
Dinding-dinding gelap serta licin berbau anyir itu meruak masuk kedalam penciuman. Obor menyala menjadi sebuah penerang jalan. Memang, malam ataupun siang keduanya tidak memiliki perbedaan, Namun semua itu membuat dua orang ini tetap bertahan, demi sebuah kebebasan.
Alham berjalan mengendap-endap mengikuti wanita yang rela mempertaruhkan nyawa demi kebebasannya. Sungguh Leiska yang pengertian.
“Berhenti”
Leiska membalikan tubuhnya bersembunyi dibalik dinding, supaya pasukan yang baru lewat itu tidak melihat. Namun sayangnya Leiska terlalu bersemangat hingga baru menyadari telah mengungkung Alham di tembok.
“Kau sengaja melakukan ini?”
Leiska segera menjauh, “Jangan gila kau Alham. Aku masih melihat-lihat tempat jika ingin melakukaan itu”
“Melakukan itu apa maksudmu?” bantah Alham meminta penjelasan.
“Ahh sudahlah…”
Leiska kembali mengendap-endap, namun berbeda dengan pria itu. Dengan pedenya ia berjalan santai seakan sedang berada di rumah.
“Leiska”
“Hm”
“Apa kau tidak tahu Ead mencarimu? Dia begitu gila saat melihatku hingga menghajar diriku, memberi luka di tubuhku. Dia mengira jika aku membawamu pergi. Menyedihkan”
Leiska termangu. Ia melamun memikirkan kebaikan kakaknya selama ini. Begitu mengharukan.
“Kau juga seorang kakak. Kau pasti tahu bagaimana perasaannya saat mengetahui adik perempuannya hilang, terlebih hanya dia satu-satunya keluarga”
Alham menjadi mengingat saat-saat ia kehilangan Subha. Memang, waktu itu Alham hampir gila mengetahui adik kesayangannya hilang.
“Tapi sedang apa kau disini? Ead mencarimu sampai keujung dunia tapi kau malah membangun duniamu disini?”
Kening Leiska menyergit, “Bagaimana cara aku membangun duniaku sendiri, jika tempat yang kutinggali tidak strategis”
“Lalu, sedang apa kau disini?”
“Aku…” Leiska mencoba berpikir sampai kemasa depan. ‘Bagaimana jika Alham tahu, dan memberitahu kak Ead, lalu akan ada peperangan besar yang terjadi. Semua akan hancur saat itu juga!.’
Kepala Leiska menggeleng cepat, “Jangan katakan jika aku ditempat ini. Saat kau keluar nanti, jangan pernah sekalipun kau membicarakan tempat ini kepada kak Ead. Paham?”
Alham menatap serius mata wanita didepannya, “Aku suka keceplosan”
Leiska hampir memukul bahu Alham karena sikapnya malah kembali seperti dulu. Pria humoris pembuat candaan.
“Tapi mungkin kak Ead tidak mau berbicara denganmu”
“Aku juga tidak berminat” Alham memukul-mukul tumitnya yang lelah, namun tiba-tiba bayangan Widia masuk ketempat ini melintas begitu saja. “Ada yang ingin ku tanyakan kepadamu”
“Hm”
“Sejak kapan kau akrab dengan Widia?”
“Widia” Leiska mengingat saat-saat dirinya bertengkar dengan wanita rendahan itu. Namun ia juga tahu jika Widia tunangan Alham. “Memangnya kenapa?”
“Aku melihat dia datang kemari”
__ADS_1
“Lalu kau melihatnya lagi?”
“Tidak”
Leiska menghela nafasnya dalam-dalam, “Kau mungkin cuma asal melihat. Kau salah lihat, kau terlalu terbayang wajah tunanganmu sehingga matamu itu kurang focus. Dasar bucin”
“Salah lihat? Aku rasa tidak”
Alham mencoba mengelak, karena ia benar-benar melihat tunangannya itu memasuki tempat ini. sementara Leiska enggan untuk memberitahu kebenarannya.
‘Jika aku memberitahumu. Apa kau akan percaya? Cih’ kesal Leiska dalam hati. “Ayooo. Kau ingin keluar atau tidak?”
Leiska bertanya namun juga tidak membutuhkan jawabannya. Ia hanya ingin membuat pria ini keluar dari tempat ini.
Kreketek
Suara benda runcing panjang itu terdengar mengejutkan mereka. Tepat saat Alham dan Leiska menoleh ingin meneruskan perjalanan, para pasukan Zlander sudah menghadang.
Senapan mereka tertuju kearah mereka.
Leiska mencoba melawan, “Kalian semua. Aku perintahkan untuk segera mundur. Pria ini menjadi urusanku”
“Bukan urusanmu, Leiska”
Suara bariton pria bertopeng dengan tubuh jangkung itu kembali terdengar. Memberikan sinyal menyeramkan dari kedatangannya, hampir menepis keberanian Leiska.
Pria bertopeng dengan jubah hitam itu mendekat seraya memainkan belati tajam ditangan kanannya, “Welcome Alham. Sudah berapa banyak yang kau ketahui mengenai tempat ini? Diriku?”
Srett
Leiska pun terkejut, bahkan Widia yang mengintip saja merasa amat terkejut. Wanita ini akan selalu siap jika pria bertopeng itu menakiti tunangannya.
Berbeda dengan mereka, justru pria bertopeng yang tidak lain adalah Zlander ini malah tertawa mengerikan, “Leiska… seperti inikah pria yang kau cintai? Dibandingkan dengannya, aku jauh lebih gagah”
“Berhenti bermain, Zlander”
“Bagaimana kalau kita saja yang bermain? Sudah lama aku tidak bermain denganmu. Aku juga sudah menyiapkan alcohol mewah untuk kita berdua. Tertarik?” ucap Zlander menarik lengan Leiska hingga mendekapnya.
Melihat perilaku kasar Zlander tentu membuat Alham tidak bisa tinggal diam. Ia pun segera menarik Leiska dari dekapan pria menyeramkan itu. “Jangan kasar dengan wanita. Jangan kau sakiti wanita ini”
Sejenak Leiska terpukau dengan perilaku Alham kepadanya.
“Alham… kau tidak mengenalku? Betapa bodohnya dirimu sehingga wajah familiarku tidak kau ketahui”
Alham berdecih rendah, “Bukankah kau yang bodoh? Kau memakai topeng, lalu bertanya kau kenal akua tau tidak? Are you sure? Kenapa kau itu lucu sekali, Zlan… siapa namanya tadi… Zlander”
Sungguh rasanya darah Zlander mendidih mendengar hinaan Alham. Iapun segera menarik lengan Leiska, namun Alham menahannya.
“Berani sekali kau menyentuh lenganku, Alham!”
“Lepas dulu”
“Jika aku tidak mau?” tantang Zlander memiringkan kepalanya mengejek Alham.
Rupanya Zlander menolak untuk melepaskaan lengan Leiska, membuat Alham geram lalu melayangkan kepalan tangannya kewajah pria itu, namun Zlander yang lebih pintar itu telah menghindar.
__ADS_1
Plak
Dengan mudahnya Zlander menampar kuat pipi Alham hingga tubuhnya langsung tersungkur diatas tanah yang lembab itu. Sangat berbeda dengan lawannya.
Leiska histeris, “Jangan Zlanderrrr Zlanderrrr”
Leiska menarik-narik lengan Zlander saat pria itu hendak mendekat. Namun kaki kanannya sudah terangkat keatas ingin menginjak.
“B*debah kecil” Zlander sudah berucap hingga kaki itu hampir mengenai kepala Alham.
Srett
Alham mendekap kaki sang lawan, menggagalkan maksud pria itu yang hendak menginjak kepalanya. Karena tidak terima Zlander menggunakan kaki satunya untuk menendang, namun lagi-lagi Alham mendekapnya. Kedua kaki Zlander sudah didekap, iapun bergegas mengangkat.
Brukk
Tentu saja Zlnder oleng dan berakhir jatuh telentang ke tanah. Memiliki kesempatan Alham segera menarik topeng yang menutupi wajahnya.
Tangan Alham dan juga Zlander beradu menyerang serta menahan. Para pasukan hanya diam memperhatikan untuk menunggu perintah dari atasan.
Karena hampir kewalahan dengan kekuatan Alham yang tidak tahu berasal dari mana, membuat pikiran licik Zlander melinatas begitu saja. Ia melihat ada miniature kecil yang terjatuh didekat perkelahian mereka.
Srett ia mengambilnya, dan…
Bugh
Tepat sasaran. Kepala Alham bocor hingga mengeluarkan darah yang banyak. Sejenak penglihatan Alham berkunang-kunang serta cengkeraman tangannya yang memulai memudar.
Bruk
“Alham”
Teriak dua wanita saat melihat pria yang mereka cinta terjatuh tidak sadarkan diri. Berbanding terbalik dengan Zlander yang belum puas ingin menghajar.
“Mati kau”
“Cukup Zlander” sela Leiska menahan-nahan tangan Zlander.
Sementara itu dari balik persembunyian, keluarlah wanita bermuka dua. Wanita itu berlari untuk membawa kepala tunangannya keatas pahanya.
“Alham bangun Alham” Widia menepuk-nepuk pipi Alham. Ia tidak bisa berpikir jernih. Ia terlanjur cemas saat melihat kepala tunangannya bersimba darah. “Zlander kau… jika sesuatu yang buruk terjadi kepadanya. Aku akan membunuhmu”
“Bawa tunangan br*ngsek mu itu keluar dari tempatku, SEKARANG JUGA”
“Alham bertahanlah” tutur Widia berusaha bangkit. “Sedang apa kalian? CEPAT BANTU AKU”
Suara Widia nyaring terdengar di telinga para bawahannya. Merekapun segera membantu Widia untuk mengangkat Alham.
Alham pun hilang terbawa para pasukan, meninggalkan wanita yang sudah menyesal karena belum bisa menjaganya. “Alham…”
Mata membara Zlander menampaki wajah menangis Leiska, “Sedang apa kau? Jangan menjadi wanita cengeng cumaa karena pria lemah seperti dia”
Zlander menarik kasar lengan Leiska, menariknya hingga entah kapan dia akan melepaskannya.
Leiska juga ingin mengetahui keadaan Alham, namun ia hanya mampu berdoa untuk pria yang masih ia cintai itu. ‘Terlepas dari segala kesalahanku yang selalu menyusahkanmu, tolong maafkan aku. Tetaplah hidup karena aku ingin melihatmu menikahi wanita yang menjadi pilihanmu. Walaupun itu bukan aku’
__ADS_1
...To be continued...