Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 79 : Terlihat Ganda!


__ADS_3

Sementara itu dihalaman kediaman Akthakarta. Subha baru saja selesai bersiap untuk pergi bersama sahabatnya. Ia akan pergi untuk membeli sesuatu di pusat perbelanjaan.


"Nyonya Zolanda"


Pekik Louis saat istirahat nya diganggu oleh Subha yang hendak pergi meninggalkan kediaman ini. Ia harus tahu karena ini sudah menjadi tugasnya. Bagaimana kalau sesuatu terjadi kepadanya? Bisa-bisa Louis mati ditangan Ead.


"Ada apa Louis?"


"Saya akan mengantarkan anda pergi. Anda bisa duduk dengan tenang didalam mobil saya" Louis mencoba memberi penawaran yang menggiurkan. Subha akan merasa tertarik nanti, pikirnya.


Namun Subha ini merupakan wanita yang sudah menikah. Tidak sepantasnya dia pergi atau berada di satu mobil yang sama dengan pria lain. Subha merasa itu hal yang salah.


"Temanku akan menjemput diriku. Dia akan datang kesini beberapa menit lagi"


"Tapi saya sebagai utusan Tuan Ead tidak bisa tinggal diam Nyonya. Saya diperintah untuk selalu menjaga Nyonya. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Nyonya? Banyak sekali penjahat berkeliaran dengan memakai topeng. Topeng yang mereka kenakan akan membuat anda jatuh di dalam kehidupan gelapnya"


Ngeri. Subha menatap ngeri Louis yang menjelaskan dengan penuh penghayatan. Apa yang Louis katakan saat ini ada benarnya juga. Memang kita tidak tahu seperti apa orang di luar sana karena topeng mereka yang seakan menjadi orang baik namun nyatanya buruk.


Bukan maksud Subha seudzon tapi ia hanya melihat dari kenyataannya saja.


"Baiklah. Tapi aku akan pergi bersama temanku"


"Tidak masalah"


"Assalamu'alaikum Subha" pekik gadis berhijab yang baru saja sampai setelah turun dari mobil taxi di depan mereka berdua.


Mata Louis terpaku sesosok Fahima. Ia tidak menyangka akan melihat Fahima untuk yang kedua kali. Memang ini yang diharapkan bukan! Bertemu Fahima tentu membuat Louis berbunga-bunga.


Sementara Fahima sendiri? Bertemu Louis untuk yang kedua kalinya membuat ia seperti di rutuki batu bertubi-tubi. Amarahnya memuncak melihat wajah datar tanpa ekspresi dari pria ini.


Bayangan bagaimana mobil itu hampir menabrak dirinya membuat Fahima geram.


"Subha siapa dia?" bisik Fahima tepat di telinga Subha, membuat Louis berdeham melepas canggung saat mendapati lirikan Fahima kepadanya.


"Dia Louis. Temanku"


"Bagaimana kau bisa berteman dengan pria seperti dia? Kau tahu Subha, waktu itu aku hampir tertabrak oleh mobilnya. Dia mengemudi kencang sekali"


"Ehhem " Louis berdeham semakin keras kala hatinya tidak terima Fahima mengatakan demikian. Ia ingat betul sudah meminta maaf dan seharusnya gadis ini tidak mengungkitnya lagi.


Mata Louis menatap tajam Fahima.


"Nona, sepertinya anda memiliki emosi yang tinggi sehingga sulit untuk anda melupakan kejadian dimasa lalu. Saya sudah meminta maaf waktu itu. Apa perlu saya mengulanginya kembali?" ucap Louis menegaskan.


Fahima tersenyum kecut lalu membuang muka. Gadis ini memang tidak pernah memperlakukan pria dengan baik, ia akan berbicara dengan lantang dan kurang sopan. Menurutnya pria yang bukan mahram hanya akan membuatnya dosa jika sering berinteraksi. Dan mendapati perilaku Louis yang menjengkelkan? tentu Fahima semakin kesal.


Subha menghela nafasnya halus, "Sudah. Fahima Louis kan sudah meminta maaf jadi kau harus memaafkan dirinya"


"Aku tidak berkata 'tidak memaafkannya' hanya saja dia harus menyadari kesalahannya. Maaf dari omongan saja ya percuma" lirih Fahima di kalimat terakhirnya sambil membuang muka malas.

__ADS_1


Subha hanya menggeleng kepala saja.


"Ayo kita berangkat"


"Naik mobil siapa?" Fahima melihat bingung kepada Subha yang sudah hampir memasuki mobil yang ada di parkiran. Tepatnya ia melihat Subha masuk diikuti pria itu juga masuk.


"Louis yang akan menyetir"


"Apa" pekik Fahima tidak mau terima. "Aku tidak mau semobil dengan pria itu. Dia akan mencelakai kita berdua, sebaiknya jangan"


Ck, Louis berdecak kesal dengan perilaku berlebihan gadis yang ditemuinya. Gadis keras kepala dan suka menghina ini benar-benar ada di hati Louis? Sepertinya ia harus berpikir dua kali untuk berhubungan dengan Fahima. Ada pikiran untuk menyerah tapi dia saja belum memulainya.


"Kau akan menaiki taxi saja? Tidak masapah. Sebenarnya mobilku masih cukup muat untuk menampung dirimu tapi sepertinya kau yang enggan. No problem" Louis memakai kacamatanya dan melenggang tidak perduli jika Fahima tidak mau naik mobilnya. Hahaha siapa gadis itu berani menolak tawarannya!


Subha yang melihat itu akhirnya kembali menghampiri Fahima, "Ayo Fahima naik mobil bersama Louis. Tidak apa-apa, dia akan mengemudi dengan hati-hati"


"Tap---"


"Percayalah"


Subha menepuk bahu Fahima dan terpaksa wanita ini masuk kedalam, membuat Louis terkekeh senang. Walau pria ini tidak memperlihatkannya.


Di mobil.


Louis yang menyetir. Ia rela menerima tatapan sinis dari wajah Fahima demi bisa lebih dekat dan dapat melaksanakan tugas yang telah diberikan kepada Ead.


Namun Louis merasa harus sedikit mencairkan perasaan semangat didalam diri Fahima. Ia berpikir keras.


"Nona-nona, kita akan berbelanja dimana?" tanya Louis mencoba memancing Fahima untuk bicara namun malah Subha yang menjawab dengan semangat.


"Mall Muliama"


Dan Louis hanya tersenyum kecil karena bukan Fahima yang menjawab.


________


Sementara di tempat lain. Jauh dari perkotaan yang panas dan bisingnya suara kendaraan. Di tempat ini justru minim sinar matahari dan hanya suara dentuman tembakan yang mereka dengar.


Suasana dingin lembab namun hati mereka panas terbakar api dendam. Perkelahian telah membakar hangus setiap orang dan hanya menyisakan mayat-mayat yang sudah tidak dibutuhkan.


Dibawah jurang penuh rerumputan hijau, ada dua pria yang masih berduel sengit menggunakan berbagai senjata alam yang tidak sengaja mereka temukan.


Zlander melihat kapak berkarat tanpa pemilik tergelak dirumputan. Sangat beruntung dia bisa melihatnya sebelum Ead.


Zlander mengambil dan melayangkannya ke tubuh pria kekar di depannya.


Brakk


Kapak berkarat itu gagal melukai Ead karena ia lebih dulu menghindar kekanan dan memukul punggung Zlander menggunakan kayu yang ia pegang. Zlander akhirnya terjatuh tengkurap diatas tanah.

__ADS_1


Ead hendak membabi buta pria bertopeng itu namun dengan kakinya Zlander menendang perut kekar lawannya dan Ead tersungkur untuk yang kesekian kalinya.


Memiliki kesempatan Zlander segera melarikan diri memasuki hutan yang semakin dalam, namun yakin jika Zlander memiliki tujuan. Ead yang tidak mau kalah telak juga mengikuti pria itu. Meraih-raih jubah lebar yang berterbangan dari pria bertopeng itu, namun sayang selalu gagal.


Citt


Tiba-tiba Zlander berbelok kearah kanan hingga menimbulkan gradasi bersuara kecil dari sepatu yang Ead kenakan. Pria itu hampir menarik jubah menjengkelkan didepannya, namun Zlander seakan tahu dan langsung berbelok.


Siallan...


Karena hal itu membuat jarak diantara keduanya merenggang. Mungkin sekitar 500 cm.


Kejar-kejaran mereka mengantarkan Ead memasuki sebuah kastil yang sudah hampir roboh. Banyak sekali lumut di dinding dan atapnya, baunya aneh dan lantainya dipenuhi rumput liar.


Entah bagaimana Ead bisa masuk sampai di tengah-tengah kastil ini. Nafasnya tersengal-sengal seraya tubuhnya memutar melihat-lihat ruangan usang dan balkon yang terlihat berlumut.


Zlander lenyap begitu saja.


"Siall dimana pria itu?" Ead memukul udara dengan emosi yang memuncak. Ia gagal menemukan Zlander, ia gagal membunuh pria itu, ia gagal menemukan Leiska.


Bagaimana ini?


Tang


Tubuh Ead memutar mencari arah darimana suara itu berasal. Apa dia akan menemukan Zlander lewat suara itu? Namun sayangnya suara itu tidak ada wujudnya.


Tang


Ead semakin murka dengan suara tanpa wujud itu, seakan suara itu mempermainkan dirinya. Tiba-tiba ada dan lenyap begitu saja.


Tang


"Keluarlah sialll. Hadapi aku jangan seperti pecundang" tantang Ead dengan mata melihat-lihat dengan penuh waspada.


Srett


Wajah Ead menoleh kearah kiri sampai bawah, melihat belati tajam menancap di tanah. Ia yakin seseorang melemparnya dari atas.


Ead menengadahkan kepalanya kearah pria bertopeng yang berdiri diatas sana, melihat dirinya dari atas sana. Seketika rahang Ead mengurat menimbulkan kepalan tangan yang menguat karena sudah berani melempar belati dan mempermainkan emosinya.


"Welcome, Dominic"


Pria itu bersuara tegas menggelegar diiringi pria-pria keluar dari sisi kanan, kiri, depan, belakang Ead. Mereka semua berpenampilan sama seperti Zlander. Memakai topeng dan jubah yang sama, membuat kening Ead berkerut.


"Siall aku dijebak"


...To be continued...


...Jangan lupa Vote and like. Biar aku tambah semangat up nya. Akhir-akhir ini aku kurang bersemangat 😭...

__ADS_1


__ADS_2