Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 61 : Ditinggal Sendiri!.


__ADS_3

Tatapan mengintimidasi para anggota keluarga Akthakarta nampak terlihat kebingungan. Mata mereka tertuju kearah Widia seperti meminta sebuah penjelasan. Hal itu tentu membuat Widia menjadi gugup.


“Nak Ead kenal dengan Widia?” tanya Umi.


Widia ketakutan jika Ead mengenali dirinya, “Mana mungkin Widia kenal dengan suami Subha. Widia saja baru melihat suami Subha, Umi”


“Tapi sepertinya aku pernah melihat dirimu. Sebentar biar aku inga-ingat… hemm kau itu seperti mantan pembantuku dulu. Wajahmu sangat persis dengannya”


Ucap Ead bercanda namun mampu membuat Widia sakit hati. Berbanding terbalik dengan para keluarga Akthakarta yang menanggapinya biasa. Dibalik itu Widia juga lega karena pria itu tidak mengenali dirinya.


Umi mengusap bahu Widia untuk memintanya memaklumi gurauan Ead. “Widia jangan marah ya, Nak Ead hanya bercanda supaya suasana di ruangan ini terasa lebih hangat”


“Iya Umi tidak apa-apa… Widia paham kok” jawab Widia meringis.


Suasana di ruangan ini kembali seperti biasa. Beberapa saat kemudian mereka melihat jari-jari pria yang tertidur di brankas rumah sakit itu bergerak, memberikan sinyal kesadaran untuk dirinya. Para anggota semua melihatnya.


“Masyaallah Alham. Abi, tangan Alham gerak-gerak Abi” antusias Umi memanggil semua orang yang ada di ruangan ini.


“Widia akan segera memanggil Dokter” ucap Widia keluar dari ruangan ini.


Mereka semua teramat bahagia hingga tidak menjawab ucapan wanita yang sudah keluar mencari keberadaan Dokter tersebut. Mereka hanya memikirkan kondisi Alham yang sidah sadar.


“Alhamdulillah…” pekik setiap orang yang ada di ruangan itu.


Namun tampaknya Alham seperti orang linglung. Dirinya seakan bingung dengan keadaan dirinya saat ini. Atap putih berhiaskan lampu serta dinding bersih dengan cat putih, bahkan kini ia melihat wajah para keluarganya. Semua itu terasa membuat kepalanya pusing, mengingat jika ia sebelumnya ada di tempat yang berbeda.


“Aku ada dimana?” tanya Alham memegang kepalanya yang berdenyut.


“Kamu lagi di rumah sakit, sayang” jawab Umi berhasil membuat mata Alham menatap dirinya.


Alham nampak bingung, “Di rumah sakit? Tapi sebelumnya aku---”


“Disana Dokter”


Suara Widia memotong perkataan Alham kepada Uminya. Widia sudah kembali dari memanggil Dokter hingga pria memakai seragam medis itu datang dan memeriksa keadaan tunangannya.


Dokter sedang memeriksa.


“Alhamdulillah. Kondisi Tuan Alham sudah dikatakan hampir sembuh. Tidak ada luka yang serius didalam otak bagian kanannya. Namun jangan terlalu diajak berpikir terlebih dahulu ya, takutnya itu mengundang rasa nyeri dari luka tersebut” tutur Dokter setelah memeriksa.


“Alhamdulillah syukurlah kalau begitu. Lalu kapan kami boleh membawa pulang keluarga kami?” tanya Abi Rahman.


“Sebaiknya untuk sementara waktu, Tuan Alham ini di inapkan dulu di rumah sakit. Memang luka Tuan Alham tidak begitu parah namun hal itu guna untuk mencegah hal-hal yang memungkinkan terjadi. Maaf, kami semua disini hanya seorang Dokter, mereka juga merupakan hamba Allah yang tidak luput dari kesalahan dan kelalaian. Tolong dimaklumi” kata Dokter itu.


“Iya Dokter. Kami sangat memahami itu” jawab Abi Rahman.


“Sepertinya sudah cukup. Saya harus memeriksa pasien di kamar no 10 dilantai 3. Jika ada yang perlu ditanyakan, anda bisa menghubungi diriku. Saya permisi terlebih dahulu”


“Terima kasih Dokter”


Dokter itupun keluar dari ruangan. Kembali ke Alham yang masih nampak bingung dengan dirinya sendiri. Begitu susah ia melarikan diri dari tempat itu, lalu bagaimana ia bisa keluar semudah ini? ia pikir hidupnya akan berakhir di tangan pria bertopeng itu.


Umi mencoba berbicara, “Alham kau istirahat dulu ya sayang… tubuhmu masih belum sepenuhnya sehat”


“Bagaimana aku bisa ada di tempat ini?”


“Widia menemukan dirimu tergeletak di pinggir jalan. Dari itu Widia langsung membawamu ke rumah sakit” jawab Umi mengulang kembali perkataan Widia.


Namun jawaban itu justru tidak membuat dirinya puas. Ia yakin jika tidak mungkin pria mengerikan itu membebaskannya dengan mudah, apalagi Alham sudah berusaha melepas topengnya.


“Aku ingat jika---”


“Alham” sela Widia langsung mendekati Alham, “Alham… kau masih belum terlalu sehat. Sebaiknya kau istirahat dulu. Dokter bilang jika kau harus perbanyak istirahat”


Mata Alham menyipit seiring dengan perhatian wanita berstatus tunangannya ini. Wajah Widia mengingatkan ia dengan tempat gelap itu.


“Kau… aku melihat dirimu waktu itu” ucap Alham mengejutkan para anggota disana.


“Ap-apa maksudnya?”


“Sedang apa kau disana?”


Tubuh Widia gemetaran. Ia sangat yakin jika Alham telah mengikuti dirinya ke tempat itu.


“Ditempat apa, tempat yang mana?” sela Umi juga penasaran.


Dengan perasaan yang takut Widia bertanya, “Ka-kau melihat aku dimana?


“Aku melihat dirimu memasuki tempat yang gelap dan pengap. Aku juga tidak tahu tempat seperti apa itu, namun saat aku mencoba menggali keberadaan mu. Aku tidak melihat dirimu lagi” jawab Alham menatap tajam wajah Widia.


“Alham aku rasa kau salah lihat. Bagaimana bisa aku memasuki tempat yang kau maksud itu, karena seharian ini aku mencari keberadaan dirimu!” ucap Widia si manipulatif.


“Iya Alham. Kau pasti salah lihat” ucap Umi membela Widia.

__ADS_1


Ingatan Alham kembali ke masa dimana ia masih berada di tempat gelap, lembab mengerikan itu. ia tidak mungkin salah melihat keberadaan Widia disana. Namun wanita berambut ikal yang ia temui juga berucap sama seperti Widia.


‘Apakah aku memang tidak mengikuti mobil Widia? Apa aku salah mengikuti mobilnya?’ pikir Alham didalam hati. “Aaaa”


Sayangnya semakin Alham mencoba berpikir, semakin terasa pula nyeri di kepalanya.


“Kak Alham… kak Alham jangan terlalu banyak berpikir. Umi dan Kak Widia juga jangan terlalu sering menjawab pertanyaan Kak Alham. Ayo kak Alham istirahat saja” sela Subha menolak jika kedua wanita itu terus meladeni ucapan kakaknya.


Alhampun istirahat dengan pikiran yang menggantung.


Drettt


Ponsel Widia berdering, membuat Widia harus mengangkat panggilan tersebut. Namun ia memilih untuk mematikan karena panggilan itu dari no yang tidak dikenal.


Drettt


Ponsel itu kembali berdering, membuat Widia penasaran dengan maksud orang itu menghubunginya. “Maaf semuanya. Widia harus mengangkat telpon sebentar”


Tanpa menunggu jawaban mereka, Widia keluar menjauhi ruangan tempat Alham diinapkan. Disana Widia memulai panggilannya.


In call


“Hallo, siapa ya?”


“Widia tolong aku…” ucap salah satu wanita yang Widia sendiri tidak tahu siapa.


“Siapa?”


“Br3ngsek kau itu. Hanya karena berbeda no kau langsung tidak mengenali diriku. Aku Diran bodoh” ucap Diran ketakutan berada didalam kotak telpon.


Widia nampak kesal, “Asshh sudah aku katakan kepada dirimu untuk tidak menelpon ku jika bukan aku yang menelpon mu terlebih dahulu. Kau itu bodoh ya”


“Heii wanita kurang akal. Gara-gara dirimu aku menjadi tahanan Dominic, dan Ayel Lesi… dibakar oleh Dominiccccc” sentak Diran memukul-mukuli dinding wartel.


Mulut Widia membuka karena kaget, “Really”


“Iya… dan sekarang para pasukan Dominic sedang mengejar diriku. Kau harus membantuku untuk melarikan diri dari mereka semua”


Widia berpikir sejenak, “Tapi… tunanganku saja—”


“Heiii kau… jangan bilang kau ingin menolak. Dengar Widia, jika bukan karena aku. Kau tidak akan bertemu dengan Alham waktu itu. kau akan tetap di anggap gadis murahan Ayel Lesi”


Kata-kata itu membuat Widia semakin muak. Memang jika Diran membantunya dalam mendekatkan dirinya dengan keluarga Akthakarta hingga menjodohkannya dengan putra pertama mereka, walau waktu itu Alham belum menyukainya.


“Ok ok. Sekarang kau ada dimana?” tanya Widia agak kesal.


“Aku ada di wartel dekat sebuah gereja lama di wilayah Almaty”


“Iya. Kau tunggu aku disana. Aku akan kesana secepatnya” jawab Widia langsung menutup telponnya.


_______


Di ruangan Alham. Widia kembali masuk, namun ia sudah tidak melihat Abi dan juga Umi disana, melainkan dua orang yang sangat ia benci. Mereka adalah Subha dan juga Ead. Keduanya menjaga pria yang sudah terlelap itu.


“Dimana Abi dan Umi?”


“Keduanya ada acara di rumah. Mereka harus segera kembali, kak” jawab Subha yang duduk disebelah ranjang Alham.


Widia tidak menjawab. Ia pun menuturkan niatnya.


“Aku ada pekerjaan mendadak. Bisa kau jaga Alham terlebih dahulu. Tidak lama, aku akan segera kembali jika pekerjaanku sudah selesai” ucap Widia agak cuek.


“Oh begitu. Tidak masalah kak. Ada aku dan juga Ead… kami akan menjaga kak Alham”


“Kalau begitu aku pergi dulu. Assalamualaikum”


“Walaikumsalam”


Sejenak Widia melakukan kontak mata dengan Ead, karena perkataan Diran membuat dirinya membenci pria itu. Pria itu telah menghancurkan tempat tinggalnya, sungguh pria yang menjengkelkan.


‘Aku akan menghancurkan dirimu’ gumam Widia dalam hati seraya melenggang pergi.


Akhirnya Widia meninggalkan kedua pasangan itu di ruangan ini. Ead yang melihat wanita itu pergi kini mendekati wanita yang masih setia berada di samping kakaknya. Ia merasa cemburu.


Ead memeluk Subha dari belakang, “Subha… jika aku yang ada di atas brankar itu, apa kau juga akan bersikap sama?”


“Husss sembarangan kalau ngomong. Jangan bicara seperti itu” sela Subha memukul pelan lengan besar yang melilit kuat di tubuhnya itu.


“Aku hanya bertanya”


“Tentu aku bersikap sama. Tapi sebaiknya kau tidak perlu tidur diatas brankar cuma untuk membuatku menemanimu. Karena di manapun aku mau menemanimu”


“Hemm naughty” ucap Ead mengecup ujung kepala isterinya.

__ADS_1


Subha terkekeh pelan supaya suaranya tidak mengganggu Alham. Namun Ead yang nakal kini membawa tangannya melintasi dua bukit kembar isterinya, dan tentu itu membuat Subha tidak menerima.


Plak


Subha memukul lengan nakal itu.


Ead tidak terima, “Sesuka hatiku. Kau itu sudah menjadi milikku jadi terima saja jika aku melakukan apapun yang ku mau”


“Ini di rumah sakit”


“Ya sudah ayo kita pulang saja” ucap Ead langsung menarik lengan Subha.


“Terus gimana dengan kak Alham?” tolak Subha kembali duduk disebelah ranjang kakaknya.


Membiarkan Ead memperlihatkan wajah datar di ambang pintu sana. Subha tahu jika wajah datar Ead merupakan tanda sesal.


Ead kembali memeluk Subha dari belakang, “I want you baby”


“Makan aja yuk” ajak Subha mengalihkan ajakan suaminya.


“No”


“Astagfirullah. Gimana sama kak Alham coba?”


“Ada banyak sekali perawat dirumah sakit ini” bujuk Ead, “Sebentar saja, 30 menit” bujuk Ead sekali lagi.


Subha belum menjawabnya. Ia ingin menjaga Alham, namun ia juga tidak bisa menolak ajakan seorang suami.


“Terus mau dimana?”


“Samping rumah sakit ada hotel. Kita akan memakainya 30 menit saja, lalu bersih-bersih terus kembali ke rumah sakit”


“Ya” kepala Subha langsung mengangguk.


Lantas Ead mengumpati Alham dalam hati, ‘Mampus sendirian’


Ead pun mengandeng tangan Subha keluar dari ruangan kakaknya. Ia juga sudah meminta para perawat untuk menjaga kakaknya sebentar.


_______


Ead benar-benar memesan satu kamar hanya untuk dirinya dan juga Subha. Memang ia sudah sangat menahan rasa itu sebelum datang ke rumah sakit, dan akhirnya waktu itu telah terjadi. Ia tidak peduli pagi, siang, sore, malam asalkan h4sratnya terpenuhi.


Kemeja Ead langsung terlepas dari tubuhnya saat pintu kamar hotel sudah tertutup.


Sementara Subha melepas hijabnya seraya bertanya, “Tadi aku dengar pelayan hotel bilang jika kau memesan kamar ini selama 3 jam ya? Kau bilang 30 menit?”


“Kau salah dengar, sayang” Ead meraih pinggang Subha hingga mengusap pipinya dengan lembut.


Telapak tangan Subha menyentuh tonjolan otot kekar milik Ead. Sesekali ia memberikan usapan-usapan kecil yang mampu menaikan hasrat suaminya.


“Naughty”


Kilas kata terakhir yang Ead ucapkan sebelum ia mengulum pelan bibir isterinya. Kedua tangan menekan pinggang ramping itu untuk semakin mendekat, lebih rapat.


Nafas keduanya memburu saat mereka melepas t4utannya, memperlihatkan untaian saliva yang masih membekas disana.


Subha menelan salivanya susah, “Tolong pelan-pelan. Aku sedang hamil, jangan lupakan itu”


“Aku tidak sedang membunuh anakku”


Subha nampak tertawa. Ya, pemanasan yang sempurna. Sedikit tawa akan mengurangi canggung diantara mereka.


Namun tawa itu telah tiada saat ia merasa jika tangan Ead naik menurunkan resleting pakaiannya. Walaupun ini bukan pertama kalinya, namun hal itu masih masih membuat keduanya canggung.


Setelah pakaian itu terlepas, Ead membawa Subha dalam gendongannya. Ia akan membawa isterinya ke tempat paling indah dari ribuan tempat di dunia. Sungguh sangat indah.


Dibaringkan pelan Subha diatas ranjang itu hingga ia dapat melihat wajah Ead diatasnya. Wajahnya nampak tampan diiringi tubuh gagah pria itu yang mengungkung dirinya. Memang menggoda.


“Ada satu kalimat yang telah aku lupakan, karena aku sendiri tidak menyadari kapan itu datang”


“Apa itu?”


“Aku mencintaimu” ucap Ead mengecup lama dahi isterinya.


Kedua mata Subha memejam merasakan bibir hangat dengan dagu berbulu itu menyentuh dahinya. Membuat Subha sadar jika kalimat itu memang belum mereka ucapkan.


“Aku juga mencintaimu”


Balas Subha melukis senyum di wajah pria bermarga Zolanda. Pria itu nampak terpesona hingga tidak menyadari telah menghujami bibir sang wanita, bahkan bibir pria itu nampak menurun menyusuri leher sampai di dua tonjolan ranum milik Subha.


Keduanya melakukan sunah rasul mereka. Mereka melakukan hal itu di hotel berlantai 5 bersampingan dengan ruangan Alham yang juga terletak di lantai 5 rumah sakit. Namun kedua ruangan itu sangat berbanding terbalik keadaannya.


Alham terbangun dan tidak melihat siapa-siapa di ruangannya, “Dimana mereka semua? Apa aku ditinggal sendiri?”

__ADS_1


...To be continued...


__ADS_2