
Pria pemilik dagu berbulu tebal berwarna hitam keputih-putihan itu nampak termenung mencerna kalimat menantunya. Ia yakin jika sang pria menyukai putrinya, namun mengapa ia meminta syarat untuk pernikahannya.
“Syarat seperti apa?”
“Syarat ini agak berat untuk mereka para orang tua. Jadi, dimanapun Subha berada, akan ada aku yang senantiasa disampingnya, guna membuat Subha tetap aman. 2 minggu lagi aku akan kembali ke Italia untuk memperpanjang masa kependudukanku di kazakhtan, dari itu aku ingin membawa Subha berkunjung ke Italia. Mungkin kami akan beberapa minggu disana. Sanggup?”
Abi menelan salivanya susah, “Apa tidak bisa Subha tetap berada di negara ini? Mungkin beberapa dari kami akan kurang setuju”
“Aku tidak ingin membuat Subha menetap di Italia, aku hanya ingin terus bisa memantau dan menjaga Subha. Seperti kau yang memberikan rasa sayangmu kepada Subha dengan teliti memilih suami untuknya. Aku juga ingin melakukan itu sebagai bentuk rasa sayangku kepadanya” ucap Ead tulus.
“Baiklah”
Abi akhirnya mengangguk. Walaupun ia tidak yakin jika Ead bukan pria yang baik menurut agama, namun setidaknya Abi dapat melihat keseriusan serta tanggung jawab dirinya.
.
.
Kendaraan-kendaraan berlalu Lalang melewati depan kediaman Akhthakarta, membuat dua orang pria memakai tuxedo dan gamis putih bersorban dikepala itu menyebrang jalan. Mereka tidak memperlihatkan keakraban, sangat menjiwai peran mertua dan menantu.
Ead segera menemui wanita yang begitu amat ia rindukan wajahnya, rupanya wanita itu masih berada di ayunan sana, memfokuskan matanya kearah mereka.
“Ead?” samar-samar Subha melihat penampakan suaminya, “Eaddd”
Subha berteriak melepas ayunannya seraya menghampiri pria yang ia sebut suaminya. Ia merasa sangat bahagia daapat melihat wajah suaminya itu lagi. Begitu cepa Allah mengabulkannya, pikirnya.
“Assalamualaikum” sapa Subha mencium punggung tangan Abi.
“Walaikumsalam” jawab kedua pria itu secara bersamaan.
“Subha. Maukah kau kembali meneruskan ibadah dengan diriku?” pinta Ead lalu dijawab anggukan Subha.
Lantas Subha mencium punggung tangan Ead lama, bahkan wanita ini juga mencium telapak tangan Ead. Meminta berkah dari suaminya.
Tidak mau tinggal diam Ead juga membalas mencium, namun ia mencium dahi dan juga kedua pipi isterinya. Jika perlu ia ingin mencium bibirnya, namun masih ada Abi diantara mereka. Ead jadi menahan.
“Bagaimana kabarmu?”
“Alhamdulillah aku baik-baik saja” jawab Subha.
Lalu Ead memegang perut datar Subha, “Bagaimana dengan calon bayi kita?”
Sejenak Subha terdiam, merasakan telapak tangaan hangat itu menyentuh perut datarnya, membuat Subha menyadari jika Ead sudah tahu mengenai kehamilannya. Ia merasa terharu.
“Masyallah. Siapa yang memberitahu dirimu? Apa Abi yang memberitahu dirimu tentang kehamilanku?”
“Iya… Abi yang bilang. Selain itu aku akan mengesahkan pernikahan kita. Pernikahan yang sah menurut agama dan juga negara. Pernikahan kita akan terdaftar di negara dan anak kita akan diakui keberadaannya. Para pengusaha diseluruh dunia akan menyebutmu seorang Nyonya Zolanda”
“Masyallah” Subha memeluk Ead dengan sangat erat. Memberikan sinyal kebahagiaan atas ucapan suaminya.
Semua itu disaksikan oleh seluruh anggota Akhthakarta. Mereka semua nampak keluar saat mendengar suara-suara percakapan dari luar rumah. Bahkan Umi pun ada.
Derttt
Dering telpon Abi berdering di saku gamisnya. Ia pun segera mengangkat.
__ADS_1
“Assalamualaikum” salam Abi menempelkan ponselnya tepat di telinga kanannya.
Beberapa saat raut wajah Abi tiba-tiba berubah kala mendengar informasi dari seseorang yang ada didalam ponselnyaa.
“Innalillahi”
Umi yang merasa takut itu mendekat, “Abi ada apa?” namun sang suami belum sempat menjawab karena telpon itu masih tersambung.
“Innalillahi. Iya iya… Abi akan segera ke rumah sakit segera”
“Ya allah Abi kenapa ke rumah sakit? Siapa yang sakit?” tanya Umi sekali lagi saat suaminya itu belum mau menjawab.
“Umi Alham mengalami kecelakaan. Sekarang dia dirawat di rumaah sakit”
Deg
Semua anggota keluaarga merasa sangat syok mendengar jika Alham di rumah sakit, namun berbeda dengan Ead yang nampak biasa saja.
“Innalillahi. Kok bisa, ya allah Alham. kenapa Umi juga lupa kalau putranya belum pulang dari semalam ” histeris Umi menangis.
Subha mencoba menghibur dan mengusap bahu Ryverlin, “Sudah Umi… jangan bersedih. Umi doain kak Alham baik-baik aja”
“Ayo kita ke rumah sakit”
“Ayo”
______
Koridor rumah sakit dipenuhi dengan manusia saling bersimpangan, mengikuti kemana tujuan mereka mengarah. Para Dokter berlarian mengejar nyawa dari beberapa pasien gawat darurat di ruangan sana.
“Kayaknya disana Umi” tutur Subha disela-sela marathon mereka.
Sementara Ead nampak mengikuti isterinya, takutnya wanita yang sedang hamil muda itu terjatuh. Padahal tidak ada niatan Ead untuk ikut berlari. “Jangan berlari Subha. Kau bisa membunuh anakku ck”
Subha tidak mendengarkan.
Beberapa menit saja mereka melihat Widia duduk di kursi tunggu koridor seraya menangis. Merekapun segera berlari semakin cepat.
“WIDIA”
“Umi” Widia berlari memeluk Umi. “Umi Alham Umi…”
“Tenanglah sayang… apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana Alham bisa sampai seperti ini?”
Widia terisak seraya memikirkan kalimat apa yang paling pas untuk menjawab pertanyaan wanita tua ini. ia harus terlihat meyakinkan untuk membuat mereka tidak curiga.
“Wi-widia juga nggak tahu Umi. Widia nemu Alham di tepi jalan dan beberapa luka di tubuh Alham” jawab Widia menangis.
“Innalillah… ya sudah sayang kau tenang dulu. Istirahat, duduk” pinta Umi menggiring Widia untuk duduk kembali.
“Lalu bagaimana keadaan Alham, Widia?” tanya Abi Rahman.
“Dokter bilang tidak ada yang serius. Mungkin Dokter sudah menjahit beberapa luka di kepala Alham. Dokter juga bilang tidak ada yang serius di area dalamnya, Abi”
“Alhamdulillah” pekik setiap orang yang mendengarnya.
__ADS_1
“Sekarang sudah boleh dijenguk?”
“Boleh”
Jawab Widia membuat para anggota Akthakarta memasuki ruangan Alham. Mereka pun tidak menyangka melihat salah satu anggota mereka terbaring lemas diatas brankas rumah sakit. Tidak pernah terlintas hal itu akan terjadi.
“Alham… cepatlah siuman, Nak. Ceritakan kepada Umi kenapa kau bisa seperti ini?” ucap Umi mengusap mata memejam milik putranya.
Namun atensi Subha berganti ke orang lain. Kearah pria yang terlihat biasa saja melihat kondisi kakaknya seperti ini. Iapun mendekat.
Ead melihat kedatangan Subha, lalu merangkulnya. “Ayo kita pulang saja. Sudah banyak orang disini… udara akan semakin menipis dan takutnya dia tidak bisa bernafas dan mati lebih cepat”
“Astagfirullah Ead nggak boleh ngomong kayak gitu. Bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini kau masih bisa membawa emosi”
“Aku tidak membawa emosi. Kau tidak lihat wajahku selalu datar seperti ini? Aku selalu santai tapi kau selalu menganggapnya serius” tutur Ead memperlihatkan wajah tanpa ekspresinya.
Subha segera menyadari hal itu. Memang wajahnya nampak datar namun terlihat tampan.
Atensi Ead berganti kearah wanita muda yang masih menangis, wajah serta rambutnya yang terlihat membuatnya nampak familiar. Entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal.
“Subha”
“Hm iya”
“Wanita itu siapa” tanya Ead menunjuk keberadaan Widia.
“Dia kak Widia. Tunangan kak Alham”
Jawab Subha membuat Ead menyipitkan kedua matanya. Kefokusannya hanya tertuju kearah Widia. Wanita muda yang nampak licik dengan ribuan tanda dusta diwajahnya.
Sebaliknya Widia yang merasa ada yang memperhatikan itu langsung menoleh. Akhirnya kedua mata tajam mereka saling tatap.
Namun Widia segera menoleh kearah lain karena takut jika pria Italia itu mengenali dirinya. Memang Widia merasa belum pernah berhadapan langsung dengan Ead, rupanya wajah Ead terlihat menyeramkan jika dilihat dari dekat.
Ead berbisik ditelinga Subha, “Jaman sekarang banyak sekali manusia bermuka dua! Mereka akan memperlihatkan wajahnya yang lain jika sudah menemukan mangsanya. Jangan dekat-dekat dengan wanita itu”
“Ead!!” pekik Subha merasa tidak terimaa jika wanita yang masih menjadi idolanya itu dihina. “Dia siapaaaa? Kok kamu bisa ngomong gitu sih? Pikiranmu itu terlalu negative thinking kepada semua orang”
“Bukan negative thinking. Wanita itu terlalu buruk dalam menyembunyikan wajahnya”
Subha menghela nafasnya kesal, “Ead. Kau itu kenapa selalu mengatakan itu? Tidak semua orang seperti apa yang kau pikirkan. Jangan berkata seperti itu lagi!” sarkas Subha kecewa.
Ead hanya melirik keberadaan Subha yang sudah menjauh. Ia juga tidak berharap Subha akan percaya dengan perkataannya. Ia tidak butuh kata-kata untuk membuat Subha percaya, cukup tindakan saja.
Mata Ead kembali menatap lekat wajah wanita yang merupakan tunangan Alham. Ia sangat yakin pernah melihat mata degan bentuk seperti itu.
Siapa orang yang terima jika dilihati seperti itu, tentu itu membuat Widia tidak terima. Ia segera melihat Ead, “Maaf… bukankah kau sudah memiliki isteri. Sebaiknya jaga cara pandangmu kepada wanita yang bukan muhrim”
Seketika para anggota itu melihat kearah Ead dan Widia. Mereka juga penasaran ingin melihat mata keranjang Ead, pikirnya.
Namun pria itu nampak biasa saja, baahkan ia malah menanggapinya dengan senyuman miring. “Sepertinya aku mengenalmu”
...To be continued...
...Sampai disini dulu ya besok dilanjut lagi😊 baru bisa up segitu soalnya...
__ADS_1