Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 46 : Tekad Dan Dusta!.


__ADS_3

Pagi-pagi buta saat matahari masih malu untuk memperlihatkan pesonanya, serta embun dengan keberaniannya membasahi apapun yang dekat dengannya, lereng bukit terjal tanpa pepohonan itu berselimutkan kabut putih hampir membutakan setiap mata yang menyaksikannya.


Semua itu dapat dilihat jelas oleh seorang pria penikmat cerutu sebagai penghangat suhu tubuhnya. Pria itu memakai mantel hitam duduk di kursi penumpang serta mengamati keadaan sekitar.


Disetiap sisinya, terdapat para pasukan dengan persenjataan yang tidak main-main. Masing-masing dari mereka membawa satu senapan serta memakai baju baja keselamatan.


"Waktu berjalan semakin cepat, namun tidak satupun kutemui yang begitu bermakna. Entah aku yang serakah, atau dia yang sudah lelah" tutur Ead tanpa adanya ekspresi dari balik wajahnya.


Sekelebat bayangan masa lalu kembali ia ingat, dimana sepasang suami isteri memberikan sebuah kata sayang namun diselingi amanat dan tanggung jawab yang berat.


Flashback on


"Ayah sayang kepadamu, Ead" ucap pria baya tersebut sebelum akhirnya terjun dari atas gedung sementara pria yang dimaksud telah menjadi saksi tragedi tersebut.


"Ibu sayang denganmu, Ead. Jaga Adikmu ya" ucap wanita setengah baya sebelum akhirnya pergi meninggalkan dia untuk selama-lamanya.


Flashback off


Seketika kedua ujung bibir Ead menyungging saat pikiran serakah, kotor, hingga masa lalunya di sapu bersih oleh wajah menenangkan dari isterinya. Hal itu menumbuhkan semangat baru untuk Ead dalam mencari Leiska.


"Akan aku temukan dirimu, jika perlu! Ku buat hukuman setimpal untuk mereka yang berani menyentuhmu" ucap Ead dalam tekadnya.


______


Kembali ke Subha dan Amina. Subha masih setia menunggu Amina dalam menjawab pertanyaannya, karena gadis ini sulit dalam hal mengingat.


Amina nampak berfikir sejenak, "Hemm aku lihat kakakku Louis tidak pulang dari sore. Kemungkinan Tuan Dominic pergi bersama kak Louis dan kak Roy"


"Dia pergi?"


Amina mengangguk membenarkan apa yang telah Subha katakan. Hal itu tentu membuat Subha merasa heran dengan tujuan suaminya melakukan dusta. Ia yakin jika sesuatu sedang terjadi.


"Apa kau tahu dimana mereka pergi? Apa ada yang menitipkan pesan darinya untuk diriku?"


Subha mencoba bertanya dengan beberapa pelayan yang melewati dirinya, namun sayang tidak ada yang menjawab. Kemungkinan mereka tidak ada yang merasa mendapatkan pesan dari Tuan mereka.


"Nyonya"


Teriak pengawal yang baru saja memasuki kediaman Zolanda. Ia bergegas menghadap saat merasa memiliki pesan untuk diberikan kepada Subha.


Wanita bercadar yang dimaksud itu segera menoleh, "Ada apa? Apa ada yang ingin kau sampaikan terkait dengan keberadaan suamiku?"


"Nyonya, Tuan kami berpesan kepada saya untuk memberitahu anda jika beliau sedang ada urusan mendadak. Untuk terkait kunjungan ke rumah orang tua anda, beliau meminta anda untuk datang terlebih dahulu. Tuan Ead akan menyusul"


"Oh begitu" kepala Subha segera mengangguk untuk memberikan respon bahwa dirinya paham dengan ucapan dari pengawal itu.


"Saya akan mengantar Nyonya berkunjung ke rumah orang tua anda"


"Baiklah" jawab Subha menerima tawaran sang pengawal tersebut. Sebelum itu ia ingin berbicara dengan Amina terlebih dahulu. "Amina, aku pergi dulu... Assalamu'alaikum"

__ADS_1


"Iya Nyonya... Walaikumsalam"


Subha pun meninggalkan Mansion bersama dengan pengawal yang sudah Ead perintahkan. Amina pun segera pergi untuk mengerjakan tugasnya sebagai seorang pelayan selagi dirinya cuti sekolah.


________


Sampai...


Suasana bahagia menyelimuti kediaman Akthakarta. Banyak sekali pekerja berlarian seraya mengantarkan pesan atas kedatangan putri atasan mereka yang sudah lama tidak ada kabar.


Setiap pelayan yang mendengar merasa turut berbahagia sekaligus terharu. Mereka yang sudah mendengar menyambut kedatangan Subha di ruang tamu.


Beberapa pelayan menangis haru saat kedua matanya melihat Subha sudah berdiri diambang pintu dengan keadaan yang sehat tanpa kurang sedikitpun.


Selain itu kedua orang tua Subha juga teramat sangat bahagia, terutama kepada Umi Riverlyn yang menantikan kedatangan putri yang ia rindu-rindukan.


Lain halnya dengan wanita pemilik wajah polos namun hati keras bagai batu, wanita itu merasa kaget mengetahui bahwa gadis yang ia benci kembali lagi ke rumah. Hal yang ia takut-takutkan.


'Akhirnya wanita ular itu kembali' umpat Widia dalam hati yang kesal.


Kembali ke Subha dengan tangis harunya. Wanita ini masih setia diambang pintu tanpa seseorang mempersilahkannya masuk.


"Assalamu'alaikum, Umi"


Dada Umi sesak karena menahan tangis. Akhirnya ia dapat mendengar salam sapa dari putrinya lagi.


"Walaikumsalam"


Perasaan Umi bercampur antara bahagia dan juga terharu. Hampir saja ia tidak kuat menahan kedua kakinya, namun ia tetap berusaha mendekati putrinya.


Sesampainya Umi didepan Subha, wanita muda bercadar yang ditunggu-tunggu itu mengecup punggung tangannya. Hal itu membuat Umi memeluk Subha sekaligus, melepas rindu setelah sekian lama tidak bertemu.


"Umi sehat?"


"Alhamdulillah sehat, kamu gimana?"


"Alhamdulillah Subha juga sehat, Umi"


Keduanya kembali berpelukan sesaat setelah mereka melepas pelukannya untuk saling melihat wajah satu sama lain.


Setelah lama berpelukan dengan Uminya, Subha berganti menyalami serta bertukar komunikasi dengan pria baya yang menunggu disapa.


"Assalamu'alaikum, Abi"


"Walaikumsalam"


Hampir sama dengan Umi, Abi memeluk serta mengecup dahi dan kedua pipi Subha. Hanya itu, sudah membuat rasa rindunya terbalaskan.


Namun tiba-tiba atensi Subha melihat kearah wanita yang berdiri dibarisan paling belakang. Wanita itu nampak diam dengan tatapan tajam kearahnya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, kak Widia"


"Wa-walaikumsalam Subha..." jawab Widia dengan antusiasnya memeluk calon adik iparnya itu. Namun semuanya palsu tanpa ada yang tahu.


Widia melepas pelukannya, "Kamu sehat kan Subha... Kau tahu jika aku sangat khawatir kepadamu? Bagaimanapun, kau tetap calon adik iparku"


"Alhamdulillah Subha sehat, kak" jawab Subha.


Widia mengusap kepala Subha, membiarkan Subha menyadari perilaku berbeda dari calon kakak iparnya yang dulu dan sekarang. Dulu Widia dingin tapi sekarang Subha sudah merasakan kehangatannya.


"Kak Alham kemana, kak?"


"Aku sudah menghubungi Alham untuk segera kembali dari kantor, sebentar lagi mungkin akan kembali" jawab Widia berbohong. Ia hanya berpura-pura seakan sudah menghubungi Alham supaya mencuri perhatian orang sekitar.


Dretttt


Ponsel Widia berdering lama disaku baju yang dipakai. Hal itu mengalihkan perhatian para anggota keluarga Akthakarta. Namun Widia enggan untuk menjawabnya, karena ia tahu ini bukan waktu yang pas untuk mengangkat telpon.


"Umi, bukankah Umi sudah memasak makanan yang enak serta banyak untuk putri Umi?" gurau Widia dengan antusias.


"Oh iya benar... Ayo kita ke ruang makan segera"


"Syukurlah Umi mengingatnya"


"Kau yang mengingatkan Umi" Ucap Umi Riverlyn merangkul bahu Widia dan juga bahu Subha.


Mereka yang mendengar itu juga ikut tertawa, hingga berbondong-bondong menuju ruangan dengan makanan yang sudah menunggu untuk disantap.


Namun telpon Widia kembali berdering, membuat Umi dan seluruh anggota sekitar merasa kurang nyaman dengan gangguan tersebut.


"Coba nak Widia diangkat dulu telponnya. Siapa tahu itu hal yang penting"


"Tidak masalah Abi... Sekembalinya Subha, aku ingin menjadikan hal ini paling berharga. Bagaimana aku bisa melewatkannya"


Tutur Widia mengusap pipi Subha dengan lembut dan wajah yang tersenyum seakan bahagia. Namun begitu mudah semua orang percaya dengan pendusta seperti dirinya.


"Tidak apa nak, coba kau angkat..." ucap Abi Rahman sekali lagi.


Mata Widia memperhatikan raut wajah setiap orang didekatnya, mereka seakan mengintimidasi dirinya. Ia takut jika penolakannya dapat membuat beberapa orang curiga. Maka dari itu ia memilih untuk mengecek.


Widia membaca nama yang tertulis dilayar, 'Slander'.


"Siapa kak?"


"Telpon kantor. Bos Widia mencantumkan nomor ponsel Widia untuk kepentingan bisnis, dan sekarang mereka sedang menelpon" jawab Widia berdusta dan memperlihatkan keyakinan dibalik senyumnya.


...To be continued...


...Widia nih sebelas dua belas sama aku... tapi bedanya niat aku baik😭...

__ADS_1


...Bentar lagi aku liburan gess, niatnya mau up lebih banyak. Doain aja ya......


...Maaf juga waktu itu bolong update huhuhu😭 aku menyesalll. Tetap dukung author nya dengan like, komen, vote biar author nya seneng dan semangat🙏...


__ADS_2