Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 50 : Bahagianya, Ead Dulu!.


__ADS_3

Beberapa pasang mata para manusia yang ada di ruang tamu itu menoleh ke sumber suara. Mereka semua terkejut saat melihat Ead datang dengan keadaan seperti seorang berandal, bahkan para pelayan yang tadinya sibuk dengan pekerjaan kini penasaran ingin melihat pria yang datang tanpa salam tersebut.


Kedua kaki Ead terhenti tepat didepan pintu masuk, saat melihat tatapan sinis dari kedua mertuanya. Ead menjadi malu saat menyadari penampilannya yang tidak karuan seperti seorang yang tidak pernah mengurus diri.


Dengan ragu-ragu dan sedikit memperlihatkan senyum Umi bertanya, “Nak… kau siapa?”


Mata Ead melihat kearah Subha, berharap wanita itu memperkenalkan dirinya. Tidak dipungkiri wanita itu juga terkejut melihat dirinya berpenampilan seperti itu, mengingat jika semenjak Eat menikah dengannya, Subha tidak pernah melihat Ead penampilan Ead yang buruk.


Subha merasa malu ingin mengakui bahwa Ead suaminya, namun bagaimanapun dia itu suaminya. Apapun yang terjadi janji Subha untuk menjadi istri setia harus ia penuhi. Terlebih, Ead sudah berusaha untuk menepati janjinya.


“Dia… dia suami Subha, Umi”


Ucap Subha tidak menyangka mampu menyakiti hati Umi dan juga Abi, bahkan para pelayan yang mendengar pengakuan itu merasa amat terkejut.


“Su-suami?”


“Iya Umi…beliau suami Subha” ucap Subha mengakuinya sekali lagi.


Ead bingung harus memberikan respon seperti apa, karena ini kali pertama dirinya berhadapan dengan orang tua secara formal. Dia ingin tersenyum, namun tidak pernah sekalipun ia memperlihatkan senyumnya. Agak aneh.


Melihat respon kedua orang tuanya yang agak kurang suka, membuat Subha segera mendatangi Ead. Dia ingin memperbaiki penampilan Ead yang berantakan. Subha berlari kecil menghampiri suaminya, dan pria itu nampak memberikan senyum kecil.


Ead tersenyum mengetahuinya, “Kau lihat aku datang kan… aku tidak pernah mengingkari setiap ucapan yang sudah aku keluarkan. Kau pasti hampir jantungan karena aku tidak datang”


“Iya memang aku hampir jantungan. Aku melihat suamiku datang dengan penampilan seperti ini… dan tanpa mengucap salam kepada kedua orang tuaku” tutur Subha membenarkan kerah Ead. Nada suaranya terdengar lirih, takutnya banyak orang yang mendengar.


“Aku terburu-buru datang kemari, jadi belum sempat mandi”


“Pekerjaan apa yang sedang kau lakukan sampai keadaanmu seperti ini?” tanya Subha membersihkan noda tanah di sekitar pelipis Ead dengan kain cadarnya.


Ead tidak menjawab pertanyaan isterinya. Ia masih enggan untuk menyangkutkan Subha kedalam kehidupan pahit yang selalu meemburu nyawanya.


Para pasang mata di ruangan itu masih tidak bisa lepas dari sepasang suami istri tersebut. Terlebih Umi dan juga Abi yang menunggu Subha dan Ead untuk menyelesaikan obrolan dan menyapa mereka.


Setelah selesai, Subha menggandeng tangan Ead menemui kedua orang tuanya, “Abi… Umi… ini suami Subha, Eadwarl, Ead ini kedua orang tuaku, Abi dan Umi”


“Assalamualaikum”


“Walaikumsalam” jawab kedua orang tua Subha secara serentak.


“Kecup tangan nya” bisik Subha menyenggol-nyenggol tangan Ead, memberikan kode untuk dia segera mengecup tangan kedua orang tuanya.


Ead segera mengecup telapak tangan dari pria dan wanita baya didepannya. Namun kedua orang tua Subha sudah terlanjur menilai buruk sikap Ead.


Semua itu tidak membuat Abi kehilangan rasa hormat. Iapun segera mengalihkan suasana hening ini menjadi kembali hidup. “Silahkan duduk, Nak Ead”


“Kau tidak perlu menggunakan kata Nak sebelum namaku. Kau bisa memanggilku Ead atau apapun sesukamu. Santai saja”


Ucap Ead dengan wajah polosnya, tanpa merasakan apa-apa. menurutnya tidak ada kata sopan saat berbicara. Entah itu kepada orang yang lebih muda maupun lebih tua.


Abi terlihat mengulum senyum biasa, namun yakin ia menyembunyikan rasa tidak Sukanya. “Mari… silahkan duduk”

__ADS_1


Ead menerima perilaku sopan Abi Rahman kepadanya. Iapun segera menuju ruang tamu dan duduk berhadapan dengan Abi Rahman, walaupun terdapat meja sebagai skat mereka.


Sementara Subha dan Umi Ryverlin, keduanya memilih berdiri sebagai bentuk menghormati mereka yang sedang berbicara berdua.


“Hannah, tolong ambilkan minum untuk Nak Ead”


“Baik, Umi”


Jawab Hannah akan perintah Umi, membuat Hannah harus segera ke dapur untuk menyiapkan minum mereka.


Kembali ke Abi dan Ead. Keduanya memulai pembicaraan. Dimulai dari Abi yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai seluk beluk kehidupan Ead. Ia ingin tahu seperti apa pria yang menikahi putrinya.


“Sepertinya Nak Ead ini bukan warga asli Kazakhstan ya!”


“Bukan. Aku pria Italia yang melakukan bisnis di negara ini”


Jawab Ead. Sejenak ia melirik minuman yang telah dibawa oleh salah satu pelayan mereka. Rasanya kerongkongan Ead kering ingin diberi cairan, mengingat jika dirinya belum meminum apa-apa.


“Masyaallah… rupanya Nak Eadwarld seorang pengusaha, betul?”


“Kurang lebih seperti itu”


Srett


Glek


Ead mengambil satu gelas berisi minuman tersebut dan meneguknya tandas. Tanpa menunggu Abi Rahman yang memulai, Ead sudah memulainya terlebih dahulu, karena dia benar-benar haus. Masa bodoh dengan respon mereka.


“Tidak masalah… inilah bentuk memuliakan seorang tamu. Tamu itu adalah raja, dan kita harus menghormati tamu layaknya seorang raja. Begitulah yang telah Rasulallah SAW ajarkan kepada umatnya”


Ead merasa familiar dengan nama yang Abi Rahman ucapkan tadi, “Tunggu… waktu itu Subha juga mengucapkan nama itu. Apa tadi… Rasulallah?”


Seketika kedua orang tua Subha melihat kearah mereka, membenarkan dugaan mereka yang terpendam sedari lama. Dari itu Umi dan Abi menyadari jika suami yang Subha nikahi bukanlah pria yang paham dengan agama.


Abi merespon dengan senyuman, “Rasulallah itu merupakan seorang


“Oh aku ingat. Subha sudah menceritakannya kepadaku…”


“Hemm iya, iya” jawab Abi mengangguk menerima.


Abi Rahman meraih segelas minuman yang terletak diatas meja. Ia membutuhkan banyak sekali cairan untuk menguatkan hati dan juga pikiran dalam menghadapi orang yang kurang disukainya. Setelah itu keduanya kembali meneruskan percakapan.


“Nak Ead… kalau boleh Abi tahu. Dimana kedua orang tuamu, mengapa mereka tidak datang kemari untuk saling bersilaturahmi?”


Wajah Ead seketika berubah datar dengan tatapan mata yang menajam. Lirikan mata yang Ead perlihatkan saja sudah memberikan tanda tidak suka jika ada yang membahas mengenai keluarganya.


“Kenapa mencari kedua orang tuaku? Bukankah aku sudah ada disini untuk saling mengobrol denganmu, apa perlu mereka datang?”


“Oh bukan begitu Nak Ead. Tapi jika seandainya kedua orang tua datang, mungkin akan terasa lebih terasa serius lagi, mengingat jika inikan penyatuan dua keluarga” jawab Abi Rahman.


Namun Subha langsung menyela, “Abi, keluarga suam---”

__ADS_1


“Subha” potong Ead melirik kearahnya lalu berganti melihat kearah Abi Rahman yang seakan menunggu jawaban darinya. “Aku heran mengapa setiap orang membahas mengenai orang tua. Dimana orang tuamu, mereka sudah tiada atau belum, ibumu bagaimana, ayahmu bagaimana. Memangnya kalian akan melakukan apa ika sudah bertemu dengan mereka? Menurutku jika kau memang benar-benar ingin memiliki hubungan denganku, maka fokus mu hanya padaku… bukan kedua orang tuaku”


“Bukan begitu Nak… sepertinya kau sudah salah paham” tutur Abi Rahman merasa tidak enak hati.


Ead menyeringai kelam, “Tidak masalah. Karena banyak yang penasaran dengan keberadaan kedua orang tuaku. Maka aku akan ceritakan” melihat keberadaan Subha, “Kau pun pasti juga penasaran, kan”


Subha menggelengkan kepalanya menolak. Ia memang ingin tahu seluk beluk keluarga suaminya, namun disaat Ead benar-benar ridho menceritakannya, bukan dengan cara seperti ini. Ini hanya akan membuat luka di hati Ead.


“Beberapa tahun yang lalu….”


Flashback on


20 tahun yang lalu…


Italia, Roma


Waktu itu usia Ead 10 tahun. Seluruh Roma sedang membicarakan seorang pengusaha besar yang tengah naik daun secara tiba-tiba. Dimana sahamnya melonjak naik dibandingkan dengan para pengusaha lain.


Banyak sekali para warga Roma membicarakan mengenai melonjaknya saham perusahaan tersebut. Perusahaan yang mereka maksud merupakan milik keluarga Zolanda.


Kepala keluarga Zolanda kembali dari kantor. Para pelayan langsung berjejeran bersiap menyambut kedatangan tuan besar mereka.


“Selamat datang, Tuan”


“Selamat juga untuk kejayaan bisnis anda”


“Semoga perusahaan anda selalu masuk di jajaran perusahaan terbesar di dunia”


Sapaan, doa, mereka ucapkan untuk pria yang mereka puja. Derwin Zolanda. Darwin segera memberikan anggukan kepala sebagai tanda terima kasih. Lantas ia langsung memasuki rumah.


“Daddy”


Panggil bocah kecil itu dengan berlari kearah Derwin. Anak itu langsung meloncat ke pelukannya untuk memberikan rasa cinta.


“Ead… kau sudah besar. Nak”


“Tentu, Daddy” jawab Ead kecil sambil menampakan senyumnya.


“Dimana Mommy?”


“Honey”


Jawab wanita muda yang memiliki perut buncit itu. Wanita itu segera bergegas menemui suaminya yang sudah bekerja keras demi keluarganya. Meliona Zolanda.


Meli mengecup singkat bibir suaminya, lalu pelukan keduanya tercipta. Ead menutup matanya karena takut ternoda. Tidak berlangsung lama mereka segera melepasnya.


Mereka terlihat bagai keluarga yang harmonis. Kelihatannya..


...To be continued...


...Bantu Vote, like, komen dong bebs🤗...

__ADS_1


__ADS_2