
“Kepercayaan, status, segalanya. Bukankah itu sudah cukup menjadi tanda Allah yang sebagai tuhanmu telah melarangnya” Leiska berucap dengan lantang beriringan dengan lantunan Adzan yang terdengar merdu disenja sore.
“Cukup kau ikut kepercayaanku saja. Kita akan bersama dan menjalin keluarga”
Leiska tertawa dengan lirih, kelewat lirih, “Alham, bagaimana kalau aku tidak percaya dengan tuhanmu? Sayangnya, aku bukan seperti kakakku yang mengikuti adikmu dan menjadi mualaf”
Alham terdiam seribu bahasa. Pria ini masih menatap nanar wanita itu berjalan meninggalkannnya. Alham ingin menahan, namun dia bukanlah siapa-siapa sampai berani menyentuhnya.
Baiklah, mungkin inilah akhir kisah dari perjalanan keduanya selama ini. Dia akan ikhlas melepaskan wanita yang pernah duduk tahta didalam hatinya. Ia akan mencoba untuk menerima. Sepertinya!
______
6 bulan kemudian
Kazakhthan
Di mansion besar milik Ead telah mengadakan acara 7 bulanan Subha. Mansion yang awalnya begitu sepi dan menyeramkan kini telah berubah asri dengan banyak orang berdatangan. Mereka semua datang untuk memanjatkan doa kelancaran kehamilan Subha.
“Semoga kehamilan nyonya Zolanda diberi kelancaran” Vero datang membawa doa untuk atasannya. Tidak hanya Vero, melainkan puluhan Ead datang memberi doa juga.
“Semoga bayinya cowok!!” seru salah satu bawahan Ead dengan lantang hingga mmbuat orang-orang tertawa senang.
Subha duduk di kursi menyangga perutnya yang sudah membesar ditemani suaminya yang berdiri disampingnya menggenggam tangan sang istri.
“Kau mau seorang gadis atau pria?” bisik Ead tepat di samping Subha.
“Aku tidak mempermasalahkan semua itu” jawab Subha dengan lirih. Alhasil mendapat kecupan sayang dari suaminya.
Beberapa menit berlalu datanglah pria yang merupakan mantan pekerja keluarga Zolanda serta dua wanita yang cantik jelita.
“Tuan”
“Jangan memanggilku seperti itu… aku malu mendengar panggilan itu” sentak Ead saat Louis kembali memanggilnya dengan julukan Tuan.
“Maafkan aku, Ead” Louis tersenyum merangkul dua wanita yang ada disamping kanan dan kirinya.
“Fahima, bagaima kau bisa mau menikah dengan pria seperti dia?” gurau Ead bertanya kepada sahabat istrinya ini.
“Kau jangan ungkit masalah itu. aku sudah berusaha keras untuk meluluhkan pria tua berjanggut tebal itu” bisik Louis didengar Fahima yang langsung mencubitnya.
“Jangan begitu, dia itu ayah kita” tegur Fahima membuat mereka semua tertawa.
“Iya sayang” Louis mencubit pipi gemas milik Fahima.
__ADS_1
“Apa ini sudah ada isinya?” tanya Subha menyentuh perut Fahima yang masih datar. Namun ia berharap jawabannya adalah iya.
Dan harapan Subha akhirnya terkabul. Wanita itu mengangguk dengan malu-malu, bahkan membuat Louis menyembunyikan wajahnya dengan tangan.
“Hebat kau” puji Ead menabok kejantanan milik Louis.
“Kau…” pekik Louis hampir marah namun harus menahannya. Istrinya sedang hamil dan harus menjaga sikap untuk kebaikan anak-anaknya.
Beberapa detik setelahnya tawa keduanya pecah memenuhi ruang tamu penuh orang tersebut. Namun tidak ada yang berani menegur dan membiarkan.
Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan pun juga sudah mereka lalui. Tidak terasa sudah waktunya Subha untuk melahirkan bayinya. Wanita ini melahirkan bayinya disebuah rumah sakit ternama di wilayah Almaty.
Ead yang sudah mendengar tangisan anaknya itu segera datang ingin tahu keadaannya, “Dokter, bagaimana dengan kondisi istri saya?”
“Alhamdulillah, pasien telah melahirkan bayinya dengan selamat. Bayi anda laki-laki tuan” kata Dokter itu membuat Ead dan beberapa keluarga semuanya merasa amat bahagia. “Kalau begetu saya permisi terlebih dahulu”
“Terimakasih dok” balas Ead dan dokter itu hanya mengangguk.
“Selamat Ead” Louis menyalami dan memeluk temannya itu dengan haru.
Tidak hanya Louis, melainkan beberapa anggota yang lain seperti abi, vero dan Alham juga memberi ucapan selamat atas kelahiran bayinya.
Tidak lama keluarlah perawat dari ruangan istrinya sembari menggendong bayi laki-laki yang sedang tidur terbungkus kain bedong.
“Biar aku lihat” Ead mengambil alih bayi tersebut dan menimangnya dengan rasa sayang. Baru kali ini ia merasa amat terharu melihat wajah mungil anak kecil, terlebih ini anaknya sendiri.
Oekk Oekk
Bayi itu tiba-tiba menangis tepat setelah Louis menyentuh pipinya. Astaga, pria ini memang tidak bisa bertindak lembut ya. Maklum, sudah terbiasa memegang pistol ya begini.
“Shuttt sayang putra abi hei hei” Ead mencoba menenangkan dengan menimang namun masih saja menangis.
“Apa boleh si ibu menggendong bayinya?” tanya Umi karena kasian dengan cucunya.
Perawat itu mengangguk, “Silahkan! Pasien sudah boleh dijenguk. Namun, tolong hanya satu orang saja karena ruangan tidak boleh terasa pengap untuk ibu yang baru melahirkan”
“Ya sudah kamu saja yang masuk nak”
“Umi tidak ingin masuk?”
“Nanti saja! kau masuklah” pinta Umi memilih untuk mengalah dan membiarkan Ead untuk masuk menemui Subha.
Karena sudah mendapatkan persetujuan umi, maka sudah tidak ada basa-basi Ead untuk tetap disana. Pria itu masuk membawa bayinya menemui Subha yang masih lemas terbaring diatas brankar.
__ADS_1
“Sayang lihatlah… bayi kita lucu seperti dirimu”
“Masyaallah…” balas Subha tersenyum sayu serta sedikit meringis menahan nyeri, “Aku ingin lihat…”
Ead menaruh bayinya disebelah tubuh sang istri, dengan begitu Subha bisa memeluk dan mencium wajah anaknya. Sementara sang suami tidak henti-hentinya mencium semua yang ada di wajah sang istri.
“Terimakasih sayang”
Subha mengangguk dan tersenyum, “Sama-sama”
__
Saat ini Ead sedang duduk bersama dengan Louis dan Vero. Maksud dari perkumpulan ini untuk mendiskusikan nama bayi laki-laki Ead.
“Kenapa kau tanya nama dengan diriku? Aku saja punya istri yang sedang hamil besar dan aku bingung mau memberinya nama apa” Louis sudah pasrah duluan. Ia malah terlihat banyak pikiran dengan memijat kepalanya.
“Aku bingung harus memberinya nama siapa!” Ead berusaha keras untuk mencari nama, namun sayang otaknya buntu.
“Joy?... Arderlof… Arkan Sidday Zolanda” Vero mendekati Ead, “Arkan Sidday Zolanda… aku rasa itu nama yang cocok untuk anak laki-laki anda”
“Ilham Husain Abdillah”
Usul Alham dengan tiba-tiba. Karena tidak diberi tahu oleh Ead membuat Alham main nylonong memberi usul. Salah siapa tidak mengajak dirinya.
“Nama jelek darimana itu?”
Alham langsung tertawa saat Ead menghina nama bagai nur yang ia berikan, “Dibandingkan namamu… nama yang kuberikan itu bagai sebuah cahaya yang menyilaukan”
“Aduh silau” pekik Vero membuat mereka semua terkejut, “Begitukah?”
“Kau—”
“Jika kau tidak bisa memberi nama sebaiknya pergi” usir Ead.
“Hei Ead… nama keponakanku harus ada unsur agama dan artinya jelas karena arti dari nama adalah doa untuk sang anak kedepannya" tegas Alham tidak mau nama asal untuk keponakannya.
Keduanya memiliki pikiran yang berbeda, dimana Alham ingin ada unsur muslim dan Ead menginginkan nama anaknya memiliki unsur nama orang Italia.
Ead mencoba menggabungkan nama yang diusulkan Alham dan nama yang diusulkan Vero.
“Arkan Ilham Zolanda” kata Ead membuat seluruh orang yang ada disana berbinar menerima.
Putra pertama Ead akan dipanggil dengan sebutan Arkan. Mereka akan membawa putranya tinggal di mansion Ead di Kazakhstan dan sesekali akan ia ajak untuk pergi ke Italia bersama. Pria ini akan mendidik anaknya menjadi seorang pemimpin yang sejati dan tangguh tanpa takut melewati sebuah rintangan. Mereka akan membawa putranya dalam kedamaian dan kebahagiaan.
__ADS_1
Meninggalkan kehidupan bahagia Ead dan Subha. sebaliknya, masing-masing saudara mereka telah mengakhiri kisah cinta mereka. Alham dan Leiska memutuskan untuk berjalan di jalan yang berbeda. Leiska sibuk menjadi biarawati di sebuah gereja di kota Roma dan Alham memilih fokus dengan karirnya.
Tamat