
Para pekerja sibuk mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing. Begitu pula dengan Louis dan juga Roy. Kedua pria ini baru saja kembali setelah melakukan pengejaran untuk Diran, namun sayang wanita itu tidak tertangkap dengan sebab, adanya Fahima.
Hal itu membuat Louis mengingat wajah Fahima , Namun Louis tidak pernah memiliki pikiran untuk memiliki hubungan dengan wanita paham agama seperti Fahima. Ia hanya merasa senang saat melihat wanita saja.
“Siapkan 10 anggota untuk menyusuri kota Almaty. Jika perlu geledah tempat-tempat suci diwilayah tersebut. Aku yakin jika mereka memanfaatkan tempat itu untuk bersembunyi disana” titah Louis kepada beberapa pengawal.
Drettt
Ponsel yang ada diatas meja itu berdering, menghentikan pekerjaan mereka. Salah satu pengawal yang melihat hal itu langsung membawa menuju si pemiliknya.
“Tuan Louis! Ponsel anda berdering”
Louis yang sedang mengecek berkas kantor itu segera menghampiri untuk menjawab panggilan tersebut. Lantas salah satu anggotanya segera memberikan kepada Louis.
“Dari siapa?”
“Mohon dicek sendiri saja, Tuan” jawab anak buahnya.
Louis mengangkat dan panggilan mereka pun terhubung.
“Hallo, Amina”
“KAKAK…kakak kemana saja? kau tahu kak jika aku sangat mencemaskan dirimu. Aku takut jika kau kenapa-kenapa. Seharian ini kakak tidak pulang, kakak juga tidak memberi kabar, bahkan kakak juga tidak perduli dengan keadaanku, kan?”
Louis yang mendengar omong kosong Adiknya itu hanya tertawa seraya mengerjakan berkas yang harus disetorkan.
“Hih kakak ini kenapa jadi tertawa! Kak aku ngomong serius loh. Amina itu takut kalau terjadi sesuatu dengan kakak, lagian kakak itu kenapa sih mau kerja sama Tuan Dominic. Setiap harinya kakak itu selalu berhadapan dengan kematian. Amina itu takut”
Louis tersenyum kecil seraya memutar-mutarkan kursi kerjanya, “Amina, kakak melakukan ini tidak lain hanya untukmu. Hanya untuk keluarga kita, walaupun kakak setiap harinya harus berhadapan dengan kematian. Kakak bangga bisa menjaga dirimu… kau tenang saja ya. Doakan kakak baik-baik saja”
“Itu selalu kak. Setiap harinya aku berdoa untuk kebaikan kakak dan juga rekan kakak” jawab Amina sendu.
“Bukankah mansion sepi? Seharusnya kau bahagia karena tidak ada siapa-siapa, jadi kau bisa merasakan menjadi nona disana” gurau Louis.
“Iya sih! Tapi aku nggak mau kak. Nggak ada Nyonya aku jadi agak kesepian. Biasanya Nyonya Subha yang menemani”
Louis kembali tertawa, “Kamu ini aneh ya!! Oh iya, apa Amina sudah makan?”
“Iya kak, tadi Amina makan bersama dengan kak Violet”
“Baiklah kalau begitu. Kakak tutup dulu telponnya ya! Kakak banyak sekali pekerjaan”
“Iya kak. Bye”
“Bye” Louis menutup telponnya.
Tidak membutuhkan waktu lama Roy datang seraya memberikan berkas yang lebih banyak. Hal itu tentu membuat Louis syok berat, takutnya pria itu memberikan semua pekerjaan kepadanya.
“Kau mau apa?”
“Louis. Aku ada urusan mendadak. Pelayan hotel menemukan sesuatu yang katanya mencurigakan dan aku diminta untuk kembali kesana. Kau bisa mengatasi ini semua kan?” tutur Roy tidak didengaar oleh telinga Louis.
Pria bernama Louis ini hanya sibuk mengerjakan pekerjaannya sendiri. dia tidak mau membantu Roy, karena memang pria ini selalu mencari-cari alasan untuk kabur.
“Louis aku mohon sekali ini saja. Aku tidak berbohong. Aku harus segera kembali karenaa aku sudah ditunggu”
“Roy, coba kau hitung berapa kali kau melakukan kesalahan dan kabur dari tanggungjawab mu? Itu pekerjaanmu dan seharusnya kau sendiri yang mengerjakan nya. Apapun yang terjadi, ada urusan atau tidak, itu merupakan tanggungjawab mu, resiko mu, bukan melemparnya ke orang lain”
“Astaga Louis… kau itu jahat sekali” tutur Roy merasa kecewa.
__ADS_1
“No. Aku akan segera menghubungi Tuan Ead untuk memberitahu atas kaburnya Diran. Beliau akan datang dan memarahi dirimu dan aku. Jika kau pergi maka aku sendiri yang akan dimarahi”
Roy mengingat perkataan Louis, “Kau bilang akan menggantikan diriku, kan! kau bilang mau dihukum atas kesalahan gadis itu. shitt karena gadis itu Ead akan memberi hukuman kita”
“Sudahlah jangan salahkan dia. Ok aku akan menggantikan dirimu soal hukuman itu, namun untuk pekerjaan ini. Aku benar-benar menolak keras” tolak Louis sekali lagi.
“Kira-kira siapa wanita yang membawa Diran? Wajahnya tertutup oleh kain dan hanya matanya yang terbuka. Waw tadi itu nampak keren” gumam Roy memuji Widia.
Louis mnghela nafas, “Iya. Bagi dirimu saja”
Ditempat lain yang katanya sedang menghubungi Zlander. Panggilan mereka memang terhubung namun sama sekali tidak ada jawaban. Panggilan mereka tidak diangkat oleh sang dominan.
“Tidak ada jawaban” sesal pemimpin pasukan. “Begini saja! Kita harus segera mencari keberadaan Nyonya Leiska dimanapun dia berada. Entah itu ketemu ataupun tidak, yang penting kita sudah usaha”
“Baik, Tuan”
Jawab mereka serentak lalu bergegas menuju ke medan pencarian. Mereka harus menemukan Leiska dimanapun dia berada, mumpung Zlander belum mengetahuinya.
_______
Malam hari dihiasi oleh bulan menyinari alam semesta ini, sementara kota dimalam hari ini penuh dengan hiasan lampu kerlap-kerlip dari gedung-gedung besar menjulang tinggi disepanjang jalan, dapat dipastikan pemiliknya merupakan konglomerat kaya Almaty.
Mobil mewah milik Ead lewat disela-sela kota memasuki jalan raya serta bergabung dengan kendaraan-kendaraan yang tidak kalah mewah disana. Mereka semua berjalan beriringan, sesekali juga menyalip jika menemukan kendaraan yang berjalan lambat.
Suasana malam hari yang indah bukan! Angin malam tanpa mendung, memperlihatkan pada penghuni bumi keindahan langit yang dipenuhi dengan bintang-bintang.
“Subhanallah!” pekik Subha didalam mobilnya.
Ead dan Subha memutuskan kembali ke rumah karena di rumah sakit sudah ada Umi yang menemani Kakaknya, terlebih Subha harus banyak istirahat untuk kesehatan bayinya.
“Subha setelah mengantarmu kembali ke rumah! Aku harus menemui Louis dan Roy”
Subha mengangguk. Ia sungguh menerima, bahkan ia tidak mempermasalahkan itu semua. Hal itu tentu membuat Ead bahagia.
“Aku akan mengantar mu ke rumah orang tuamu”
“Hah?”
“Maksudnya! Lebih baik kau ada di rumah orang tuamu selagi aku harus melakukan pekerjaanku. Aku rasa di kediaman orang tuamu lebih aman untukmu” tutur Ead menjelaskan salah paham Subha.
“Hemm begitu ya! Tapi kau akan ke rumah orang tuaku kan?”
“Tentu saja!” Ead meraih satu totbag yang ada di kursi belakang untuk Subha. “Ambilah”
“Apa ini” Subha membukanya, “Masyaallah Ead. Handphone?? Ini beneran buat aku kan?”
“Iya. kau bisa menghubungi diriku kapan saja. Disana sudah ada no ku!”
“Terimakasih”
Ead hanya tersenyum membalasnya.
_______
Persembunyian Zolanda
Setelah mengantarkan Subha kembali ke rumah orangtuanya, kini Ead berkunjung ke tempat persembunyian. Ia nampak marah dan kesal dengan pekerjaan anak buahnya. Bagaimana bisa mereka gagal menangkap seorang wanita, pikirnya.
“Diran kabur?” tanya Ead duduk dikursi kerjanya sambil mengecek berkas yang Louis dan Roy kerjakan.
__ADS_1
Para anak buahnya yang berdiri itu hanya menunduk tidak berani memperlihatkan wajahnya. Takutnya mereka melakukan kontak mata dengan Ead. Menyeramkan sekali!.
“Bagaimana bisa Diran kabur?”
“Tuan, Diran dibawa lari oleh seorang wanita yang kami sendiri tidak tahu identitasnya. Wanita itu memakai penutup wajah. Kami sudah mencoba untuk mengejar namun ditengah perjalanan--”
“Ada gadis yang menghalangi jalan kami. Alhasil mereka lolos begitu saja!” ucap Roy sangat kesal. “Gara-gara gadis itu mereka dapat melarikan diri. Memang gadis yang menyusahkan”
Louis tidak terima, “Sudah ku katakan untuk tidak menyalahkan gadis itu. Dia hanya ingin menyebrang. Kau itu terlalu menyalahkan orang lain”
“Kenapa kau selalu membelanya? Kau suka?”
“Tidak, bukan itu… Roy, tidak semua pekerjaan kita berjalan dengan mulus. Kau pasti akan menemukan beberapa rintangan! Rintangan itu ada berbagai macamnya, dan mungkin rintangan kita memang gadis itu” bantah Louis meninggikan nada suaranya.
“Tapi bagi diriku. Aku harus berhasil melakukan misi yang ku kerjakan! Tidak ada kata kegagalan dalam kamusku, Louis Romonno Alexi” ucap Roy dengan penuh penekanan.
Mata kedua pria itu merah dengan amarah yang memuncak. Yang satu marah karena melakukan kegagalan dan yang satu marah akibat nama lengkapnya di sebut.
“Aku tidak suka nama keluargaku di kaitkan dengan pekerjaanku, Roy”
“Benarkah? Kau merasa malu dengan kedua orang tuamu? Merasa bersalah?”
Bugh
Louis membogem pipi Roy dengan sangat keras. Tidak mau terima Roy pun membalas pukulan Louis. Mereka bertengkar di atas lantai dengan saling pukul bergantian.
Hal itu membuat pria yang menyaksikan pertengkaran mereka menjadi amat semakin murka. Alih-alih mendapatkan informasi, ia malah menyaksikan mereka berkelahi. Ia pun segera menarik pelatuknya ke udara.
Dorrr
Keduanya pun berhenti.
“Apa kalian ingin aku menggunakan pistolku? Aku bisa menembus otak kalian jika kalian bersedia” tutur Ead penuh dengan amarah.
Terlepas dari itu mereka segera bangkit seraya membersihkan pakaiannya yang kotor akibat berguling-guling dilantai.
“Kalian akan mendapat hukuman yang setimpal”
Tutur Ead tidak bisa di ganggu gugat. Mau tidak mau mereka harus melaksanakan hukuman yang telah lama Ead tetapkan untuk mereka. Sebuah hukuman yang dapat membuat keduanya merasa malu dan jera.
Wajah Roy dan Louis terlihat tertekan saat melewati Lorong persembunyian mereka. Keduanya berjalan berdampingan diiringi tawa dari para anggota pasukan mereka. Para pasukan mereka melihat Roy dan Louis bergandengan tangan bagai pasangan muda yang dimabuk cinta.
“Lihatlah mereka. Terlihat romantic ya!”
“Pasangan muda terfavorit”
“Paling romantic dari seluruh pasangan di luar sana. Romantic story”
Para anggota sebenarnya tahu jika mereka sedang bertengkar, karena hukuman itu sering mereka terima dan selalu berhasil mengocok perut bawahannya.
“Romantic story dari hongkong. Ini semua gara-gara kau, s*alan” lirih Roy didengar Louis.
“Jika kau tidak membawa nama keluargaku, pasti aku akan menerima semua hinaanmu. Dasar pria Italia kasar” balas Louis tak kalah lirih.
Roy yang murka hendak memukul kepala Louis, namun rupanya ada pasang mata elang yang mengintai mereka. Akhirnya Roy mengusap pelan kepala Louis, seperti saling mengasihi.
Louis menepis tangan Roy dari kepalanya, “Jangan menyentuh kepalaku”
“Diamlah ada Ead”
__ADS_1
Louis berbalik. Ya memang ada pria pemilik mata elang disana, dan itu membuat kedua pria yang mendapatkan hukuman harus kembali menyusuri ruangan.