Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 67 : Masa Lalu


__ADS_3

Widia bersama dengaan seorang pria bertubuh tinggi kekar dan berwajah menyeramkan. Pria itu memberitahu Widia mengenai hilangnya Leiska dari persembunyian.


“Kau menemui diriku hanya ingin memberikan informasi seperti itu? Tidak berguna sekali. Lain kali jika ngasih info itu yang penting sedikit” kesal Widia membuang muka.


“Nyonya. Tujuan saya ingin meminta tolong supaya anda berbicara dengan Tuan Zlander untuk memberitahu informasi ini, karena kami sangat takut dengan Tuan Zlander. Tuan Zlander mungkin akan merendah jika Nyonya yang berbicara!”


“Zlander belum tahu? Leiska hilang dari malam dan sampai sekarang Zlander belum tahu? Kau ingin membunuh diriku? Jika kau ingin meminta bantuanku, katakan itu jauh-jauh waktu. Dasar keparat” umpat Widia memperhatikan keadaan sekitar.


Kembali ke mobil.


Mata alham tidak bisa lepas dari wajah familiar wanita itu. Penampilan yang ia perlihatkan sangat mirip dengan wanita yang menjadi tunangannya beberapa tahun yang lalu. Namun sedang apa dia berbicara dengan pria itu.


“Abi berhenti sebentar” ucap Alham dan Abi melakukannya.


“Ada apa Nak? Kenapa kau meminta berhenti? Kau ingin membeli sesuatu untuk anggota keluarga? Maka Umi akan membelikannya” tawar Umi.


“Tidak Umi. Alham turun sebentar Umi”


“Tapi Nak kau---”


Ucapan Umi terpotong saat Alham tidak mendengarkan larangannya. Umi hanya bisa mengusap dadanya serta menerima nasihat suaminya.


“Sabar”


Alham segera menemui wanita yang sedang berkomunikasi dengan pria di depan toko mebel disana. Tidak dipungkiri Widia juga melihat kedatangannya.


Widia nampak gelagapan meminta anggota pasukan Zlander untuk segera pergi. Sementara Alham sudah sampai didekatnya.


“Alham” Widia menggandeng lengan Alham yang menatap lekat punggung pria itu. Pria yang berbicara dengan Widia telah pergi. “Alham kau sudah diperbolehkan pulang?”


Alham tidak menjawab, “Siapa pria yang berbicara dengan mu? Apa dia bos yang pernah kau ceritakan kepadaku?”


Widia menggeleng seraya berpikir, “Tidak. Kami tertukar belanjaan jadi kami memutuskan untuk menukarnya lagi. Jangan khawatir kekasih cemburuanku… kau tetap no satu”


Widia menepuk pelan pipi Alham serta ia tampakan seringaian candaan daan Alham hanya menjawab senyuman kecil saja.


“Ya sudah kalau begitu ayo kita pulang”


“Hemm naik mobil? Tapi Alham aku bawa mobil sendiri jadi nggak bisa naik mobil sama Umi dan Abi. Aku ikutin kalian dari belakang aja ya”


“Ya sudah”


Jawab Alham meninggalkan Widia disana. Widia segera mengehela nafasnya, menetralkan jantungnya yang berdetak semakin cepat.


_______


Aarkk


Tubuhnya terjatuh mebentur ke tanah, kulitnya tersayat oleh ranting-ranting pohon yang tumbang, rambut ikalnya menyapu dedaunan, serta wajahnya menatap dekat penampilan tanah yang dipenuhi dengan semut-semut merah.


“Awww” rintih Leiska bangkit. “Aku tidak tahu harus kemana, tempat ini serta negara ini terasa sangat asing bagiku”


Leiska melihat-lihat hutan gundul didepannya. Pagi disinari oleh matahari cerah membuat perbukitan tandus itu semakin terlihat nyatanya, membuat wanita itu menyadari telah berlari sangat jauh.


Leiska memilih untuk bersandar di pohon kering dibelakangnya, merebahkan tubuhnya sejenak untuk mengambil energi yang sudah terkuras habis.


Mata Leiska memejam serta tangannya yang menggenggam liontin kalung bertuliskan AL. Ia mengingat pertemuannya dengan Alham yang membahagiakan. Ia ingat betul jika Tuhan seakan mempertemukan keduanya di ibukota Italia.


Flashback on


Saat itu Leiska dan teman-temannya tengah bersenda gurau di jalan. Yah seperti anak muda di kota Roma pada umumnya. Mereka bersenda gurau dan saling cerita.


Tidak berselang lama, seorang pria memakai tuxedo berwajah Kazakhtan itu menghalangi jalannya. Namun pria itu tidak memiliki maksud jahat.


“Permisi. Aku bukan warga Italia. Bisakah salah satu diantara kalian memberitahuku tempat ibadah umat muslim?” tanya Alham.


Namun sayangnya mereka tidak tahu menau mengenai tempat ibadah umat muslim. Jangankan untuk mengetahui letak, mengetahui bentuknya saja mereka tidak pernah.


“Tidak tahu Tuan”


“Aku tahu” sela wanita beraambut ikal dengan pawakan wajah yang indah. Wanita itu membelah rombongan teman-temannya. “Aku tahu tempat yang ingin kau tuju! Aku juga bisa mengantarkan-mu”


Penuturan Leiska terdengar halus dan menenangkan, membuat pria bertoxedo hitam itu yakin jika Leiska dengan tulus mau mengantarkan dirinya.

__ADS_1


.


.


Saat ini Leiska dan Alham berjalan dijalan kota yang ramai dipenuhi dengan masyarakat kota Roma. Wajah Leiska memerah malu jika harus berjalan dengan pria yang baru memikat hati dengan paras tampan rupawan.


Alham mencoba mengajak bicara supaya kesannya tidak monoton saja, “Kau sering datang kemari ya? Oh jangan salah paham terlebih dahulu! Aku mengatakan itu karena melihat kau bergerombol dengan para temanmu. Biasanya gadis-gadis suka berjalan-jalan dan jalan ini salah satu diantaranya”


Leiska tertawa. Ya memang benar apa yang dikata.


“Kau memang benar. Kebanyakan gadis Italia suka melewati tempat ini. Mereka sangat suka melihat patung”


“Patung yang itu?” Alham menunjuk patung yang ada ditengah-tengah taman,


Memang pintar para gadis-gadis dalam memilih tempat sebagai objek untuk memanjakan mata. Jika mereka melewati jalan ini, maka mereka akan langsung disambut oleh patung seorang pria tanpa busana.


Alham terdengar tertawa setelah membayangkannya, “Apa yang mereka lakukan dengan patungnya? Sangat lucu sekali mmengetahui para gadis menyukai patung nyleneh seperti itu”


Leiska kembali tertawa.


“Jangan kau pikir gadis-gadis itu memiliki pikiran yang polos. Apa yang kau lihat tidak sesuai dengan pikiran mereka. Kebanyakan mereka memiliki pikiran yang liar”


“Apa kau juga suka melihat patung seperti itu? Jika aku lihat-lihat, sepertinya kau juga suka melihat patung seperti itu”


“Aku akui, aku juga suka melihat patung itu” ucap Leiska mengakuinya.


Alham hanya tertawa.


Tidak membutuhkan waktu lama mereka menemukan tempat ibadah yang Alham inginkan. Tempat ibadah yang mini dan sepi, tidak sebanding dengan tempat ibadah yang sering ia temui. Tempat ibadah itu terlihat agak usang dibagian luar entah kalau dalam.


“Ini tempat ibadah yang kau inginkan, Tuan”


Sejenak Alham melihat-lihat lalu kembali melihat Leiska, “Sebelumnya, apa kau juga sering datang kemari? Karena kau sepertinya sudah tahu jalan ini”


“Belum pernah”


“Lalu kenapa kau bisa mengantarkanku ke tempat ini?” tanya Alham nampak bingung.


“Astagfirullah” Alham menepuk jidatnya karena lupa. Ia juga punya telpon dan bodohnya ia tidak mencarinya disana. “Kau menyindirku rupanya”


“Bukan menyindir. Hanya saja aku ingin memperlihatkan kepadamu jika ini murni dari maps. Aku hanya menyonteknya” jawab Leiska tertawa riang.


Alham tertawa senang lalu melihat jam ditangannya yang sudah menunjukan pukul 2. Waktu sholat dhuhur sudah hampir habis.


“Aku harus segera beribadah. Terima kasih atas bantuannya!”


Leiska pergi namun ia kembali lagi, “Tuan”


“Iya?” Alham menoleh.


“Bolehkah aku meminta no telponmu? Aku ingin memperbanyak teman dari luar negeri” ucap Leiska hanya alasan.


Alham menggelengkan kepalanya seraya mengulurkan ponsel dari dalam saku, dari itu Leiska melihat benda bersinar melingkar di jari tangan Alham.


Wajah Leiska seketika berubah, dan iapun mengurungkan niat untuk meminta. “Tidak usah tidak apa-apa. Sepertinya kau sudah bertunangan”


“Memangnya kenapa jika aku sudah bertunangan? Tidak masalah selagi aku belum menikah”


Tutur Alham memberikan lampu hijau untuk Leiska memasuki hatinya. Saat itu Alham memang salah karena ia tidak pernah bahagia dengan statusnya saat itu.


Flashback off


Mata Leiska kembali terbuka dengan lelehan tangis dikedua air matanya.


“Ini salahku. Aku yang sudah mencoba untuk mendekati pria yang tidak bahagia dengan status pertunangannya. Hatinya telah terbuka dan lancangnya diriku memasukinya! Ini salahmu Leiska, kau menyakitimu dirimu sendiri”


Leiska menangis terisak. Dadanya terasa sesak dan sakit jika mengingat masa lalunya dulu namun tidak dipungkiri ia bahagia bisa melihatnya lagi.


“Kau bisa bahagia dengan tunanganmu. Aku tidak akan lagi mengganggumu! Aku akan focus dengan hidupku, balas dendamku kepada pria penghianat itu” tekad Leiska bangkit dari istirahatnya.


Ia akan kembali berkelana.


____

__ADS_1


“Tuan Alham datang”


Bremm


Mobil mewah berwarna navy pengangkut kepala keluarga Akhthakarta dan seluruh keluarga itu memasuki halaman rumah, memberikan sinyal untuk segera diberi sambutan. Tidak hanya itu mobil merah hati milik Widia juga sampai di halaman rumah.


“Selamat atas kembalinya anda ke rumah ini, Tuan Alham”


“Semoga Allah selalu menjaga anda dan memberikan Kesehatan untuk anda, Tuan Alham”


“Selamat datang Tuan Rahman”


Gemuruh para pekerja memberikan sambutan atas kembalinya Alham ke rumah. Mereka nampak senang seakan ini pertemuan pertama bagi mereka setelah sekian lama.


Alham keluar tanpa mau menggunakan kursi roda. Seperti orang cacat saja, pikirnya.


“Hati-hati sayang” ucap Umi membantu Alham keluar dari mobilnya, dibantu oleh Abi.


“Sini Umi, Widia bantu bawakan barang-barang Alham”


Umi hanya tersenyum senang seraya memberikan tas besar berisi barang-barang Alham ke Widia.


Subha yang sudah lama menunggu mereka segera menyalami tangan Alham serta kedua orang tua.


“Alhamdulillah, kakak sudah sehat dan dapat kembali ke rumah! Subha sangat senang” ucap Subha kepada kakaknya.


“Terimakasih ya Subha”


“Oh iya. Kak, ada satu berita bahagia… waktu itu Subha lupa memberitahu kakak”


“Apa?” tanya Alham penasaran.


“Subha hamil”


Sejenak raut wajah Alham berubah. Ia nampak tidak suka karena anak Subha merupakan anak dari pria yang menjadi musuhnya. Hal yang sama juga dirasakan oleh seorang wanita pemilik hati keras seperti Widia. Ia begitu membenci kehamilan Subha.


“Selamat ya” ucap Alham terpaksa lalu berjalan melewati wanita yang sedang berbahagia itu. begitupun dengan Widia.


Saat semuanya sudah memasuki rumah. Subha menampaki suaminya masih termenung didepan rumah. Ia seperti menunggu seseorang yang diharapkan kedatangannya. Iapun memutuskan untuk bertanya namun dengan jarak yang jauh.


“Ead, apa yang kau lakukan?” tanya Subha.


“Aku sedang menunggu”


Kening Subha menyergit, “Menunggu siapa? Apa kau sedang menunggu seorang wanita? Astagfirullah. Kau benar-benar selingkuh? Kalau begitu aku akan berdoa supaya Allah tidak memberikanmu karma”


Subha mendapat tatapan tajam Ead. Entahlah semenjak hamil wanita itu mudah sekali berucap buruk untuknya. Ia juga agak bar-bar.


“Aku penasaran dengan dirimu. Darimana datangnya kata-kata buruk seperti itu?” Ead berkacak pinggang, memperlihatkan perasaan marah.


Tangan Subha menutup mulutnya, “Aku juga tidak tahu darimana asalnya kalimat jelek seperti ini. Apa karena aku hamil anakmu? Jadi perilakumu sedikit menurun kepadaku? Oh berarti anakku akan seperti dirimu. Bagaimana kalau iya?”


“Kau tidak suka?” tanya Ead dengan wajah datar.


Mata Subha kekanan dan ke kiri, “Nggak gitu maksudnya---”


Tin


Tin


Suara klakson mobil mengalihkan atensi Ead dari isterinya. Mobil mewah sport itupun segera memasuki halaman rumah.


Subha penasaran, “Siapa mereka?”


“Roy dan Louis”


“Sedang apa mereka disini?” tanya Subha melihat dua pria itu bersiap keluar mobil menemui dua atasan mereka.


“Dia ingin bermain sayang" Ead mencubit dua pipi berisi wanita yang melirik kedua pria yang baru saja keluar dari mobil.


...To be continued...


...Satu dulu ya😇...

__ADS_1


__ADS_2