
Mansion Eadwarl
"Eadwarl"
Panggil Roy tiba-tiba setelah sampai di mansion dan mendapat kabar jika atasannya sudah kembali setelah mengejar musuhnya.
"Dimana Ead, Louis?"
Roy tidak mendapati sang dominan, melainkan kumpulan pria dengan wajah datar tampak membosankan yang sudah duduk santai diatas sofa.
Louis si pria dingin itu hanya melirik keberadaan Roy lalu kembali sibuk dengan ponselnya. "Kemana saja, kau?"
"Aku mencari telpon umum untuk menghubungi dirimu karena telpon ku ketinggalan di mansion"
"Jadi, kau mencari telpon umum supaya dapat menghubungi diriku?"
"Iya, kau tidak tahu begitu susahnya aku menelusuri kota Almaty yang panas dan gersang untuk mencari telpon umum. Bahkan aku tidak yakin masih ada telepon seperti itu"
Louis mengerutkan dahinya datar saat ucapan Roy terdengar tidak meyakinkan, "apa kota Almaty merupakan kota mati? Kau bisa meminjam telepon kepada penduduk disana, dan kau seharusnya tidak membiarkan Dominic sendirian mengejar mereka. Sialan, karena kau aku yang mendapat hukuman." Sarkas Louis semakin mendekati Roy yang menelan ludahnya kasar.
"Bukan hanya kau sih sebenarnya, karena aku pasti juga akan mendapatkan hukuman itu."
Dorr
Satu tembakan mengenai paha kanan pria dengan dagu polos serta rambut keriting, Roy. Ia pun langsung terjatuh keatas lantai seraya menahan erangan sakit yang menjalar di kakinya.
Setelah berhasil menembak Roy, pria kekar dengan lengan mengurat itu membidikkan senjatanya kearah Louis, bersiap menembak untuk yang kedua kalinya. "Untuk mu, Louis. Ku beri kau kesempatan untuk memberiku sebuah informasi. Jika informasi mu tidak penting maka aku akan menebas lehermu"
Tubuh Louis bergidik ngeri melihat sorot mata serta rahang tegas itu mengurat, menampakan kengerian bercampur kemarahan yang tampak nyata. Otak Louis bekerja dengan sangat keras beriringan dengan langkah Ead yang semakin mendekat.
"Louis?" Ead menyeringai lebar seraya ujung pistol itu sudah membidik tepat di dahinya. Memang hukuman untuk Louis tidaklah main-main, mengingat statusnya masih seorang tawanan sebagai pelunas hutang keluarga.
"Louis? Kau benar-benar ingin mati saja, ingat... keluargamu juga akan mati jika patokan utama tiada. Ba-"
"Aku menahan dua orang pria yang pernah menyerang kita di Roma. Mereka dibebaskan lalu pergi ke Kazakhstan," ucap Louis dengan peluh keringat menahan rasa takutnya.
Ead menurunkan senjatanya perlahan, membuat Louis lega dengan respon pria yang ada dihadapannya. Setidaknya, Louis masih memiliki perpanjangan waktu berpikir jika hal ini terjadi kembali, karena ia tahu jika Ead dapat membunuhnya kapan saja.
"Dimana mereka?"
__ADS_1
"Mereka ada diruang bawah tanah" jawab Louis dengan cepat serta mengantar Ead ke ruangan yang sudah ia ucapkan. "Mereka yang sudah tidak diterima menjadi Mafioso Italia akan dikirimkan ke berbagai tempat, dua diantaranya telah kami temukan di Almaty. Mere-"
"Kenapa Kazakhstan... Aku kan malah mudah menemukannya" Ead menyeringai lebar, betapa puas rasanya mendengar kabar tidak terduga dari anak buahnya.
Louis sempat berhenti berucap. Ia pikir Ead akan memarahinya, ternyata pria ini malah memuji pekerjaannya. "Ada 50 mantan Mafioso yang sudah bebas. Mereka terbagi di New Zealand, Nigeria, Panama, Slovakia dan Kazakhstan. Setiap wilayah terdiri dari 10 mantan Mafioso. "
"kenapa mereka dibebaskan?"
"Atasannya menyukai kinerja mereka, lalu mereka diminta untuk memilih antara harapan atau hadiah uang. 50 diantaranya memilih harapan, dimana mereka meminta keluar dari kelompok dan hidup seperti orang normal, dan permintaan mereka dikabulkan"
Louis menjelaskan dengan bibir yang bergetar. Pikirnya, ia harus bekerja keras untuk mempertahankan nyawa keluarganya. Sementara Ead terus mengangguk bangga dengan kerja luar biasa dari sang pengikutnya.
"Apalagi yang kau tahu?" Tanya Ead melenggang pergi melewati Louis menuju ruang bawah tanah.
"Obati dulu luka anda, Tuan"
"Nanti"
Keduanya menuruni tangga bersama-sama, meninggalkan Roy yang masih kesakitan dilantai. Namun tentu para pelayan disana tidak bisa tinggal diam, merekapun segera mengobati Roy.
___
Widia tersentak mendengar suara lantang dari pria yang beberapa bulan lalu melamarnya. Bagaimana lagi, Alham sudah sering mendengar ribuan kalimat iri dengki dari mulut wanita ini hingga sekalipun Alham tidak pernah dibuat tenang olehnya.
"Aku heran dengan dirimu, bagaimana bisa kau cemburu dengan calon adik iparmu sendiri?"
"Ya karena sayangmu itu berlebihan, kau tidak datang makan malam saat bersama teman-teman ku hanya karena mengantar Subha kuliah."
"Itu Subha masuk kuliah pertama, dan aku rasa kumpul bersama temanmu itu tidak penting di banding mengantar adikku ke kampus. " nada Alham lirih namun penuh dengan penekanan.
"Lihat, gara-gara adikmu kita jadi bertengkar. Ga-"
"Stop, Widia. Jangan sangkutkan adikku kedalam hubungan kita. Dari awal hubungan kita, tidak ada kata romantis. Kita selalu berjalan dijalan yang beda," potong Alham dengan pernafasan yang semakin sesak, tidak tega jika adiknya terus di salah-salahkan.
"Lalu?" Lirih Widia dengan kedua mata mengembun.
"Kita coba jal-"
"Kakak"
__ADS_1
Sela gadis berhijab merah muda yang sudah lama berdiri di ambang pintu mendengar gunjingan sang calon kakak ipar. Ia takut jika kakaknya mengatakan hal yang akan membuat keduanya menyesal, hanya karena dirinya.
"Subha-"
"Umi sudah menunggu kakak di meja makan." Sela Subha tersenyum namun matanya mengembun. "Kak Widia, welcome... Aku akan memelukmu jika sudah mencuci tanganku, tanganku kotor karena membersihkan debu di kamar yang akan kak Widia tempati."
Alham menggelengkan kepalanya hingga mendekati adiknya, "Sejak kapan kau berdiri disini?"
"Jangan katakan apapun yang membuat kak Widia bersedih. Itu kak Widia katakan karena dia tidak memiliki siapa-siapa kak." Lirih Subha memohon kepada kakaknya, membuat Alham kecewa saat adiknya selalu berbaik sangka.
"Kakak tidak akan menerima orang yang tidak menyayangi keluarga kakak"
"Sudahlah, kak" Subha mencoba memperbaiki suasana supaya suasana yang bahagia kembali lagi. Suasana dimana banyak orang menunggu kedatangan Widia. "Aku mau membersihkan tangan dulu, ya."
Subha segera berlari masuk kedalam rumah, karena ia sudah tidak mampu menampung air mata yang sedari lama tertahan. Sementara Alham sangat-sangat kecewa dengan dirinya dan Widia, bagaimana ia bisa memilih wanita salah sebagai calon istrinya?
"Puas kau?" Sentak Alham kembali, namun tak dijawab Widia yang hanya membuang muka malas.
Dengan penuh paksaan Alham membawakan koper-koper Widia. Keduanya harus terlihat baik-baik saja saat menghadapi keluarga, karena Alham selalu di wanti untuk tidak membawa pertengkaran mereka di hadapan Abi dan Uminya.
Setelah mengatur emosinya Alham segera masuk kedalam rumah sendirian karena Widia harus menjawab telpon. Jadi Alham meninggalkan wanita itu dan mendatangi orang tua yang sudah lama menunggu mereka di meja makan.
"Assalamualaikum, Abi dan Umi" Alham segera mencium telapak tangan Abi Rahman berganti ke Umi Riverlyn.
"Walaikumsalam, dimana Widia? " Tanya Riverlyn mencari keberadaan calon menantu.
"Dia sedang mengangkat telpon diluar, aku sengaja memintanya untuk menjawab di luar rumah karena takutnya mengganggu." Ucap Alham membuat keduanya mengangguk.
"kalian tidak bertengkar, kan"
"Ayolah Abi... Kita bukan anak kecil lagi, pertengkaran tidak akan membuat kami serenggang ini," Alham terkekeh pelan, memperlihatkan sifat aslinya supaya membuat keduanya tidak curiga.
Sementara Widia masih sibuk berbicara dengan rekannya di telpon. Nada suaranya yang rendah dan perilakunya yang sembunyi-sembunyi, seakan takut jika ada orang yang mendengar dirinya.
"Aku punya barang bagus, pasti kau akan menyukainya."
To be continued
Ini karya keduaku! jika kalian pernah menjadi author pasti hal ini pernah kalian rasakan, dimana keinginan membuat cerita yang baru sangat ingin kalian lakukan. Karangan ini juga masih amatiran, jadi mohon di komen dengan kalimat yang sopan untuk saling menjaga hatiđŸ˜˜
__ADS_1