
Seketika Subha menghentikan kegiatannya, mendengar nada lirih dari mulut pria yang meminta penjelasan dari sikapnya.
Subha kembali menjawab dengan nada lirih tanpa melihat kearahnya, "Emang kamu salah apa?"
"Aku tidak tahu makanya aku bertanya kepadamu. Aku salah apa sampai respon mu seperti ini?"
"Yang ngerasa punya salah kan kamu. Kenapa tanya aku?" Lirih Subha kembali, masih setia dengan pandangan menunduk.
Ead menelan saliva dengan susah payah seraya mata bergerak ke kanan dan ke kiri. Rasanya ia gemas dengan jawaban menyebalkan istrinya, seakan tidak tahu jika ia sedang mengabaikan suaminya.
"Coba kau berhenti dengan alat makan itu. Aku tidak sedang menikahi pembantu" titah Ead saat kegiatan tidak berguna Subha membuatnya semakin jengkel.
"Berhenti... Subha"
Kali ini Ead mencoba menggunakan nada membentak, menghilangkan kesan lembut dari dalam dirinya. Namun Subha masih sibuk mengurusi alat makan didepannya.
"Subha, listen to me"
Srett
Karena tidak kunjung mendengarkan membuat Ead menarik tangan Subha hingga tubuhnya membentur dada bidang Ead. Tubuh keduanya menempel dengan pandangan Subha menatap wajah serius dari suaminya.
"Kenapa kau terus menunduk saat orang yang mengajakmu bicara ada disini? Kenapa juga kau terus membereskan alat makan seperti pelayan sementara aku tidak menikahimu untuk itu. Aku bertanya aku salah apa sampai perilakumu seperti ini?"
"Coba ingat dulu apa kamu merasa melakukan kesalahan? Jika iya coba perbaiki dan jika tidak merasa ya lupakan saja" jawab Subha lembut seraya mencoba melepas pergelangan tangannya dari cengkeraman kuat Ead.
"Tapi kalau kita tidak sadar tengah melakukan kesalahan, bukankah sepantasnya kau yang tahu untuk mengingatkan?"
Subha menghela nafasnya dalam-dalam, "Jika kamu menganggap ku istrimu maka tidak seharusnya kamu pulang pagi seperti ini. Kamu sudah memiliki seorang istri yang menunggu kabar darimu"
Deg
Ucapan yang Subha katakan dapat menyentuh hatinya. Hal yang membuatnya mengingat kepada seseorang, seorang gadis cerewet jika sudah menyangkut kabar darinya. Dia adalah adiknya.
Cengkeraman Ead memudar dengan tubuhnya memundur perlahan, membuat Subha yang melihatnya menjadi kebingungan.
Sebelumnya Ead sering pulang terlambat dan adiknya selalu marah nggak jelas, dan sering mengatakan hal demikian. Namun setelah adiknya menghilang, tidak ada lagi yang mengingatkan Ead hingga menjadi kebiasaan.
Ead tidak tahu jika hal itu juga menyakitkan untuk Subha hingga membuatnya rindu kepada adiknya, namun tidak dipungkiri ia suka perhatian Subha.
"Apa kau menghawatirkan diriku?"
"Tentu aku menghawatirkan dirimu. Terlepas dari kepribadian burukmu, kau tetaplah suamiku" lirih Subha membuat Ead suka. Ia sedang menghilangkan rasa rindu terhadap adiknya.
__ADS_1
"Jadi kau tidak suka aku seperti itu?"
"Siapa istri yang mau tanpa mendapat kabar dari suaminya? Istri manapun pasti akan membutuhkan kabar dari pasangannya, apalagi jika keduanya masih berstatus pengantin baru" lirih Subha di kalimat terakhirnya.
Ead mengerutkan dahinya, lalu menimang-nimang kembali perkataan Subha diakhir kalimat. Memang betul, seharusnya pengantin baru harus selalu bersama.
Srett
Setelah lama memikirkan, Ead pun segera mengangkat tubuh Subha dalam gendongannya, membuat Subha terkejut dengan perilaku mengerikan pria ini.
"Ka-kamu ngapain?"
"Kau benar, seharusnya pengantin baru melakukan sebagaimana wajarnya seorang pengantin baru. Kebetulan tubuhku sakit... pijati aku ya"
"Bu-bukan itu maksudnya" gugup Subha atas ucapan ambigu dari mulut Ead. Ia pun memukul pelan dada Ead serta kaki menendang-nendang udara karena rasa canggung melanda.
Subha merasa sangat takut jika Ead melakukan sesuatu yang mengerikan, terlebih mimik wajahnya menandakan jika ia sedang haus akan belaian. Gadis mana yang tidak takut?
Tanpa banyak bicara Ead membawa tubuh Subha menaiki tangga menuju lantai dua kamar mereka, meninggalkan para pelayan yang sedari lama memperhatikan keduanya.
Mereka semua tersenyum malu sekaligus senang melihat perilaku Ead yang kembali berwarna dengan kehadiran Subha.
____
Sesampainya di dalam kamar. Ead segera menurunkan tubuh Subha dari gendongannya atau wanita ini akan mengomel dan memberontak minta dilepaskan.
Subha sadar jika segalanya sudah sah untuk Ead lakukan namun ia masih takut melakukan hal itu disaat usianya baru 22 tahun. Apalagi Ead merupakan pria pertama yang dekat dengannya.
"Kau mau kemana?" Tanya Ead saat melihat Subha terus berjalan mundur.
"Hemmm, Aku... Aku... Jujur saja, aku tidak pernah dekat ataupun berduaan dengan pria manapun, bahkan kami selalu menundukkan pandangan saat bertemu. Kamu adalah orang pertama yang melakukan semuanya"
"Benarkah?"
Ia pun menghentikan laju kakinya supaya wanita ini tidak lagi merasa canggung. Ead hargai segala sifat yang selalu ia lihat dalam diri istrinya.
Yah, menikah dengan status perkenalan yang singkat harus membutuhkan pemahaman yang baik. Keduanya harus beradaptasi untuk menjadi saling memahami satu sama lain.
"Hem, apa kau merasa canggung jika aku mendekatimu?"
"Iya... Sedikit" jawab Subha masih menundukkan kepala, membenarkan dugaan Eadwarl.
"Saat aku menggendongmu tadi?"
__ADS_1
"Iya"
"Kenapa kau tidak memberontak?"
"Bagaimana aku bisa memberontak jika segalanya sah untuk kau lakukan"
ucap Subha membuat Ead menghela nafasnya dalam-dalam. Merasa kurang nyaman jika Subha terus melakukan apa saja karena kata sah. Sungguh bukan itu yang Ead inginkan.
Merasa kurang nyaman jika Subha terus melakukan apa saja karena kata sah. Sungguh bukan itu yang Ead inginkan.
Ead memikirkan cara supaya dapat mendekati Subha tanpa membuat istrinya tidak nyaman. Ia ingin membuat keberadaannya membekas serta nyaman untuk Subha.
"Apa aku boleh mendekatimu? Jika kau mengatakan tidak boleh maka aku juga tidak akan memaksa"
"Iya. Aku memang melakukannya karena kata sah, namun rasa canggung itu akan hilang saat keduanya sudah terbiasa"
Setelah mendapat persetujuan Subha, pria ini segera melangkahkan kakinya mendekat tepat didepan wajah Isterinya. Namun pandangan Subha masih saja kebawah.
Pelan-pelan... Ead menyentuh kedua bahu Subha, "Jangan lakukan apapun hanya karena kata sah, lakukan apapun yang kau suka dan membuatmu nyaman. Aku menghargai itu... Kau merasa canggung, aku akan menghentikannya. It's ok"
"Aku tidak memaksa apapun jika kau tidak merasa nyaman" tambah Ead tersenyum.
Walaupun Ead sudah mengatakn demikian, tidak dipungkiri Subha akan dapat dengan mudah menerima. Subha merupakan wanita Sholehah, dan akan melakukan perintah Ead karena dia suaminya. Masalah mengenai kata canggung dan sebagainya, jujur ia memang canggung. Namun ia yakin jika perasaan itu dipaksa maka akan hilang dengan sendirinya.
Subha menegakkan wajahnya menghadap wajah tampan Ead. Lagi, lagi, dan lagi Subha terpesona oleh wajah tampan suaminya. Kedua ujung bibir Ead tertarik membetuk senyuman membuat Subha merasa agak canggung mendapati respon suaminya, namun tidak dipungkiri ia sangat suka.
Disaat Subha hanyut akan pandangan wajah suaminya, begitu pula dengan Ead yang hanyut akan wajah cantik Subha. Terdengar suara kuda meringkik dari bawah jendela kamar.
"Oh..." pekik Subha saat mendengar ringkikan tersebut.
Subha segera berlari kearah jendela dan membukanya lebar-lebar, karena suara kuda itu seakan memangilnya. Ia memang suka dengan kuda.
Sementara Ead, Ead harus kembali menahan segala dorongan dari alam bawah sadarnya. Ia juga harus menunggu waktu untuk merayu Subha lagi.
"Ini semua salah Mia"
...To be continued...
...Maaf ya aku baru update, ada kegiatan lain soalnya huhuhu tadi malem udah berusaha nyempetin up tapi yang namanya kehendak itu tidak ada yang tahu... ...
...Nanti aku usahain up lagi......
...lope yu...😘...
__ADS_1
...Tidak bermaksud menghina atau menjelekan pihak manapun, dimohon kerjasamanya....
...Jangan lupa vote......