
Pagi harinya...
04:45
Subha berencana untuk bangun terlebih dahulu tapi apalah daya, pahanya masih terasa sangat nyeri. Sementara Ead berjalan santai menuju kamar mandi tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Bahkan Ead juga tidak mengajak bicara Isterinya setelah ritual tadi malam.
Karena rasa malu didalam diri Subha, Ead pun mengurungkan niat untuk pergi ke kamar mandi, alih-alih menunggu Ead selesai dengan mandi wajibnya.
15 menit berlalu
Akhirnya Ead keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk sepinggang sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan kain.
Sungguh Subha terpesona dengan bentuk bahu kekar yang telah membuat kedua kakinya keram semalaman. Rasanya Subha tidak henti-hentinya memuji sang pencipta yang telah menciptakan manusia dengan tubuh kekar sepertinya.
"Apa kau tidak mau mandi? Atau sholat?" tanya Ead membuyarkan lamunan Subha serta tiada bersalah melihat Istri mungilnya itu masih terbaring diatas ranjang.
"Iya, aku mau sholat"
"Lalu?"
"Agaknya, aku merasakan hal yang berbeda didalam tubuhku" sindir Subha membuat Ead hanya mengerutkan keningnya yang semakin tak paham dengan perilaku Subha. Hanya pura-pura tidak tahu.
"Apa itu? Cepat pergi ke kamar mandi, aku sudah wudhu seperti yang selalu kau katakan. Katanya mau, apa itu namanya... sholat"
"Iya... tapi"
"Kenapa? Cepat turun sana"
"Aku nanti saja"
"Apa kau akan terus seperti itu?"
Nada suara Ead malah semakin meninggi, seperti sedang memarahi dirinya. Hal itu membuat Subha menggelengkan kepalanya serta mengelus dada.
"Masyallah!!. Setelah kau mengambilnya kau masih dapat berbicara santai? Pahaku nyeri seakan areaku sobek karena kewajibanku sebagai seorang istri dan kau masih menyuruhku pergi ke kamar mandi? Ya Allah"
Tutur Subha yang semakin kesal karena Ead hanya peduli dengan hasratnya saja. Apa benar kata cinta semalam hilang setelah datangnya kepuasan?
Lantas Ead berjalan kearah Subha hingga menarik selimut yang menutupi tubuh molek istrinya, sontak itu membuat Subha tersipu malu karena keadaan dia belum memakai apa-apa setelah ritual semalam.
Ead mengusap wajah Subha dan berkata dengan nada halus "Nah begitu, bicara jangan hanya diam. Dengan begitu suamimu ini bisa tahu apa yang di inginkan Isterinya"
Ead mengecup kilas bibir pink tipis milik Subha, membuat sang pemilik kembali tersipu dan menundukkan kepala.
Disisi lain ada sesuatu yang kembali bangun saat melihat tingkah gemas yang Subha lakukan.
"Mau lagi?"
"Tidak" Jawab Subha dengan cepat saat pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Ead.
"Tapi suamimu menginginkan lagi" pinta Ead dengan memasang wajah menggoda.
"Tapi aku tidak bisa" sementara Subha memilih memasang wajah melas berharap suami gilanya ini mau mengerti.
"Aku pernah dengar layani suamimu saat kau sedang masak sekalipun"
Tutur Ead membuat Subha merasa bersalah dan mengangguki perintah suaminya ini, dia wanita yang Sholehah tak sepantasnya ia menolak keinginan suaminya.
__ADS_1
Tapi Ead hanya bercanda, tak mungkin dia egois dengan meminta lebih disaat Isterinya sudah kesakitan seperti ini.
Untuk memuaskan hasratnya Ead hanya mengecup kening, leher dan dada milik Subha sehingga ia tak lagi merasa terpanggil untuk menggauli Isterinya.
Hanya itu Ead sudah merasa puas, ia tak akan lagi meminta jika bukan Subha sendiri yang mau memberikannya.
"Sini, aku akan menggendong mu ke kamar mandi" ucapnya membawa Subha ke kamar mandi dengan gendongannya.
"Apa kau akan melakukannya disana?"
Dengan tertawa lepas Ead menanggapi pertanyaan lucu Isterinya,namun tentunya dengan santai. "Apa aku tidak memiliki ranjang sebagai alas tidurku sehingga aku harus melakukan hubungan badan didalam kamar mandi yang bau dan menjijikan itu"
Seketika kedua ujung bibir Subha terangkat naik, memperlihatkan senyum manis yang tak pernah orang lain ketahui. Subha merasa lega mengetahui suaminya ini tidak akan melakukan itu lagi.
______
06:15
Setelah keduanya selesai dengan urusan mandi wajibnya serta sholat subuh berjamaah. Kedua insan tersebut tengah bersiap untuk sarapan pagi.
Subha masih setia duduk didepan cermin memakai pakaian syar'i navy serta rambut terurai panjang dan basah. Sementara Ead, tentunya tidak bisa jauh dari Isterinya.
Kedua tangan Ead tidak berhenti mengeringkan rambut panjang Subha dengan handuk kecil. "Waw, kau terlihat sangat cantik jika rambutmu basah"
Dengan tersenyum malu Subha menjawab, "Apanya yang terlihat cantik? Tubuhku menggigil karena kedinginan"
"Tidak masalah, aku bisa menghangatkan mu lagi" jawab Ead dengan kepala berada dibahu Subha, namun tidak lama ia menjauhkannya lagi.
Subha menanggapinya dengan terkekeh kecil serta pandangan kembali kebawah.
Setelah Ead merasa rambut Subha sudah cukup kering, ia segera mengambil kain panjang serta lebar yang tergeletak diatas ranjang.
"Iya, tapi kan dikediaman ini tidak hanya dirimu" jawab Subha saat Ead meletakkan kain tersebut diatas kepalanya.
"Mereka kan cuma pelayan wanita!."
"Ada Roy, ada Louis. Mereka dapat masuk kapan saja"
Kepala Ead akhirnya mengangguk, menerima jika Subha memakai kembali hijabnya. Namun sayangnya saat Ead berusaha memakaikan hijab itu, ia tidak bisa.
Hasilnya, kain itu melilit dileher Isterinya. Beruntung Subha segera mencegahnya. "Kalau tidak bisa ya tidak usah"
"Iya aku memang tidak bisa makanya itu aku mencoba"
"Tidak perlu dipaksa"
"Tidak ada paksaan. Aku memang benar-benar ingin mencoba memakaikan kain itu di kepalamu. Hal itu akan terlihat indah dan bermakna jika aku yang memakaikannya"
Ruangan hening sekejap saat Subha mengartikan lebih, dari perkataan yang suaminya ucapkan. Hal itu membuat hati Subha sejuk serta wajahnya menampakan senyuman.
"Baiklah, tapi kalau tidak bisa jangan dipaksa"
"Sudah kubilang tidak ada paksaan karena aku ingin bisa. Mana tahu aku memiliki seorang putri" ceplos Ead seketika melukis warna merah muda dikedua pipi Subha.
Baru saja keduanya melakukan sunah rasul, namun pikiran Ead sudah melayang hingga sampai memiliki anak.
Subha hanya tertawa malu serta menutup mulutnya dengan satu tangan, supaya tidak kelepasan saat tertawa.
"Amin" jawab Subha berusaha menahan rasa bahagianya.
__ADS_1
Beberapa menit bersiap diri, Ead juga sudah memakaikan niqab di wajah Subha. Keduanya sudah siap untuk menyantap sarapan bersama.
Ead berjalan menuruni tangga seorang diri karena Subha masih tertinggal dilorong menuju tangga. Menahan nyeri diantara kedua kakinya.
"Perlu ku bantu? Sepertinya kau tersiksa"
"Shutt" Subha bergegas berlari kecil menemui Ead, bahkan ia melupakan rasa nyeri di kedua pahanya.
"Jangan keras-keras. Ada banyak pelayan di tempat ini"
"Memangnya kenapa? Ini mansion milikku. Siapa yang berani protes, akan aku bunuh dia"
"Aihh, kau itu"
Rengek Subha dengan wajah marah dibalik niqab nya. Rasanya ia ingin menyentil bibir menyungging milik pria yang tidak punya malu ini.
"Ya sudah ayo"
Ajak Ead kembali menuruni tangga sendirian, lalu kembali lagi saat dirinya merasa gemas dengan cara berjalan Subha yang tidak lebih seperti siput.
"Lama" tutur Ead langsung menggendong Subha ala-ala bridal style.
Hal itu membuat kedua mata Subha menganga lebar, namun saat ia ingin memberontak Ead melangkahkan kedua kakinya lebar-lebar menuruni tangga.
"Ya Allah... Turun, turun... Kita bisa jatuh" ronta Subha merasa miris dengan langkah besar dari kaki suaminya.
Bayangkan saja bagaimana jika salah satu kaki Ead tersandung, entah seperti apa bentukan mereka.
Beberapa langkah menuju ruang makan akhirnya Ead selesaikan. Segeralah Ead menurunkan tubuh Subha tepat diatas kursi yang sudah ia tarik menggunakan kakinya.
"Sampai, kan"
"Tapi aku takut" lirih Subha tidak didengar oleh Ead karena suaranya yang kecil serta nafasnya yang terengah-engah, membuat suaranya tidak begitu jelas.
"Siapkan"
Titah Ead membuat para pelayan menyiapkan berbagai hidangan ke piring Ead serta Subha. Namun
Namun Subha tidak begitu nafsu untuk makan, dan rasanya ia ingin menghentikan pelayan dalam menghidangkan makanan di piringnnya.
"Cu---"
"Ead"
Potong seorang pria yang baru saja menyelinap masuk bersama dengan rekan satu pasukannya. Keduanya nampak ngos-ngosan serta saling menahan saat kedua pikirannya tidak sejalan. Roy dan Louis.
Kedua pria ini mengganggu sarapan pagi Ead dan Subha. Pastinya membuat pria bermarga Zolanda murka.
"Ead, ada informasi untukmu"
...To be continued...
...Hai semoga kalian sehat selalu ya......
...Hanya itu yang bisa aku katakan...
...lop yu...
...Eh iya, jangan lupa vote sama jempolnya......
__ADS_1