
Bagai angin semerbak menyentuh hati pria dengan dagu berbulu bernama Frederick saat dirinya sudah diterima sebelum dapat bertemu dengan sang wanita. Merasa amat bangga.
"Masyallah, terimakasih atas kepercayaan Abi terhadap diri Rick" ucap Frederick mengecup singkat telapak tangan berkerut milik calon mertuanya.
"Setelah ini mau kemana?"
"Frederick akan coba cari Subha di TKP, Abi" jawab Frederick mengiringi perjalanan Abi Rahman menuruni tangga.
Abi Rahman hanya mengangguk paham serta membiarkan pria muda itu membantunya dalam menuruni anak tangga.
_______
Sebuah ruangan yang lembab beralaskan kayu guhira tua berdinding tembok tebal yang menjamur serta palang besi berkarat yang terlihat masih kokoh.
Terdapat 1 pria gemuk bersimpuh lutut, 1 orang berpakaian santai dan 2 orang berpakaian bak tantara berbaju hitam dengan senjata besar ditangan mereka.
"Kau akan segera mati jika terus diam seperti ini" ancam seorang pria yang merupakan kaki tangan Ead dengan duduk santai beralaskan kursi. Vero Drackwin.
"Aku akan bicara jika Dominic yang bertanya"
"Aku?"
Suara bariton sang dominan akhirnya terdengar lantang memenuhi ruangan lembab ini.
Sebelumnya saat Ead hendak mengikuti Subha, ia mendapatkan kabar jika pria yang mereka temui di kereta sudah siuman. Maka dari itu ia segera datang.
Vero langsung menundukkan kepalanya sembari memberikan tempat duduk saat melihat sang Tuan datang dan hendak mengambil alih pekerjaanya.
Melihat itu, Ead pun memilih menerima dengan duduk disana. "Apa mereka menyakitimu?"
"Keluargaku, asal keluargaku selamat..."
Brak
Seketika pria gemuk itu langsung telentang diatas lantai kala kaki kekar Ead menendang wajahnya, memberikan noda darah terlukis di wajah pria itu.
Para pengawal bergegas memperbaiki kembali posisinya seperti semula. Bersimpuh lutut didepan Tuannya.
"Aku bahkan sedang tidak membicarakan keluarga, tapi beraninya kau membicarakan keluarga didepan ku"
"Tolong... Uhuk Uhuk"
Ead menjadi tertawa lalu mencondongkan wajahnya ke wajah pria jelek itu, "Jika pria hina seperti dirimu saja menyayangi keluarganya. Lalu bagaimana denganku? Jika pria kotor seperti dirimu menginginkan hal yang terbaik untuk keluargamu. Bagaimana dengan diriku?"
"Segalanya akan baik-baik saja jika kau tidak menyangkutkan urusannya dengan keluarga" tambah Ead.
"Aku akan memberitahu dirimu"
"Cepat katakan"
Pria bertubuh gemuk itu menatap nanar wajah mengerikan dari pria yang ada didepannya, merasa yakin jika ia harus memberitahu segalanya.
"Slander... pria itu bernama Slander"
"Slander?" Ead menyipitkan kedua matanya seraya mencoba berpikir siapa gerangan pria dibalik nama tersebut. "Seperti apa dia?"
"Aku tidak tahu... Dia, dia tidak pernah memperlihatkan wajahnya. Saat kami bertemu dengannya, hanya topeng yang kami lihat"
__ADS_1
"Ada lagi?"
Pria itu mencoba memutar otaknya untuk memikirkan rahasia apalagi yang harus ia berikan kepada Ead, supaya keluarganya tetap selamat.
"Tidak ada"
"Kuliti pria ini hidup-hidup" titah Ead tidak mau berlama-lama berbicara.
Sementara untuk pria itu, seakan takdir buruk baru menyambar perasaan pria berbadan gemuk itu saat sang dominan memilih untuk menyiksanya setelah memberitahu segala informasi.
Pria berbadan gemuk itu tidak menolak. Ia menerima segalanya karena kesalahan dan demi keluarga di rumah. Ia kenal dengan Dominic, yang tidak akan tega membunuh Istri dan Anaknya yang masih belia.
______
Subha berjalan pelan memasuki Mansion setelah mengunjungi Mia yang berada di kandang kuda, menjadikan dirinya pusat perhatian para pelayan dari sikap anggun yang dia perlihatkan.
Cara berjalannya yang santai namun anggun serta pandangan lurus kebawah, menunduk malu dengan respon para pekerja yang melihatnya.
"Nyonya Subha"
Subha berhenti tepat didepan tangga pertama saat namanya diucap begitu lantang. Ia segera menoleh serta mendekati pria yang merupakan pengawal kediaman ini.
"Iya?"
"Tuan Dominic berpesan supaya anda tidak perlu menunggu dirinya hingga larut malam, karena beliau sedang ada pekerjaan mendadak"
"Pekerjaan apa itu hingga sampai larut malam?" Tanya Subha mengerutkan kening dibalik kain niqab.
"Berburu..."
"Oh berburu..."
"Hah" pekik Subha mengeraskan suaranya hingga kedua tangan terulur untuk menutup mulutnya, merasa malu. "Berburu manusia?"
Pengawal itu menundukkan kepalanya, takut jika informasi yang ia berikan pantang untuk dibicarakan. "Hemm... Begitu saja ya Nyonya, selamat siang"
"Kau seorang muslim?"
"Benar, Nyonya" jawab pengawal itu masih dengan kepala menunduk didepan Subha. Mendengar pengakuan itu membuat wanita Sholehah ini merasa harus mengingatkan.
"Assalamualaikum, bukan selamat siang"
"I-iya, Assa-assalamualaikum..."
Kikuk pengawal itu mencoba melafalkan salam yang Subha praktekan dengan nada mengomel.
"Assalamualaikum, bukan assa-assalamualaikum"
"Assalamualaikum"
Ucap pengawal itu seketika masih menundukkan kepalanya, namun ia segera pergi dari hadapan Subha, terlebih ia takut dengan nada suara Nyonya barunya yang terdengar semakin lantang.
"Walaikumsalam"
Subha mendengus kesal, tatapannya masih tertuju kepada pengawal yang baru saja didepannya.
"Salam saja harus diingatkan. Sepertinya seluruh penghuni tempat ini harus banyak belajar untuk mengucap salam. Aku lihat banyak yang muslim"
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu Subha segera kembali ke ruangan favorit yang terletak tidak jauh dari tangga. Tempat itu merupakan tempat dimana wanita ini istirahat.
Sementara itu para pelayan yang ada di dapur malah menjadi ketakutan saat ia harus mengantarkan makanan ke kamar Subha. Bagaimana kalau atasannya mengomel?
"Kau sajalah..." lempar pelayan wanita kepada rekannya dengan memberikan nampan berisi makan siang atasannya.
"Aku nggak bisa ngucap kayak gitu"
"Sama"
Kedua pelayan itu saling beradu mencurahkan segala alasan takut mereka. Tanpa ada yang mau mengalah dan tetap mengoper nampan berisi makanan tersebut.
02:05
Tengah malam saat seluruh Mansion terlihat gelap dan sunyi. Memang saat sudah tengah malam begini para pekerja di kediaman Ead memilih untuk mematikan seluruh penerang, karena itu yang Ead inginkan.
Halaman depan, ruang tamu, dapur bahkan lorong menuju kamar Subha saja dibiarkan tanpa penerang. Selain dibiarkan tanpa penerang, para pekerja akan kembali ke asrama mereka yang berada di belakang Mansion.
Tap
Tap
Tap
Suara langkah kaki yang terdengar berat menapak diatas lantai putih melewati ruang tamu menuju tangga, bahkan melewati lorong menuju kamar Subha.
"Apa dia sudah tidur?"
Ead berucap dalam kesunyian tempat ini, membuat suaranya seakan menggema merajai setiap ruangan.
Kedua kaki kekar Ead semakin mendekat pelan ke kamar Subha seperti seorang yang sedang mengendap-endap ingin mencuri. Ia harus ekstra hati-hati supaya tidak mengganggu Subha jika gadis ini sudah tidur.
Benar-benar sunyi, bahkan Ead baru pertama kali merasakan hawa sesunyi ini.
Kreeett
Suara pintu kamar Subha terbuka saat Ead membukanya kecil. Kepala Ead mengintip masuk kedalam untuk memastikan sesuatu.
Kosong...
Kedua netra Ead tidak menampaki siapapun di kamar istrinya. Kemana istrinya pergi malam-malam begini, bahkan lampu kamar dibiarkan menyala.
Saat tidak melihat siapapun, Ead segera membuka pintunya lebar-lebar.
Krekkk
Duar
Tepat saat pintu itu sudah terbuka lebar, sesuatu muncul dari balik pintu. Berpakaian serba putih serta sorot mata mengerikan tertuju kepadanya.
Aarrrkkk
...To be continued...
...Maaf baru up......
...Tidak bermaksud menghina atau menjelekan pihak manapun, dimohon kerjasamanya....
__ADS_1
...Jangan lupa vote......