Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 70 : Kepergok!


__ADS_3

Waktu itu Leiska masih melakukan pelarian memasuki kawasan kota yang mampu membuat hatinya lega dan bahagia. Ia merasa memiliki kesempatan untuk bebas dari para pasukan Zlander yang hina.


Ia beranggapan jika mereka tidak akan berani melakukan kejahatan saat mata orang-orang berkeliaran. Leiska tidak berhenti berpijak tanpa alas ditengah-tengah kota yang panas.


Tidak sesekali Leiska membentur orang-orang yang menghalangi dirinya dalam mencari jalan.


"Heiii kalau jalan hati-hati"


"Heii buta ya"


Kata mereka. Namun Leiska tidak pernah menghiraukan. Ia hanya fokus untuk membuat para pasukan kewalahan dan enggan untuk mengejarnya lagi, namun rupanya Leiska kembali menabrak seorang wanita baya hingga dirinya tidak berani untuk membiarkan.


Bruk


"Astaghfirullah"


Pekik Umi menutup kedua matanya sejenak saat dirinya menabrak seorang wanita berlari tanpa hati-hati, membuat Umi terpental ke belakang mengundang orang-orang untuk mengerumuni mereka.


Kepala Umi yang pusing hanya melihat wanita itu samar-samar hingga wajah ketakutan dan kotor tersebut tidak sepenuhnya Umi lihat. Namun wanita itu ingin bertanggungjawab.


"Nyonya, anda baik-baik saja?" wanita itu memegangi bahu Umi serta menunduk ingin melihat wajah Umi yang juga menunduk menahan nyeri.


"Saya tidak apa-apa" jawab Umi menengadahkan wajahnya melihat rupa Leiska yang sedang melirik kekanan dan kekiri dengan waspada.


Ramainya jalanan kota Almaty mengakibatkan Leiska susah untuk tahu pasti bentukan dari para pasukan Zlander. Mereka melakukan sebuah penyamaran supaya Leiska tidak tahu keberadaannya.


"Nak apa yang kau cari?"


"Beberapa orang yang mengejar ku" Leiska melirik Umi sejenak lalu kembali memberikan tatapan mengintimidasi kearah sekitar, mengabaikan respon Umi yang heran.


"Mengejar dirimu? Siapa orang yang mengejar dirimu nak?" Umi mencoba clingak-clinguk membantu Leiska untuk menemukan seseorang, namun ia hanya melihat Leiska ketakutan.


"Aku harus segera pergi"


"Tapi----"


Leiska sudah keburu meninggalkan Umi yang hendak memegangi lengan Leiska, membiarkan wanita itu berlari entah kemana lagi.


Umi hanya menggaruk pelipisnya yang terasa gatal jika memikirkan masalah wanita itu. Ia menjadi bingung harus menelpon polisi atau tidak saat dirinya saja beranggapan bahwa Leiska itu gila. Ia ingin percaya namun bagaimana kalau itu tidak nyata, hanya akan membuatnya terhina.


"Semoga Allah menjagamu dimanapun kau berada"


______


Kembali ke Butik.

__ADS_1


Mata elang berwarna coklat gelap milik pria bertubuh gagah besar itu tidak berhenti menatap ruang ganti yang masih tertutup dengan rapat. Hatinya mulai gelisah menunggu isterinya yang belum juga keluar, seakan sengaja membiarkan ia bersama dengan wanita yang sedang mencuri pandang kearahnya.


"Kenapa istriku itu belum juga keluar?" tanya Ead tanpa sudi melihat wanita yang bersikap centil dengan merapatkan diri mendekati Ead.


"Mungkin Nona Subha agak kesusahan"


"Aku akan panggil"


Ead pergi karena sudah tidak tahan berlama-lama dengan wanita penggoda sepertinya dan memutuskan untuk menyusul Subha yang tidak kunjung keluar-keluar.


Cklek


Ead membuka pintu lalu memasuki ruangan ganti bersama Subha yang ternyata sudah selesai dengan gaun malamnya. Padahal bukan itu yang akan Subha coba untuk diperlihatkan kepada dirinya.


"Ead, sedang apa kau kemari?" pekik Subha menyilangkan kedua tangannya di dada saat tatapan pria itu mengarah ke dua bongkahan besar di dada. Seperti dilihat pria lain saja.


"Ead!!"


"Shutt. Aku menunggu dirimu bersama dengan wanita yang bernama siapa tadi? Gra-grasita. Dia merayu diriku Subha" adu Ead merapatkan diri ke isterinya yang terkekeh mendengarnya. Seakan mendengar lelucon.


"Ead, kau disukai olehnya?"


"Iya dia merayuku" jawab Ead melihat kesal kearah Grasita yang terhalang oleh pintu ruangan.


"WHATTT"


Pekik Ead dengan kedua mata membelalak dengan keterkejutan yang tidak biasa. Berarti tadi itu dia sedang dirayu seorang pria? Pikirnya.


"Iya. Dia melakukan operasi plastik di Thailand sekitar 2 tahun yang lalu"


"Shitt" maki Ead memikirkan kembali rayuan pria jadi-jadian disana, memikirkannya saja membuatnya merasa ternoda. Hanya sekujur tubuh isterinya saja yang terlihat menggoda, apalagi saat ini ia memakai gaun yang diinginkannya.


"Ya sudah sana keluar"


"Sebentar saja" Ead menghimpit Subha yang hendak menolak namun tubuhnya sudah terhimpit oleh dada kekar suaminya di tembok.


"Bagaimana kal---"


"Shuttt"


Bibir Subha bungkam dengan jari telunjuk Ead menempel di sana, merasa enggan untuk mendengarkan alasan apa-apa.


"Ead ini di ruang ganti" Subha mencoba menepis tangan suaminya yang merembet mengelus pinggang serta mata melihatnya dengan sensual.


Subha terlihat sangat cantik dengan gaun putih yang telah Ead pilihkan. Gaun itu hanya menutup di bagian dada kebawah hingga Ead akan melihat sekang Subha yang terasa indah. Semua itu memang benar-benar membuat tubuh Ead menggila.

__ADS_1


"Aku menunggumu untuk melihat gaun pernikahan kita namun kenapa kau malah memakai ini hah? Kau ingin menikmatinya sendiri?"


"Ead tadi itu... aku... aku hanya ingin mencoba... tapi tidak ada niatan... untuk aku keluar" lemas Subha berusaha menepis cumbuan bibir suaminya yang bergerilya menyentuh leher. Ia takut khilaf di tempat umum seperti ini.


"Ead... ayo keluarlah... aku... harus mencoba... yang lain"


" Wait a minute baby" serak Ead masih mengelus pinggang, memperlihatkan wajah sensual yang membuat Subha tertarik untuk meladeni dirinya.


Sentuhan halus tangan Ead menarik paha mulus milik Subha hingga membuat tubuh keduanya semakin merapat dengan cumbuan Ead merembet mengulum bibirnya.


Jari-jemari lentik Subha melingkar halus berpegang pada tengkuk serta rahang kokoh suaminya, bermain-main disana.


Kedua mata Subha memejam dengan wajah menengadah menerima wajah Ead yang menunduk memperdalam ciuman mereka, menaburkan aroma mint leci menusuk ke hidung keduanya.


Karena tubuh Subha yang pendek mengakibatkan Ead harus ekstra menunduk hingga tubuhnya terangkat di topang kedua tangan kekar suaminya, membuat Subha melepas t4utannya.


"Ead... sudah..." Subha menjauhkan wajahnya dari wajah Ead yang berusaha meraihnya kembali, mengabaikan nafas tidak beratur sang wanita.


"Aku belum selesai mengabsen..." Ead tertawa kecil merasakan dada isterinya yang naik turun seiring dengan untaian silva mengotori ujung bibirnya.


"Sudah... nanti mereka curiga kepada kita"


"Tapi aku benar-benar belum mengabsen semuanya"


Ead menggigit gemas bibir bawah Subha saat bibirnya malah dijauhkan serta ditutup oleh kedua tangannya. Ia masih ingin bertaut manja di rongga mulut manis sang isteri.


"Keluarlah kita lanjut saja di rumah. Aku berjanji akan memberikan semua yang kau minta"


"Kau tidak kasian melihatku tersiksa seperti ini, bahkan saat kau merasa ada sesuatu yang mengeras dibawah sana"


Subha mengulum senyum tipis melihat wajah melas Ead seakan haus akan belaian darinya. Wajahnya yang tampan serta jakunnya yang menggoda membuat Subha gemas ingin menyentil bibirnya.


"Aku tidak mau" goda Subha sejenak mengecup bibir Ead hingga mengundang gelak tawa dari keduanya.


Tawa mereka semakin menggelegar hampir terdengar keluar. Begitu gemas Ead melihat tawa sang istri ditambah tubuhnya yang menggelinjang seakan tergelitik oleh kecupan demi kecupan yang Ead berikan.


Cklek


Pintu terbuka meledakkan kedua jantung manusia yang tengah bercinta mesra. Hal memalukan yang mereka lakukan telah disaksikan oleh wanita baya memakai cadar yang tidak lain adalah ibu dari si wanita.


"U-umi?"


...To be continued...


...Aduhhhh mamer liat bebsss semoga dia nggak marah 🤣...

__ADS_1


__ADS_2