Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 33 : Ponsel.


__ADS_3

Sebelumnya...


Waktu itu Abi baru saja pulang dari kegiatannya di Majlis ta'lim. Maka dari itu Abi masih memakai sorban serta gamis putih. Dengan asisten pribadi nya Abi Rahman memasuki rumah.


Keduanya pulang berharap mendapatkan sebuah kabar baik mengenai Putrinya, namun nyatanya ia malah mendengar jika Putrinya melakukan pernikahan siri dengan seorang pria.


Kedua kaki Abi Rahman tertahan di ambang pintu masuk. Hampir saja bibir berkerut nya mengucap salam, namun tertahan saat mendengar informasi mereka.


"Abi?" Kaget Alham menatap wajah mengeras Abinya.


Abi memasuki rumah. Ia menyapa Frederick terlebih dahulu, "Assalamu'alaikum Nak. Kau akan pulang?"


"Iya, Abi"


"Kalau begitu hati-hati"


"Baik Abi, Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam" jawab Abi Rahman kembali fokus kepada putra dan juga isterinya.


"Assalamu'alaikum" Abi Rahman kembali memberi salam kepada mereka terlebih dahulu, sebelum ia memulai pertanyaan yang mengendap dalam hati.


Mereka pun menjawab secara serentak, "Walaikumsalam"


"Subha kenapa, Alham?"


Alham bingung harus menjawab apa, karena Abi Rahman paling tidak bisa mentolerir anaknya melakukan pernikahan siri.


"Subha..." bibir Alham tidak berani berucap, namun ini adalah kewajiban Abi untuk mengetahuinya.


"Subha menikah siri, Abi"


Tutur Alham seketika Abi menutup kedua matanya. Rasa marah serta sedih bercampur menjadi satu, namun ia tidak bisa melakukan apa-apa.


Wajah Abi tiba-tiba memucat, namun ia masih kuat. "Lalu kenapa Subha tidak pulang bersama mu?"


'Subha menemani suaminya yang mendekam di penjara'


Tidak mungkin Alham mampu menjawab demikian. Alham memilih untuk berbohong supaya keduanya tidak merasa khawatir dengan kondisi Subha.


"Abi, Umi... Subha belum ijin kepada suaminya. Seperti yang Abi ajarkan kepada Subha tentang bagaimana menjadi istri sholehah, Subha sedang melakukannya. Insyaallah keputusan Subha baik"


Abi dan Umi mengangguk lega, setidaknya putrinya menikahi pria baik-baik. Walaupun mereka tidak tahu jika suami Subha seperti serigala buas.


"Lalu kapan Subha akan kemari?"


"Alham tidak tahu, Umi."


"Bisa Umi bicara dengan Subha?" Umi mencoba memastikan jika yang Alham katakan memang benar.


"Alham lupa meminta no Subha. Besok coba Alham meminta dia"


Umi menghela nafas panjang. Ingin membantah namun ia harus sabar. Ia mencoba untuk percaya dengan perkataan putranya.

__ADS_1


Sementara Alham mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mereka saat ini. Tiba-tiba ia mengingat tunangannya, "Umi, dimana Widia?"


"Widia ada di atas. Tadi Umi lihat di menuruni tangga, tapi kayaknya Widia kembali ke kamar"


"Kalau begitu Alham ke atas dulu ya, Umi"


"Iya Alham" jawab Umi membiarkan Alham menuju kamarnya. Ia pun berganti menyiapkan hidangan untuk Abi Rahman.


"Abi mau minum apa?"


"Apa saja"


Keduanya berjalan menuju dapur. Umi nampak kecil jika dibandingkan dengan tubuh kekar Abi Rahman. Tubuh Abi Rahman menurun kepada putranya, Alham.


Di tempat lain, tepatnya di kamar Widia. Wanita ini masih merasa amat kesal. Kedua matanya merah bahkan dadanya sesak mengingat jika Subha sudah ditemukan.


Ia terlihat mondar-mandir serta cemas dengan nasibnya nanti.


"Subha sudah ketemu. Dia akan menceritakan tentang tempat Diran, dan mereka akan menggeledah tempat Diran, dan Diran akan membongkar rahasiaku didepan semua orang"


Widia terus menggeleng, memikirkan semua hal buruk yang berhubungan dengan identitas dirinya.


Deg


Ia juga mengingat Leiska, wanita masa lalu Alham yang menjadi pel*cur disana. Ia semakin resah jika Alham membenci dirinya.


"Alham tidak boleh tahu jika Leiska ada disana. Alham sudah menyukai diriku, dan tidak akan ku biarkan Alham tahu"


Nada suara Widia terdengar gemetar. Ia merasa sangat takut jika hal itu terjadi kepada dirinya.


Tubuh Widia menegap. Salivanya ia telan secara kasar. Sesaat Widia membuat dirinya bagai patung mati, tanpa gerakan sama sekali. Hal itu dikarenakan Alham mengejutkan dirinya.


Widia segera menoleh, "Alham. Se-sejak kapan kau disana?"


"Baru saja aku sampai"


Jawab Alham mendekati sang wanita dengan perasaan gemetar menguasai tubuhnya.


Mata Widia liar ke kanan dan ke kiri. Mengamati setiap benda untuk mengalihkan rasa takutnya.


Karena penasaran melihat respon Widia, Alham pun bertanya. "Kau kenapa, Widia?"


"Tidak apa-apa"


"Kenapa dengan ujung bibir mu?"


"Bibir?"


Pekik Widia mengingat jika ia memiliki bekas luka di ujung bibirnya. Ia lupa untuk menutupnya dengan bedak hingga Alham pun lihat.


"Bagaimana bisa luka itu ada di wajahmu?" Alham kendak menyentuh ujung bibir Widia namun dia lebih dulu menghindar. "Ada apa, Widia? "


"Aku akan segera mengobatinya"

__ADS_1


"Aku bertanya dari mana asal kau mendapatkan luka itu, Widia" tekan Alham sekali lagi.


Widia berpikir sejenak, "Wajahku membentur meja"


Alham mengangguk santai, "Lalu dimana kau berada disaat kami sekeluarga sibuk mencari Subha? Apa kau juga ikut andil mencari?"


"Aku sedang ada urusan Alham. Lagian tugasku bukan hanya mencari Subha. Dan lupakan... Toh Subha sudah ditemukan" ucap Widia mengangkat kedua bahunya.


Alham menghela nafas, "Tolong lah Widia, setidaknya kau turun dan menghibur Umi. Aku lihat tidak sekalipun kau mengajak bicara Umi, menghiburnya, atau hal lain. Kenapa kau selalu sendirian?"


"Aku sendirian karena memang aku lagi sibuk, Alham. Kamu kan tahu aku baru aja di angkat jadi sekertaris di perusahaan milik pengusaha Italia"


"Apa hubungannya?"


"Kebiasaan kita sama mereka beda. Jadi wajar kalau biasanya kita makan, mereka bekerja. Aku kan juga harus menyesuaikan kinerja mereka, dikira nggak konsekuen lagi"


Alham meraup wajahnya kasar, merasa kesal dengan wanita yang kembali melakukan kerja di meja penuh berkas serta labtop itu.


"Aku kan sudah pernah bilang kepadamu, untuk tidak menerima tawaran itu. Widia aku bisa memberimu pekerjaan loh..."


"Terus apa gunanya aku kuliah jauh-jauh ke New York kalau disini cuma bisa bekerja di perusahaan mu?"


"Memangnya seperti apa bos mu itu?"


Tanya Alham membuat Widia menghentikan kegiatannya.


"Dia... Dia biasa"


"Ya seperti apa? Bisakah aku berkenalan dengannya. Minta nomor telpon bos mu itu, aku akan mencoba menghubunginya. Siapa tahu dia mau bekerja sama dengan perusahaan ku"


Pinta Alham berdiri dengan meja sebagai sandaran. Ia juga merogoh ponsel yang ada disaku celana, bersiap menelpon.


"Jangan di telpon. Dia orang yang sibuk"


"Aku juga orang yang sibuk. Kau pikir aku tidak sibuk harus mengurusi pria itu. Ayo berikan aku nomor nya"


"Kamu mau ngapain?" tanya Widia langsung menjauhkan ponselnya saat Alham hendak merampas.


Sepertinya Alham cemburu dengan pekerjaan Widia. Berkat pekerjaan itu, Widia kurang memperhatikan dirinya.


"Aku kan cuma mau tahu seperti apa bos itu. Kenapa kau bekerja sampai sekeras ini" Alham masih berusaha meraih ponsel Widia yang di jauhkan.


Sementara Widia masih berusaha menjauhkan ponselnya, takut jika Alham mengambil dan membuka semua riwayat panggilan yang ia punya.


"Kenapa kau semakin menjauhkan ponselmu, kau punya selingkuhan ya?"


"Sembarangan. Enggak"


"Lalu kenapa kau susah sekali meminjamkan aku ponselmu?" Alham mencoba menggoda Widia supaya ia mau memberikan ponselnya. "Kau punya selingkuhan kan?"


"Kau itu kenapa sih?"


...To be continued...

__ADS_1


...Dah segitu dulu...


...Salam sehat❤️...


__ADS_2