
Udara dingin seusai hujan membuat merinding ke tiga manusia yang sedang berada di kandang kuda, terlebih gadis bercadar yang memiliki panggilan bernama Subha.
Gadis memakai baju syar'i pink bunga ini membeku saat mendengar permintaan langsung dari pria yang sudah sah menjadi suaminya. Pria yang dimaksud masih berdiri memperhatikan Subha yang tidak bergerak sama sekali.
"Syaratnya, cium aku" tegas Ead sekali lagi, serta tatapan dingin tergambar di wajahnya.
"Ci-cium?" Subha menggigit bibirnya dibalik niqab pink yang ia pakai. Masih menimang kembali keinginan suaminya.
Subha jadi ingat dengan perkataan Ead waktu dia hendak menyetujuinya karena pria itu sudah sah menjadi suaminya, 'Jangan lakukan apapun karena kata sah'.
"Apa jika aku menerima, itu dapat diartikan karena kata sah juga?"
"Tidak" jawab Ead membuat kening Subha berkerut. Ia sudah berharap Ead menjawab iya.
"Kok bisa?"
"Kau menyetujui syaratku secara sadar, walau aku belum mengatakan apa itu syaratnya. Jadi itu bukan karena kata sah, tapi murni keinginan mu sendiri"
Subha jadi menelan salivanya dengan susah payah. Hatinya berkecamuk antara menerima dan menolak.
"Bisa tidak aku mandi dulu"
"Of course" jawab Ead dengan cepat saat pikiran kotornya melayang didalam otak sana. Membayangkan jika Subha hendak memberinya kejutan.
Dengan perasaan yang terpaksa Subha melewati tubuh suaminya yang masih menatap sinis pria yang memberi makan Mia. Louis.
Sedari tadi Louis hanya melirik pria dan wanita yang merupakan atasannya. Hal itu membuat Ead merasa curiga dengan dia.
"Pria itu sudah bangun?"
"Belum, Tuan"
"Bangunkan dia dengan cara apapun. Aku akan menemuinya 15 menit lagi" ucap Ead melenggang meninggalkan Louis disana. Meninggalkan kesan dingin dan tidak terbantahkan lagi.
______
Di tempat lain...
Di tempat yang merupakan gudangnya wanita sexy yang membawa kesurgaan bagi kau pria. Para tamu dari konglomerat diberbagai kota datang untuk menghilangkan beban mereka.
Seorang wanita berpakaian mini serta rambut terurai panjang itu baru saja sampai di tempat Ayel Lesi. Wanita yang terlihat suci bagi keluarga Akthakarta. Widia Hasna.
"Hana? Kau kah ini" tanya rekan kerjanya mengekori Widia yang berjalan dengan cepat.
"Mana wanita Italia itu?"
"Siapa?"
"Leiska" sentak Widia dengan urat-urat yang nampak nyata. Matanya membara bagai emosi yang hampir meledak menyemburkan laharnya.
Rekan kerjanya itu hanya diam tidak mau berurusan jika sudah melihat kemarahan Widia. Ia pun segera menjauh dari wanita yang masih berjalan mengiringi pencariannya.
__ADS_1
Plak
Suara tamparan itu terdengar nyaring kala Widia berhasil menemukan wanita yang menjadi penyebab kemarahannya. Wajah wanita itu sampai menoleh mendapat tamparan dari wanita yang pernah ia kenal.
"Kenapa ketidakadaan dirimu masih mengganggu hidupku... Kau akan mati ditangan ku"
Grep
Ucapan lantang dari Widia membawa tangannya mengulur hendak menampar Leiska, namun tangannya lebih dulu dicengkeram.
"Lepas tanganku"
"Tidak ada kematian yang berada di tanganmu. Jika ada, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi"
Setelah berucap berani, Leiska segera melepas tangan Widia dengan sedikit dorongan. Widia hampir saja terjatuh.
Widia menghela nafasnya dalam-dalam, menetralkan. "Penampilanmu serta perilakumu sudah persis seperti penghuni tempat ini"
"Dari tutur katamu membuktikan, jika kau memang berasal dari tempat ini" balas Leiska mengejek tempat lahir Widia. Ringaian kecil juga tercipta.
Wajah Widia seketika membengis dengan pernafasan yang hampir sesak dengan penghinaan wanita yang dibencinya.
Sementara Leiska menyibak rambutnya kebelakang, serta menghela nafasnya lega. "Oh... Aku dengar jika kau baru kembali dari New York ya? Bagaimana, apa kau melihat tempat lahirmu disana?"
"Apa?"
Wajah Leiska mulai membengis, "Jangan lagi kau mengganggu diriku, atau kau akan mati hanya dengan kata-kata ku"
Widia terkekeh, "Mati? Aku tidak akan mati hanya karena ucapan busukmu. Leiska, Leiska... Begitu malang nasibmu. Saat kecil hidup keras, berusaha mati-matian untuk membangun kejayaan eh malah tersiksa lagi"
"Hidup keras di negara Italia, di negara asing pun juga hahahhaha"
Tawa Widia menggelegar di ruangan penuh dengan para wanita bayaran. Mereka semua hampir tertawa namun tertahan saat melihat respon buruk Leiska. Takut jika sesuatu menimpa.
"Kau berkata apa tadi?"
"Leiska, wanita bayaran tetap Zlander Dortan"
Bugh
Seketika tubuh Widia terjatuh ke atas tanah saat kepalan tangan kuat Leiska mendarat di pipinya. Memberikan tanda luka di ujung bibir Widia.
"Brengsekkkk"
Bentak Widia merasa tidak terima hingga ia pun berusaha membalas saat Leiska menghindar dengan segala cara.
Pyar
Hingga fas bunga kaca terlempar kearah Leiska saat wanita itu melayangkan benda itu.
Pyar
__ADS_1
Hingga fas bunga kaca terlempar kearah Leiska saat wanita itu melayangkan benda itu. Hingga...
Ctak
Sayang sekali Leiska tidak dapat menghindar saat Widia melayangkan parfum berbahan kaca hingga melukai dahi Leiska.
Dahi Leiska mengeluarkan darah dengan sangat deras, membuat pria yang sedari lama memperhatikan perkelahian mereka menjadi murka.
Sret
Pyar
Seketika kaca jendela berbahan tembus pandang itu hancur berserakan diatas lantai kala pria bertopeng itu melempar fas yang ada diatas meja.
Seorang pria dengan kemarahan serta kebencian bahkan dendam bercampur membentuk urat-urat yang terlihat nyata dilehernya.
"HANNA BERANINYA KAU MELUKAI WANITAKU"
Pria bertopeng itu mendekati wanita yang memundurkan tubuhnya karena takut. Walaupun wajahnya tidak terlihat namun aura mengerikan terpancar dari perilaku yang ia tampilkan.
"Zlander" pekik Widia saat pria itu mencekik lehernya kuat-kuat. Hampir saja tidak memberikan sedikit celah untuk Widia bernafas.
"Berani sekali kau ini"
Kepala Zlander memiring puas melihat lawannya kehabisan nafas. Ia pun memilih melepaskan, membuat Widia terbatuk namun lega.
"Hanna, tunggu aku di ruang kerja. Kau akan menanggung resikonya"
Setelah mengucapkan itu Zlander segera pergi, namun ia tidak pergi sendiri. Zlander membawa wanita yang sudah ia putuskan menjadi miliknya. Leiska.
Sesampainya di sebuah ruangan, Zlander melempar tubuh Leiska di ranjang yang terletak tidak jauh dari pintu masuk.
Tubuh Leiska seperti melayang merasakan dorongan keras dari pria bertopeng ini. Ia juga dapat merasakan kemarahan dari perilaku yang pria itu tampilkan.
Setelah mengunci pintunya, Zlander berjalan mendekati ranjang hingga berdiri tepat didepan sang wanita. Pria itu akhirnya melepas topeng yang melekat diwajahnya, memperlihatkan wajah Eropa yang sungguh rupawan dipandang. Tidak untuk Leiska.
"Leiska sayang... Apa mereka menyusahkan mu?" Tanya Zlander merangkak mendekati wanita yang ada diatas ranjang.
"Menurutmu?"
"Katakan kepadaku jika ada yang menyusahkan mu" ucapnya lagi saat dirinya sudah berhasil mengungkung tubuh mungil Leiska, hingga ia dapat melihat jelas luka di dahi wanitanya.
"Kau yang menyusahkan diriku"
"Ayolah Leiska... Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Menurutlah untuk kali ini saja"
"Cih"
...To be continued...
...Maaf baru up......
__ADS_1
...Tidak bermaksud menghina atau menjelekan pihak manapun, dimohon kerjasamanya....
...Jangan lupa vote......