjang jalan sungai Ili. Ingat, jangan ada yang tahu jika aku ikut andil dalam kasus ini.'


To be continued

__ADS_1


Tidak bermaksud menghina atau menjelekan pihak manapun, dimohon kerjasamanya.


...Jangan lupa vote......


__ADS_2