
"Siall aku dijebak"
Mata Ead menyerngit melihat sosok Zlander yang bertambah banyak. Ia terlihat seperti amoeba menjijikan yang dapat membelah diri. Mereka nampak sama! Dan Ead yang melihat itu justru semakin murka tertelan bingung.
"Apa kau sadar sedang berada dimana, Dominic? Apa aku perlu menjelaskannya kepadamu? Sepertinya tidak perlu"
Ead semakin muak mendengar ucapan pria bertopeng itu. Cih kata topeng saja sudah membuatnya merasa amat jijik. Dia mengaku seorang pemimpin? Bahkan penampilannya tidak lain hanya seperti seekor ular. Menjijikan.
"Kau pengecut sekali Zlander. Menculik wanita, memakai topeng, dan menjebak diriku untuk masuk kedalam perangkap mu. Bukankah caramu itu terlalu rendahan?" ucap Ead dengan mata tajam sudut bibir terangkat penuh dengan ejekan.
Namun Zlander yang berdiri di arah kanan Ead justru malah tertawa girang. Sepertinya, mereka ingin membuat Ead kebingungan.
"Rendahan kau bilang? Dominic, selalu ada rencana dibalik kejadian tidak terduga. Ini adalah caraku untuk menghancurkan pria seperti dirimu" ucap pria itu hampir membuat Ead kehilangan kesabaran.
"Apa kau merasa iri denganku? Kau ingin mendapatkan kekuasaan yang lebih tinggi, hah?"
Zlander yang ada di sebelah kiri Ead bergantian tertawa, "Kau menyebut dirimu seorang Mafia? Seorang Mafia tidak akan heran jika dia memiliki seorang musuh. Mereka harus mengorbankan seluruh nyawa anak buahnya hanya untuk kekuasaan dan kemenangan. Untuk hilangnya Adikmu, anggap saja itu adalah konsekuensi karena menjadi adik Mafia seperti dirimu"
Mata Ead masih membara melihat para pecundang disana. Kepalan tangannya menguat seakan tidak tahan ingin menghabisi mereka. Mulut mereka seperti pisau, begitu tajam dan Ead sangat membencinya.
"Ead, bagaimana dengan keadaan anakmu?"
Deg
Terbakar sudah! Hati Ead sudah membara mendengar pria itu mengucapkan kata 'Anak' dari mulut kotornya. Siallan...
"Apa dia sehat? Ibunya sehat? Sepertinya keluargamu begitu bahagia sampai kau melupakan Adikmu" pria itu tertawa dari balik topengnya.
"Beraninya ka----"
"Apa aku salah, Leiska" sela Zlander membuat Ead gemetar.
Deg
Dari ruangan gelap yang ada didepan Ead, wanita itu keluar memberi tusukan rindu dari seorang kakak untuk adiknya.
"Leiska... " lirih Ead bergetar jiwanya.
Wajahnya yang tidak berekspresi apa-apa namun Ead yakin jika bibirnya bergetar menjerit namanya. Leiska begitu merindukan sosok Ead di dekapannya, pantas saja lelehan bening keluar dari mata merah Leiska. Namun mengapa ia tidak berlari memeluk kakaknya? Mengapa dia hanya diam? Mengapa ia membiarkan dirinya berjauhan dengan kakaknya? Pertanyaan itu tidak bisa Ead tepis dari pikirannya.
__ADS_1
"Leiska, kemari lah"
Ead membuka kedua tangannya. Ia akan menerima adiknya apapun yang terjadi. Ia sudah begitu merindukan Leiska. Datanglah dan peluk kakakmu sayang!!.
Tubuh Leiska membisu, tatapan matanya yang kosong seperti orang buta. Lingkaran matanya yang hitam dan rambutnya yang acak-acakan. Sesuatu pasti sedang terjadi!.
"Kau kenapa, Leiska?"
Pria diatas sana tertawa setelah mendengar pertanyaan Ead yang menggelikan. Bagai adegan drama saja! Sungguh muak rasanya.
"Kau itu kenapa Dominic? Dimana pria sombong itu pergi? Mengapa aku melihat Dominic yang begitu rapuh setelah melihat wajah adiknya?"
"Kau----"
Dorr
Pria bertopeng yang ada di kanan Ead melepas pelatuknya, menembus daging empuk di kaki wanita bernama Leiska. Leiska luruh begitu saja dengan lelehan darah keluar dari sana.
"Zlanderrrr"
"Jaga emosimu jika kau ingin adikmu selamat" seru Zlander saat menampaki Ead yang murka ingin menembaki mereka semua.
"Lagipula Ead. Bukankah istrimu sedang hamil? Tidak boleh seorang suami melukai atau membunuh disaat istrinya sedang hamil. Atau kau ingin menitipkan kehidupan siall untuk anakmu kelak?"
"Aku tidak akan membuat anakku menanggung dosaku. Kau akan mati... inilah sumpahku" tekad Ead menekankan pada hatinya. Ia tidak akan pernah lupa, tidak akan pernah!!
Tatapan Ead berganti melihat wanita mengerang sakit di ruangan sana. Wanita itu nampak lemah dan kurang bertenaga. Kau kenapa, Leiska?
"Leiska, apa kakak mengajarkan dirimu seperti ini? Berdirilah dan lawan hidupmu. Apa yang terjadi, kenapa kau hanya diam?" tegas Ead dan Leiska hanya menggeleng lemah.
Zlander tertelan lucu mendengar ucapan pria ini.
“Ini merupakan pertemuan pertama kita, Ead. Kau terlihat berantakan. Bagaimana kalau kita bernegosiasi terlebih dahulu?”
“Aku tidak ada niatan berlama-lama denganmu, Zlander. Bagaimana kita bisa bernegosiasi jika waktumu saja tidak akan banyak”
Seluruh pria bertopeng menertawai perkataan Ead. Mereka seakan menganggap rendah pria beristri ini. Hampir Ead termakan emosi dan ingin membunuhnya. Namun ia kembali ingat dengan kehamilan Subha.
“Kau akan membunuhku?” Zlander tertawa. “Bukankah aku sudah berkata tadi, istrimu sedang hamil! Tidak baik Ead membunuh saat istri kita sedang hamil”
__ADS_1
“Kita? kau tidak akan memiliki kesempatan untuk menikah bahkan punya anak. Anak suci tidak akan sudi memiliki ayah seperti dirimu?”
“Sepertinya kau sangat bangga dengan kehamilan istrimu ya” Zlander segera memperlihatkan sebuah layar monitor di dinding berlumut.
Mata Ead memanas melihat seorang wanita memakai cadar sedang memilih pakaian dipusat perbelanjaan. Walaupun wanita itu memakai niqab, Ead masih mengetahui bentuk mata istrinya.
“Aku bersumpah jika kau berani menyentuh istriku, aku akan mencabik-cabik tubuhmu” tangan Ead terkepal hebat.
“Bagaimana dia bisa tertarik dengan kehidupanmu? Bagaimana wanita seperti itu mau mengandung anak Mafia rendahan sepertimu”
“Itulah kehebatanku”
“Kau anggap itu kehebatan?” Zlander terkekeh lirih. “Wanita itu menerimamu setelah kau menikahinya secara sah. Bagaimana jika aku juga menikahinya secara sah? Dia akan mau berbagi malam denganku. Aku akan memvidionya dan mengirimnya kepadamu”
Nafas Ead memburu. Tangannya sudah gatal ingin menghancurkan mulut pria itu. Enak saja dia ingin menikahi wanita yang sudah menjadi hak patennya.
Tidak, jika Ead menghukum pria itu maka orang suruhan Zlander akan menyakiti Subha. Ead tidak pernah ingin membawa Subha kedalam urusan pribadinya. Tidak akan pernah.
Dan ada apa dengan Leiska? Ead yakin ada sesuatu dibelakangnya. Namun ia tidak boleh gegabah.
“Apa yang kau inginkan?”
Zlander menyeringai misterius dengan jawaban Ead.
______
Di tempat lain…
Mobil melesat melewati jalanan perbukitan yang gersang mencari sebuah persembunyian yang menjadi saksi pertemuannya dengan sang kekasih. Alham menuruni jurang seraya mengendarai mobilnya. Ia tidak melihat apa-apa selain hamparan pasir yang panas dan menyengat kulit.
Mobil Alham tidak berhenti memutar-mutar di satu tempat. Debu pasir berterbangan mengotori badan mobil. Namun ia tidak menemukan apa-apa.
“Dimana tempat Zlander itu?”
Alham sudah mencoba turun dan mencari-cari dibalik pasir. Ia mengobrak-abrik hamparan pasir namun ia tidak kunjung menemukannya. Bagaimana bisa tempat itu hilang begitu saja? Padahal Alham ingat betul ia masuk melewati sini, bahkan ia sudah membayangkan membawa Leiska keluar dari tempat mengerikan itu.
“Dimana tempat itu? Aku ingat ada pintu disini”
Alham seperti orang gila mencari sesuatu yang tidak ada bentuknya. Pasti jika ada orang disana, maka ia akan menjadi saksi kegilaan Alham.
__ADS_1
Karena tidak menemukan apa-apa, membuat pria itu kembali memasuki mobilnya. Ia ingin mencari keberadaan Ead saja.
To be continued