
Roy membeku di tempat. Tubuhnya lemas dan pandangannya menjadi buram seperti ingin pingsan. Tangannya mengulur untuk menutup dadanya yang berlubang penuh darah dan…
“Aku akan kembali, Ead. Aku bersumpah akan kembali dan menghancurkan dirimu sampai ketuju turunan. Aku berjanji”
Whuss
Roy melayang pasrah menuruni jurang yang tinggi dan takt ahu seperti apa daratan yang akan menangkap tubuhnya. Ia hanya pasrah dan menerima jik tubuhnya harus hancur saat itu tiba.
Sementara Leiska membuang nafasnya yang tertahan kala ia sadar telah melenyapkan orang. Mengetahui itu Ead segera memeluk adik semata wayangnya.
Selesai sudah drama-drama tentang penghianatan dan terror yang Ead dapatkan. Mata tajam nan dingin Leiska melihat kearah Widia dan mendatanginya dengan langkah pelan.
Leiska mendekatkan wajahnya di telinga Widia, “Kau berpikir saat aku hanya melenyapkan Roy, kau bebas begitu? Aku meninggalkan dirimu karena kau akar dari semua ini. Kau yang membantu Roy… kau yang mengirimkan adiknya di Diran”
Mata Widia membulat sempurna. Leiska pernah mendengar jika Diran memberi laporan kepada Widia saat Subha diambil oleh kakaknya.
“Aku akan membalas semuanya, Widia… aku akan membuat kematianmu tak ada harganya. Kau akan menangis darah!” Leiska tersenyum seraya membisik di telinga Widia.
Selepas itu Ead membawa Leiska pergi dan Alham masih memperhatikan raut wajah Widia yang terus pucat. Alham yakin Leiska mengatakan sesuatu yang penting.
Namun Alham hanya diam dan tidak mau peduli.
Beberapa hari kemudian
Pernikahan yang begitu mewah diiringi oleh music-musik romantic memenuhi ronggaa telinga. Altar pernikahan yang dihias indah sedemikian rupa. Kebahagiaan yang tak terlihai harganya, kini dapat Ead rasakan dengan nyata.
Bayangan Ead yang akan menikah disaksikan oleh adik semata wayangnya kini telah terkabul. Pancaran tawa Ead dan Subha tak berhenti tergambar saat-saat anak buahnya membuat gurauan dan Leiska bahagia duduk meminum jus mangga di meja sana.
“Tuan Ead!. Bagaimana penampilanku… aku harus menghabiskan uang senilai 30,000 dolar untuk mempersiapkan pakaian aneh ini” Vero menata gulungan sorban yang telah ia beli mahal-mahal hanya untuk pernikahan Tuannya.
“Kau sudah mirip seperti rakyat Kazakhtan” tutur Louis membuat Ead mengingat sesuatu.
Ead mengingat waktu ia dan Roy menyamar di dekat masjid nursultan. Ia dan Roy juga memakai sorban seperti itu.
‘Kau sudah mirip seperti rakyat Kazakhtan…’
Kata Roy yang membuat Ead senyum-senyum sendiri. Sedih, benci, rindu bercampur menjadi satu dan Ead membenci itu. Rasanya ia ingin menghilangkan bayangan mengerikan yang terjadi beberapa waktu lalu.
Tawa mereka berhenti saat melihat ekspresi berubah dari Ead. Yah mereka sudah tahu penghianatan Roy dan itu membuat mereka terkejut dan ikut bersedih. Rupanya pria yang dipercaya sepenuh jiwa telah menyembunyikan senjata untuk mengambil nyawanya.
Begitu miris!
“Tuan… tidaak usah di pikirkan Tuan… kami akan selalu setia dengan anda. Jangan memikirkan kesalahan yang telah lalu. Semua itu tidak pantas, Tuan” kata Vero.
“Dia akan menanggung resikonya, Tuan “ tambah Louis.
Plak
Ead memukul kepala Louis dengan sangat keras, membuat pria itu meringis mengusap kepalanya yang berdenyut nyeri.
__ADS_1
“Tuan… apa yang anda lakukan?” protes Louis.
“Kau sudah keluar dari kelompok kami. Kau bukan lagi geng kami…untuk apa kau kesini?”
“Kan----”
“Dan aku mendapatkan kabar jika kau membuat keributan di pusat perbelanjaan beberapa hari yang lalu… jangan merusak namaku didepan polisi. Aku sudah mendapat 5 peringatan dari pemerintah kazakhtan” omel Ead.
Seketika mereka semua tertawa, begitu juga dengan Ead. Ia langsung mengusap kasar kepala Louis.
“Aku bercanda Louis”
“Aku juga tidak menganggapnya serius karena lelucon anda selalu garing” maki Louis tertawa sendiri.
Hening…
Ead dan seluruh anggotanya tidak menaampakan tawa, berbeda dengan Louis yang nampak kegirangan melihat raut wajah mantan atasannya.
“Aku hanya bercanda”
Ead langsung menghujami kepala Louis dengan jitakan-jitakan keras di ujung kepala dan menaboki pantatnya dan itu berhasil membuat Louis malu apalagi mengetahui mata hitam bening Fahima melihat kearahnya.
“Subha, Subha… bagaimana kau bisa mengenal pria-pria seperti mereka” kata Fahima mengusap dadanya dan melihat Subha di samping.
“Mereka baik kok Fahima… kau saja yang kurang mengenal mereka” Subha tersenyum dibalik cadar putihnya.
“Hai”
“Eh” atensi keduanya beralih melihat seorang wanita berambut keriting yang tersanggul begitu cantik. Wajahnya yang eropa memberikan kecantikan yang berbeda dari dua wanita muslim yang ada didepannya.
Subha tahu itu Leiska karena Ead sudah memberitahunya. Ia juga tahu jika Leiska lah yang menyelamatkannya dari kekejaman Diran.
“Assalamualaikum” Subha memberi salam dan Leiska menggigit lidahnya malu.
Leiska belum muslim karena ia belum mau berganti kepercayaan, bahkan saat tahu Ead sudah berpindah agama.
“Maafkan aku… Assal-assalamualaikum” gugup Leiska tersenyum.
“Waalaikumsallam” jawab keduanya serentak.
“Boleh aku bergabung dengan kalian? Sepertinya terlihat sangat seru”
“Tentu saja boleh” jawab Subha tertawa bersama dengan Fahima yang agak canggung karena kurang dekat dengan Leiska.
Tak lama datanglah seorang laki-laki menghampiri mereka.
“Apa aku juga boleh bergabung, Nona-nona?” Alham mencoba merayu Leiska dengan senyuman khas ketampanan yang ia punya, namun Leiska malah menghindar.
“Kak, ini salahmu… ayo kejar sana” Subha mendorong Alham yang membuang nafas kesal.
__ADS_1
Ini tidak bisa dibiarkan!. Alham harus membujuk Leiska lagi.
“Kakak pergi dulu”
Cup
“HEIII” bentak Ead saat melihat pipi istrinya di kecup sayang oleh pria itu. Rasanya ia ingin memukul wajahnya habis-habisan.
Subha tertawa melihat wajah murka Ead, “Dia kan kakakku”
Mata Ead melihat kekanan dan kiri dengan waspada, “Setelah ini kau bisa melakukan tugasmu sebagai istri Eadwarl Zolanda”
“Apa?”
Ead mengedipkan satu matanya kepada Subha yang bingung dan Fahima yang langsung paham. Ia pun merasa geli.
“Astagfirullah… astagfirullah… aku harus pergi dari pasangan muhrim ini” Fahima berlari menemui Umi Ryverlin dan Abi Rahman yang sedang berbincang-bincang dengan para tamu.
Alham mencari-cari keberadaan Leiska yang tak kunjung ia temukan, padahal tadi ia masih melihat batang hidungnya. Begitu cepat ia hilang.
“Leiska”
Panggil Alham didengar oleh Leiska yang bersembunyi dibalik pilar besar. Ia enggan untuk bertemu dengan Alham karena sedang ada urusan.
Leiska pergi meninggalkan Alham dan memasuki sebuah ruangan make up yang memiliki banyak orang. Tak lupa ada Widia yang sedang berdandan disana.
“Leiska, ngapain kamu disitu?” tanya Widia tidak di jawab Leiska.
“Kalian semua pergilah… aku ingin bicara dengannya” titah Leiska tersenyum misterius seraya memainkan hair dryer yang ada di meja rias.
Ruangan make up itu langsung sepi daan hanya menyisakan dua orang wanita cantik yang mematikan. Leiska mengunci pintunya saat Widia mundur karena takut.
“Heh Leiska… kamu jangan macam-macam ya!” Widia semakin mundur saat Leiska mendekat memperlihatkan seringaian mengerikan nan kelam.
“Kamu mau ngapain?”
“Shuttt” jari telunjuk Leiska menempel di bibirnya, “Widia… apa kau tahu berapa kali pria menjijikan itu menyentuhku?”
Widia menggeleng cepat. Ia sangat takut melihat Leiska bermain-main dengan sebuah hair dryer. Ia memang tidak tau maksud Leiska membawa itu, namun ia rasa benda itu sangat berbahaya jika wanita gila itu yang memegang.
“Apa maumu Leiska?”
“Kan aku sudah bilang ingin menyiksamu, sayang!!” lembut Leiska. “Aku sedang berpikir apa hair dryer ini muat di milikmu atau tidak ya?”
Deg
...To be continued...
...Insyaallah aku usahakan up 2 bab setiap harinya bebss 😘 lop yu pull...
__ADS_1