
Apa gerangan yang menjadikan dirimu datang kemari, nak?” tanya Fairuz dengan lembut.
“Ingin naik kuda” dengan antusiasnya Subha menjawab.
Padahal Ead hendak menjawab, bahkan mulutnya sudah membuka namun suara Subha menyela ucapannya. Ead pun merasa heran dengan keinginan isterinya ini. Sebenarnya mau naik kuda atau menjemput bayi Mia?.
Kepala Subha menengadah melihat wajah suaminya, serta mata berkilau tercipta. “Naik kuda dulu ya”
“Tidak naik kuda. Kedatangan kami kesini untuk mengambil bayi kuda betina yang beberapa minggu lalu ku ambil, lalu kembali pulang.” ucap Ead menolak, bahkan pandangannya ia alihkan dari wajah Subha supaya tidak melihat isterinya.
Namun Subha langsung melihat kearah lapangan, memilih kuda yang hendak ditunggangi. “Yang ada disana Tuan…” Subha menunjuk kuda jantan yang gagah besar. “Aku akan naik itu”
Seketika Ead menoleh kearah dimana wanita itu menunjuk. Ya memang kuda yang Subha maksud terlihat snagat kekar dan gagah, namun Ead sedang malas hari ini. Sementara Fairuz segera mendekat, ingin melihat kuda yang dimaksud Subha.
“Wahhhh itu bagus” puji Fairus bertepuk tangan, memuji pilihan Subha. “Aku akan meminta orang untuk mengambilnya”
Ead langsung menyela, “Tuan Fairuz… ambilkan bayi kuda betinaku dan aku akan langsung pulang saja. Jika dia ingin menaiki kuda maka biarkan saja. Aku ingin pulang”
“Astagfiruallah… keras kepalanya” pekik Subha tidak didengar oleh Ead. “Ya sudah aku ambil satu kuda jantan untuk ku tunggangi di rumah ya”
Ead mendengus kesal, kesabarannya sudah hampir habis, rasanya ia jengkel, kesal, namun ia tidak ingin memarahi Subha lagi. Tapi jika tidak diberi ijin maka wanita ini akan terus meminta dengan alasan yang berbeda.
“Kau itu plinplan sekali! Padahal tadi kau yang merengek minta untuk membawa anak Mia. Sekarang apa kau sudah lupa dengan tujuan kita datang kemari? Sudah bosankah dirimu dengan kuda betina di rumah? Apa kita biarkan dia mati saja?” ucap Ead menakut-nakuti Subha.
Subha menelan ludahnya kasar serta matanya mengerjap ketakutan. Ia menjadi sadar jika ada Mia yang sedang menunggu dirumah. Entah mengapa dia menjadi egois akhir-akhir ini dan keinginannya harus segera dituruti.
“Eh iya bener” alhasil Subha mempertimbangkan lagi keputusannya yang ingin menunggangi kuda. “Bisakah kita naik kuda sebentar? Lalu kita ambil bayi Mia!”
“Menunggang kuda atau mengambil bayi Mia? Kau hanya boleh memilih satu opsi?”
“Keduanya!. Itukan hanya satu opsi” Subha menjawab dengan memperlihatkan jari telunjuknya, membuat Ead gemas ingin meremas wajah wanita ini, terlebih mata biru berkilau itu seakan menghipnotis dirinya.
Tawar menawar mereka disaksikan oleh seorang pria berjanggut tebal yang sedari lama menunggu keputusan mereka. Ia terlihat senang saat melihat interaksi keduanya.
“Sekali saja”
Subha memperlihatkan jari telunjuknya ke wajah Ead, memohon untuk diam au memberinya kesempatan menunggangi kuda. Menunggang kuda adalah hal favorit bagi dirinya.
"Sudah ku bilang, Tidak!!!" tekan Ead sekali lagi. Ia benar-benar tidak mau menuruti kemauan Subha. "Ayo Tuan Fairuz. Antarkan aku ke bayi kuda itu, supaya cepat selesai dan aku bisa kembali bekerja"
__ADS_1
"Baiklah"
Dengan terpaksa Fairuz mau mengantarkan Ead untuk melihat bayi kuda betina yang pernah ia bawa pulang. Sementara Subha hanya diam dengan pandangan setia kearah kuda.
"Sayang sekali kesempatan menunggang kuda tidak bisa ku rasakan lagi"
Tutur Subha mengikuti Fairuz beserta Ead yang sudah hampir memasuki kandang. Sangat disayangkan, membuat Subha selalu mencuri-curi pandang kearah lapang disaat ia berjalan mengikuti mereka berdua.
_______
Sesampainya di kandang, mereka dapat melihat banyak sekali anak kuda lengkap dengan induknya. Salah satu anak kuda yang Ead maksud sedang menyusu kepada kuda betina lain, berbagi minum dengan rekannya.
Mereka nampak menggemaskan dengan saling dorong menyela temannya. Hal itu membuat Subha yang tadinya nampak murung kini kembali bersemangat lagi.
"Ow manis sekali" Subha mendekat dan mereka langsung menjauh.
Ead menarik lengan Subha menjauh, berjaga jika nantinya mereka merasa terganggu dan bisa menyakiti istrinya. Walaupun ia kesal, keselamatan Subha tetaplah no satu.
"Anak kuda yang pernah kau bawa itu, aku titipkan kepada kuda yang lain. Alhamdulillah sehari setelah kau membawa induknya, kuda yang lain melahirkan"
"Alhamdulillah ya Tuan Fairuz. Memang keajaiban Allah itu datang disaat yang tidak terduga... Anak itu kehilangan induknya, dan Allah langsung memberi penggantinya" tekan Subha dibeberapa kata.
"Amin" jawab Subha meraup wajahnya dengan lembut, membalas doa dari Fairuz kepadanya.
Sementara itu, seorang pria yang sedari lama mematung dengan pikiran berat itu merasa tidak sabaran. Pria itu seperti menahan sesuatu yang tidak bisa ia keluarkan ditempat ini, dan jalan satu-satunya ya pulang.
"Langsung angkut, dan segera pulang. Aku akan ada rapat dengan seorang pengusaha di Astana 1 jam lagi" titah Ead tanpa ekspresi. Kedua tangannya terlipat didepan dada.
Subha mendengus kesal. Ia sudah pasrah jika suaminya mau memutuskan segala keinginannya. Sudah cukup ia membujuk, dan pada akhirnya ia harus menerima.
"Saya langsung angkut saja, Nak?"
"Iya"
Jawab Ead singkat lalu menggandeng tangan Subha keluar dari tempat Fairuz.
Beberapa saat Ead melajukan pelan mobil yang ia kendarai. Mobil itu mulai keluar dari peternakan hingga melesat membelah jalan kota.
Setelah mendapat penolakan dari Ead, Subha tidak mengajak bicara suaminya. Entahlah, bahkan Ead hanya fokus dengan pekerjaannya. Dia hanya fokus memperhatikan jalanan yang nampak sunyi. Jalanan yang mereka lalui merupakan perbukitan yang tandus hingga Ead akan mudah memperhatikan keadaan melalui berbagai arah.
__ADS_1
Mata Ead liar selalu mengamati keadaan dibelakang melalui kaca spion. Telapak tangan kanan meraup hingga ke dagu berbulu tipis itu, sementara tangan kiri menguasai stir untuk mempercepat mesin mobilnya.
Whuss
Mobil yang mereka kendarai akhirnya melesat semakin cepat, membuat Subha yang merasakan perbedaan cara berkendara Ead mulai merasa ketakutan.
"Bi-bisakah kau kurangi kecepatannya? Aku takut"
Ead tidak mendengarkan ketakutan isterinya dan semakin menginjak gasnya, menaikan kecepatan mobil diatas rata-rata. Mungkin jika mobil mereka berjalan di jalanan tertib lalu lintas, maka sudah dipastikan mereka akan kena tilang.
Namun bukan polisi yang Ead takutkan, melainkan sebuah mobil sedan berwarna hitam mengejar mereka dari belakang. Mungkin jarak mereka saat ini hanya terpaut 1 km.
"Akhirnya kutu kehidupan itu keluar dari persembunyian busuk mereka, Cih"
Ead berdecih jijik melihat cara penyerangan mereka yang rendahan. Rupanya inilah alasan Ead meminta Subha untuk tidak menunggangi kuda, karena ada musuh yang bersembunyi dibalik semak-semak belukar dekat peternakan Aurona.
Mereka menunggu waktu untuk dapat menyerang Ead. Takutnya mereka menyerang Subha yang saat itu ingin menunggangi kuda, karena waktu seperti itu adalah waktu yang pas untuk menyerang.
"Innalilah" pekik Subha saat mobil mereka hampir menyerempet kendaraan lain. "Astaghfirullah... apa aku harus berucap syahadat sekarang, takutnya aku nggak keburu nanti"
"kenapa harus berucap syahadat lagi, apa kau resmi keluar dari agama Islam?"
"Syahadat bukan hanya untuk merubah dari yang non muslim menjadi muslim. Syahadat itu berartikan bahwa tuhan hanya satu yaitu Allah dan kita dianjurkan untuk selalu berucap syahadat. Ya Allah lindungilah kami"
Cerocos Subha yang berasal dari alam bawah sadarnya. Ia berucap seakan ini akhir dari hidupnya, dan ia sama sekali tidak percaya dengan kemampuan menyetir suaminya.
Dorr
Citt
Hampir saja mobil yang dikendarai Ead oleng kekanan saat tembakan dari penumpang mobil sedan itu menjadikan roda bagian belakang sebagai sasaran.
Salah satu pria dari mobil sedan itu keluar dari jendela, memperlihatkan tubuh bagian atasnya saja. Mereka sudah bersiap dengan berbagai jenis senjata api.
"Sial... Kutu kehidupan itu selalu mengganggu hidupku"
...To be continued...
...Kalau ada kesalahan kata mohon maaf ya, karena aku ngebut nulisnya 😪...
__ADS_1
...Mana jempol sama Vote nya kakak😭...