Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 62 : Louis Terpesona


__ADS_3

Suasana terasa hening di rumah sakit ini. Terlihat jam dinding sudah menunjukan pukul 5 sore dan dirinya belum juga ada yang menemani. Pria yang sudah bangun dan duduk diatas brankar rumah sakit itu tidak melihat sama sekali orang memasuki ruangannya.


Pria itu hanya melihat lemas perawat yang selalu setia memastikan dirinya tetap dalam keadaan baik-baik saja. Begitu perhatian.


“Perawat… kenapa kau baik sekali kepada diriku?” tanya Alham mencoba melampiaskan rasa sepi dengan berkomunikasi bersama perawat yang sedang mengecek selang infusnya.


Dan perawat itu pun tertawa, “Apa maksud anda, Tuan?”


“Maksudku. Disaat tidak ada orang di ruangan ini. Kau masih mau menemani diriku, sepertinya kau wanita yang baik dan perhatian”


“Tuan, saya hanya bekerja disini. Bentuk perhatian saya semata-mata hanya untuk memastikan anda tetap aman. Lagipula keluarga anda yang menitipkan anda dengan saya”


“Sudah kuduga tidak ada yang perhatian denganku” gumam Alham merasa kecewa, “Lalu dimana keluargaku saat ini? Bagaimana bisa mereka menitipkan ku denganmu”


Perawat itu mencoba berpikir seraya melakukan pekerjaannya, “Hemm beliau mengatakan jika aka nada urusan mendadak. Kemungkinan sebentar lagi akan datang, karena itu sudah 4 jam yang lalu”


Alham menghela nafasnya kesal. Tidak lama mereka melihat seorang pria bertubuh kekar memasuki ruangan. Seketika itu wajah Alham mengeras menahan marah.


“Sedang apa kau kemari?” tanya Alham saat melihat Ead memasuki ruangannya seorang diri.


Perawat segera menjelaskan, “Tuan Alham. Beliau dan istrinya yang telah menitipkan anda. Sepertinya sudah kembali, kalau begitu saya permisi dahulu”


“Terimakasih”


Perawat itupun menyapa Ead namun sayangnya tidak dibalas. Tidak penting. Lebih baik Ead mempertanyakan semua kalimat yang mengganjal didalam hatinya. Memang, banyak sekali pertanyaan yang ingin Ead tanyakan setelah mendengar pengakuan Alham saat sadar waktu itu.


Ia berjalan pelan mendatangi Alham diatas brankar, “Luka di kepalamu tidak terlalu parah sampai kau tidak diperbolehkan untuk berpikir terlalu keras. Bagaimana bisa kau mendapatkan luka itu?”


“Dimana Subha?”


“Subha mencari makan diluar. Aku diminta untuk menemani dirimu. Lalu jawab pertanyaanku dimana kau mendapatkan luka itu?” tekan Ead sekali lagi.


Alham tidak terdengar suaranya, entah mungkin ia enggan untuk menjawabnya.


“Bagaimana kau bisa mendapatkan luka itu? Tempat apa yang kau datangi?”


Alham mengingat kata-kat Leiska waktu itu, dimana ia tidak diperbolehkan untuk memberitahu Ead mengenai keberadaannya. Namun Alham menjadi penasaran dengan maksud Leiska melarang dirinya.


“Bagaiman Leiska bisa hilang?”


Ead tertawa, “Jawab saja pertanyaanku dan jangan bertanya yang melantur. Apa… kau melihat Leiska disana?”


“Tidak. Aku salah memasuki tempat hingga bertemu dengan pasukan menyeramkan. Sepertinya mereka anggota dunia bawah”


Mata Ead menyipit, “Dimana tempatnya?”


“Aku lupa”


“Ayolahhh kau tidak terlalu bodoh sampai melupakan hal yang serius seperti itu. Jangan mencoba untuk menipu diriku, Alham. Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu” bantah Ead tidak terima.


Alham memperbaiki duduknya, “Aku sudah menjawab pertanyaanmu. Sekarang aku tanya alasan adikmu hilang. Bagaimana bisa itu terjadi?”


Ead menghela nafasnya kesal, bahkan rahangnya mengurat serta kepalaan tangannya yang menguat. Namun ia harus kenal tempat.


“Leiska ingin mengejar dirimu. Dia kabur dari Italia menuju Kazakhstan hanya untuk menemui dirimu. Lalu para pasukanku mencoba untuk menyusul namun mereka tidak menemukan adikku dimana-dimana. Sudah sekitar 1 tahun aku tidak mendapatkan kabar dari adikku” ucap Ead.


“Kau punya musuh tersembunyi? Atau seseorang menyukai Leiska secara diam-diam?”


Ead mencoba berpikir. Jika ditanya mengenai musuh pasti ia punya, karena seorang Mafia tidak pernah luput dari kata musuh. Pasti setiap mafia memilikinya, dan soal menyukai secara sembunyi-sembunyi…


“Ada”


“Siapa?”


“Kau… kau melakukan hubungan asmara secara sembunyi-sembunyi dengan adikku padahal kau sudah memiliki tunangan”


Alham berdecih kesal, “Bukan itu yang ku maksud. Ah sudahlah… bisa kau keluar sebentar atau mungkin berbalik badan? Aku ingin mengganti pakaian! Perawat itu meletakan seragam pasien secara diam-diam. Dia pasti menginginkan aku untuk menggantinya”

__ADS_1


Ead menolak dengan merebahkan tubuhnya diatas sofa, “Silahkan, lagian aku tidak berminat untuk melihat burung kecilmu”


Alham nampak kesal, “Apa? Burung kecil? Kau itu tidak pernah melihatnya jadi jaga bicaramu”


“Coba aku lihat. Aku ingin lihat seberapa pas burungmu itu. pasti kalah jika dibandingkan dengan milikku” balas Ead nampak santai mengejek Alham.


“Terserah!” Alham enggan meladeni pikiran kotor pria itu. Iapun bersiap melepas pakaiannya, “Kau berbalik. Aku tidak mau burungku dilihat oleh seorang pria, apalagi denganmu”


Ead hanya diam dan enggan melihat Alham berganti pakaian. Namun tiba-tiba Ead ingat jika ada kamar mandi di ruangan ini. Ia hendak memberitahunya.


Melihat Alham, “Heii disana ada---”


“Si*lan” umpat Alham terkejut saat Ead malah melihat dirinya belum memakai celana dan itu membuat Ead melihat aset berharganya.


“Waw” pekik Ead terpana.


Alham segera menyembunyikan barang berharganya. “Aku sudah memperingatkan dirimu untuk tidak melihatku. Kau itu memang suka melihat milik orang ya?”


“Aku ingin memberitahu jika ada kamar mandi di ruangan ini. Tapi ternyata kau sudah melepas semuanya”


“Telat” sesal Alham.


Bibir Ead masih nampak menyeringai jika mengingat kepunyaan Alham yang memang besar.


“Kau belum pernah menembak ya?”


Kening alham menyergit seraya memakai pakaiannya, “Menembak apa?”


“Menembak wanita”


“Pacaran maksudnya?”


“Menembak di ruangan yang hangat, dinding lembab dan lama-kelamaan lawanmu akan terbaring tak sadarkan diri” ucap Ead menjelaskan.


Sepertinya Alham tahu maksud dari pikiran kotor Ead, “Memangnya kenapa?”


“Milikmu masih pink”


Sementara itu seorang wanita yang berada diluar nampak bingung karena pintu ruangan kakaknya terkunci dari dalam. Ia sudah mencoba untuk mengetuknya namun tidak ada yang membukakan.


“Assalamualaikum. Kak Alham. Ead!!”


Teriak Subha dan kedua pria itu baru tersadar jika ada orang dibalik pintu sana. Setelah melihat Alham selesai memakai pakaian, Ead segera membuka pintunya.


“Walaikumsalam, sayang” jawab Ead mengambil semua makanan yang sudah isterinya beli.


“Kalian ada didalam? Kenapa salah satu dari kalian tidak menjawab panggilanku? Aku terus memanggil dari luar” kesal Subha memasuki ruangan.


“Kakak sedang memakai pakaian, Subha” jawab Alham, membuat Subha bergegas membantu kakaknya untuk kembali berbaring diatas brankar.


“Tidak apa-apa. Kakak harus lebih banyak istirahat ya!” ucap Subha.


______


Aspal kering nan panas itu menjadi alas pijakan seorang wanita berpakaian compang-camping. Tubuhnya yang tertatih memaksanya untuk melarikan diri sejauh mungkin dari para pasukan yang hendak menjadikannya sebagai hewan peliharaan.


Sebuah mobil sport tampak mengikutinya dari jauh. Pengemudi itu sudah siap menyeret wanita itu kedalam kandangnya jika mereka berhasil menangkap. Sangat disayangkan, jalanan yang kecil hampir memblokir akses perjalanan mereka.


Namun itu semua tidak membuat dua pria berkaca mata hitam itu terlihat kewalahan. Mereka yakin jika wanita itu akan tertangkap jika mereka sudah memutuskannya. Nyatanya, mereka terlihat biasa saat melihat wanita itu melewati pasar dengan jalan yang kecil.


“Wanita itu menyusahkan sekali. Lihat saja jika aku menangkapnya, tidak akan aku biarkan dia turun dari ranjang. Aku akan membelenggunya dengan sentuhan dari kelembutan tanganku” ucap Roy menghibur pria dingin disebelahnya.


“Jelas wanita itu kabur, rupanya karena dia tahu akan menjadi objek permainanmu” ucap Louis membawa mobilnya memasuki wilayah pasar yang sumpek.


“Louis, bukankah Diran itu cantik? Wajahnya yang sexy dan tubuhnya yang meliuk-liuk. Semuanya terasa pas jika aku yang menyentuhnya”


“Oh iya?”

__ADS_1


“Dia memiliki dua buah yang besar jika dibandingkan dengan wanita pada umumnya. Dia pemenangnya! Aku benar-benar ingin mengambilnya”


“Kau harus berhadapan dengan Tuan Ead terlebih dahulu” ucap Louis.


“Apa dia juga suka?”


“Bukan. Mungkin Tuan Ead akan menjadikannya sumber informasi”


“Oh begitu” Roy nampak mengangguk. Lalu menyadari jika laju kendaraan mobil ini sangat lambat. “Aku turun disini saja”


Roy yang tidak sabaran langsung membuka pintu dan segera turun dari mobilnya yang masih berjalan, walaupun pelan. Dengan kecepatan yang meninggi Roy mengejar wanita yang akan menjadi teman tidurnya.


“Dasar pria bermata keranjang”


Berbanding terbalik dengan Louis yang mengendari mobilnya dengan pelan, santai dan nyaman. Menikmati setiap wanita bercadar dan menyisakan mata indah yang berbinar.


“Sungguh menenangkan” lirih Louis tersenyum.


Kini Roy mengejar Diran yang sudah memasuki sebuah gang sempit yang sepi. Sesekali ia menghindar saat Diran yang sadar tengah dikejar itu melemparinya dengan tong agak besar.


“Where are you going, Baby”


“S*lan” umpat Diran di sela-sela larinya.


Bremm


Terlihat mobil audi berwarna merah hati keluar dari perempatan gang. Hal itu langung menarik perhatian kedua orang yang melihatnya. Mobil itu menyuarakan gradasi melingkar membelah pandangan Roy dan juga Diran.


Asap hitam menyembul dari bawah mobil. Mobil mewah yang terbuka di bagian atapnya, memperlihatkan samar-samar seorang wanita memakai kerudung hitam serta penutup diwajahnya. Hanya memperlihatkan mata tajamnya saja.


“Widia”


“Cepat masuk” titah Widia menatap intens pria yang terpukau ditengah jalan sana.


Diran langung memasuki mobil itu.


Bremmm


“Heiiiii”


Roy mencoba mengejar mobil itu, namun sayang ia kalah cepat. Tidak lama datanglah mobil sport milik Louis yang berhenti tepat disampingnya.


“Ayo masuk” titah Louis setelah membukakan pintu mobilnya untuk Roy.


Bremm


Louis langsung menginjak gas nya setelah Roy masuk. Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi hingga tidak peduli jik jalan yang mereka lalui itu berlubang dan mengakibatkan mobilnya melambung tinggi lalu turun dengan pendaratan yang hati-hati.


Dengan cepat Louis membanting stir ke kanan, mengikuti arah mobil Widia berjalan.


“Aaarkrk”


Cittttt


Hampir saja Louis membunuh seseorang dijalan itu. Beruntung ia segera menginjak remnya. Alhasil ia kehilangan mobil Widia.


“S*alan, siapa sih orang itu” kesal Roy mengumpati wanita yang ketakutan didepan mobilnya.


Sementara Louis bergegas keluar untuk memastikan jika keadaan wanita itu baik-baik saja. Ia menghampiri wanita berhijab itu.


“Maaf, kau baik-baik saja?”


Wajah gadis itu seketika terlihat, namun bukan takut melainkan marah. “Kau itu bisa naik mobil tidak sih? Sudah tahu jalanan ini milik umum masih bisa kebut-kebutan. Heiii Tuan kalau naik mobil itu hati-hati. Di dunia ini bukan hanya dirimu saja, terdapat ribuan makhluk Allah yang kapan-kapan bisa melewati tempat ini. Dasar pria kaya norak, bawa mobil aja kebut-kebutan, kayak nggak pernah naik mobil aja”


Cerocos gadis berhijab itu, namun Louis sama sekali tidak menjawab ataupun marah. Pria dingin ini hanya menatap tajam wajah gadis itu.


“Sempurna”

__ADS_1


...To be continued...


...Nihhh aku kasih kapal baru hehehe😘...


__ADS_2