
"Telpon kantor. Bos Widia mencantumkan nomor ponsel Widia untuk kepentingan bisnis, dan sekarang mereka sedang menelpon" jawab Widia berdusta dan memperlihatkan keyakinan dibalik senyumnya.
"Ya sudah kalau begitu Widia angkat terlebih dahulu..."
"Tidak apa-apa, Abi?" tanya Widia memastikan kembali. Sebenarnya ia memang sangat ingin mengangkat panggilan dari Slander.
"Tidak apa, angkat dulu saja sana"
"Widia permisi dulu"
Setelah mendapatkan ijin barulah Widia bergegas keluar rumah untuk lebih leluasa berkomunikasi dengan Slander di telpon.
Widia menempelkan ponselnya di telinga, "Hallo Slander " nada suara Widia seperti berbisik serta mata liar memperhatikan keadaan.
"Datanglah... Atau kau akan melihat semuanya hancur sebelum kau menikmati hasilnya"
"Kenapa?"
"Aku memberi perintah untuk datang kemari bodoh, bukan balik bertanya. CEPAT KEMARIII"
Nada Slander menyentak dari balik telpon, hampir saja membuat telinga Widia nyeri dan berdenging. Namun tentu Widia sudah terbiasa mendengar hal itu.
"CEPATT"
"Bagaimana aku bisa pergi jika di keluarga Akthakarta sedang ada acara. Calon adik iparku baru saja kembali setelah lama meninggal, bahkan tunanganku akan segera kembali dari kantor"
"Apa tunanganmu itu sudah menanamkan benih di rahimmu sampai kau begitu takut jika dia kecewa. Sayang sekali dia bukan pria pertama"
Widia merasa semakin kesal, bahkan urat-urat lehernya tampak terbentuk nyata. "Jaga bicaramu Slander... Sekali lagi kau berucap seperti itu, maka aku tidak akan tinggal diam"
"Kalau begitu datanglah"
Klik
Dengan kesal Widia memutus panggilan telpon secara sepihak. Nafasnya memburu seiring dengan rasa sakit dalam hatinya.
"Dia mulai mempermainkan diriku. Awas saja kau"
Ucap Widia meremat ponsel di cengkeraman tangannya, lalu melenggang pergi. Ingin membantah dan berdebat! Namun ia sadar jika separuh rahasianya ada pada diri Slander. Widia segera menaiki mobil.
Segeralah Widia memasuki mobil. Ia merasa gerah karena hatinya yang kesal dan tubuhnya yang tertutup pakaian tebal. Hal itu menambah rasa panas dalam dirinya.
"Tubuhku memang tidak cocok memakai pakaian tebal dan panjang ini. Memakainya seperti memakai selimut"
Widia melepas pakaian yang ia pakai dan melemparnya ke kursi belakang. Pakaian itu memang bukan stylenya. Setelah selesai dengan urusan kenyamanan, iapun mengarahkan mobilnya keluar dari gerbang kediaman Akthakarta.
__ADS_1
Tin Tin
Duar
Sebuah mobil berwarna hitam milik seorang pria yang Widia kenal terhenti di depan gerbang saat melihat mobil yang dikendarai Widia menjadi penghalang.
"Alham?"
Mulut Widia sudah terbuka sedari lama dengan perasaan takut serta tubuh yang membeku, terlebih melihat Alham turun dan mendekati mobilnya.
"Pakaianku?"
Widia menutup dadanya saat menyadari jika ia hanya memakai tank top hitam. Hal itu membuat Widia gelagapan mencari syar'i yang ia buang. Jika Alham melihat, dia akan merasa syok dan endingnya akan memulai ceramah.
Tok
Tok
Tok
Alham mengetuk kaca jendela mobil tunangannya, "Widia..."
Karena tidak memiliki kesempatan untuk mencari pakaiannya, membuat Widia memakai jaket kulit yang ada di kursi sebelah. Barulah Widia menurunkan kaca jendelanya.
Alham mengangguk, "Tadi sebenarnya ada pekerjaan tapi sedikit. Aku langsung memilih pulang saat Umi menelpon jika Subha datang ke rumah. Kenapa kau tidak menelpon ku?"
Widia berusaha memanipulasi keadaan, "Aku takut jika telponku malah mengganggu dirimu... Kau pernah bilang jika tidak suka di ganggu saat sedang bekerja. Aku hanya mencoba menurutimu"
Widia memanyunkan bibirnya seperti sedang mengambil perhatian Alham. Tentu Alham tidak bisa mengabaikan reaksi menggemaskan dari tunangannya. Alham mencubit bibir memanyun Widia.
"Kau itu banyak alasan" Alham tertawa singkat, "Oh iya... Kau ini mau kemana?"
Widia kembali teringat dengan tujuannya mengendarai mobil, "Aku ada pekerjaan mendadak"
"Kenapa hanya memakai jaket? Jilbabmu mana?" Tanya Alham saat melihat rambut tunangannya ini tergerai tak diikat dan memudahkan setiap mata lawan jenis untuk melihat.
"I-ini"
Gugup Widia memperlihatkan jilbab berwarna brown yang ada di dalam tasnya. Warna yang tidak senada dengan jaket ataupun pakaian syar'i nya.
"Kenapa cuma diperlihatkan? Pakai dong" Alham langsung merampas hijab yang ada ditangan Widia dan ia pakaikan. "Jika sudah seperti ini, kau seperti wanita baligh. Kau sudah pantas di buat contoh oleh anak-anak kecil di luaran sana. Mereka akan melihat dirimu yang tertutup dan menumbuhkan perasaan hijrah. Dalam kata lain, kau membawa cahaya bagi mereka"
Tutur Alham panjang lebar tanpa ada sepatah kata yang Widia dengarkan. Kata itu memang berhasil masuk kedalam telinga Widia namun akan keluar dari telinga kiri.
"Baiklah Alham, hijab ini akan aku pakai... Lalu apa aku boleh pergi? Aku sudah sangat telat ini"
__ADS_1
"Iya pergilah... Tapi hati-hati ya"
Widia segera menginjak gas mobilnya, "Ok bye... Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam" jawab Alham dengan singkat. Memberikan ijin Widia untuk pergi meninggalkannya.
Diperjalanan...
Rambut Widia sudah kembali terbuka dan tergerai panjang, bahkan jaket yang ia pakai sebelumnya, kini sudah terbuang entah kemana.
Terlepas dari perilaku nyleneh wanita ini, ia termasuk seseorang yang dapat dikatakan pandai dalam mengendarai mobil, bahkan keahliannya dalam menghindar dan menyalip perlu diberi apresiasi yang tinggi.
Padahal jalanan kota di Almaty sangatlah ramai, hampir padat. Namun wanita ini mampu melewatinya tanpa menyerempet kendaraan lain.
_______
Sampailah Widia di tempat persembunyian Slander beserta para pasukannya. Mobil Widia berhenti di tengah-tengah tanah berpasir, seperti menunggu sesuatu.
"Open" ucap Widia memberi perintah.
Tidak lama, tanah yang ada didepan kendaraan Widia bergeser membuka jalan untuknya, memperlihatkan lorong-lorong gelap dengan lampu mobil sebagai penerang.
Ruangan bawah tanah yang mewah nan luas, hampir tidak ada yang mengira jika ada ruangan mewah bagai kastil dibalik tanah tersebut.
Namun tidak berlaku untuk pria yang sudah lama bersembunyi dengan mata mengintai tempat itu sejak fajar menyingsing. Pria itu menunggu seseorang untuk menjadi tanda bahwa terdapat tempat persembunyian dibalik tanah tersebut, dan kebetulan Widia datang.
"Kau yakin jika Leiska ada di tempat itu, Louis?"
"Kemungkinan besar iya, Tuan. Ada beberapa tempat yang kami curigai, yaitu Diran Ayel Lesi dan persembunyian pria yang di sebut Slander itu"
"Pria seperti apa dia, mengapa wajahnya saja tidak terdeteksi?" Mata Ead tajam dengan telinga mendengarkan.
Louis memberikan beberapa berkas, "Slander tidak memperlihatkan wajahnya kepada siapapun, dia hanya menutup wajahnya dengan topeng"
"Dia sok misterius sekali, ya" sela Roy tiba-tiba, membuat Ead dan Louis hampir saja terkejut.
Ead tidak merespon lebih ucapan Roy, "Louis... Perintahkan pasukan untuk menyerang tempat itu, tapi ingat untuk tetap dalam penyamaran"
"Bagaimana kami bisa masuk, Tuan?"
"Kirimkan dua tiga orang kesana, berpura-pura lah menjadi seseorang yang tidak berdaya. Kalian akan langsung dibawa untuk ditahan. Namun untuk kesuksesan rencana ini, aku akan ikut andil dalam penyamaran"
...To be continued...
...Semoga nyambung ya... ngetiknya agak ngebut hehehehđ...
__ADS_1