
Raut wajah Alham masam. Bibirnya memanyun dengan segala rayuan yang ia perlihatkan supaya wanita yang merupakan tunangannya ini mau meminjamkan ponselnya.
Widia yang melihat hal itu merasa heran dengan perilaku sikap Alham yang berbeda. Tidak biasanya Alham memperlihatkan sifat kekanak-kanakan didepan dia.
"Jawab dulu pertanyaan ku, kenapa kau sangat ingin menelpon bos ku?" pinta Widia masih dengan keadaan menjauhkan ponselnya.
Alham berpikir, alasan apa yang membuat dirinya ingin mengetahui bos Widia sampai ingin menelponnya. Kenapa pria ini terlihat seperti sedang cemburu?
"Entah aku tidak tahu. Tapi aku sangat penasaran dengan bos mu itu, lalu berikan no nya saja. Aku akan langsung menelponnya"
"Nggak" Widia membelakangi Alham serta membawa ponsel digenggaman tangannya rapat-rapat.
Alham mencoba meraihnya namun lagi-lagi Widia menghindar, "Oh kau memang punya selingkuhan ya"
Kedua tangan Alham masih tiada henti meraih ponsel Widia. Sementara Widia berusaha menjauhkannya dengan kedua tangan ke atas.
Alham meraih-raih tangan Widia. Tentu tidak ada perilaku kasar, bahkan keduanya terlihat menikmati canda tawa mereka.
Tanpa sengaja Widia menurunkan tangan kanannya kebawah hingga menyikut pipi bagian kanan Alham.
Bugh
"AWW" pekik Alham menjauhkan dirinya dari Widia, takut jika wajah tampannya menjadi korban untuk ke sekian kalinya.
Tubuh Alham membungkuk dengan tangannya memegangi pipi kanan dan tangan kiri bertumpu pada paha kiri seraya menahan rasa sakit.
Tentu hal itu membuat Widia merasa khawatir. Ia pikir tidak terlalu kencang saat mengikut Alham, tapi kenapa dia terlihat sangat kesakitan.
Widia berjalan mendekati Alham seraya tangan menyentuh bahu Alham. "Alham kau baik-baik saja, apa aku memukulmu terlalu keras? Sorry"
Widia memanyunkan bibirnya merasa bersalah. Ia juga membawa wajah pria itu kearah pandangannya. Memastikan.
"Ya ampun. Kenapa langsung lebam?"
"Ssstt jangan di pegang sakit" rintih Alham menepis tangan Widia yang ingin menyentuh pipinya.
"Kenapa langsung lebam. Aku rasa pukulan itu tidak terlalu keras deh" pikir Widia.
Alham memikirkan kembali dari mana asal ia mendapatkan luka lebam di pipinya. Tidak lama ia ingat jika siang tadi Ead memukul wajahnya bergantian.
"Tidak apa. Jangan dipikirkan"
"Jangan dipikirkan bagaimana kalau lebamnya membiru loh... Beneran ini karena sikut ku?" Tanya Widia menarik lengan Alham saat pria itu hendak meninggalkan.
Jika Alham mengatakan bahwa lebam itu berasal dari suami Subha, pasti Widia akan kembali membenci Subha dan dia akan menyalah-nyalahkan adiknya. Alham hanya ingin memperbaiki perasaan Widia.
Alham mencoba mengalihkan, "Iya, ini karena sikutmu..."
"Bohong. Kau abis bertengkar dengan siapa?" namun Widia tidak gampang di tipu. Tahulah siapa Widia itu. Seorang wanita yang merupakan tangan kanan Mafia Slander. Dia sudah tahu betul bentuk-bentuk pukulan dan seperti apa yang akan ditimbulkan.
__ADS_1
Widia menarik lengan Alham menuju ranjang. "Duduklah aku akan mengobatinya"
Widia menekan bahu Alham kebawah hingga pria itu terduduk di ujung ranjang. Sementara itu ia mengambil air hangat di dalam kamar mandi, hendak mengompres.
Tidak lama Widia kembali membawa gayung berisikan air hangat dan handuk kecil. "Jika di kompres, lebam itu akan cepat memudar"
Tubuh Widia terduduk di samping pria yang duduk menunggu dirinya seraya tangan masih memegangi pipi bagian kanan.
"Coba kesini kan wajahmu" Widia menarik pelan wajah Alham ke hadapannya. Keduanya saling pandang.
Alham melihat wajah cantik Widia yang terdapat luka di ujung bibirnya, "Lukamu juga harus di kompres. Dimana handuknya? Aku akan mengompres ujung bibirmu"
"Nggak usah" tolak Widia cepat.
"Aku juga nggak mau kalau gitu" Alham menepis tangan Widia dari wajahnya.
Widia pun menghela nafas kesal, merasa sabar menghadapi sifat keras kepala Alham. Ia pun segera mengambil handuk kecil berwarna putih di dalam almari.
"Nih"
"Gitu dong. Gini aja kok susah"
Alham tersenyum lebar. Ia melipat kecil handuk itu dan dicelupkan kedalam gayung, membasahi.
Keduanya saling mengobati luka mereka. Tanpa mereka sadari tawa keluar saat keduanya terciduk saling pandang. Rasanya Widia senang dengan kejadian ini, melihat Alham yang begitu hangat terhadap dirinya.
Tidak tahu dari mana asalnya, tangan kiri Alham mengulur mengusap rambut Widia dengan lembut. Pandangan keduanya masih tidak henti menatap, dengan perasaan yang semakin bergejolak.
Cup
Akhirnya kedua benda tidak bertulang itu saling bersentuhan serta saling mengulum penuh kelembutan.
Tangan Alham menggerayangi pinggang hingga punggung Widia. Menarik tubuh si wanita untuk lebih dekat dengannya, dengan begitu Alham lebih leluasa.
Bahkan gayung yang ada di antara keduanya harus tersingkir menumpahi lantai. Gayung itu menjadi saksi bisu pertukaran saliva mereka.
______
18:00
Di tempat lain...
Udara dingin semakin terasa memasuki ruangan wanita yang senantiasa menjadikan tempat itu ruang untuk istirahatnya.
Awan biru mulai berubah menghitam mengikuti arah kemana matahari menghilang. Samar-samar dari atas terlihat para pekerja bergegas memasukan sandang pangan kedalam penyimpanan.
Wanita bercadar itu mengintai mereka dari atas jendela kamarnya, tanpa cadar maupun penutup rambut hitam kemerahan miliknya. Ia juga mengisi waktu menunggu kabar dari orang kepercayaan suaminya.
Drettt
__ADS_1
Suara yang ia tunggu akhirnya terdengar. Subha berlari mengangkat telpon rumah yang terletak diatas nakas.
In call
"Assalamualaikum"
"Walaikumsalam" jawab Louis membuat Subha berbinar.
"Bagaimana, apa Ead akan segera kembali, polisi mau melepaskan Ead?" tanya Subha tidak sabaran dengan telpon berada di telinga.
"Polisi memutuskan untuk menahan Tuan Ead selama 24 jam, dikarenakan Tuan Ead mengaku mengawali perkelahiannya. Jika saja Tuan Ead mengeles mungkin hukumannya akan lebih berat"
"Ada yang lain? Sepertinya bukan hanya karena perkelahian itu. Penjara 24 jam itu adalah masa penyelidikan" ucap Subha membantah ucapan Louis.
Kini wajah Louis, Roy serta wajah Ead saling tatap bergantian, menyadari jika kebohongannya terungkap.
"Bagaimana ini? Apa yang harus saya jawab?" tanya Louis bingung. "Tuan?"
"Matikan saja" perintah Ead langsung mematikan telpon kantor polisi.
Hal itu membuat Subha bingung. "Hallo, hallo. Apa anda masih di sana? Hallo" Subha masih mencoba berbicara namun panggilan sudah berakhir.
Roy berjalan mendekati pria yang berada di dalam jeruji besi itu, "Ead kau tenang saja. Besok aku akan mencoba mencari cara untuk membuat polisi yakin jika itu merupakan foto editan"
"Hm... Sana pulang" titah Ead.
"Saya minta maaf karena belum bisa mengeluarkan anda" ucap Louis menundukkan kepalanya malu.
"Sudah sana pulang" tekan Ead merasa bosan dengan kehadiran kedua pria itu. Membikin jengkel saja.
Tidak lama keduanya meninggalkan Ead. Meninggalkan Ead bersama dengan para polisi penjaga disana, membiarkan Ead berinteraksi dengan mereka. Maybe!.
Terlepas dari itu Subha melaksanakan sholat Maghrib. Beralaskan sajadah merah yang menjadi teman sujudnya, ia melaksanakan kewajiban dengan sangat khusyuk.
Melakukan rukuk, sujud hingga duduk diantara dua sujud terakhir. Lantas Subha menengadahkan kedua telapak tangannya, berdoa.
"Ya Allah. Jagalah suamiku dimanapun dia berada, serta lindungi suamiku kepada siapa dia bersama. Jadikan rasa rindu ini terbang diatas langit sana, melayang menemui Rabb nya. Amin"
Tutur Subha meraup wajah dengan telapak tangannya, berharap rindu berbentuk doa itu akan segera dikabulkan.
Sementara pria yang menjadi objek doa Subha sedang terduduk tanpa alas apa-apa. Ia hanya duduk diatas lantai dingin serta nyamuk menghisap darahnya.
Kedua kakinya tertekuk keatas, serta tangan berada di kedua lututnya. Kepalanya menengadah dengan kedua mata memejam.
Pikirannya melayang jauh saat-saat dirinya bercumbu dengan Isterinya. Hal itu membentuk ringaian kecil dari balik bibirnya.
...To be continued...
...Ooooooo Ead ni pria nackallll...
__ADS_1
...Jangan lupa jempol sama vote nya ðŸ˜...