
Waktu itu Umi kembali ke butik setelah mengambil kue dari Tuan Asmet. Ia tahu jika kedua anaknya itu belum kembali dari sana karena ia melihat mobil Ead masih terparkir di depan butik.
"Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam, Umi" jawab Grasita menata buku-buku yang ada diatas meja dan Umi menaruh satu kotak kue disana seraya mata memperhatikan sekeliling.
"Dimana menantu dan juga anakku, Grasita?"
"Ada di ruang ganti"
Mata Umi langsung fokus ke arah ruang ganti yang masih menutup dengan sangat rapat. Hal itu membuat Umi penasaran mengapa ruang ganti masih tertutup namun salah satu diantara mereka tidak ada yang di luar.
"Apa mereka berdua di satu ruangan bersama?" gumam Umi bergegas mendekati ruangan tersebut. Sebelumnya Umi sempat menguping ingin tahu suara apa yang di timbulkan dari ruangan tersebut. Rupanya ia mendengar suara putrinya dan menantunya disana.
cklek
Tanpa basa-basi apapun Umi membuka pintu ruangan tersebut, memperlihatkan dua orang manusia sedang ada di posisi bercumbu bertukar rasa cinta.
"U-umi?" gugup Subha menepuk bahu Ead untuk menurunkan tubuhnya saat pandangan Umi nampak membatu. Wanita itu tidak pernah menyangka jika putrinya akan melakukan hal tersebut di tempat umum, beruntung Grasita tidak mengetahuinya.
Keduanya terlihat gelagapan di pergoki oleh ibu mereka, terlebih Subha yang digadang-gadang memberikan respon positif dari silsilah keluarga.
"Ce-cepat berpakaian. Umi ingin bicara dengan dirimu di luar"
"Umi---"
Umi langsung melengos pergi saat Subha hendak menahan tangannya, membuat Subha merasa takut jika Uminya kecewa terhadap mereka.
.
.
Di belakang butik Grasita berdirilah pendopo kecil yang menghadap dengan kolam ikan berukuran jumbo, disamping kanan kiri tumbuhlah tanaman-tanaman hijau berbunga, menambah kesan alami saja.
Didalam pendopo tersebut ada Umi dan juga Subha yang tengah duduk disana. Dua wanita bercadar itu masih saling diam dengan Subha yang nampak gugup.
"Umi---"
"Siapa yang memulai?" tanya Umi dengan nada tegas menciutkan nyali Subha yang ingin menjawabnya. Ia takut jika jawabannya tidak diterima.
"Subha, Umi" jawab Subha berbohong.
Wajah Umi langsung menoleh ke sumber suara dengan tatapan kecewa kepada putri bercadar yang tengah menunduk kebawah ini.
"21 tahun kau hidup di keluarga Akthakarta! Aku tidak pernah merasakan rasa semalu ini. Namun setelah kau menikah dengan pria itu-----"
"Umi-----"
__ADS_1
"Seperti ini... Umi juga tidak pernah menampaki dirimu menyela ucapan Umi. Setelah kau menikah baru itu semua terjadi"
Subha bungkam. Ia tidak berani lagi menyela kata-kata dari Umi nya. Wanita terlihat sangat marah dengan guratan-guratan kekecewaan yang membuat dirinya naik pitam.
"Umi percaya dengan dirimu. Imanmu kuat sehingga kau akan melakukan sesuai syariat agama. Kalian kan bisa melakukan itu di rumah! Jika dia tidak bisa menahannya, tidakkah dirimu yang melarang hal itu? Kau di didik oleh Abi bukan untuk hal ini. Abi percaya bahwa putrinya akan membuat suaminya menampakan jati dirinya sebagai suami yang baik dan imam yang pantas untukmu. Jika Abi tahu, apa dia akan menyukai suamimu?"
"Umi jangan keras-keras nanti Ead dengar" Subha merapatkan dirinya dengan Umi Riverlyn supaya dia mau menurunkan nada suaranya dan membuat Ead tidak dengar.
Namun sayangnya, telinga seperti serigala dan mata elang tajam itu sudah lebih dulu mendengar percakapan mereka, melihat keduanya berdebat bersama.
"Maafkan Subha dan suami Subha, Umi. Maafkan jika hal itu menyakitkan untuk Umi. Kami tidak akan melakukan hal seperti itu lagi"
"Sudahlah... Ayo kita kembali saja, mungkin Grasita sedang menunggu" ucap Umi meninggalkan Subha yang hendak menahan tangan Uminya namun terhalang saat wajah Ead nampak di persembunyian.
Sejenak Subha takut jika suaminya itu mendengar ucapan mereka, namun wajah Ead terlihat tersenyum saat ia tahu Subha melihatnya. Dari itu Subha membalas senyuman Ead walau pria itu tidak melihatnya.
Semua berlalu begitu saja. Walaupun itu agak membuat Umi kecewa, namun ia tidak bisa apa-apa. Umi tetap meminta Ead dan Subha untuk meneruskan fitting baju pernikahan mereka.
"Yang itu bagus. Bungkus yang itu saja" ucap Umi langsung mengabaikan penampilan Ead yang terlihat bangsawan dengan memakai toxedo hitam didepan cermin.
Sebelum Ead benar-benar memilihnya, ia melihat istrinya yang memberikan kedua jempol kepadanya. Ia setuju dengan keputusan Umi.
"Aku ambil yang ini" Ead mengulurkan toxedo yang sempat ia pakai kepada pelayan Grasita.
"Assalamu'alaikum"
Mereka adalah keluarga Renanta. Keluarga yang hampir menjadi besan Akthakarta sebelum Ead menikahi Subha. Mereka datang setelah putranya kembali dari London.
"Nyonya Rianetta Renanta salam..." ucap Umi langsung bergegas menghampiri wanita bercadar merah diikuti oleh Subha dibelakang saat melihat Rianetta memeluk Uminya.
"Nyonya Riverlyn... bagaimana kabar anda?"
"Alhamdulillah saya baik" jawab Umi mengusap lengan Rianetta yang menjadikan Subha sebagai pusat perhatian utama.
"Assalamu'alaikum, Nak. Bagaimana kabarmu?"
"Alhamdulillah Subha sehat" jawab Subha.
Kedua ujung bibir Umi nampak menyungging dibalik cadarnya saat melihat wanita ini untuk yang kedua kalinya, tidak pernah menyangka.
Ead yang melihat semua itu merasa kurang suka, terlebih melihat interaksi Subha dengan wanita baya itu. Seperti Ibu dan menantu.
"Dia itu keluarga Renanta. Putranya sempat dijodohkan dengan Subha" bisik Grasita di telinga Ead. Wanita jadi-jadian ini sangat suka sekali menggosip dan memanas-manasi orang.
Ead melirik Grasita yang tampak angkuh dengan menyibakkan rambutnya kebelakang serta kedua kakinya yang menyilang sok cantik saat melihat Ead yang mendatangi mereka.
"Assalamualaikum, saya suami Subha, Eadwarl Cristopher Zolanda " Ead mengulurkan salah satu tangannya untuk menyalami Rianetta yang hanya mengatupkan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
Kening Ead berkerut tidak paham namun ia langsung menggeser uluran tangannya itu kepada pria yang hampir berjodoh dengan isterinya.
"Walaikumsalam, Frederick Jian Renanta" jawabnya menjabat tangan Ead yang memberikan senyum miring penuh tanda tanya.
Setelah saling menyapa, mereka semua kembali duduk. Rianetta yang nampak memilah rancangan pakaian yang telah Grasita rekomendasikan dan keluarga Akthakarta menunggu gaun mereka di kemas.
"Jika kau memakai ini, pasti penampilan mu sangat tampan"
"Pilihan Umi selalu yang terbaik untukku" jawab Frederick tersenyum puas dengan apapun pilihan uminya, membuat Umi Riverlyn merasa tertarik untuk bergabung.
"Nyonya Rianetta, apa ada sebuah acara sampai datang kemari?"
"Putraku Frederick baru saja merilis projek barunya dan akan dipromosikan Minggu depan" jawab Rianetta mengusap bangga pipi Frederick yang hanya mengulum senyum malu.
"Waw selamat Nak Frederick. Semoga amanah"
"Terimakasih Umi, aminnn" jawab Frederick mengusap wajahnya halus akan doa Riverlyn, disaksikan oleh Rianetta yang begitu bahagia.
"Nak Subha bisa memilih rancangan gaun apapun yang nak Subha inginkan, nanti Umi yang bayar" ucap Rianetta tersenyum saat melihat putranya juga membalas senyumnya.
Ead yang mendengar itu seketika tertawa, "Bukan maksud saya menolak. Tapi jika Subha memakai uang orang lain, lalu bagaimana uang saya akan habis?"
"O-oh baiklah kalau begitu" kikuk Rianetta merasa tidak enak dengan respon Ead yang seakan tidak suka. Ead hanya tidak suka jika Subha memakai uang orang lain.
"Nyonya Akthakarta, belanjaan nya sudah dikemas"
Ucap pekerja butik di tempat Grasita seraya membawa barang-barang yang sudah keluarga Akthakarta pesan, menarik perhatian Ead untuk segera membayar.
"Berapa semuanya?"
"U$D100,000 Tuan"
Ead mengambil dompet berisikan kartu yang hendak ia keluarkan untuk membayar belanjaan tersebut. Ada banyak sekali kartu ATM yang Ead miliki, bahkan ia mengeluarkan black card sebagai alat pembayarannya.
Namun sayangnya bukan itu yang menjadi pusat perhatian Umi, melainkan foto wanita yang ada di dompet Ead.
"Nak, itu siapa?" Umi yang penasaran akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada Ead yang langsung melihatnya. Siapa tahu itu orang yang penting, pikirnya.
"Dia Adikku. Dia hilang beberapa tahun yang lalu karena mengejar kekasihnya yang tidak tahu malu"
"Umi melihatnya tadi"
Deg
...To be continued...
...Vote bebsss😘...
__ADS_1