
22:00
Malam hari ini di kediaman Zolanda. Subha terduduk didekat jendela yang terbuka, membiarkan hawa dingin membekukan setiap benda yang ada di kamarnya.
Subha nampak cantik dengan dress malam tanpa penutup wajah maupun rambut hitam kemerahan itu. Wajah putih Subha yang terkena pantulan sinar bulan, membuat wajahnya nampak semakin menggoda.
Itulah yang dipikirkan oleh pria yang baru saja selesai membersihkan diri di kamar mandi. Ead bagai melihat seorang bidadari singgah di jendela kamarnya, sungguh sempurna.
Ead merasa jika Subha menjadi murung Setelah pertemuannya dengan Alham. Ia mendekat lalu berdiri tepat dibelakang tubuh Subha. Ujung kepala sang isteri dikecup lembut, membuat Subha sadar akan keberadaan suaminya.
"Apa yang kau pikirkan?"
Subha segera beranjak dari duduknya, "Kau sudah selesai membersihkan diri? Kalau begitu ayo tidur saja"
Subha melenggang pergi menuju ranjang, namun tubuhnya tertahan saat Ead memeluknya dari belakang. Dagu berbulu tipis milik Ead itu seperti menusuk bahu Subha, namun ia tetap suka.
Ead menahan tubuh Subha karena sedari tadi responnya tidak biasa. Hal itu membuat ia kepikiran dengan perasaan isterinya.
"Jangan tidur jika banyak pikiran"
"Aku tidak banyak pikiran"
"Wajahmu tidak bisa berbohong, Subha" Ead membalikan tubuh Isterinya, hingga menghadap wajah tampannya. " Biasanya, saat seseorang memiliki banyak pikiran, dia hanya membutuhkan kesenangan, hiburan... bukan tidur. Itu hanya akan membuatmu tertekan"
Ead menyelipkan helaian rambut Subha kebelakang telinga. "Mari bersenang-senang denganku"
Subha tertawa lirih hingga menciptakan kebingungan bagi Ead. Ia sudah tahu maksud dari perkataan suaminya ini karena sedari tadi Ead sudah memberi banyak kode.
Entah dari mana Subha berani melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya, "Bagaimana cara kita akan bersenang-senang? Aku tidak tahu bagaimana caranya, bisa kau mengajariku?"
Ead merasa tergoda melihat rayuan manja dari wanita yang berstatus halal untuknya, terlebih melihat senyum terpancar dari balik wajah Subha.
"Ingin tahu caranya?" Ead mendekatkan wajahnya ke telinga Subha, membisik. " Melayani diriku"
Wajah Ead kembali menjauh ingin melihat respon dari wajah wanita yang ada dihadapannya. Sebaliknya, Subha membisu sesaat mendengar permintaan yang sudah ia duga sedari lama.
Namun Subha ingin menggoda Ead sebentar, "Melayani dirimu? Setahuku jika banyak pikiran itu tandanya kita disuruh sholat, dzikir, membaca Al-Qur'an. Itu adalah kegiatan paling mujarab untuk menentramkan hati dan pikiran"
"Kau salah... melayani suami juga dapat melembutkan dua hati yang mengeras, karena didalam kegiatan itu, suami dan isteri akan merasa nyaman dan saling membutuhkan. Mereka akan sadar jika keduanya saling berkaitan" ucap Ead mengeles.
Wajah bangga Ead membawa dirinya mengecup kedua pipi berwarna merah muda milik Subha. Ia sudah merasa gemas dengan kemerlap dari dua pipi Subha yang nampak mulus.
Kedua netra biru berkilau milik Subha bertemu dengan netra elang berwarna coklat itu. Keduanya bersitatap saling memuji kesempurnaan yang sang pencipta berikan kepada mereka.
__ADS_1
Semuanya sudah cukup membuat Ead merasakan gejolak rasa hingga hampir merampas bibir Subha, namun terhalang saat wajah Subha menoleh kearah lain.
"Tutup dulu pintunya supaya tidak ada yang melihat kita berdua"
Ead mendengus kesal, namun ia segera melaksanakan permintaan isterinya karena sudah tidak mampu menahan.
"Jendela"
Ucap Subha kembali menciptakan rasa frustasi Ead. Bagaimana tidak, hampir saja ia menemui Subha, namun wanita ini kembali menyuruhnya menutup jendela.
Supaya tidak ada lagi pengganggu dan Subha tidak lagi menyuruhnya, Ead menutup tirai jendela sekalian, bahkan mematikan seluruh lampu dan terakhir, menerkam isterinya.
Sejenak Subha tertawa melihat respon suaminya yang tergesa-gesa, sebelum akhirnya Ead menubruk tubuhnya hingga terbaring dengan posisi tertimbun diatas ranjang.
Ead menjadikan kedua siku tangan sebagai penumpu tubuh kekarnya, supaya Subha tidak terlalu merasa keberatan saat berada dibawah. Sementara bibir mereka saling mengecap menyalurkan Saliva basah dari kedua rongga mulutnya.
Keduanya menikmati malam serta kesenangan mereka bersama-sama. Sejenak mereka melupakan masalah kecil yang mengganggu pikiran, dan akan kembali diingat esok hari.
Alarm jam 01:30 telah berdering, memberikan sinyal kepada wanita ini untuk melaksanakan sholat tahajud. Setelah pertempuran keduanya yang panjang, membuat Subha memilih untuk tidak tidur supaya tidak meninggalkan sholat tahajudnya.
Subha segera mematikan dering alarm yang berada diatas nakas supaya pria yang ketiduran di dekapannya ini tidak bangun. Ia ingin dirinya sendiri yang membangunkannya.
"Ead... Bangun.... Kita mandi terus sholat tahajud yuk" ajak Subha dengan suara lembut ditelinga suaminya.
Saat Ead tidak menjawab, saat itu pula Subha kembali ingat dengan permintaan Alham siang lalu. Mungkin jika ia mengajaknya sekarang, bisa dipastikan Ead menerima. Subha ingin mencoba.
"Ead..."
"Hm" jawabnya setengah sadar.
"Waktu itu saat kak Alham datang... Beliau mengatakan jika Umi dan juga Abi merindukan diriku. Bisakah kita berkunjung kesana, coba kita bersilaturahmi!"
Pelan-pelan Ead melepas dekapan isterinya dan menjauh, membuat Subha harus menutupi setengah tubuhnya yang tak memakai pakaian.
Subha memperbaiki duduknya, tangannya mengulur menyentuh bahu telanjang Ead. "Kita ke rumah Abi dan Umi besok pagi, ya?"
Ead sudah sepenuhnya sadar, namun ia masih belum mau menjawab. Sementara Subha tidak mempermasalahkan. Mungkin Ead membutuhkan waktu untuk berpikir, hingga Subha memilih bersiap untuk mandi wajib.
Sebelum Subha berhasil menjauh, Ead lebih dulu menahan tangannya. "Berikan satu alasan kenapa aku harus menemui kedua orang tuamu?"
"Pria yang sudah mengambil putrinya untuk dijadikan istri, sudah seharusnya pria itu melakukan silaturahmi dengan berkunjung dikediamannya"
"Apa mereka akan menerima diriku"
__ADS_1
"Tentu saja mereka menerimamu..." ucap Subha terlihat meyakinkan, walaupun sebenarnya ia tidak yakin dengan restu kedua orangtuanya.
Ead mengangguk percaya, "Baiklah. Besok kita ke rumah orangtuamu" Ead hendak kembali tidur, namun tidak jadi karena melihat Subha yang bangun. "Lalu kau mau kemana? Bukankah perginya besok?"
Subha terlampau bahagia, namun ia harus kembali kesal dengan perilaku suaminya ini. Sudah jelas tadi jika ia mengajaknya mandi serta sholat tahajud, namun ternyata waktu itu Ead masih belum sadar.
"Ayo sholat tahajud"
"Mandi dulu baru sholat tahajjud" bantah Ead membenarkan ucapan Subha, hingga raut kagum terlukis dibalik wajah isterinya. Akhirnya Ead memiliki kemajuan dalam beragama, walaupun perilakunya masih sama.
08:00
Pagi hari ini terasa sangat cerah. Awan biru membalut kediaman Zolanda yang terkenal akan Mansion hitam nan menyeramkan. Matahari menampakan sinarnya dengan begitu terbuka hingga memberikan semangat untuk para pekerja dalam mengerjakan tugasnya.
Jendela mansion di sebuah ruangan Nyonya pemilik Mansion ini telah terbuka, memperlihatkan kepada dunia dan seisinya bahwa hanya dia wanita paling bahagia di muka bumi ini. Bagaimana tidak? Untuk pertama kalinya ia akan memperkenalkan suaminya kepada seluruh anggota keluarga.
Saat ini wanita itu tengah bersiap didepan cermin, memastikan bahwa pakaian syar'i yang ia kenakan sesuai dengan kemeja yang suaminya pakai.
"Sepertinya bagus"
Subha memutar-mutar tubuhnya didepan cermin, sesekali ia juga memperbaiki cadar yang ada diwajahnya.
Subha nampak antusias ingin bertemu kembali dengan anggota keluarganya. Namun setelah sholat tahajud, Ead meminta ijin untuk ke ruang kerja menemui Roy dan juga Louis, namun sampai saat ini ia tidak kunjung kembali.
"Kenapa dia belum juga kembali ya? Aku akan mencoba bertanya kepada para pekerja"
Subha bergegas keluar kamar hingga turun melewati tangga. Dirinya mendatangi gadis yang saat ini sudah menjadi seorang siswi sekolah di wilayah Obra dan ini hari Minggu, sehingga gadis itu tidak sekolah.
"Amina..."
Amina menoleh, "Iya, Nyonya..."
"Kau lihat Tuan Dominic?"
Amina nampak berfikir sejenak, "Hemm kakakku Louis saja tidak pulang dari sore. Kemungkinan Tuan Dominic pergi bersama kak Louis dan kak Roy"
"Dia pergi?"
...To be continued...
...Kamu dimana? Dengan siapa? Saat ini berbuat apa?š¤...
...Bentar lagi Subha nyanyi kek gituš¤£...
__ADS_1
...Ayok vote, like, komen biar author nya tambah semangat bebsssš...