
Seketika suasana menjadi hening. Para pelayan yang sudah bahagia dengan memilih pakaian, nampak merubah mimik wajahnya menjadi murung. Tidak akan pernah menduga akan mendapatkan pakaian tertutup seperti ini. Mereka kira pakaian dengan style yang terbuka dan kekinian.
Terlepas dari rasa kecewa para pelayan, Subha terlihat masih bahagia karena memberikan pakaian yang cocok untuk mereka semua. Pikirnya, Ead tidak akan melirik ataupun melihat tubuh para pelayannya. Sungguh isteri yang sholehah.
“Tidak sesuai ekspektasi” bisik salah satu pelayan dengan mulut cabenya. Pelayan yang cerewet saat membantu Subha masak, Amina.
Amina menurunkan pelan pakaian yang sebelumnya ia bentang, “Kalau begini masih mending Tuan Ead lah. Walaupun ia hanya memberikan satu pakaian kepada kita, setidaknya pakaian yang ia pilih tidak membuat kita gerah”
“Sepertinya almari ku akan penuh dengan pakaian menganggur. Kau bisa mengambilnya nanti, Saila”
“Shuttt, nanti Nyonya dengar” ucap Saila yang juga pelayan.
Para pelayan berbisik pelan supaya Nyonya mereka tidak mendengarkan. Subha akan sedih nanti, jika ia mendengar rasa kecewa dari para pelayannya.
“Apa kalian suka?” tanya Subha dengan sangat antusias.
“Suka sekali Nyonya. Terimakasih” ucap para pelayan secara bersama-sama, melukis senyum di wajah tertutup Subha.
“Langsung dipakai saja ya”
“Apa, kenapa harus sekarang?” refleks Aminah bertanya.
Subha menoleh kearah Amina dengan hati yang lapang, bersiap menjawab, “Suamiku akan pulang. Dia akan melihat tubuh wanita yang bukan muhrim jika kalian masih memakai pakaian terbuka seperti ini. Itu haram… toh kalian muslim kan?”
“Maaf Nyonya, jadi pakaian ini harus terus kita pakai ya?”
“betul sekali”
“WHAT” pekik Amina dalam hati saat ia terkejut namun tidak berani memperlihatkan suaranya.
Tidak hanya Amina, namun para pelayan lain juga nampak terkejut mendengar perintah yang sudah Subha tetapkan. Sudah kecewa dengan pakaian yang diberikan Subha, mereka malah disuruh memakainya saat itu juga.
“Sekarang kalian boleh pergi. Setelah dipakai kembali lagi ya” ucap Subha penuh kelembutan.
Para pelayan segera meninggalkan ruang tamu membawa pakaian yang Sudah subha berikan. Mereka terpaksa harus memakai pakaian yang tertutup untuk menutup tubuh indah mereka.
Saat para pelayan kembali ke asrama mereka, berbeda dengan seorang pelayan yang terlihat masih gadis ini berdiri tanpa bergerak sama sekali. Ia membawa tubuhnya mendekati Subha.
“Nyonya… aku tidak bisa memakai pakaian yang baru dibeli. Kulitku akan gatal jika aku dipaksa memakainya…” ucap Amina mengeles serta raut wajah memelas.
Namun lagi-lagi Subha merespon dengan santai serta tutur kata yang halus, “Amina…"
"Ouh, anda tahu namaku?" pekik Amina terkejut, membuat Subha tertawa gemas melihat tingkahnya.
Subha kembali meneruskan, "Amina, jika kulitmu merasa gatal saat memakai pakaian yang baru dibeli, maka aku punya pakaian yang sudah lama. Kau mau memakainya? Terlebih, ada cadar dan juga hijab jika kau mau memakainya”
Amina menelan ludahnya susah. Matanya mengerjap kearah lain, memperlihatkan penolakan yang nampak ragu. Namun Amina ingin mengeles lagi, siapa tahu diterima.
“Nyonya…”
Subha kembali menoleh, “Iya Amina”
__ADS_1
“Hmm, bisakah aku memakai pakaian yang ini saja. Tubuhku tidak terlalu bagus, dan pasti Tuan Ead juga tidak tertarik dengan tubuhku”
Subha tersenyum, “Berapa usiamu?”
“16 tahun”
“Saat seorang wanita yang sudah baligh, seluruh anggota tubuhnya adalah suatu yang haram untuk lawan jenisnya lihat. Maka dari itu dianjurkan untuk menutup anggota tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan” tutur Subha menyentuh wajahnya dan memperlihatkan telapak tangannya.
Amina menyipitkan kedua matanya, “Lalu kenapa kau menutup wajahmu? Wajah itu diperlihatkan juga tidak apa-apa kan”
“Amina… tidak masalah kita tidak menutup wajah kita. Namun ada titik dimana wajah wanita itu membawa suatu keharaman bagi pria yang melihatnya. Apa itu?”
Amina berpikir, namun ia tidak mendapatkan jawaban. “Tidak tahu”
“Kecantikan… pesona dari wajah wanita dapat membuat pria terjerumus dalam api neraka. Beberapa pria dengan pikiran kotor akan menjadikan kecantikan wanita sebagai objek dosanya, kemungkinan membawa mereka ke bayangan yang kotor. Begitu Amina”
Amina akhirnya mengangguk dan ingin bertanya lagi, “Nyonya…”
“Iya Amina”
“Apa---”
Ehem
Seketika kepala Amina menunduk dengan tubuhnya yang memundur perlahan. Ia mendengar deheman seorang pria yang merupakan pemilik mansion ini. Namun mata Amina masih mencuri-curi pandang kearah mereka.
Subha dapat melihat jika perilaku Amina berbeda jika adanya Ead didekatnya.
“Assalamualaikum” ucap Ead memberi salam untuk yang pertama kalinya. Hal itu tentu membuat Subha bahagia.
Akhirnya Ead pulang setelah usaha Louis dan juga Roy yang susah. Ia juga mendengar suaminya berucap salam sebelum memasuki rumah. Suatu kebahagiaan yang datang bertubi-tubi.
Sorot mata elang nan tajam Ead masih menyusutkan keberanian dari gadis remaja yang berdiri menunduk dibelakang tubuh Isterinya. Ia penasaran dengan obrolan yang mereka bicarakan.
“Apa yang kalian bicarakan?”
“Hanya saling berbagi pengetahuan” jawab Subha dengan bibir menyungging.
Ead mengangguk lalu mengganti arah pandangan ke wajah Louis, “Dia adikmu, kan”
“Benar, Tuan”
Jawab Louis. Amina sudah menahan takut jika atasannya ini melampiaskan kemarahan kepada dirinya, bahkan tubuhnya sudah lama gemetaran.
“Mulai besok jangan kerja lagi”
“Tuan” pekik Louis terkejut.
“Mulai besok jangan kerja melainkan bersekolah. Aku sudah menghubungi sekolah yang akan menerima dirimu”
Tutur Ead membuat kedua mata Louis berbinar cerah. Louis begitu amat bahagia mendengar apa yang telah Ead ucapkan, bahkan dirinya terharu dengan memeluk Amina. Tidak hanya orang terkait yang bahagia, bahkan Subha yang bukan siapa-siapa juga ikut andil merasakan kebahagiaan ini.
__ADS_1
“Terimakasih, Tuan”
Ead mengangguk singkat, “Anggap ini adalah bonus karena kau sudah mengeluarkan diriku”
“Terimakasih, Tuan Ead” ucap Amina menunduk, namun ia melirik keberadaan Subha. Ia memberikan senyum kecil kepada Subha.
Mengetahui Louis mendapatkan bonus, tentu Roy merasa iri. “Aku bagaimana?”
“Kau sudah banyak mendapatkan bonus dariku kan” jawab Ead dengan enteng lalu melihat wajah tertutup Subha “Lagipula aku ingin melihat sambutan yang istriku berikan”
Tangan Ead mengulur merangkul bahu Subha, mengajaknya keatas untuk menjauhi keramaian dan memilih berduaan. Mencampakan suara Roy yang terdengar kesal.
“Ead… Ead… Ead…”
Suara Roy masih terdengar dari atas lantai dua. Hal itu membuat Subha merasa tidak tega namun Ead membiarkannya. Pria itu berdiri sendirian tanpa seorang teman, tidak masalah. Lagipula Roy sudah terbiasa.
Dengan canda tawa Ead beserta Subha masuk kedalam kamar. Keduanya hendak melakukan ibadah sholat Maghrib. Maka dari itu Ead segera bersiap membersihkan tubuhnya.
Ead langsung masuk kedalam kamar mandi dan Subha menyiapkan pakaian muslim yang ia beli saat membeli pakaian para pekerja.
20 menit berlalu
Ead dan Subha menyelesaikan sholat Maghrib mereka bersama, dimana Ead menjadi imam dan Subha makmumnya. Sholat berjamaah berlangsung selama 15 menit, sebab Ead harus fokus membaca bacaan sholat yang ada di atas sajadah. Namun Ead tetap melakukannya dengan khusyuk.
Ead melakukan gerakan salam terakhir dengan menoleh ke kanan dan ke kiri, diikuti oleh Subha yang berada dibelakang. Lalu keduanya mengusap wajahnya bersama-sama.
Bugh
Ead sudah tidak kuat menahan diri hingga membaringkan tubuhnya begitu saja, hingga kepalanya bertumpu pada paha milik Subha. Dia merasa sangat lelah mendekam dipenjara.
Kedua mata Ead menampaki dagu lancip milik istrinya yang masih setia menegap dengan mantra doa. Lalu kembali mengusap wajahnya, dan mulailah ia menundukkan kepalanya kebawah.
"Kau ternyata beracun ya"
"Beracun bagaimana?" Pekik Subha terkejut mendengar perkataan Ead yang tidak ia tahu maksudnya. Wajah Ead terlihat serius tanpa canda maupun tawa.
"Meracuni pikiranku"
Subha langsung tertawa menutup mulutnya, bahkan ia menutup wajahnya karena malu dikatai seperti itu. Namun tiba-tiba ia teringat akan sesuatu yang terus mengganjal dalam benaknya.
"Mengenai Mia"
"Mia lagi!!!"
"Si Mia kenapa pisah dengan anaknya?"
Tanya Subha membuat mimik wajah Ead berubah, seakan sudah tidak memiliki nafsu untuk berbicara maupun bercanda. Ia pun segera menjauhkan kepalanya dari paha Subha.
"Aku tidak suka kebersamaan antara Ibu dan anak. Terlalu hangat, hingga interaksi itu terlalu harmonis untuk dilihat"
...To be continued...
__ADS_1
...Huaaaa vote dong sama jempol😭...
...Oh iye... Coverku kok di kunci ya, siapa yang ngunci? kuncinya mana woiiii balikin......