
Lantas Ead berbisik di antara telinga kanan Louis dan telinga kiri Roy, "Siapkan buktinya supaya jam 6 aku benar-benar keluar"
"Kau tenang saja Ead. Yakinlah bahwa Jam 6 tepat nanti kau sudah berada diluar penjara, bahkan sekarang pun kau bisa keluar"
"Kalau begitu cepat keluarkan aku sekarang juga" tantang Ead kepada Roy, namun pria berambut keriting itu malah menyengir bangga.
Roy mengeluarkan satu berkas dari belakang tubuhnya, "Aku sudah rangkum semua riwayat kegiatanmu 1 Minggu kebelakang. Tentu, aku manipulasi" lirih Roy dikalimat terakhir.
Louis yang mendengar pengakuan pede Roy itu mengerutkan dahinya, "Kau? Bukankah kau hanya tidur tadi malam?"
Roy mengerjapkan kedua matanya mengingat-ingat saat dia tertidur di meja kerja. "Oh iya benar. Louis juga sudah bekerja keras"
Roy menepuk bangga bahu Louis supaya pria ini tidak tertinggal saat Ead hendak memberikan pujian. Namun Ead hanya mengalihkan matanya malas, enggan memberi apa-apa.
Pandangan Ead kembali tertuju kearah wanita bercadar hitam yang tiada henti menawari para polisi. Ia semakin kesal, sangat!!.
Saat Subha kembali sorot mata Ead menajam dengan kepalan tangan menguat di pinggang, bahkan nafasnya memburu. "Sudah selesai memperhatikan orang yang tidak dikenal?"
"Eh iya" refleks Subha sadar hingga terkekeh pelan lalu mengambilkan satu porsi makanan untuk suaminya. "Ini untukmu"
Dengan wajah yang murka Ead duduk tanpa mengambil makanan yang sudah Subha ambilkan. Subha tidak menanggapi serius respon Ead dengan meletakkan makanan itu diatas meja.
Tidak berselang lama seorang polisi wanita datang, "Atas nama Tuan Roy?"
Seketika wajah Roy terlihat sombong saat menggoyang-goyangkan satu berkas yang ada ditangan kanannya kearah Ead. Hal itu membuat jengkel Ead dan juga Louis, seperti ingin memukul kepalanya keras-keras.
Roy segera mengikuti kemana polisi itu pergi, diikuti Louis yang dibelakangnya. Mereka ingin mencoba membantah tuduhan yang sudah membuat Ead menjadi tahanan masa penyelidikan. Mereka berdua sudah berada di ruangan bersama dengan polisi wanita sebagai sateskrim serta polisi penjaga yang berdiri dibelakang Louis dan Roy.
Polisi wanita itu sedang sibuk membolak-balikkan berkas yang telah mereka berikan, mengaitkan bukti yang mereka bawa dengan bukti yang ada.
"Keduanya tidak memiliki persamaan. Bagaimana anda mendapatkan semua ini? Dan dimana pengacara anda?"
"Dia akan segera datang" jawab Roy santai.
"Mengenai perbedaan dari kedua bukti tersebut, tentu keduanya memiliki perbedaan jika tidak ada perbedaan maka bukan bantahan namanya. Tujuan kami mengirimkan riwayat kegiatan tertuduh karena semua yang anda punya tidak benar"
"Tidak benarnya bagaimana, bisa tolong jelaskan?" Tanya sateskrim atas ucapan Louis.
__ADS_1
"Dapat anda lihat dari riwayat kegiatan milik tertuduh jika tertuduh berada di tempat kerjanya saat pembunuhan itu berlangsung. Otomatis itu memang murni tuduhan" ucap Louis menguatkan bantahannya.
Sateskrim mengangguk paham. "Baiklah. Anda mengklaim jika bukti yang kami dapat itu tidak benar dan kebenaran ada di bukti yang anda bawa. Nah pertanyaannya, bagaimana anda membuktikan jika bukti yang anda punya itu benar?"
Suasana hening seketika menandakan jika Louis dan Roy kalah omongan. Biasanya jika mereka sudah memberikan bantahan maka Ead akan langsung dilepaskan. Namun berbeda dengan sekarang.
Roy membisik ke telinga Louis, "Bisa aku tutup mulutnya dengan isi rekeningku?"
Louis hanya melirik Roy tanda menolak. Rasanya kedua pria itu tidak sabar ingin menyumpal mulut wanita itu menggunakan segepok uang dolar. Namun itu akan membenarkan bukti yang Sateskrim punya, sementara Ead mewanti untuk menyabotase saja.
"Benar atau tidaknya itu anda yang melihat. Anda merasa jika bukti itu benar atau tidak?" tanya Roy agak kesal.
"Begini Tuan Roy. Saya sudah melihat kedua bukti, dan anda bersama rekan anda mengklaim jika bukti milik saya salah karena bukti-bukti yang anda bawa. Jadi masih dengan anda, bagaimana anda membuktikan bahwa bukti yang anda bawa itu benar supaya saya yakin jika milik anda itu merupakan kebenaran?"
Mungkin sateskrim itu tidak percaya karena bukti yang Louis dan Roy bawa itu berbentuk kertas dan bisa saja mereka memanipulasinya. Sateskrim membutuhkan bukti yang kuat untuk membebaskan Ead.
Sateskrim meraih satu berkas yang ada didalam tas, "Dan ternyata Tuan Ead sudah tersandung kasus yang sama 50 kali, benar? Tidak dipungkiri jika Tuan Ead melakukannya lagi!."
Louis pun mengangguk karena tidak punya pilihan lain. Namun berbeda dengan Roy yang terlihat tidak setuju dengan perkataan Sateskrim.
"Tapi yang saya maksud bukan anda melainkan Tuan saya. Orang pasti mengira bahwa Tuan saya melakukan hal itu karena dia sudah sering melakukan kejahatan, tapi sungguh... Tuan saya benar-benar berubah dan tidak melakukan kejahatan itu lagi"
Tutur Roy panjang lebar penuh penghayatan hingga membuat Sateskrim diam. Sementara Louis terpukau dengan pemahaman yang sudah Roy ucapkan, merasa beda dengan yang ia lihat selama ini.
"Encer juga otaknya" gumam Louis dengan omong kosong Roy. Walaupun itu semua kebohongan tapi Roy mampu membuat ucapannya nampak nyata.
"Jadi itu bisa menguatkan bukti-bukti yang saya bawa. Bukankah anda ingin sebuah bukti!" Roy tersenyum miring disertai dengan anggukan kepala penuh bangga.
Roy sudah kelewat batas sombongnya hingga mengedipkan satu matanya kepada Louis yang berdecih manahan rasa bangga. Akibatnya Sateskrim mempertimbangkan kembali kedua bukti yang sudah ada.
17:20
Seperti yang sudah Subha katakan kepada para pekerjanya jika ia akan membelikan pakaian baru untuk mereka sebelum Ead kembali. Kini Subha benar-benar membelikan pakaian untuk para pekerjanya.
Setelah dari kantor polisi, Subha mampir ke sebuah toko terlebih dahulu. Ia memborong pakaian untuk para pekerja, dan membawanya pulang dibantu oleh bodyguard suaminya.
"Assalamu'alaikum" ucap Subha memberi salam saat dirinya sudah memasuki Mansion. Para bodyguard ikut dibelakang mereka.
__ADS_1
Sementara para pelayan wanita segera membantu Nyonya Zolanda dengan ikut membawa barang belanjaan yang sudah dibelinya. Membawanya menuju sofa.
Salah satu pelayan terkejut tapi tidak dipungkiri ia bahagia, "Astaga, Nyonya ini"
"Bukankah pelayan disini banyak? Jadi aku membelikan banyak baju untuk kalian semua. Coba kalian ambil sesuai ukuran kalian dan segera pakai"
"Benarkah Nyonya? Tidak masalah?"
Subha menganggukan kepalanya, "Memangnya aku ada penolakan? Ayo ambilah" pinta Subha membuka satu-satu setel baju yang ada masih terbungkus.
"Terimakasih, Nyonya"
"Sama-sama"
Para pelayan bergegas mengambil pakaian sesuai ukuran mereka. Mereka terlihat sangat bahagia saat mendapatkan pakaian baru dari atasannya. Rasanya mereka sangat bersyukur mendapatkan atasan seperti Subha.
"Nyonya Zolanda baik ya... Aku pikir dia wanita yang angkuh dan pendiam, ternyata dia sangat hangat kepada kita"
Desas desus dari pelayan remaja yang terdengar memuji Subha, membuat wanita yang mereka maksud menjadi malu. Setelah memuji Subha habis-habisan mereka bergegas membuka pakaian yang sudah mereka bawa. Masing-masing membawa satu.
Subha menjadi penasaran dengan gadis remaja yang memujinya itu, "Siapa namanya?"
"Amina Nyonya" jawab salah satu pelayan yang dekat dengan Subha.
Lantas Subha mengulum senyum bahagia. Gadis sedini dia mau bekerja menjadi pelayan, tentu itu menarik perhatian Subha."Manis"
Saat mereka membukanya, mereka membentangkan pakaian yang sudah dipilih untuk ia lihat bentuknya. Penuh dengan rasa semangat serta bahagia.
Hingga pakaian mereka satu-persatu terbentang, memperlihatkan pakaian dengan lengan dan bawahan yang panjang. Pakaian itu sangat mirip dengan style yang telah Subha pakai.
"Syar'i?" pekik salah satu pelayan yang terkejut dengan pakaian yang sudah ia pilih, lantas ia segera menutup mulutnya.
...To be continued...
...Maaf ya kalau seandainya ada kesalahanš...
...Oh iya. Kalian nggak ada niatan mau komen? Gimana nopel ku?š...
__ADS_1