Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 9 : Ular Bermuka Dua!.


__ADS_3

Ting


Ponsel wanita dengan dress minim serta make up menor di dalam mobil itu berdering memberikan sinyal notifikasi pesan untuknya, meminta ia untuk menyegerakan perintah wanita ular yang tengah bermanja dengan sang kekasih .


"Go"


Para pria berbadan besar serta setelan hitam langsung melaksanakan perintah atasannya. Sementara wanita itu menampakan ringaian manja di bibir merahnya.


Para pria bersetelan hitam sudah keluar menggunakan kaca mata hitam supaya tidak dikenal, mereka berjalan bersama-sama kearah wanita yang sedang melakukan panggilan telpon di pinggir jurang seraya tangan kiri memegang besi pengaman. Agar aman!.


Gadis yang sudah diincar oleh para pria bersetelan hitam itu adalah Subha, gadis ber niqab yang memiliki hati sebaik Uminya.


"Iya Fahima, kemungkinan malam nanti aku akan sampai rumah dan segera meneruskan tugas kuliahku. Kau seperti tidak tahu diriku saja,"


"Iya... Gadis pemalas,"


Subha tertawa dibalik cadar navy yang di pakainya saat mendengar ejekan Fahima. Pandangannya mengarah ke sebuah gunung tinggi didepan sana, seakan larut hingga melupakan keadaan disekitarnya.


Srett


"Hmpttt"


Seketika penglihatan Subha menghitam, bukan ingin pingsan namun ia rasa seseorang memasukan wajahnya ke dalam karung yang sudah diberi asap bius sehingga Subha tidak sadarkan diri.


"Subha... Subha kau masih disitu kan? Sub--"


Suara Fahima masih terdengar sebelum akhirnya salah satu dari pria itu melempar telpon nya ke sungai, lalu membawa tubuh gadis yang sudah tidak sadarkan diri ini pergi memasuki mobil.


20 menit kemudian.


Sudah lama rasanya Alham dan Widia menghabiskan waktu membuat kenangan baru di tempat yang indah. Saat sudah bosan barulah dua manusia ini mencari keberadaan adiknya untuk mengajaknya makan bersama.


"Ayo kita panggil Subha, sepertinya dia masih ada di dalam pameran lukisan."


"Sepertinya,"


Widia acuh dan memilih sibuk dengan hasil fotonya di kamera seraya kaki mengikuti Alham menuju gedung pameran, tempat terakhir mereka meninggalkan Subha.


Keduanya sudah sampai di dalam gedung tersebut, namun sayangnya gadis ber niqab itu tidak ia tampaki keberadaannya, bahkan warna mencolok dari pakaiannya saja tidak ia lihat.


"Aku ingat meninggalkan Subha disini, kenapa gadis itu tidak ada?" Mata Alham liar mencari-cari.


"Pulang mungkin," Widia masih fokus dengan kamera yang menampilkan foto kedekatan dirinya dan sang kekasih, membuat wajah Widia berseri.


"Widia coba kau cari di sana, Subha suka lukisan misterius yang abstrak."


"Palingan juga pulang, Alham"


Widia menjauhkan kamera dari penglihatannya dengan perasaan kesal, pikirnya Alham mengganggu dirinya hanya karena Subha.


Alham tidak menggubris kekesalan yang Widia perlihatkan karena cemas memikirkan Subha. Iapun segera merogoh ponsel yang ada di saku jas hitamnya lalu menelpon seseorang disana. Sementara Widia kembali sibuk dengan kamera.

__ADS_1


Namun sayangnya Alham tidak mendapatkan jawaban saat ia menelpon ponsel Subha, no adiknya tiba-tiba tidak aktif. Tidak pernah sekalipun Subha mematikan ponselnya ataupun mengabaikan panggilan seseorang.


"No Subha tidak aktif. Dimana gadis itu," ujar Alham memperhatikan tempat sekitar. Perasaannya sudah semakin cemas, takutnya hal buruk terjadi adiknya.


"Aku akan coba menelpon rumah," Alham memanggil.


In call


"Assalamualaikum, apa Subha sudah pulang?" Suara cemas serta lantang Alham terdengar sampai ke telinga Umi Riverlyn yang baru saja selesai melaksanakan sholat dhuhur saat salah satu pekerja mengangkatnya.


"Walaikumsalam... Tuan muda Alham, Nona Subha belum pulang ke rumah!, Bukankah Nona Subha pergi bersama anda, Tuan."


Umi Riverlyn yang tak sengaja mendengar pembicaraan mereka langsung bergegas datang tanpa melepas mukenanya.


"Ada apa? Hannah"


"Anu Umi... Nona..."


"Sini biar aku yang bicara," Umi Riverlyn segera mengambil gagang telpon yang ada ditangan Hannah, karena gadis muda ini tidak bisa memberikan kejelasan.


"Assalamualaikum, Alham."


"Eh Umi... Walaikumsalam Umi" Alham menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal saat suara teduh Uminya malah terdengar.


"Alham, apa yang terjadi... Subha kenapa?"


"Emm, Umi tenang aja... Alham cuma mastiin kalo Subha di rumah aja kok"


"Subha kan pergi sama kamu" Nada suara Umi terdengar tegas, jika mungkin Alham lupa.


"Kok mungkin?"


Pertanyaan Umi membuat Alham meraup wajahnya frustasi memikirkan keberadaan adiknya saat ini, ditambah kepastian yang harus ia jawab kepada Umi Riverlyn.


"Iya... Mungkin Subha ada tugas kelompok mendadak di rumah Fahima. Alham akan coba menghubungi Fahima. Iya Umi?"


"Iya, coba kau hubungi Fahima atau perlu datang ke rumah Fahima. Umi takut terjadi sesuatu kepada Subha,"


"Iya umi, Alham tutup dulu telponnya... Assalamualaikum"


"Walaikumsalam" setelah itu Umi mendekatkan tasbih yang ada di genggaman tangannya kearah dada, supaya hati dan juga pikirannya tetap dalam keadaan tenang.


Sementara perasaan Alham saat ini menjadi tidak karuan. Ia mengetahui jika adiknya tidak dirumah, telpon mati. Semua itu bukanlah kebiasaan Subha, jelas-jelas Alham merasa khawatir.


Iapun kembali menelpon seseorang...


In call


"Assalamualaikum, Fahima..."


"Walaikumsalam salam, kak Alham."

__ADS_1


"Fahima... Subha ke rumah kamu?"


"Anu kak... Subha...."


Kening Alham berkerut mendengar nada suara Fahima yang terdengar cemas dan hampir menangis.


"Fahima... Coba kau tenanglah, apa yang terjadi?"


"Tadi Fahima sama Subha lagi telponan, dan dipertengahan panggilan. Subha nggak nyaut-nyaut, terus coba Fahima telpon lagi ponsel Subha... Ternyata ponselnya mati." Ujar Fahima menangis di seberang telpon.


"Subha nggak papa kan kak?" Tanya Fahima cemas.


"Gini Fahima, kakak juga nggak tahu Subha ada dimana? Kakak sudah coba telpon ke rumah barang kali Subha pulang, tapi orang rumah bilang Subha nggak ada."


"Kak, Fahima nggak tahu apa-apa. Terus Subha kemana?"


"Fahima tenang ya," Alham merendahkan nada bicaranya, supaya Fahima tidak merasa di intimidasi. "Kakak akan cari Subha, pasti ketemu kok... Fahima hanya perlu berdoa ya"


"Iya kak, semoga... Subha cepet ketemu ya kak"


"Amin. Kakak tutup dulu ya telponnya, Assalamualaikum." Tanpa menunggu jawaban Alham langsung menutup telponnya seraya mata beralih ke arah wanita yang sedari lama diam senyam-senyum dengan hasil foto mereka tanpa memikirkan Subha sekalipun.


Melihat itu membuat Alham kembali geram, "kau itu sedang apa? Widia."


"Fotonya ba---"


Srettt


Alham merampas kamera yang ingin Widia perlihatkan, membuat Widia memperhatikan raut wajah murka dari tunangannya.


"Apa sih?"


"Aku tahu kau membenci Subha, tapi jangan terlalu diperlihatkan lah... Hargai pria ini yang merupakan kakaknya," nada suara Alham membentak, menjadikan keduanya pusat perhatian banyak orang yang ada di sekitar.


"Kau itu kenapa?"


"Subha menghilang" ucap Alham menjauhkan kamera yang hampir Widia raih.


Widia termangu. Mendengar informasi itu sudah pasti bukan hal yang mengejutkan untuk Widia, karena ia tahu jika hal ini akan terjadi. Tapi ia harus terlihat terkejut supaya membuat Alham tidak curiga.


"Apa... Subha hilang? Astaghfirullah... Bagaimana gadis itu bisa hilang?"


"Jangan pura-pura,"


"Ya Allah, Alham. Teganya kau mengatakan itu kepadaku? Alham aku memang tidak begitu menyukai Subha tapi mengetahui Subha hilang? Sungguh Alham, bukan itu yang ku inginkan" Widia mengusap matanya yang kering tanpa air mata. Sedikit menoel bagian iris matanya supaya pedas dan mengeluarkan air mata palsu.


Alham memilih acuh menanggapi perilaku membingungkan dari Widia, jika dipikirkan hanya akan membuat dirinya pusing.


"Alham, ayo kita cari Subha di sebelah sana"


...To be continued...

__ADS_1


...Tidak bermaksud menghina atau menjelekan pihak manapun, dimohon kerjasamanya....


...Jangan lupa vote......


__ADS_2