
Bruk
Tubuh molek Leiska ambruk diatas ranjang sana kala pria murka memakai jubah itu melemparnya. Sungguh malam ini merupakan malam yang menyedihkan untuk Leiska.
Pria itu melepas jubah hitamnya, memperlihatkan kemeja hitam pula. Wajahnya masih tertutup olek topeng namun tetap menyermkan dan kejam.
Zlander mencengkeram dagu Leiska kuat, “Bagaimana bisa kau bersama dengan pria itu, mengapa kau bisa bertemu dengannya?”
“Ak-aku tidak sengaja bertemu”
Bruk
Zlander mendorongnya kembali. Ia bergegas mengambil beberapa kapas bekas noda darah yang ada ditempat sampah. Darah siapa kalau bukan milik Alham, terlebih Zlander melihat dahi Alham yang terluka tadi.
“Ini apa hah? Kau memasukannya kedalam kamarmu dan menidurkannya seperti seorang bayi?”
“Tolong Zlander jangan seperti anak kecil”
“Ohhh begitu!. Aku juga ingin menjadi anak kecil yang tidur dipangkuan mu, Leiska sayang” Zlander melepas topeng kekuasaannya. Wajahnya yang pas-pasan namun terlihat gagah dengan rahang tegasnya yang mengurat.
Dengan pelan Zlander merangkak hingga mengungkung tubuh Leiska.
Kedua tangan Leiska menahan dada Zlander, “Aku mohon Zlander pikiranku sedang kacau saat ini. Kau jangan menambah bebanku”
“Dari itu berbagilah denganku”
“Zlander jang---”
Bungkam pria itu dengan bibirnya. Sesekali Zlander menggigit bibir bawa Leiska kala wanita itu memberontak meminta dilepaskan.
“Zlander aku mohon” ucap Leiska tidak didengar oleh telinga tuli Zlander.
Pria ini mencengkeram kedua tangan Leiska keatas karena kedua tangan itu hanya mengganggu aksinya saja. Lantas bibir Zlander menciumi bibir, leher hingga turun diarea sensitifnya. Terlebih diarea dua bukit kembar itu, semakin harinya terlihat semakin menggoda.
“Leiska sayanggg” sebut Zlander sebelum akhirnya pria itu mabuk oleh setiap suguhan dari sang wanita itu berikan.
Zlander mengelus paha bagian luar menuju dalam hingga mengobrak-abrik kesadaran pasangannya. Namun sejenak, Leiska merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Entah mengapa dia mulai menerima.
Lagian siapa sih yang menolak, kalau udah terlanjur huhuhu
Namun yakin jika wanita ini sadar, maka ia akan menangis darah karena kesekian kalinya ia memberikan kehormatannya untuk seorang pria yang sama sekali tidak ia cinta, tidak juga suaminya.
05:10
Pagi hari ini di ruangan yang menjadi penyatuan dua manusia tanpa rasa cinta. Dengan kain baju berserakan dimana-mana, benda-benda keras yang awalnya tertata rapi kini berhamburan. Suara tangis wanita dibalik selimut itu menyuarakan tanda sesal serta kekecewaan yang tinggi.
Berbeda dengan si wanita, justru sip ria nampak bahagia saat dirinya kembali mendapatkan apa yang ia inginkan. Tubuhnya sudah terasa bugar dan bersiap untuk melanjutkan misinya.
Sebelum itu, ia ingin menyapa sang pasangan terlebih dahulu. “Kau tidak perlu menangis lagi. Kau tahu Leiska… baru kali ini aku melihat kau mulai menikmatinya”
Bugh
Satu bantal hampir mengenai wajah Zlander jika pria ini tidak menangkapnya. Bersamaan dengan itu wajah kecewa Leiska terlihat.
“Tutup saja mulut mu itu, Zlander. Melihat wajahmu membuatku semakin muak”
Zlander mencengkeram kuat dagu Leiska, “Kau masih merasa pantas untuk Alham? Jika kau bilang Widia tidak pantas dengannya, kaupun sama. Jadi Leiska, berhenti mengejar Alham dan menikahlah denganku”
__ADS_1
“Aku tidak sudi menikah denganmu… lebih baik aku mati”
Penolakan Leiska membuat amarah Zlander memuncak. Gertakan giginya menguat serta rahang tegasnya yang mengurat, bahkan cengkeraman tangan Zlander semakin kuat. Semua terlihat menyeramkan bagi Leiska.
“Wanita murahan”
Bruk
Zlander mendorong Leiska ke atas ranjang lalu mengambil kunci mobilnya yang ada diatas meja. Ia meninggalkan Leiska sendirian disana. Membiarkan Leiska bersama dengan amarahnya.
_____
Di tempat lain…
Pagi buta seperti ini harus menjadi awal penyerangan suatu kelompok mafia dari Italia. Mereka sudah siap dengan penyerangan mereka, hanya menunggu pria tidak kompeten dan susah untuk diajak kerja sama.
Ead keluar dari mobil, “Dimana Roy sebenarnya, Louis? Apa dia bilang akan datang dan ikut melakukan misi ini?”
“Tentu saja. Roy berkata ingin ikut andil dalam misi ini. Mohon tunggu sebentar Tuan, kemungkinan Roy ada keperluan lain” jawab Louis merasa tidak enak dengan Ead.
“Aku sudah memintanya untuk menginap di mansion, tapi malah memilih di hotel. Dia itu bodoh atau ingin menghamburkan uang. Kalau uangnya habis baru menyalahkan diriku, katanya ‘Gajiku sedikit’ dasar pria tidak pernah bersyukur” cerocos Ead tanpa ekspresi.
Tin Tin
Mobil hitam sport itu terhenti dengan gradasi yang begitu indah dengan liukan membundar. Terlihat sangat keren. Hal itu langsung menarik perhatian Ead, terlebih mobil itu berhenti tepat didepannya.
“Hallo Mr Zolanda. Mau mencari tumpangan?”
“Berhenti main-main dan keluarlah atau aku akan menghancurkan mobilmu” ancam Ead santai dengan kedua tangan dimasing-masing saku celana.
“Langsung ke tempat Ayel lesi”
Ead tidak mau dengar alasan Roy, semua sudah biasa. Ia berjalan mendahului para pasukannya didepan, menjadi pemimpin yang siap dalam hal keputusan. Memperlihatkan kepda dunia bahwa hanya dia seorang penguasa dimasa depan.
Ayel Lesi
Beberapa minggu ini tempat Ayel Lesi selalu menjadi tempat terfaforit bagi setiap turis yang ada di Kazakhtan. Ayel Lesi memberikan apapun yang kliennya berikan. Hal itu menjadi point utama dalam menaikan bisnisnya. Di pimpin oleh seorang wanita dewasa yang sudah sangat matang serta memiliki keberanian yang tinggi.
Diran Ayel Lesi, wanita ini terlihat semakin cantik setiap harinya. Wanita ini mampu menebarkan aura kecantikan dengan satu kedipan saja. Begitu menggoda.
Mata menawan Diran melihat kearah pintu, terlihat para pasukan Ead sudah sampai disana. Diran merasa heran dengan kedatangan pria itu lagi. Apa wanita itu masih kurang? Pikirnya.
“Welcome” Diran tersenyum merayu seraya memberikan satu botol wine kepadanya, “Aku tidak menyangka dapat melihatmu ditempatku lagi. Ku pikir kau merupakan pria yang setia”
“Aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu. Jika jawabanmu tidak sesuai, maka salah satu anggotaku akan maju”
“Minumlah sebagai tanda terima” Diran menyisyaratkan benda yang ada ditangannya, dan dengan mudah Ead mengambilnya.
Tanpa membuka ataupun meminumnya Ead duduk diatas sofa, diikuti Diran duduk didepannya. Wanita itu menyilangkan kedua kakinya seraya melihat Ead.
“Ayel Lesi. Tempat yang penuh dengan pengabulan”
“Yes this true” jawab Diran terlihat senaang.
“Apa pria bertopeng bernama Zlander pernah datang kemari?”
“Tidak”
__ADS_1
“Satu”
Dorr
Salah satu wanita murahan itu tumbang menyuarakan histeris orang-orang yang melihatnya. Mata Diran membelalak melihat salah satu anggotanya tumbang bersimba darah diatas lantai.
“Maaf… mengapa kau menggunakan senjata di tempat Ayel Lesi hingga menghilangkan nyawa anggotaku? Itu merupakan sesuatu yang melanggar”
“Mungkin kau sudah tahu jawabannya. Diran… waktu itu aku juga datang kemari, mencari seseorang, namun kau malah memberikan Subha kepadaku!”
Tubuh Diran gemetaran jika memikirkan kejadian lama itu. “Mungkinkah bukan dia yang kau cari?”
“Menurutmu! Aku bukan sedang mencari wanita cantik sehingga kau memberikan Subha kepadaku. Yang kucari adalah wanita Italia dengan pria bertopeng”
Mulut Diran terbuka seraya menyadari kesalahannya.
“Jadi, apa kau melihat pria bertopeng dan wanita Italia? Kau bisa menjawab salah satunya!”
Diran mencoba mempertimbangkan kembali. Ia merasa bingung dengan keputusannya sendiri, bagaimana jika itu berpengaruh terhadap bisnisnya kali ini?
“Ayel Lesi tidak memiliki urusan dengan mereka semua”
“Lalu?”
“Kami tidak tahu!”
Ead menodongkan pistol yang ada disaku jasnya kearah dahi Diran, “Bukankah aku sudah memberimu sebuah pilihan, namun kau tidak memilih diantaranya. Jadi keputusanmu, mati?”
“Bagaiamana aku bisa menjawab iya jika nyatanya tidak. Lagipula aku tidak tahu siapa wanita yang sedang kau cari itu dan, pria bertopeng? Cih”
“Leiska”
Sejenak otak Diran kembali ke masa lalu. Dimana keberadaan Leiska selalu membuat dirinya naik pitam. Wanita Italia yang menjengkelkan.
“Kau pasti tahu siapa itu Leiska. Wanita Italia berambut ikal dengan kulit putih dan juga cantik”
“Aku juga tidak tahu”
“Jangan bohong” Ead mendekat menempelkan ujung pistol di dahi wanita itu. Matanya yang memerah menandakan jika dirinya tidak sedang main-main. “Aku akan membakar tempat ini jika kau berani berbohong denganku”
“Wanita itu hanya titipan. Ia akan pergi jika pemiliknya sudah kembali”
“Titipan? Maksudmu, Zlander menitipkannya?”
“Mungkin” jawab Diran secara asal. Ia hanya tidak mau kehilangan salah satu anggota Ayel Lesi lagi.
Ead menjauhkan pistol itu dari dahi Diran. Matanya beregerak kekanan dan ke kiri. Ia sedang berpikir. ‘Mungkinkah seseorang yang membawa Subha itu merupakan orang yang sama?’
Akhirnya Ead beranjak dari duduknya, bersiap-siap untuk meninggalkan tempat ini. “Congratulation” ucap pria itu sebelum akhirnya melenggang pergi.
Diran pun menjadi lega. Namun rupanya Ead berhenti diambang pintu, wajahnya nampak memperlihatkan seringaian menyeramkan hingga perintahpun ia keluarkan.
“Bakar tempat ini”
...To be continued...
...Haii semoga kalian sehat selalu bebsss 😘 tetap dukung terus ya, dikasih vote, like, komen, hadiah hehehe biar author jadi tambah semangat buat up!!! Maaf waktu itu aku bolong up karena emang lagi nggak sempet🙏...
__ADS_1