
Subha melepas mukenah yang menjadi penutup tubuhnya saat solat. Sesaat matanya melirik kearah telpon yang tergeletak diatas nakas, berharap telpon tersebut kembali berdering.
Namun sampai saat dimana Subha sudah melipat mukenah dan sajadah bahkan sudah meletakkannya kedalam almari, telpon tersebut tidak kunjung berdering.
"Dia terkena kasus apa ya?" gumam Subha duduk diujung ranjang. "Aduh kayaknya aku laper deh"
Subha memegangi perutnya yang datar. Ia bergegas memakai cadar serta hijabnya. Setelah merasa rapi, Subha keluar dari kamar menuju dapur.
Di perjalanan, Subha melihat dua orang pria yang merupakan kepercayaan suaminya, yakni Roy dan Louis.
Telapak suara Subha mulai terdengar keras kala wanita ini berlari menuruni tangga. Hijabnya berterbangan tanpa lepas dari kepala, hingga sampai didepan mereka yang berada di ruang tamu.
Dengan nafas yang tidak beraturan Subha memberi salam, "Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam" jawab Louis menganggukkan kepalanya.
Sementara Roy tidak menjawab sama sekali. Dalam pikirannya ia tidak perlu menjawab serta ia penasaran dengan pahatan wajah yang Subha miliki. Ia pun bergumam dalam hati, "Secantik apa wanita ini sehingga wajahnya harus ditutupi?"
Kembali ke Subha. "Tolong jelaskan maksud dari perkataan mu di telpon. Apa suamiku ditahan selama 24 jam? Kasus apa yang dia lakukan hingga menjalani penyelidikan? Apa dia melakukan percobaan pembunuhan, pegadaian uang ilegal?"
"Nyonya tolong tenanglah. Tuan kami Ead dapat mengatasinya, penjara 24 jam bukan hal yang sulit untuk Tuan kami jalani"
"Jadi kasus seperti ini sudah sering Ead lakukan?" tanya Subha merasa dongkol dengan jawaban Louis.
Roy yang mendengarkan juga ingin membenarkan, "Memang Ead sering mengalami kasus seperti ini, dan jika di hitung ini adalah kasus ke 50 yang ia jalani. Tapi kau tidak perlu khawatir, karena Ead memiliki pria kepercayaan yang siap membantu dirinya"
"Cih" Louis ingin meludah rasanya mendengar kalimat sombong dari rekan satu pasukan. Bukan Roy yang bekerja keras melainkan dirinya sendiri.
"Terimakasih" kepala Subha mengangguk rendah.
Roy memanyunkan bibirnya gemas melihat respon santun Subha, "Ouhh kau manis sekali"
Roy hendak mencubit pipi Subha namun dengan cepat Subha memundurkan wajahnya, menghindar. Tidak dipungkiri Louis juga terkejut.
"Kau ini!. Kau tidak boleh sembarangan menyentuh wanita seperti Nyonya Zolanda. Wanita seperti Nyonya Zolanda memiliki aturan dalam berinteraksi dengan lawan jenisnya" ucap Louis mengingatkan Roy.
Roy mengangguk paham. " Oh begitu. Maafkan saya kalau begitu"
"Tidak masalah" jawab Subha dengan kepala menunduk.
Sementara Roy menganggukkan kepalanya sekilas untuk memberi salam terakhir, karena ia akan kembali ke ruang kerja. Ia merasa malu kepada dirinya sendiri yang begitu lancang ingin menyentuh milik Tuan nya.
__ADS_1
_______
Kringgggg
Suara jam weker yang ada didalam kamar itu tiada henti berdering membangunkan sang pemilik ruangan bernuansa gelap ini. Namun sudah lama jam tersebut berdering, ia tidak kunjung di matikan ataupun tersentuh sama sekali.
Seisi kamar terlihat sunyi, selimut putih sudah terlipat rapi bertumpuk dengan bantal serta guling. Tidak ada orang sama sekali.
Kemana wanita ini?
Wanita itu sudah siap dengan berbagai alat masak untuk memasak besar di pagi hari. Dengan bantuan para pelayan Mansion, Subha memasak dengan sangat teliti dan bersemangat.
Beberapa kali Subha mengusap peluh keringat yang membasahi keningnya menggunakan cadar yang dipakai. Subha menoleh kearah jam yang tergantung di dinding bagian atas.
"Ini jam 6. Hanya membutuhkan waktu 30 menit maka masakanku akan segera selesai" gumam Subha menggoreng ayam di wajan.
Sementara para pelayan yang membantu Subha dari subuh hingga detik ini, mereka nampak sibuk menata wadah untuk masakan Nyonya Zolanda.
Salah satu pelayan yang penasaran pun bertanya, "Nyonya, kalau boleh saya tanya. Masakan ini untuk siapa ya?"
"Suamiku" jawab Subha menoleh lalu sibuk dengan penggorengan.
"Untuk Tuan Dominic? Semuanya?" pekik pelayan yang bertanya itu dengan nada lirih tidak berani berucap keras, merasa syok saat melihat makanan sebanyak ini hanya untuk suaminya.
"Terimakasih Nyonya" jawab para pelayan serentak.
Karena Subha menanggapi pertanyaan rekannya dengan jawaban yang sopan, pelayan lain juga ingin bertanya terkait ucapan Subha waktu lalu. "Nyonya. Bagaimana dengan pakaian baru kami?"
Subha menghentikan kegiatannya. Ia lupa pernah bilang kalau ingin membelikan pakaian baru untuk mereka. Karena kasus Ead, ia lupa dengan ucapannya. Sementara pelayan itu menyengir kuda.
"Astaghfirullah aku lupa. Besok aja ya, tapi secepatnya aku akan membelikan pakaian baru untuk kalian. Sebelum suamiku kembali dari penjara" jawab Subha menekankan kalimat terakhirnya.
"Baik Nyonya, terimakasih"
Para pelayan pun senang hingga bibirnya membentuk senyuman. Pelayan senang akan mendapat pakaian baru sebelum Ead pulang, dan itu waktu yang singkat untuk menunggu.
Sementara Subha pasti tidak akan membiarkan Ead melihat tubuh haram dari para pelayannya. "Sudah cukup aku saja"
Mereka kembali sibuk menata masakan yang ada diatas meja. Dengan perasaan gembira para pelayan membantu Subha, berharap Ead menyukainya.
Yakin Ead suka?
__ADS_1
Lihatlah saat ini, dimana mata Ead menatap berbagai jenis makanan yang sudah isterinya siapkan dan ia bawa ke kantor polisi hanya untuk dirinya. Mata Ead melebar menyipit seiring dengan pergerakan pandang dari makanan satu ke yang lain.
Tidak lupa wajah bercadar Subha harus ia lihat, karena wanita ini menunggu komentar dengan duduk tepat didepannya.
"Kau memasak semua ini?" tanya Ead.
Subha mengangguk, "Dan dibantu para pekerja"
Sorot mata Ead beralih berganti ke wajah dua orang pria tidak punya dosa yang berdiri dibelakang tubuh isterinya.
Ead memejamkan kedua matanya serta menghela nafasnya kesal, "Aku kan bukan tahanan, Subha"
"Bukan tahanan apa? Louis bilang kau ditahan selama 24 jam, kan"
Ead menggeleng lemas, "Lagi pula suamimu ini tidak ingin menetap di kantor polisi. Dia kan segera pulang nanti sore jam 6"
Subha terdiam, "Jadi kau tidak ingin makan?"
"Tid----" hampir saja Ead kelepasan, hampir saja ia kembali membuat istrinya murung, "Aku pasti akan memakan semua masakanmu, apalagi ini masakan pertamamu. Tidak masalah, aku akan kenyang sampai sore"
"Huss serakah itu namanya" sela Subha membuat Ead bingung. Ead hanya ingin menghargai perhatian Subha namun kenapa wanita ini mengatainya demikian.
"Ini bukan hanya untuk dirimu, tapi untuk para tahanan lain dan para pekerja kantor polisi"
Roy dan Louis langsung menahan tawa mereka menggunakan satu tangan saat mendengar penuturan Subha. Sudah pede tingkat dewa dan berniat memakan eh bukan prioritas utama.
Mata Ead memperhatikan Subha yang mengambil beberapa jenis makanan yang ada didepannya untuk beberapa polisi. Ead tertawa lirih, "Lebih menjengkelkan daripada kemarahan Subha"
Subha tidak mendengarkan apa-apa. Ia hanya sibuk berbagi, "Ini sedikit makanan untuk sarapan pagi. Segera dimakan ya, kalau kurang boleh nambah"
"Terimakasih" Jawab para polisi serentak.
Sementara Ead berkacak pinggang masih tiada henti memperhatikan Subha. Sesekali ia juga melirik keberadaan kedua bawahannya yang menertawai dirinya.
Plak
Plak
Tanpa Subha tahu Ead memukul kepala Roy beserta Louis. Kedua pria inipun meringis menahan sakit.
Lantas Ead berbisik di antara telinga kanan Louis dan telinga kiri Roy, "Siapkan buktinya supaya jam 6 aku benar-benar keluar"
__ADS_1
...To be continued...
...Semoga kalian sehat selalu ya... ...